“Anggie, aku suka sama kamu. Mau enggak mau jadi pacar aku?”

Saya tidak tahu apakah kata-kata di atas masih biasa diungkapkan oleh generasi muda saat ini dengan menggunakan sepucuk surat? Daripada ribet menulis di kertas surat, lebih mudah bagi mereka untuk mengungkapkannya lewat aplikasi, mulai dari WhatsApp, Facebook, hingga Instagram. Tetapi bagi saya cara-cara yang demikian ini telah menghilangkan begitu banyak makna. Jelas, ini karena membuat surat cinta jauh lebih sulit sekaligus lebih menyertakan emosi dibanding sekadar mengetik.

Surat cinta membutuhkan perhatian penuh untuk dibaca dengan saksama. Jika dibandingkan dengan email atau pesan berbasis aplikasi yang bisa dengan mudah dilupakan, surat cinta akan membuat pembacanya duduk dengan penuh perhatian, membaca dan berusaha memahami pesan yang kita sampaikan. Dia akan memberi perhatian lebih karena dia tahu kita telah meluangkan waktu, usaha dan perhatian yang lebih untuk menulis surat cinta, setidaknya itu yang bisa ia lakukan sebelum memutuskan untuk merespon dengan sebuah surat balasan.
Di era saya di tahun 90-an, surat cinta menjadi primadona media ampuh untuk menyatakan cinta, walaupun mungkin hanya dengan menyertakan beberapa patah kata. Teman-teman perempuan saya yang berparas cantik sudah barang tentu sering sekali mendapatkan surat cinta. Ada laki-laki yang memasukkan surat itu ke tempat pensilnya, ada juga yang ke dalam tasnya. Tetapi bagi laki-laki yang, entah disebut nekad atau punya rasa percaya diri yang tinggi, dia berani memberikan surat cintanya langsung ke hadapan si perempuan yang dia suka. Sontak kelas menjadi ramai, dan karena malu si perempuan tersebut malah lari menjauh, walaupun beberapa hari kemudian diketahui bahwa mereka pada akhirnya berpacaran.

Trik ampuh para lelaki di zaman saya, selainkan memberi sepucuk kertas mereka juga biasa menaruh sesuatu yang lain di dalam surat tersebut. Bisa bunga, cokelat, atau sekadar hiasan-hiasan. Sesuatu yang indah dan girly akan memiliki penilaian lebih di mata perempuan.

Sebagai informasi, jangan dikira bahwa hanya kaum hawa saja yang mendapatkan surat pernyataan cinta, laki-laki tampan di sekolah saya dulu juga sering menerimanya, termasuk saya sendiri (ini bukan berarti saya ganteng ya! hehe). Ketika itu saya mencoba untuk membacanya secara perlahan. Bagus dan estetik memang isinya. Saya pun yakin kalau tulisan ini sudah mengalami beberapa kali revisian, yang berarti dia perlu mengganti sekian kertas, hingga pada akhirnya surat tersebut tiba di tangan saya. Tapi apa boleh buat, karena memang sedari awal saya tidak memiliki rasa sama sekali dengannya, saya tidak bisa membalas perasaannya.

Saya lupa apakah saya sempat pernah menyatakan cinta lewat surat, sebab dulu saya termasuk orang yang lebih senang menyimpan rasa, baik karena faktor pemalu maupun minder. Bahkan untuk cinta pertama saya, baru berani diperjuangkan setelah berada di bangku kelas tiga SMP. Padahal saya sudah menyukainya, mungkin sejak kelas tiga SD. Itu pun sebuah keberuntungan karena kami ditakdirkan untuk berada di satu sekolah yang sama ketika lulus SD. Kalau berbeda sekolah, sudah pasti saya hanya cukup berpuas diri dengan menyimpannya dalam hati.

Waktu itu saya bisa dibilang sebagai anak lelaki yang “gentle” karena berani mengungkapkan perasaan secara langsung, bukan lewat surat. Dari dulu memang sudah ada semacam stigma bahwa lelaki yang tidak berani menyatakan perasaannya secara tatap muka, dia adalah lelaki yang cemen. Betapapun demikian, ketika di masa-masa pacaran, surat atau kertas tidak luput kami jadikan sebagai media untuk saling berkomunikasi.

Namun setelah dipikir-pikir ada untungnya juga ketika menyampaikan perasaan yang sudah tidak lagi menggunakan kertas surat karena telah beralih ke pesan elektronik. Salah satunya ialah ketika ditolak. Karena ada sensasi yang berbeda antara menulis tangan dan mengetik, di mana yang pertama lebih menyertakan emosi dan perasaan yang kuat dibanding yang kedua, maka wajar kalau pihak yang menyampaikan perasaan tidak mengalami gejolak kekecewaan yang berlebihan.

Saya adalah orang yang termasuk di dalamnya. Beberapa kali saya mengungkapkan perasaan lewat surat elektronik. Meskipun telah berusaha untuk melibatkan seluruh emosi, tetap saja tidak bisa se-drama-tisir ketika saya menulisnya dengan tangan langsung. Dan benarlah, walaupun ditolak dan tentu saja kecewa, saya tidak terlalu depresi dan bisa menstabilkan diri dengan cepat. 

sumber gambar: uniqpost.com

Banyak broadcast berseliweran di grup WA yang nyinyir terhadap kebijakan sistem zonasi, mulai dari beli makanan harus zonasi hingga nyinyiran bekerja juga harus zonasi. Tapi saya tidak akan merespon pandangan ini karena menurut saya terlalu receh untuk ditanggapi.

Tulisan ini juga diusahakan untuk tidak akan mengulang beberapa ulasan teman-teman yang mencoba untuk melihat sisi positif sistem zonasi. Jika tertarik, silakan baca postingan Fahd Pahdepie di Facebook atau tulisan kakak tingkat saya, Gelar Riksa Abdillah (diposting di facebooknya juga). Dari pada berbuat demikian saya lebih banyak mengeksplorasi beberapa keluhan dan kritikan yang masih luput ditanggapi.

Ada yang bilang bahwa sistem zonasi itu bagus, tetapi karena hari ini situasinya masih belum ada pemerataan sarana prasarana atau fasilitas, maka seharusnya sistem tersebut ditunda terlebih dahulu. Saya tidak setuju dengan pandangan ini, sebab mau sampai kapan kita menunggu realisasi ini. Dengan kompleks dan banyaknya sekolah di Indonesia, pemerataan sar-pras atau fasilitas akan memakan waktu yang begitu lama, padahal tantangan pendidikan di abad 21 terus-menerus merongrong dan harus segera dihadapi.

Ada juga yang mengeluhkan penerapan zonasi karena belum meratanya lokasi sekolah negeri di Indonesia. Berkenaan dengan hal ini, saya malah melihat ada pesan instrinsik yang hendak digarap oleh pemerintah, bahwa masyarakat Indonesia harus segera beralih dari negeri oriented menuju tawaran beragam opsional pendidikan.

Mengapa demikian? Karena pemerintah menyadari bahwa mereka tidak akan bisa bergerak sendiri sehingga perlu juga mengaktualkan dan memberdayakan lembaga pendidikan lain, seperti sekolah swasta, bahkan pendidikan informal. Selama ini sekolah swasta masih dipandang sebelah mata sehingga wajar banyak di antara mereka yang akhirnya harus terpaksa gulung tikar karena kekurangan murid. Sudah kekurangan, yang mereka tampung biasanya adalah murid-murid “buangan” yang tidak diterima di sekolah negeri.

Salah satu alasan klasik mengapa masyarakat tidak mengambil sekolah swasta adalah karena biaya. Tapi bagi saya ada hal lain di belakang itu, yakni soal mind-set “pengemis” yang terus-menerus dipelihara.

Orang Indonesia maunya dimanja, kalau bisa semuanya serba gratis, mulai dari kesehatan hingga pendidikan. Lucunya, mereka lebih memilih untuk menginvestasikan hartanya ke sesuatu yang sangat materialistik dan berjangka pendek. Mudah membeli sepatu bermerk (nike, adidas, dll), tetapi berat sekali mengeluarkan harta untuk, misalnya membeli perlengkapan belajar.

Mudah untuk membeli mobil, motor, kuota, tetapi sulit berinvestasi untuk, misalnya, memberikan sokongan materi atas sesuatu yang menjadi passion si anak. Ngomel ketika anak butuh media/bahan tertentu untuk menunjang pembelajaran tapi mudah membeli tupperware atau perlengkapan mancing.

Pada hakikatnya, sesuatu yang “berharga” memang "mahal". Kita tidak ribut ketika mobil mewah/berkualitas, katakanlah Porsche atau Alphard, itu berharga mahal tetapi ketika bicara soal pendidikan berkualitas kita maunya gratisan? Bagaimana mungkin!! Jadi bagi saya, sekolah swasta yang menarik tarif mahal adalah sesuatu yang sangat masuk akal.

Anda akan ditertawakan ketika menuntut digratiskannya kursus bahasa Inggris yang berkualitas, katakanlah LIA atau British Council.

Pendidikan itu memang harus “mahal”, karena butuh banyak hal sebagai penyokongnya. Ketika kita memaksa untuk merendahkan tarif, seperti yang terjadi di sekolah-sekolah negeri (dipaksa untuk gratis), maka para praktisi yang ada di bawah-lah yang empot-empotan “mengakali” proses pembelajaran.

Orang tua di Indonesia harus diajarkan bahwa pendidikan itu “mahal” yang mulia. Jadi, daripada menuntut murah atau gratis, sebagai orang tua seharusnya bisa mati-matian mencari rezeki/dana untuk bisa menyekolahkan anaknya. Bagi yang benar-benar tidak bisa (sangat miskin dan tak berdaya), maka di sinilah tangan pemerintah muncul untuk membantu. Tapi tidak perlu semua dibantu, karena nanti malah akan menjadi pemalas.

Sebagian orang tua zaman dahulu rela kerja “mati-matian” supaya anaknya bisa sekolah atau kuliah, tapi orang tua sekarang rela “mati-matian” menginvestasikan uangnya untuk membeli smarphone baru, peralatan make up mahal, atau berjelajah ria ke luar negeri, umrah/haji berkali-kali, daripada untuk menumbuh-kembangkan buah hatinya.

Karena banyak orang tua yang memandang pendidikan bukan sebagai sesuatu yang mulia (dan patut untuk diperjuangkan), maka hal ini pun pada akhirnya menurun/tertular kepada anak-anak mereka. Apalagi ketika angka sudah tidak lagi diperlombakan, mereka seperti kehilangan arah, patah semangat, dan tidak memiliki gairah untuk berjuang.

Nilai (angka) oriented memang sudah sangat mengurat-akar di alam bawah sadar kita. Semua hal yang berkaitan dengan pendidikan selalu diukur dengan angka. Padahal pada kenyataannya perolehan nilai (angka) yang besar belum tentu selaras dengan kualitas dirinya. Sebagai contoh, siswa muslim sudah biasa memperoleh nilai tinggi di mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Anggaplah di rentang 90-an. Tetapi jika kita mau jujur, berapa persen sih siswa yang benar-benar pantas mendapat nilai itu? 15% juga terlalu besar.

Untungnya di bangku perkuliahan saya pelan-pelan menghilangkan pandangan angka oriented tersebut. Karena bagi saya pendidikan itu bukan soal angka. Dulu saya mendapatkan nilai A untuk mata kuliah Bahasa Arab padahal apa yang saya kuasai? Hampir nol. 

Kasus yang sebaliknya juga pernah terjadi, saya sangat menonjol di mata kuliah Pemikiran Islam (setidaknya dibanding teman-teman satu angkatan) eh saya malah dikasih nilai C sedangkan teman-teman saya mayoritas dapat B. Kalau saya sangat nuntut angka oriented, pasti hati selalu gundah-gulana, tetapi karena berusaha untuk mengubah pandangan tersebut, saya merasa tidak “dirugikan”.  Dan memang, ilmu tidak akan tertukar.

Pendidikan juga bukan soal bersaing dengan orang lain, tetapi jauh lebih sulit, yakni berjuang mengalahkan diri sendiri, menjadi pribadi yang lebih baik setiap saat yang tolok ukurnya adalah diri sendiri. 

Misalnya, jika dulu saya tidak paham soal algoritma, maka semester depan saya harus berjuang agar lumayan paham. Atau ketika sekarang saya belum menguasai percakapan dasar dalam bahasa Inggris di semester depan saya harus memiliki sedikit progres. Atau ketika dulu saya tidak paham tata krama, maka semester depan saya sudah mulai menerapkan tata krama tersebut, dll. Dan inilah yang perlu ditanamkan kepada para siswa hari ini yang sepertinya masih teracuni oleh nilai (angka) oriented.
 **
Sebagian guru khawatir kalau sistem zonasi ini akan mengorbankan siswa-siswa yang sudah memiliki potensi “unggul”, karena ketika digabung dengan mereka yang masih belum  “tersadarkan” maka anak mutiara ini akan mati sebelum berbuah. Bagi saya ketakutan ini dapat diatasi dengan memberikan mereka pengayaan dan tantangan yang berbeda dari murid-murid lainnya.

Guru-guru di sekolah negeri, khususnya yang sudah berstatus PNS/ASN, harusnya siap mengabdi bagaimana pun keadaannya, termasuk ketika mereka menampung siswa-siswa yang belum “tersadarkan”. Kalau mereka hanya mau menerima input yang bagus, lalu bagaimana nasib mereka yang belum “tersadarkan” ini? Siapa lagi yang akan merangkul mereka kalau bukan pemerintah dan aparaturnya!!

Salah satu kunci untuk mengatasi sistem zonasi yang katanya telah memberi sebuah kultur baru, yakni munculnya generasi “pemalas” dan tak “tersadarkan” ada pada sosok leader, kepala sekolah. Ketika kepala sekolah senatiasa merawat idealisme dan visi luhurnya, yang juga perlu ditularkan kepada rekan kerjanya (para guru), meskipun bukan suatu hal yang mudah, insyaallah perlahan-lahan para siswa akan tecerahkan, memahami dengan benar niat atau orientasi pendidikan yang dijalaninya, sehingga mereka akan memiliki semangat untuk memperjuangkannya.

sumber gambar: bbc.com

Rahmatullah Al-Barawi
Setiap tahun menjelang Idul Fitri, tradisi mudik menjadi hal yang unik. Sebab, fenomena ini nampaknya hanya terjadi di Indonesia sekaligus mengukuhkan argumen yang mendukung kebudayaan Islam di Nusantara (baca: Islam Nusantara).

Meskipun demikian, sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan hal tersebut. Tentu setiap insan merindukan kampung halaman tempat mereka pertama kali mengenal arti kehidupan.

 Jika boleh dikatakan, kerinduan tersebut merupakan ekspresi dari tradisi mudik asgar atau kecil. Karenanya tentu ada mudik yang akbar. Apa itu dan bagaimana hubungannya dengan kondisi keberagamaan kita saat ini?

Tulisan sederhana ini sebenarnya hanya mengundang pembaca untuk berefleksi sejenak. Jangan sampai mudik asgar yang hampir setiap tahun kita lakukan melalaikan kita dari perenungan mudik akbar, yaitu kembali ke kampung akhirat.

Nampaknya kesibukan duniawi, hiruk-pikuk ekonomi, politik identitas penuh caci-maki, dan keberagamaan kita yang kian jauh dari nilai-nilai Ilahi membuat kita terlena dan abai mempersiapkan bekal yang tepat untuk kehidupan di akhirat kelak. Poin yang terakhir menjadi penekanan utama dalam artikel ini.

Secara umum, keberagamaan kita masyarakat Indonesia semakin meningkat dari aspek kuantitas dan visualnya. Kita bisa lihat fenomena hijrah yang kian membanjiri generasi muda, artis ternama, hingga orang biasa.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan hal tersebut. Hanya saja yang terjadi adalah semangat keberagamaan kita semakin diukur dengan hal-hal visual, seperti penampilan fisik, pemilihan diksi kata yang berbau arab, dll. Hal ini semakin mendapatkan tempat ketika media sosial menjadi tempat ‘pelampiasan’ generasi milenial.

Semua kebaikan diumbar ke sosial media dengan beragam motivasi tentunya. Setiap orang dapat belajar agama dari internet tanpa harus bertatap muka secara langsung. Dalam konteks ini, transmisi dan otoritas pengetahuan keagamaan telah bergeser cukup signifikan. Generasi X dan Y, atau yang lahir sebelum tahun 90-an pasti merasakan perubahan tersebut.

Imbasnya, keberislaman kita semakin bersifat materialistik. Seseorang disebut orang baik jika ia dapat membangun ‘branding’ apik di media sosialnya. Entah di dunia nyata kelakuannya seperti apa, orang lebih memilih menampilkan citra positif sebanyak-banyaknya di sosial media. Sehingga Islam seolah disederhanakan hanya sebatas persoalan penampilan, halal haram, boleh tidak boleh, dan aturan-aturan lain yang sangat kaku.

 Padahal, Islam tidak hanya sebatas persoalan akidah yang melahirkan ilmu tauhid ataupun syariat seputar hukum fikih. Ajaran Islam sejatinya meliputi etika, akhlak, dimensi muamalah yang sedikit banyak diasah melalui perjalanan spiritual dalam tradisi tasawuf.

Kembali ke permasalahan awal, pembacaan ajaran Islam yang hanya seputar ketauhidan dan syariat semata membuat kita jarang introspeksi dengan mudik akbar. Di sinilah urgensi memahami ajaran Islam dari kacamata sufistik menjadi penting. Misalnya Imam Ibnu ‘Atha`illah al-Sakandari pernah mengatakan: ‘Am kaifa yahsulu ila Allah, wahuwa mukabbalun bi syahwatih’, Bagaimana bisa kita sampai kepada Allah, sementara hati kita masih terbelenggu dengan syahwat duniawi.

Untaian hikmah yang ditulis dalam kitab tasawuf fenomenal, Al-Hikam tersebut memberikan pelajaran sekaligus kritik terhadap keberagamaan kita dewasa ini. Di saat kita fokus melihat dan mencari kesalahan orang lain, abai melihat khilaf pribadi. Gegap gempita hoax dan ujaran kebencian di sosial media membuat kita terhanyut ikut serta begitu saja. Kita terlampau sering menuruti hawa nafsu birahi sehingga menjauhkan kita dari pancaran Ilahi.

Kesadaran ini juga yang membuat beberapa cendekiawan Muslim seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Cak Kuswaidi Syafi’i, Gus Mus, Habib Quraish Shihab, Gus Nadirsyah, Gus Baha`, dll mulai ‘turun gunung’ ke sosial media mendakwahkan Islam yang tidak ‘melulu’ soal halal haram semata, tetapi juga menyelami makna yang terkandung di dalamnya. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa nilai-nilai tasawuf perlu dibumikan.

Pertama, nilai sufistik dapat menjadi penawar dan counter narasi dari maraknya ajaran-ajaran Islam formalistik dan menjurus pada radikalisme. Kedua, laku spiritual yang dilakukan oleh para sufi dapat memberikan alternatif bagi generasi milenial untuk menemukan kebahagiaan yang sifatnya bukan visual, tetapi substansial. Ketiga, ajaran-ajaran tasawuf dapat menuntun kita dalam mengamalkan ajaran Islam yang ramah dan inklusif.

Meski demikian, jangan pahami bahwa ajaran tasawuf itu terbelakang, tertinggal, dan mengajarkan kita untuk pasrah dalam menerima keadaan. Semangat tasawuf sejatinya tidak berlawanan dengan semangat modernitas. Hanya saja, tasawuf menjadi alat kontrol agar kita tidak menjadikan modernitas sebagai dewa, melainkan hanya sebatas sarana untuk beribadah kepada Allah ta’ala. Inilah pesan yang disampaikan oleh Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf Modern.

Oleh karena itu, momentum idul fitri, kembali pada kesucian diri harus benar-benar dipahami sebagai langkah awal untuk menapaki kehidupan dengan visi jauh ke depan. Yakni dunia tidak dipandang sebagai tujuan, tetapi sarana untuk sampai pada kehidupan akhirat.
Keislaman yang sejati -atau meminjam istilah Haedar Nashir- yang otentik, hanya bisa terwujud manakala kita menyelami makna kehidupan ini dan tidak terjerumus pada aspek formal, visual, dan material semata.

Intinya, di tengah hiruk pikuk duniawi saat ini, kita butuh waktu reflektif untuk merenungkan diri. Jangan biarkan kita tenggelam dalam hegemoni dunia yang fana dan penuh tipu daya.

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana UIN Yogya

sumber gambar: ig @leila_qinsart

Masih banyak, kalau enggan berkata hampir semua, orang tua menganggap anaknya sebagai properti, yang dengannya merasa memiliki hak preogatif untuk mengatur seluruh kehidupan anaknya, mulai dari yang paling remeh higga hal-hal besar seperti cita-cita, jodoh, pekerjaan, hingga jalan hidup.

Masih bisa dimaklumi kalau hal tersebut dilakukan saat si anak masih berada di umur kecil, sebab mereka sendiri pun belum bisa secara sempurna menuntukan mana yang baik dan mana yang buruk. Tetapi sayangnya, para toxic parent ini terus melakukannya meski si anak sudah beranjak dewasa.

Saya kira sebenarnya persoalan ini berakar dari rasa ingin memenuhi keegoisan dalam diri, supaya mereka dapat memperoleh kebanggaan atau pengakuan sosial dari orang lain, atau setidaknya mendapat sebuah kepuasan batin semu.

Ketika si anak meraih sukses (sebuah kesuksesan yang dipahami menurut versi mereka sendiri) maka segera mereka akan mengumumkannya di setiap perbincangan dengan orang lain, baik tetangga, keluarga besar, maupun mitra kerja.

Sebaliknya, ketika si anak tidak bisa meraih kesuksesaan (lagi-lagi ini berdasarkan versi mereka sendiri) atau sesuatu yang berada di luar ekspektasinya, rasa malu itu akan muncul dan takut mendapat cibiran dari orang lain. Tak jarang mereka langsung memberikan tindakan/ekspresi intimidatif kepada si anak, baik secara fisik maupun psikis. Di kondisi ini toxic parent tidak lagi memikirkan perasaan si anak, sebab yang ada hanyalah soal diri-egonya saja di depan (perbincangan) masyarakat.

Saya beri contoh, berdasarkan pengalaman yang diperolehnya, salah seorang toxic parent menganggap bahwa pekerjaan sebagai seorang insinyur sangatlah profitable dan prospektif dibanding profesi lain (guru misalnya). Maka ia kemudian memaksa anaknya untuk mengambil jurusan tersebut. Tetapi apakah benar itu baik bagi si anak? Belum tentu, karena kemampuan yang dimiliki bisa jadi berbeda dan bisa jadi dia tidak memiliki passion di bidang tersebut.

Kasus lain yang hampir mirip, ialah berdasarkan pengalamannya seorang toxic parent menutut anaknya untuk menjadi PNS karena menurutnya si anak akan mendapat posisi aman (comfort zone) dalam hidup. Padahal si anak lebih cenderung suka hidup dan menjadi pekerja lepas/serabutan seperti aktivis sosial, atau penulis, atau pekerja seni, atau apa pun tapi bukan PNS.

Kalau si anak adalah tipe yang penurut, mungkin dia bisa menuruti permintaannya, meski itu sangat melawan passion dan kata hatinya, apalagi demi menyenangkan hati orang tuanya. Tetapi hati-hati, karena si anak akan menyimpan bom waktu yang akan meledak di luar ekspektasi dan tanpa tendeng aling-aling, seperti bunuh diri misalnya.

Comparing
Ada ciri lain dari seorang toxic parent, yakni kegemarannya untuk membanding-bandingkan anaknya dengan (anak) orang lain yang dalam pandangannya atau perspektifnya lebih hebat/sukses. Dan lebih ironi lagi, perbandingannya hanya soal besaran gaji.

Padahal hidup bukanlah soal besaran gaji, karena bagi saya orang yang bermental miskin, meski memiliki penghasilan yang besar tetap saja akan selalu merasa kekurangan. Sebaliknya, mereka yang bermental kaya, suka bersyukur dengan terus berusaha meningkatkan ikhtiar, akan senantiasa puas dengan apa yang telah diperolehnya. Terlebih, rezeki bukan hanya datang dari gaji. Terlalu picik jika menganggap gaji adalah satu-satunya media rezeki yang Tuhan beri kepada hamba-Nya.

Di luar besar-kecil gaji, ada pula orang yang lebih memilih jalan mulia meski jika dinilai dari sisi materil, akan terkesan tidak ada untungnya. Misalnya ada seseorang yang memilih untuk mengabdi pada rakyat, seperti melayani masyarakat akar rumput, membina, dan melakukan upaya peningkatan kualitas diri. Ironis, masih banyak para orang tua yang tidak menghargai tindakan anaknya jika si anak tersebut tidak bisa memproduksi uang yang besar, seberapa pun mulianya pekerjaan tersebut.

Malangnya, kasus compraring ini terjadi pada diri saya sendiri. Bahkan setelah saya mengorbankan keinginan dan cita-cita pribadi demi menyenangkan dan memenuhi keinginan orang tua, ternyata ketika di belakang saya mereka tetap saja mengeluhkan dan “merendahkan” segala pencapaian yang telah saya raih, karena penghasilan yang saya dapat tidak sebesar anak tetangga atau saudara-saudaranya.

Jangan tanya soal aktivitas saya yang ada di sana-sini, selama tidak menelurkan uang yang besar, maka hanya akan dianggap sebagai sesuatu yang useless.

***

Kita mungkin tidak bisa mengubah cara pandang mereka, yang barangkali sudah sangat berurat-akar, tetapi hal ini dapat kita lakukan ke anak-anak kita kelak. Jangan sampai kita berbuat demikian kepada mereka, sebab harus dipahami bahwa pada hakikatnya setiap anak yang lahir di muka bumi ini adalah manusia bebas (bukan properti orang tua) yang diberi tanggung jawab oleh Tuhan dengan tata aturan “barangsiapa yang yang menuai maka ia akan memperoleh hasilnya.”

Orang tua harusnya bisa memberikan kebebasan kepada si anak (terlebih ketika dia sudah memasuki masa dewasa) untuk memilih jalan hidup dan pilihannya berdasarkan kehendaknya di mana konsekuensi akan ditanggung oleh mereka sendiri. Peran orang tua hanya sebagai penasihat atau pemberi saran, bukan memberi penekanan (stressing) apalagi instruksi. Karena apa yang dianggap baik oleh orang tua, meskipun dibekali dengan pengalaman yang lebih banyak dibanding si anak, belum tentu baik dan cocok bagi si anak.

sumber gambar: islamudina.com

Geliat Toxic Parent

by on Juni 04, 2019
Masih banyak, kalau enggan berkata hampir semua, orang tua menganggap anaknya sebagai properti, yang dengannya merasa memiliki hak preogat...
Pekan lebaran selalu menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh mayoritas masyarakat Indonesia, khususnya para perantau, sebab hanya di momentum inilah mereka berkesempatan untuk pergi menemui orang tua atau sanak saudara yang berada di kampung halaman. Alasannya, bukan hanya karena mendapatkan libur atau cuti panjang tetapi juga biasanya lantaran telah diberi Tunjangan Hari Raya (THR) oleh perusahaan tempat di mana mereka bekerja. 

Berkunjung atau kembali ke kampung halaman ini pada akhirnya dikenal dengan istilah mudik. Ada sumber yang menyatakan bahwa kata ini terambil dari Bahasa Jawa Ngoko yang merupakan singkatan dari mulih dilik, artinya pulang sebentar. Oleh karena itu mudik tidak selalu berhubungan dengan lebaran.

Sumber lain mengungkapkan bahwa mudik diambil dari kata udik yang memiliki dua pengertian. Yang pertama berarti kampung, desa, dusun, atau suatu tempat apa pun yang berlawanan dengan istilah kota. Sedangkan yang kedua memiliki arti selatan atau hulu. Ini untuk menyebut nama sebuah tempat yang ada di Jakarta, seperti Meruya Udik, Sukabumi Udik, dan sebagainya.

Atau seperti yang didedahkan oleh Aditya Pradana Putra dalam salah satu artikelnya bahwa dalam pergaulan masyarakat Betawi dikenal istilah mudik dan milir. Jika mudik berarti pulang, milir bermakna pergi. Dari sanalah kemudian muncul istilah milir-mudik yang maknanya sama dengan bolak-balik, karena mereka melakukan perpindahan dari utara ke selatan (atau sebaliknya) dalam rangka aktivitas perdagangan. Pada saat itu banyak orang luar Jawa yang mengadu nasib ke Batavia baik untuk bertani maupun berdagang melalui jalur sungai.

Entah sejak kapan istilah mudik melekat dengan momentum lebaran. Tetapi ada indikasi kuat bahwa ini mulai familiar dipakai pada tahun 1970-an ketika Jakarta menjadi semakin dipadatkan oleh imigran dari luar Jawa yang memiliki harapan dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan bertaruh nasib ke ibukota. Sayangnya, mereka yang sudah mendapatkan pekerjaan tetap, umumnya di dalam sebuah institusi atau perusahaan tertentu, tidak bisa meliburkan diri seenaknya dan hanya diberi kesempatan libur panjang pada saat pekan lebaran saja.

Akan ada pandangan menarik dari konsekuensi kebijakan ini, yaitu jika di hari-hari biasa Jakarta senantiasa padat bahkan macet, di pekan liburan lebaran Jakarta menunjukkan wajahnya yang langka, suasana jalanan yang sepi dan lowong. Ini dapat dimengeri karena sebagian besar warga Kota Jakarta adalah para pendatang.

Namun hari ini bukan hanya Jakarta yang menjadi incaran para imigran, melainkan juga kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Yogyakarta, atau Surabaya. Sehingga mudik menjadi sesuatu yang membudaya di Indonesia. Bukan hanya karena sifatnya yang menasional tetapi juga karena keberulangannya yang terjadi setiap tahun.

Sebenarnya mudik bukan hanya menjadi tradisi orang Indonesia tetapi juga terjadi di beberapa negara lain seperti India, Bangladesh, dan Malaysia. Walaupun sekadar minoritas, ketika musim lebaran tiba India sangat memperlihatkan sisi kultur keislamannya, yang dalam beberapa hal lebih heboh dibandingkan Indonesia. Transportasi umum seperti kereta api akan dipenuhi orang-orang yang saling berdesakan, bahkan sebagian dari mereka ada yang rela bergelantungan di pintu, jendela, hingga atap kereta, demi bisa pulang ke kampung halaman.

sumber gambar: bengkulutoday.com