Semua Bisa, Asal Mau Sungguh-Sungguh!

Muhammad Irfan Ilmy
Menyenangkan sangat membaca pengalaman seseorang yang sedang menempuh studi (singkat sih, mungkin semacam pertukaran pelajar) di Jepang yang ia bagikan di akun mediumnya. Saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Kenal saja tidak apalagi pernah makan bareng. Astagfirullah. FYI, dia itu cewek. Tapi ceritanya sangat dekat. Seperti saya mendengar pengalaman dia secara langsung di angkringan atau tempat-tempat nongkrong enakeun lainnya.

Saya mengenal Jepang dari banyak penuturan orang-orang sebagai negara dengan penduduk yang memiliki karakteristik kuat. Disiplin, pekerja keras, suka membantu dan berbagai sifat-sifat unggul lain membuat saya terpikat juga dengan negara ini. Entahlah, apakah saya suatu saat bisa berkunjung ke sana atau tidak? Tapi tentu saya punya keinginan untuk menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan sakuranya itu selain juga hal-hal lainnya. Jangan cuma menginjakkan kaki doang sih harusnya, namun juga menyerap banyak pembelajaran dari sana. Serta kalau bisa, memberi juga untuk negara itu walau kuantitasnya enggak banyak. Kalau bisa banyak, kenapa harus sedikit?

Prinsip saya, juga harusnya jadi prinsip kita semua, di mana pun kita berada, kita harus meninggalkan sesuatu yang berguna. Dikenang memang cukup penting, tapi itu tidak yang utama. Berusaha menjadi manusia yang sejati, yang benar-benar manusia, justru mesti jadi dorongan terbesarnya. “Manusia mati, meninggalkan apa yang ditinggalkannya,” kata kang Puji Prabowo (founder Kelompok Belajar Aurora) suatu ketika. Dan kalimat itu senantiasa meneror saya tiap saat. Bagus lah. Ada alarm yang senantiasa jadi pengingat di kala hoream datang bertandang.

Balik lagi ke tentang cerita si neng tentang pengalamannya berangkat ke Jepang dan apa yang di alami di awal-awal ia tinggal sana. Dari tulisanya pun saya melihat kebahagiaan yang tak terkira itu. Menyenangkan pisan tampaknya bisa mengunjungi bumi Allah bagian lain yang menawarkan ragam budaya, agama, sosial, politik, dan lain-lainnya sewaktu masih muda. Apa yang terjadi di masa muda, memang kesannya akan tinggal lama di kepala. Sementara saya, sudah menuju tua seperti ini, main masih di sini-sini saja. Kuper alias kurang perjalanan. Pergaulan pun jadi terbatas. Pemikiran sempit seperti kamar kontrakan saja. Alamak. Sempurna sudah penderitaan hamba.

Serem yah kalau ada pertanyaan dari malaikat, sudah habiskan kemana saja waktu kamu selama di dunia? Sudah dilangkahkan ke mana saja kaki kamu yang diberikan secara cuma-cuma itu? Apakah kamu tak tertarik untuk menengok dan merenungi ciptaan Allah di wilayah yang jauh dari tempat tinggalmu dan belajar banyak dari sana? Tapi kayaknya enggak ada pertanyaan sespesifik kayak gitu juga sih. Selamet. Hanya saja, saya kan termasuk orang yang beruntung bisa mengakses informasi dan menempuh pendidikan yang lumayan, nah itu barangkali yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Oh tidak.

Tak harus terbatas Jepang saja sih. Negara-negara (tetangga) lain pun pastinya punya keunggulan masing-masing, termasuk Indonesia sendiri. Dengan beragam kemudahan yang ditawarkan era sekarang, pergi ke luar negeri menjadi seperti jalan ka cai, gampang sekali. Dengan catatan tentu punya banyak fulus. Tapi soal fulus ini menjadi bukan koentji satu-satunya. Banyak yang punya akses ke negara-negara lain (lewat beasiswa, pelatihan fully funded, dan berbagai kegiatan internasional lain) dengan perantara kemampuan dan prestasinya.

Kemampuan berbahasa tentu jadi faktor utama dan ditambah kontribusi yang telah mereka berikan kepada masyarakat serta lebih jauh lagi ke negara mereka. Jadi, pilih saja, mau lewat jalur mana? Mau jalur duit, ya tentu harus (punya mertua) kaya. Atau ketika memang kantong tak memungkinkan, maka maksimalkanlah jalur yang kedua. Dua-duanya memang tak gampang, tapi tak mustahil juga. Man jadda wa jada, kata ungkapan Arab mah.

Terakhir, semoga saja kita suatu saat bisa berkesempatan menambang sebanyak mungkin sudut pandang dari pola hidup manusia-manusia di belahan dunia lain. Tentu selain menikmati keindahan alam serta tempat-tempat monumentalnya, yang terpenting adalah mengambil pelajaran mengapa mereka bisa sampai di titik itu. Sekian. Selamat menanti berbuka puasa.

Penulis, telah menerbitkan buku kumpulan puisi Abadi di Telapak Kaki dan Pendiri IPAI Inspiring Forum

sumber gambar: niindo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar