Puasa, Lapar, dan Hasrat-Hasrat Lainnya

Bulan ini diagendakan Allah bagi umat-Nya untuk melakukan sebuah ibadah bernama puasa. Secara syariat puasa berarti menahan makan dan minum dari subuh hingga magrib. Tentu beserta larangan-larangan lain yang sekiranya dapat membatalkan ibadah puasa itu sendiri.

Namun di samping itu, bulan puasa berarti manusia memasuki kawah candradimukanya masing-masing. Umat Islam khususnya mengalami penggemblengan diri berdasarkan kurikulumnya masing-masing.

Mereka yang terkendalikan oleh rasa lapar akan diajarkan mengendalikan hasrat paling primordial manusia itu agar rasa lapar tidak menjadikan sebuah motif untuk berlaku tak manusiawi. Tak sedikit ras manusia yang saling bunuh karena lapar.

Bagi mereka  yang sudah bisa mengendalikan lapar, masih ada hasrat lain, sebut saja birahi. Tak jarang juga manusia bisa saling hilangkan nyawa dikarenakan apa yang ada dipangkal paha. Selebihnya masih banyak hasrat-hasrat lain, seperti keinginan untuk terlihat lebih baik dibanding orang lain, keinginan untuk berkuasa atas hajat hidup orang lain atau keinginan untuk berlaku sesuka hatinya dengan mengesampingkan hak orang lain.

Semua hasrat itu tidak boleh diabaikan begitu saja karena tak jarang juga manusia bisa saling tebas leher hanya karena jabatan, pangkat, popularitas, nama baik atau bahkan karena ingin terlihat yang paling kuat diantara manusia lain.

Maka puasa berarti pengendalian terhadap hawa nafsu. Saya termasuk yang kurang sepakat jika kata yang digunakan adalah menahan, karena mau tidak mau, hasrat itulah yang membuat manusia bertahan hidup. Bahkan hasrat itulah justru yang kalau kita mampu mengendalikannya, akan menjadi kendaraan kita menghadap Ilahi sebagai hamba-Nya, yang  juga berarti akan menjadi kendaraan kita menuju surga-Nya. Hasrat itulah yang dalam terminologi lain kita pahami sebagai nafsu al mutmainah.

Puasa ialah ibadah yang paling rentan dicuri keabsahannya, kita bisa saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain, namun bukan berarti kita bisa membohongi nilai puasa tersebut. Tak perlulah kita terlalu jauh menghitung amal dan dosa, biarlah itu sudah ada petugasnya yang menghitung.

Namun  secara duniawi saja kita hitung, jika kita mencurangi puasa, berarti kita tak sanggup menjadi penguasa atas diri kita sendiri. Akal kita masih di perut jika kita gagal mengendalikan rasa lapar. Akal kita setara hewan melata yang otaknya sangat dekat dengan tanah, berarti akal kita belum terletak di tahta yang semestinya yakni di kepala.

Sekali lagi, berarti puasa bukan tentang menahan, karena sesuatu yang ditahan acapkali meluap. Kita tahan rasa lapar seharian, lalu selepas kumandang azan magrib kita makan besar dengan rakusnya melebihi apa yang dibutuhkan tubuh bahkan melebihi yang sanggup ditampung perut, nilai apa yang kita peroleh dari puasa semacam itu?

Puasa hanya diklat sebulan, agar kebiasaannya berlanjut sebelas bulan kemudian, dan kembali diperbarui dan di-upgrade kemampuan pengendaliannya di Ramadan berikutnya. Pada bulan puasa ini kita berlatih mengendalikan diri beserta segala hasrat yang terkandung di dalamnya.

Maka sebagai siswa diklat yang baik atau sebagai prajurit yang bijak, sebelum terjun ke dalam kawah candradimuka ini, lakukanlah pengukuran, nafsu mana yang kita acapkali membuat iman kita kalah dan seringkali menjerumuskan kita untuk menjauh dari jalan kebenaran. Latih untuk mengendalikannya dan lihat selepas puasa nanti, adakah perubahan atau sama saja? Itulah yang akan kita jadikan parameter apakah kita sudah menjalankan puasa dengan baik atau tidak. Karena setiap pendidikan yang baik tercermin dari adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik.

sumber gambar: lakeybanget.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar