Menyambut Puasa dengan Cerdas


Ramadan segera tiba. Seperti biasa, umat Muslim dari seluruh penjuru dunia akan menyambutnya dengan penuh suka cita, tanpa terkecuali Indonesia. Beragam ekspresi kegembiraan bermunculan, mulai dari yang tradisional seperti pawai obor, dugderan (semacam pesta rakyat), nyadran (pembersihan makam), balimau (mandi menggunakan jeruk nipis), munggahan (kumpul bersama keluarga dan kerabat sembari menikmati sajian makanan khas), hingga yang modern, seperti menyebarkan ucapan maaf di media sosial.

Islam sendiri tidak melarang ekspresi-ekspresi kebudayaan tersebut, selama prinsip-prinsip agama senantiasa terpelihara.

Tetapi terlepas dari semua hal di atas, gegap gempita ini tentu saja tidak boleh dilepaskan dari esensinya, yakni pembentukkan diri menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa. Yang terakhir disebut secara eksplisit termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183—Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, mengingatkan seluruh umat mukmin untuk concern terhadap tujuan dan bukan gimmick-nya.

Ini bisa dipelajari dari hasil evaluasi Ramadan sebelumnya di mana kita masih saja suka terjerembab ke dalam simplifikasi pemaknaan puasa. Salah satu contoh ialah soal menahan makan dan minum.

Memang, secara fiqhiyyah sudah banyak umat Muslim yang bisa menahan makan dan minum hingga waktu berbuka tiba. Tetapi sesegera pasca azan magrib berkumandang, bak orang yang sangat kelaparan, kita melahap sebanyak dan seberagam mungkin hidangan yang tersaji, membuat perut kekenyangan sehingga sulit untuk menunaikan ibadah-ibadah mahdah lainnya.

Fenomena ini bahkan telah dapat dipantau semenjak sore hari di mana banyak umat Muslim yang tersibukkan oleh remeh-temeh persiapan berbuka. Pendidikan puasa yang pada awalnya menghendaki pengendalian hawa nafsu kembali dipertanyakan efektivitasannya. Tidak takutkah kita dengan ucapan Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa “Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga saja?” (HR. Ibnu Majah).

Dengan benar-benar meresapi ibadah puasa, seharusnya juga dapat membentuk kepribadian kita menjadi diri yang lebih tenang, tidak reaktif dan mudah marah. Sayangnya beberapa tahun belakangan ini sikap-sikap tersebut malah semakin santer bermunculan, terlebih di media sosial.

Oleh karena itu, di puasa kali ini umat Muslim harus meningkatkan level berpuasanya, tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban tetapi perlu meresapinya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Puasa adalah membentengi diri. Maka apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Dan jika ada seseorang yang memakinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku seorang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya jika karakter semacam kesabaran, kontrol diri, dan kelemahlembutan, bermunculan pasca umat Muslim menunaikan ibadah puasa. Bukan hanya efeknya berguna bagi diri sendiri—baik dari segi fisik maupun spiritual—lebih jauh lagi akan menggiring “kultur” gerak dunia menjadi lebih positif, penuh dengan kasih sayang dan empati.

Contoh keberhasilan dalam memaknai puasa dapat dilihat dari sosok agung Nabi Muhammad yang oleh Allah sendiri dipuji dalam beberapa kalam-Nya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam, 68: 4). Begitu pun di dalam surat Ali Imran ayat 159, “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Wallahu ‘alam. [] 

sumber gambar : batam.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar