Menikah: Antara Pilihan, Kewajiban, atau Keterpaksaan

Perbincangan mengenai pernikahan adalah hal yang lumrah bagi para pemuda. Di antara mereka ada yang merasa antusias, santai, bingung, bahkan galau terhadapnya. Dalam pernikahan terdapat momen sakral yang menjadi sejarah hidup seseorang sehingga mesti dipikirkan dan disiapkan sebaik mungkin. Bukan hanya itu, pernikahan juga membuat banyak perubahan dalam kehidupan. Akan banyak peran, tugas, amanah, tanggung jawab dan aktivitas yang berubah setelahnya.

Saya sendiri sudah menikah dua tahun lalu di usia 23 tahun. Ada banyak hal yang saya syukuri dan ada pula beberapa hal yang terkadang masih saja saya keluhkan. Di antaranya saya bersyukur dengan pernikahan yang cukup lancar, tidak banyak luka-liku asmara sebelum menikah, selalu ada istri sebagai pendamping hidup, dianugerahi keturunan, kelancaran dalam karir, hubungan keluarga yang baik dan banyak hal lainnya.

 Adapun hal yang masih dikeluhkan adalah semakin bertambahnya amanah dan tanggung jawab. Segala pikiran, tenaga, finansial, waktu dan materi tak bisa lagi menjadi milik pribadi melainkan mesti berbagi untuk keluarga.

Pengalaman dan pandangan tentang pernikahan setiap orang berbeda sehingga belum tentu bisa menjadi patokan kesuksesan satu sama lain. Jujur saja dahulu saya menikah lebih karena dorongan nekad. Motivasi menikah karena terpengaruh lingkungan sekitar dan keinginan untuk menjaga diri. Ambisi saya hanya ingin menikah, tak terlalu dipikirkan saat itu saya belum punya rumah, pekerjaan masih belum tetap, dan penghasilan masih sedikit. Meskipun demikian setelah pernikahan, perlahan–lahan selalu ada jalan untuk berbagai permasalahan tersebut. Alhamdulillah.

Jalan kehidupan setiap orang berbeda-beda, kadang mengalami kesenangan dan juga kesulitan, begitu pun dengan kehidupan pernikahan. Tak sedikit saya menemukan orang yang sudah menikah semakin tampak bahagia namun ada pula di antaranya dipenuhi dengan kehidupan yang malah sulit.

Pernah pula saya bertemu dengan orang yang masih belum menikah sampai usia yang tak muda lagi. Di antara mereka ada yang menyesal, merasa putus asa, masih mengupayakan dan ada pula yang berusaha tabah dan kuat dengan kondisi yang ada. Di sisi lain ada pula orang yang kandas dalam pernikahannya sampai tak menikah lagi karena berbagai hal. Ada pula orang yang berkali-kali menikah berganti pasangan.

Tidak sedikit pemuda menanggap pernikahan adalah puncak cinta kedua insan, padahal sejatinya pernikahan adalah gerbang awal menuju puncak, akan banyak luka-liku yang menjadi ujian bagi kedua insan dalam cintanya.

Menikah tak seindah berpacaran. Akan banyak kejutan-kejutan yang tak disangka-sangka setelah menikah. Pasangan menikah adalah manusia yang tentunya tak sempurna sehingga pasti memiliki kekurangan. Tugas bersama untuk saling meredam kekurangan masing-masing sehingga mampu hidup bersama beriringan.

Dalam agama Islam, menikah merupakan hal yang sangat dianjurkan. Bahkan dalam hadisnya Rasulullah saw mengecam orang yang sengaja menolak untuk menikah seumur hidupnya. Namun secara teknis, ajaran Islam menggantungkan hukum menikah sesuai dengan kondisi setiap individu. Kadangkala bisa menjadi wajib, sunnah, hingga haram. Hal ini mengindikasikan bahwa mekipun Islam sangat menganjurkan menikah, namun tak memaksakan. Setiap individu mesti menilai dirinya sudah ada di tahap hukum yang manakah ia mengenai pernikahan. Maka dari itu islam sangat menekankan kesiapan dan kesesuaian dalam memasuki jenjang pernikahan.

Keberhasilan dalam pernikahan bukanlah dinilai dari siapa yang paling cepat atau lambat menikah, yang paling kaya, yang paling bersama selalu, yang paling banyak keturunan dan bukan pula yang paling menunjukan romantisme. Jika dilihat dari segi agama pernikahan yang berhasil adalah pernikahan yang mampu membentuk keluarga yang terhindar dari siksa api neraka. Dalam artian pernikahannya diliputi ketaatan dan keridhaan Allah meskipun banyak luka liku dalam kehidupan rumah tangganya.

Dengan demikian bagi yang sudah memiliki ikatan pernikahan maka jagalah dan jalani dengan sebaik mungkin. Bagi pembaca yang saat ini belum menikah maka tentukanlah pernikahan jika memang telah benar-benar siap. Tak perlu menunggu sempurna dan serba ada untuk menikah. Menjalani roller coster pernikahan terasa asyik juga.

Pasangan yang mendampingi ketika sulit sudah pasti lebih mudah mendampingi ketika senang, namun tidak sebaliknya. Persiapkan pernikahan, jangan terlalu terburu-buru karena melihat banyak teman sebaya yang sudah menikah. Jangan pula terlalu lama menentukan hingga termakan usia. Diskusikan dengan diri sendiri, keluarga, dan Tuhan tentunya untuk menemukan jalan terbaik. Sehingga pernikahan yang sakral ini benar-benar menjadi momen yang bermakna atas pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan atau sekadar memenuhi kewajiban sosial saja.

sumber gambar: brilio.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar