Menagih Tanggungjawab Moral Peraih Beasiswa. Mana nih Kontribusimu?


Sungguh terasa berat sekali bagi saya untuk menuangkan tulisan ini. Betapa tidak, senyatanya saya memiliki banyak sekali teman yang dalam pendidikannya ditopang dari dana beasiswa (pemerintah)[1]. Di Indonesia sendiri, beasiswa memang sangat dicari-cari, didambakan, para peraihnya begitu dibanggakan dan juga merasa bangga.

Tapi tidak dengan saya. Secara pribadi, saya malah lebih senang jika sekolah atau kuliah dengan menggunakan dana sendiri daripada ditopang pihak lain. Betapapun kerennya, bukankah tangan di bawah tidak lebih baik daripada tangan di atas? Jadi, sejujurnya saya agak merasa aneh dengan mereka yang bangga ketika meraih beasiswa, meskipun bukan berarti secara otomatis saya merendahkan status para penerima beasiswa. Tidak. Tetapi, selama kita bermental “menerima” maka selama itu pula saya kira masyarakat Indonesia tidak akan bisa menjadi pribadi yang berdikari dan bebas.

Sebagaimana telah diketahui bersama, dana beasiswa bukanlah sesuatu yang turun dari langit, bukan juga dari saku pribadi para pekerja di pemerintahan, apalagi para pejabatnya, melainkan jelas-jelas dari uang rakyat. Dan sejatinya dana beasiswa ini bukanlah suatu pemberian yang gratisan, namun suatu amanah yang maha berat, karena baik secara langsung maupun tidak, ini menuntut si penerima untuk bisa “mengembalikannya”, bahkan kalau bisa dalam bentuk kuantitas atau kualitas yang lebih besar.

Jauh api dari panggang, pada kenyataannya saya malah melihat pola yang sebaliknya. Di masa sekolah/kuliah banyak di antara mereka (para penerima beasiswa) yang suka bergaya hidup hedon, flamboyan, bahkan terkesan elitis. Setelah lulus, bukannya memiliki ketukan hati untuk “mengabdi” atau setidaknya “membayar utang” dana beasiswa yang pernah didapatnya, mereka malah semakin bersemangat untuk meninggikan kualitas pribadinya sendiri. Lupa dengan si pemberi dana yang sesungguhnya.

Mbok ya tengok mereka yang lemah nan terpinggirkan. Bukan malah sekadar dijadikan sebagai objek penelitian saja. Ironinya, setelah lulus ada yang entah menghilang ke mana, ada yang menjadi budak korporasi internasional, melejitkan karir, dan lain sebagainya. Terkesan egois banget enggak sih?

Saya akan tetap memandang pengabdian ini sebagai suatu tanggungjawab moral, dan bukan suatu “kewajiban-formal” yang instruktif, supaya tindakan ini tetap berada di posisinya yang luhur, sehingga membuat pelakunya meraih posisi mulia.

Oh iya, yang saya maksud dengan tanggung jawab moral di sini ialah suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan secara sukarela (karena memang tidak diwajibkan) dalam rangka membangun dan membina⸻atau minimal membantunya⸻sumber daya manusia-manusia yang lemah, tertindas, dan terpinggirkan agar dapat berdaya.  

Karena sifatnya yang sukarela, maka jangan harap akan memperoleh imbalan materil-finansial, kenaikan pangkat, atau pun sekadar pengakuan “struktural-kultural”. Bahkan tak jarang dalam posisi ini kita harus siap merogoh kocek pribadi, dan yang paling berat tetapi bernilai kemuliaan ialah berani berdamai dengan kepentingan atau hasrat-hasrat pribadi (semisal travelling, nonton konser, belanja, bersenang-senang di mall, dsb). Belum lagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Maka perbuatan ini saya sebut sebagai jihad akbar.

Jangan tanya bentuk konkret apa yang sebenarnya saya harapkan, karena sekecil dan seserderhana apa pun tindakan tersebut, tetap dianggap sah. Cukup lakukan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Maka terlihat, ada yang sekadar mampu membuat taman baca, tempat belajar gratis, pelatihan kepenulisan gratis, pembinaan baca Alquran, hingga yang sedikit kompleks seperti membentuk komunitas-komunitas sosial.

Ah, saya tidak mau terlalu mengeja. Kamu pasti lebih paham, kan katanya kamu orang terpilih nan pintar!

sumber gambar: suneducationgroup.com



[1] Dalam tulisan ini objek yang menjadi sorotan saya hanyalah para peraih beasiswa pemerintah, bukan dari pihak swasta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar