Ini Dia Asal-Usul Penggunaan Kata Puasa, Kalian Sudah Tahu?

Bulan Ramadan tiba. Umat Muslim di seluruh dunia, termasuk masyarakat Indonesia, menyambutnya dengan penuh suka cita.

Beragam ekspresi kegembiraan bermunculan, mulai dari yang tradisional seperti pawai obor, dugderan (semacam pesta rakyat), nyadran (pembersihan makam), balimau (mandi menggunakan jeruk nipis), munggahan (kumpul bersama keluarga dan kerabat sembari menikmati sajian makanan khas), hingga yang modern, seperti menyebarkan ucapan maaf di media sosial. Islam sendiri tidak melarang ekspresi-ekspresi kebudayaan tersebut, selama prinsip-prinsip agama senantiasa terpelihara.

Momentum Ramadan tentu saja tidak akan bisa lepas dengan ibadah puasa. Tetapi siapa yang menyangka bahwa redaksi kata puasa tidak dikenal di dunia Arab. Alquran pun tidak menyebutnya.

Ini wajar saja sebab istilah puasa adalah milik orang Indonesia yang terambil dari bahasa Sansekerta, upawasa atau upavasa, yang menurut sebagian kalangan bermakna sebuah ritual tertentu untuk “masuk” ke Yang Ilahi. Yang lain mengartikannya sebagai hidup yang terbiasa dekat dengan Tuhan melalui doa dan senantiasa berpegang teguh terhadapnya.

Uniknya, menurut M. Jadul Muala, pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, orang­orang Jawa memiliki rujukan yang berbeda untuk mengistilahkan puasa, yakni pasa, yang berarti kekangan, mengekang, atau menahan sesuatu dari hal­hal tertentu, yang kemudian berkembang menjadi kata puasa. Dan ini telah dikenal atau digunakan jauh sebelum Islam mempraktikkannya, kira­-kira oleh penganut Hindu dan Buddha, bahkan sebelumnya (nu.or.id).

Fakta sejarah ini nyatanya selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Alquran, “...diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al­Baqarah, 2: 183). 
 
Jika merujuk pada kitab suci Alquran, Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan Al-Qur'an mengungkapkan bahwa redaksi kata puasa yang digunakan ialah shiyam. Ditemukan sebanyak delapan kali, semuanya memiliki pengertian hukum syariat.

Memang Alquran juga menggunakan kata shaum tetapi maknanya lebih pada upaya menahan diri dari berbicara (membisu), seperti ucapan perawan suci Maryam yang diajarkan oleh malaikat Jibril untuk merespon ketika ada pertanyaan yang dilayangkan kepadanya ketika melahirkan Isa. “Sesungguhnya aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun” (Maryam, 19: 26).   

Baik shiyam maupun shaum terambil dari, lebih lanjut Shihab menguraikan, akar kata yang sama, yakni sha-wa-ma, yang dari segi bahasa memiliki makna yang bersikar pada “menahan”, “berhenti”, atau “tidak bergerak.” Sebagai contoh adalah istilah untuk kuda yang berhenti berjalan disebut faras shaim.

Manusia yang menahan diri dari aneka aktivitas apa pun sebenarnya bisa pula dinamakan shaim (berpuasa). Maka wajar jika ada yang mempersamakan shiyam dengan sikap sabar karena adanya kesamaan dalam esensinya. Hanya saja secara istilah dalam agama Islam, kata shiyam hanya diartikan sebagai aktivitas menahan diri dari makan, minum, dan mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, sebuah pengertian yang sepenuhnya telah diadopsi oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Namun kaum sufi tidak mau berhenti di sana. Melangkah lebih jauh, mereka meyakini bahwa puasa tidaklah sekadar aktivitas fisik atau lahiriah, melainkan harus pula mengikutsertakan aspek batin, menahan anggota tubuh dan hati dari segala macam bentuk dosa dan kelalaian dari mengingat Allah.

sumber gambar: merahputih.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar