Cogito ergo sum Sebagai Terpelajar

Agung Fajar
Setiap dalam forum belajar, pelajar dituntut  aktif  dan  mampu  berinteraksi dengan  baik  pada  guru dan pelajar lainya. Sebenarnya ini tidak hanya berlaku dalam pendidikan formal saja tetapi juga  non formal, keduanya harus seimbang dengan mengikuti proses pembelajaran baik yang menghasilkan seorang semakin progresif dan berkembang.

Mengambil ilmu dari guru, berinteraksi dengan baik bersama teman-teman dan  menghasilkan  nilai-nilai yang memuaskan di setiap penilaian akhirnya membuat seorang itu menjadi puas, suatu contoh yang baik jika melihat fenomenal yang sekarang dengan banyaknya murid atau siswa dalam forum kelas namun tidak semuanya bersifat aktif dari penyampaian guru-gurunya dalam proses pembelajaran, perlu adanya pengevaluasian semua pihak.

Jika dikaitkan dengan konsep Rene Descartes, seorang filsuf yang mengemukakan “Cogito ergo sum” memiliki arti “aku berfikir maka aku ada” di saat fenomena sekarang banyak  dalam forum belajar yang tidak aktif (berfikir) maka sama saja tidak ada subjek dalam kelas  tersebut  atau  hanya murid-murid yang aktif saja (berfikir) yang ada.

Banyak faktor yang mempengaruhi meskipun upaya-upaya dari para pengajar sudah dilakukan agar si anak mampu aktif dalam proses pembelajaran, bagaimana dengan si anak atau muridnya? Faktor-faktor utama terletak pada mental, pengetahuan, dan kondisi lingkungan keluarga.

Mental
Mental menjadi faktor utama karena untuk siswa-siswi, baik mengetahui atau tidaknya suatu materi, mereka cenderung takut akan sebuah kesalahan saat mereka aktif pada sebuah pembelajaran.

Ribuan kali guru yang baik selalu menjabarkan salah atau tidaknya bukan menjadi penilaian tetapi proses berfikir dan keberaniannya dalam mengeluarkan gagasan atau pengetahuan pada ruang umum yang menjadi pertimbangan guru untuk melakukan penilaian.

Jika gagasan atau pengetahuan yang kita lontarkan mencapai suatu kebenaran anggaplah ini bonus dari hasil banyaknya kita mengikuti pembelajaran.

Sekolah tempatnya orang-orang yang belum mampu menguasai ilmu untuk itu mereka dituntut belajar, belajar dan belajar dari sang guru agar harapanya jika mereka belum menguasai minimal sudah mengetahui dari salah satu atau banyaknya ilmu untuk dijadikan bekal hidup di masa yang akan datang.

Pengetahuan
Apabila kita memiliki pengetahuan yang banyak dalam ilmu apa pun pastilah kita dominan lebih aktif dibandingkan dengan yang minim pengetahuan.

Ilmu bersifat menjalar saling berkaitan satu sama lain pastilah ada unsur-unsur yang menjadi penyambung dan penyambung itu lewat pengetahuan yang kita miliki. Untuk memperoleh pengetahuan banyak caranya salah satunya membaca.

Hanya saja peminat pembaca di Indonesia masih minim yang menjadikan indeks literasi Indonesia rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Lewat membaca kita mengetahui dunia karena peran buku masih sebagai jendela dunia, namun di era digital ini memberikan kita kemudahan untuk membaca tidak hanya dalam buku, internet dapat kita manfaatkan terutama pelajar-pelajar SMA yang notabene sudah menggunakan smartphone hanya saja bagaimana kita dapat menyaring menganai sumber dari apa yang kita baca.

Banyak manfaat yang didapatkan melalui membaca terlebih membaca suatu hal yang bersifat ilmiah di antaranya:

1. Menjadikan suatu bekal pengetahuan dari suatu objek yang dibaca.

2. Melatih daya kritis untuk dijadikan bekal kemampuan

3. Mempertajam nalar yang tuhan anugerahkan pada daya pikir.

Hal-hal tersebut hanya secara garis besar dari manfaat membaca menurut penulis tentunya masih banyak manfaat-manfaat lain untuk memperoleh pengetahuan apapun metodenya.

Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga tentu sangat penting perananya yang membuat kita selalu aktif dalam forum-forum belajar karena memang sejatinya peran guru hanya pada sekolah sementara siswa-siswi dominan waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah, artinya lingkungan keluarga lebih berpengaruh untuk pendidikan karakter bagi terdidik tetapi fenomenanya lingkungan keluarga selalu mengandalkan sekolah bagi perkembangan terdidik.

Dalam hal ini seharusnya ada kesinergian antara lingkungan keluarga dan sekolah tidak bisa mengandalkan satu sisi saja. Bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada di rumah sehingga aktivitas-aktivitas di luar sekolah dapat dimanfaatkan menjadi aktivitas-aktivitas yang mendukung untuk berbuat aktif dalam forum-forum belajar.

Saya pernah melihat seorang bapak yang bermain dengan kedua anaknya sembari memberikan soal-soal matematika berupa perkalian dan pembagian, soal-soal yang diberikan dikemas seperti bermain tebak-tebakan dan kedua anak antusias menjawab soal-soal dari seorang bapak tersebut terlepas benar atau salah yang dijawab oleh anak, saya yakin cara-cara mendidik dalam rumah itu berpengaruh pula terhadap keaktifan kedua anak tersebut disekolah.

Penjabaran ketiga faktor tersebut menurut penulis hal-hal yang mempengaruhi keaktifan anak di sekolah yang akan menjalar pada pendidikan apa pun tingkatanya di mana pun tempatnya karena proses-proses berfikir telah muncul hanya saja mampukah anak tersebut untuk selalu memperasahnya agar tajam tanpa melihat benar atau salahnya dalam bangku pendidikan.

*Penulis adalah mahasiswa UNSIKA, karawang

sumber gambar: educenter.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar