Tipe-Tipe Jamaah Shalat Taraweh yang Ngeselin

Bulan puasa akan berakhir beberapa hari lagi. Dan bukannya mau sombong, saya bersyukur masih bisa mengikuti salat taraweh berjamaah di masjid, meskipun masih bolong-bolong. Tetapi karena sering salat di masjid ini jugalah akhirnya saya mendapatkan pengalaman menyebalkan dari jamaah lain, setidaknya menurut perspektif pribadi saya. Ups, ini gibah bukan sih? Untung sedang tidak berpuasa, hehe.

Dari sekian banyak pengalaman menyebalkan itu, rasanya saya cukupkan empat buah saja di mana saya yakin kalian juga pernah mengalaminya.

Injak Kaki
Kalian risih enggak sih sama mereka yang suka sekali merapatkan kakinya (ketika salat) ke kaki kita. Memang sih ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa kita perlu merapatkan kaki/bahu supaya tidak ada ruang buat setan masuk atau mengganggu. Masalahnya, mereka ini, yang sepertinya dari kalangan puber agama, suka kelewat batas, karena saking mau merapatkan kakinya sampai-sampai harus “menindas” dan menginjak (sebagian) kaki kita. Belum lagi kalau mereka punya kuku yang tajam sehingga terasa sakit ketika menyetuh kulit kaki kita.

Kalau ketemu dengan tipe orang yang seperti ini, sudah dipastikan salat saya sulit khusyuk. Dan bisa dipastikan juga, ketika mereka bertemu dengan orang kayak saya, salatnya pun tidak akan bisa khusyuk karena mereka selalu mencari-cari kaki saya (dengan senantiasa menengok ke bawah) yang entah mengapa sulit sekali disentuh.

Untuk kasus yang seperti ini, dan saya yakin kalian juga pernah mengalaminya, ada tips sederhana yang bisa dilakukan, yaitu dengan perlahan-lahan mengecilkan ruang antara kedua kaki kita. Saya kadang mau tertawa kecil kalau melihat mereka memaksakan diri untuk memperlebarkan kakinya demi mau menjangkau kaki saya yang sudah semakin jauh. Soalnya mereka menjadi seperti pemain sumo.


Badan Maju-Mundur
Ini bukan maju-mundurnya Syahrini yang dilihat dari sudut pandang mana pun terlihat elok, elegan, dan manjah, melainkan sebuah gerakan abstrak semi terkontrol yang dilakukan oleh seseorang ketika salat yang entah demi tujuan apa.

Awalnya saya mengira ini cuma sekadar gerakan tarik-ulur nafas, tapi nyatanya bukan, lebih jauh lagi mereka benar-benar menganyunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, dengan intensitas yang tinggi dan ngeselinnya secara tidak langsung mengajak badan kita untuk melakukan hal yang sama.

Sikap ngeselin ini tidak bisa dianggap remeh begitu saja, karena kalau kita tidak menyadarinya, terlebih jika sedang diselumuti oleh rasa kantuk yang mendalam, bisa-bisa kita akan terjatuh karena senggolannya itu.

Saran saya jika kalian bertemu dengan tipe orang ini, mending ambil jarak sekian senti deh daripada harus menelan rasa malu ketika terjatuh.

Tarik-Ulur Ingus
Berbeda dengan yang pertama dan kedua, sikap ngeselin yang ketiga ini memang tidak akan sampai melukai fisik kita meskipun dampak negatif yang ditimbulkan tidak kalah besarnya, karena yang mereka serang adalah daya imajinasi dan psikologi kita.

Betapa tidak, ketika mereka melakukan tarik-ulur ingus (ok saya bisa memaklumi mungkin karena dia sedang flu) yang jelas akan terdengar oleh telinga jamaah yang berada di dekatnya, maka barang tentu pendengaran kita akan terganggu. Harusnya kan kita bisa berfokus pada suara imam, tapi sekarang harus berkompromi dengan para pelaku tarik-ulur ingus ini.

Bagi yang memiliki daya kepekaan imajinatif yang cukup tinggi seperti saya, maka biasanya tindakan tersebut akan segera dianalisis secara imajinatif dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan semacam, “setelah ditarik dalam-dalam, ke manakah ingus itu?” atau “apakah dia selalu menelan ingusnya? Kalau iya, bagaimanakah rasanya?”

Di atas kegelisahan yang saya alami ini, ngeselinnya, saya sama sekali tidak melihat adanya rasa berasalah dari mereka, malah sebaliknya, saya malah melihat mereka cukup menikmati permainan tersebut. Astagfirullah.

Membaca Alquran 
Yang terakhir ini unik, karena bagaimana mungkin membaca Alquran, suatu perbuatan yang sangat mulia tetapi malah saya anggap sebagai sebuah tindakan yang “ngeselin”. Bagi saya ini bisa saja terjadi jika kasusnya seperti yang saya temui di masjid tempat saya tarawehan di mana ada seorang jamaah yang malah membaca Alquran ketika khatib sedang bertausiyah.

Walaupun sekilas nampak islami, tapi menurut saya sikap ini sangat tidak etis. Mbok ya hargai dong khatib yang sedang berceramah di atas mimbar dengan cara menyimak atau memerhatikannya dan bukan malah sibuk sendiri membaca Alquran. Ini sih sama saja seperti ada seorang siswa yang mendirikan salat duha di dalam kelas ketika guru sedang menerangkan materi. Kan jelas tidak etis.

Kalian menemukan kasus ngeselin lainnya? Silakan curhat di kolom komentar di bawah ini!

sumber gambar: kaltim.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar