3 Jenis Kesabaran yang Perlu Kamu Miliki

Menjadi Muslim berarti menjadi penyabar, sebab di dalam kitab suci Alquran ibadah salat, suatu ritual mahdah yang wajib dilaksanakan, seringkali digandeng dengan sabar, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 45, “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu...” Dan karena Allah sangat tahu bahwa sabar itu sangat susah diterapkan, maka wajar jika ayat ini dilanjutkan dengan kata-kata “... kecuali bagi orang-orang yang khusuk.” Tetapi tak perlu risau, karena yakinlah bahwa Allah senantiasa bersama para penyabar (Al-Baqarah, 2: 153).

Untungnya Allah Maha Baik. Dia tidak menyuruh umat Muslim bersabar tanpa memberi contoh yang layak untuk diteladani. Dari sekian banyak tokoh panutan, Allah begitu menjunjung tinggi kesabaran Nabi Ibrahim dalam ketaatan. Aneka cobaan silih berganti, mulai dari umatnya yang sulit untuk menerima pesan tauhidnya hingga ketidak-milikan seorang anak (sesuatu yang tentunya sangat diharapkan oleh sepasang suami istri). Bahkan ketika Allah akhirnya mengabulkan harapan tersebut, Dia kembali segera menguji keimanan Ibrahim dengan percobaan “pengurbanan” anak semata wayangnya.

Sepak terjang ini memang selaras dengan pola yang dikehendaki-Nya, bahwa “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah, 2: 155). Bukanlah kita selalu mengulang-ulang ayat ini (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, Al-Fatihah, 1: 5) yang menandakan bahwa ketaatan menjadi pendahulu atau pintu gerbang dari terbukanya aneka macam pertolongan.

Jenis kesabaran kedua yang patut kita miliki ialah, layaknya Nabi Ayub, kesabaran dalam menghadapi musibah. Tahukah pernyataan apa yang terlontar dari bibirnya ketika beliau menderita sakit parah? Kita bisa merujuk ini di dalam surat Al-Anbiya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Sebuah sikap yang luar biasa. Tetapi demikianlah yang patut ditiru, yakni senantiasa berhusnuzan dalam keadaan yang malah menuntut kita untuk banyak berkeluh-kesah.

Terakhir, kita perlu bisa bersabar dalam menahan nafsu berahi (seksual) sebagaimana Nabi Yusuf ketika digoda “... marilah kesini!” oleh Siti Zulaikha dengan berkata, “... aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik...” (Yusuf, 12: 23). Di sini Alquran bukan sedang melarang sifat kodrati manusia di mana laki-laki dan perempuan saling memiliki ketertarikan, sebab Allah sendiri mengakui munculnya hasrat tersebut di dalam diri Yusuf [... dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya...] (Yusuf, 12: 24). Hanya saja Allah menginginkan hasrat-hasrat tersebut disalurkan melalui jalur yang sah (pernikahan).

Ayat lain yang memiliki tema senada terdapat dalam surat An-Nur ayat 30-31 di mana baik laki-laki maupun perempuan dituntun untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluannya. Di sisi lain kita juga bisa melihat ketersaling-sambungan kata-kata kunci ini di dalam surat al-Mukminun yang merangkul para pekhusuk salat (sabar dalam ketaatan, ayat 2, 9) dan penjaga kehormatan (sabar dalam menahan nafsu berahi, ayat 5) ke dalam kategori mukminun yang beruntung.


sumber gambar: islamedia.web.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar