Bulan puasa akan berakhir beberapa hari lagi. Dan bukannya mau sombong, saya bersyukur masih bisa mengikuti salat taraweh berjamaah di masjid, meskipun masih bolong-bolong. Tetapi karena sering salat di masjid ini jugalah akhirnya saya mendapatkan pengalaman menyebalkan dari jamaah lain, setidaknya menurut perspektif pribadi saya. Ups, ini gibah bukan sih? Untung sedang tidak berpuasa, hehe.

Dari sekian banyak pengalaman menyebalkan itu, rasanya saya cukupkan empat buah saja di mana saya yakin kalian juga pernah mengalaminya.

Injak Kaki
Kalian risih enggak sih sama mereka yang suka sekali merapatkan kakinya (ketika salat) ke kaki kita. Memang sih ada sebuah riwayat yang menyatakan bahwa kita perlu merapatkan kaki/bahu supaya tidak ada ruang buat setan masuk atau mengganggu. Masalahnya, mereka ini, yang sepertinya dari kalangan puber agama, suka kelewat batas, karena saking mau merapatkan kakinya sampai-sampai harus “menindas” dan menginjak (sebagian) kaki kita. Belum lagi kalau mereka punya kuku yang tajam sehingga terasa sakit ketika menyetuh kulit kaki kita.

Kalau ketemu dengan tipe orang yang seperti ini, sudah dipastikan salat saya sulit khusyuk. Dan bisa dipastikan juga, ketika mereka bertemu dengan orang kayak saya, salatnya pun tidak akan bisa khusyuk karena mereka selalu mencari-cari kaki saya (dengan senantiasa menengok ke bawah) yang entah mengapa sulit sekali disentuh.

Untuk kasus yang seperti ini, dan saya yakin kalian juga pernah mengalaminya, ada tips sederhana yang bisa dilakukan, yaitu dengan perlahan-lahan mengecilkan ruang antara kedua kaki kita. Saya kadang mau tertawa kecil kalau melihat mereka memaksakan diri untuk memperlebarkan kakinya demi mau menjangkau kaki saya yang sudah semakin jauh. Soalnya mereka menjadi seperti pemain sumo.


Badan Maju-Mundur
Ini bukan maju-mundurnya Syahrini yang dilihat dari sudut pandang mana pun terlihat elok, elegan, dan manjah, melainkan sebuah gerakan abstrak semi terkontrol yang dilakukan oleh seseorang ketika salat yang entah demi tujuan apa.

Awalnya saya mengira ini cuma sekadar gerakan tarik-ulur nafas, tapi nyatanya bukan, lebih jauh lagi mereka benar-benar menganyunkan tubuhnya ke depan dan ke belakang, dengan intensitas yang tinggi dan ngeselinnya secara tidak langsung mengajak badan kita untuk melakukan hal yang sama.

Sikap ngeselin ini tidak bisa dianggap remeh begitu saja, karena kalau kita tidak menyadarinya, terlebih jika sedang diselumuti oleh rasa kantuk yang mendalam, bisa-bisa kita akan terjatuh karena senggolannya itu.

Saran saya jika kalian bertemu dengan tipe orang ini, mending ambil jarak sekian senti deh daripada harus menelan rasa malu ketika terjatuh.

Tarik-Ulur Ingus
Berbeda dengan yang pertama dan kedua, sikap ngeselin yang ketiga ini memang tidak akan sampai melukai fisik kita meskipun dampak negatif yang ditimbulkan tidak kalah besarnya, karena yang mereka serang adalah daya imajinasi dan psikologi kita.

Betapa tidak, ketika mereka melakukan tarik-ulur ingus (ok saya bisa memaklumi mungkin karena dia sedang flu) yang jelas akan terdengar oleh telinga jamaah yang berada di dekatnya, maka barang tentu pendengaran kita akan terganggu. Harusnya kan kita bisa berfokus pada suara imam, tapi sekarang harus berkompromi dengan para pelaku tarik-ulur ingus ini.

Bagi yang memiliki daya kepekaan imajinatif yang cukup tinggi seperti saya, maka biasanya tindakan tersebut akan segera dianalisis secara imajinatif dengan melemparkan pertanyaan-pertanyaan semacam, “setelah ditarik dalam-dalam, ke manakah ingus itu?” atau “apakah dia selalu menelan ingusnya? Kalau iya, bagaimanakah rasanya?”

Di atas kegelisahan yang saya alami ini, ngeselinnya, saya sama sekali tidak melihat adanya rasa berasalah dari mereka, malah sebaliknya, saya malah melihat mereka cukup menikmati permainan tersebut. Astagfirullah.

Membaca Alquran 
Yang terakhir ini unik, karena bagaimana mungkin membaca Alquran, suatu perbuatan yang sangat mulia tetapi malah saya anggap sebagai sebuah tindakan yang “ngeselin”. Bagi saya ini bisa saja terjadi jika kasusnya seperti yang saya temui di masjid tempat saya tarawehan di mana ada seorang jamaah yang malah membaca Alquran ketika khatib sedang bertausiyah.

Walaupun sekilas nampak islami, tapi menurut saya sikap ini sangat tidak etis. Mbok ya hargai dong khatib yang sedang berceramah di atas mimbar dengan cara menyimak atau memerhatikannya dan bukan malah sibuk sendiri membaca Alquran. Ini sih sama saja seperti ada seorang siswa yang mendirikan salat duha di dalam kelas ketika guru sedang menerangkan materi. Kan jelas tidak etis.

Kalian menemukan kasus ngeselin lainnya? Silakan curhat di kolom komentar di bawah ini!

sumber gambar: kaltim.tribunnews.com



Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) lalu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mencanangkan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia.

Tidak lama setelah berita ini viral, muncul pro-kontra dari berbagai kalangan, khususnya para guru lokal yang saat ini sedang menjadi tenaga pendidik. Ada semacam ketakutan bahwa posisi para guru lokal akan terganggu dengan munculnya kebijakan ini. Begitu pula dengan ungkapan para aktivis yang bergabung di organisasi kependidikan, salah satunya ialah Satriawan Salim, Wakil Sekjen Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengungkapkan bahwa Menko Puan Maharani kurang bijak (Tirto.id, 12/5/2019).

Sebaliknya, penulis malah melihat kebijakan ini sebagai sebuah terobosan yang pantas untuk dipertimbangkan, kalau enggan berkata diterima dengan konstruktif. Sayangnya banyak di antara kita yang kadung sinis karena memperoleh informasi yang kurang lengkap, sebab menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir effendy yang dimaksud oleh Menko Puan bukanlah “mengimpor” melainkan “mengudang” guru atau instruktur luar negeri untuk program Training of Trainers (ToT). Bahkan bukan saja diperuntukkan bagi sekolah tetapi juga untuk lembaga pelatihan yang berada di kementerian lain, misalnya Balai Latihan Kinerja (BLK). Dan sasaran utama program ini tiada lain dalam rangka peningkatan kapasitas pembelajaran vokasi di SMK juga pembelajaran science, techology, engineering, and mathematics (STEM) (Tirto.id).

Akibat dari misinformasi ini akhirnya banyak di antara mereka yang melakukan kritik secara kurang kritis dan memiliki banyak kekurangan analisis, seperti yang dilakukan oleh Ahmad Agus Setiawan. Di dalam tulisannya yang berjudul Ironi Impor Guru (“PR”, 14/05/2019) ia menarasikan setidaknya empat alasan mengapa kebijakan impor guru ini tidak baik.
Pertama, menurutnya pemerintah seharusnya lebih menggencarkan profesionalisme guru lokal, bukan malah menggantinya (impor) dengan guru asing. Jelas di sini beliau salah sangka. Padahal program ini jelas ditujukan untuk meningkatkan profesionalisme guru lokal sekaligus melengkapinya dengan “persenjataan” pendidikan global. Jangan sampai mereka mendidik/mengajar siswa dengan cara atau sesuatu yang sebenarnya sudah jauh ketinggalan zaman.

Alasan kedua, menurutnya pemerintah sudah mengirim sejumlah guru terpilih/unggulan untuk belajar dan kuliah singkat, supaya sekembalinya mereka dari sana, mereka akan mendidik guru-guru yang belum memperoleh pendidikan/pelatihan dari luar negeri tersebut. Tetapi menurut penulis justru rancangan atau kebijakan yang ingin dilakukan pemerintah sekarang ialah untuk memangkas ketidakefisienan pola tersebut, yakni dengan mengirim sumber primernya ke Indonesia, dan bukan lewat orang kedua (guru kiriman).

Alasan ketiga, menurutnya kebijakan ini akan menelan biaya yang besar. Daripada melakukan hal tersebut lebih baik dialihkan ke perbaikan dan pemerataan infrastruktur, terutama di daerah-daerah 3 T. Malah menurut penulis pengeluaran akan semakin bisa ditekan jika pemerintah bisa langsung membawa sumber utama dibanding mengirim banyak guru ke luar negeri.

Alasan terakhir ialah dengan adanya para lulusan beasiswa LPDP yang siap mengabdi. Sebenarnya alasan ini yang paling lemah. Mengapa? Sebab LPDP adalah beasiswa yang tidak hanya diperuntukkan bagi calon guru, melainkan seluruh jurusan di mana hanya sekian persen saja di antara mereka yang memang ingin menjadi guru pasca lulus kuliah. Selain itu patut diketahui bawhwa lulusan LPDP tidak memiliki ikatan apa pun dengan pemerintah pasca lulus kuliah, sehingga mereka bisa bekerja tanpa selaras dengan rencana karir sebagaimana yang diungkapkannya saat sesi wawancara. Kita hanya bisa mengharapkan tanggung jawab moral dari mereka yang itu pun sifatnya sukarela.

sumber gambar:
duta.co
sinergi.radarmalang.id

Impor Guru, Mengapa Tidak?

by on Mei 20, 2019
Dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019) lalu, Menteri Koordin...
Perbincangan mengenai pernikahan adalah hal yang lumrah bagi para pemuda. Di antara mereka ada yang merasa antusias, santai, bingung, bahkan galau terhadapnya. Dalam pernikahan terdapat momen sakral yang menjadi sejarah hidup seseorang sehingga mesti dipikirkan dan disiapkan sebaik mungkin. Bukan hanya itu, pernikahan juga membuat banyak perubahan dalam kehidupan. Akan banyak peran, tugas, amanah, tanggung jawab dan aktivitas yang berubah setelahnya.

Saya sendiri sudah menikah dua tahun lalu di usia 23 tahun. Ada banyak hal yang saya syukuri dan ada pula beberapa hal yang terkadang masih saja saya keluhkan. Di antaranya saya bersyukur dengan pernikahan yang cukup lancar, tidak banyak luka-liku asmara sebelum menikah, selalu ada istri sebagai pendamping hidup, dianugerahi keturunan, kelancaran dalam karir, hubungan keluarga yang baik dan banyak hal lainnya.

 Adapun hal yang masih dikeluhkan adalah semakin bertambahnya amanah dan tanggung jawab. Segala pikiran, tenaga, finansial, waktu dan materi tak bisa lagi menjadi milik pribadi melainkan mesti berbagi untuk keluarga.

Pengalaman dan pandangan tentang pernikahan setiap orang berbeda sehingga belum tentu bisa menjadi patokan kesuksesan satu sama lain. Jujur saja dahulu saya menikah lebih karena dorongan nekad. Motivasi menikah karena terpengaruh lingkungan sekitar dan keinginan untuk menjaga diri. Ambisi saya hanya ingin menikah, tak terlalu dipikirkan saat itu saya belum punya rumah, pekerjaan masih belum tetap, dan penghasilan masih sedikit. Meskipun demikian setelah pernikahan, perlahan–lahan selalu ada jalan untuk berbagai permasalahan tersebut. Alhamdulillah.

Jalan kehidupan setiap orang berbeda-beda, kadang mengalami kesenangan dan juga kesulitan, begitu pun dengan kehidupan pernikahan. Tak sedikit saya menemukan orang yang sudah menikah semakin tampak bahagia namun ada pula di antaranya dipenuhi dengan kehidupan yang malah sulit.

Pernah pula saya bertemu dengan orang yang masih belum menikah sampai usia yang tak muda lagi. Di antara mereka ada yang menyesal, merasa putus asa, masih mengupayakan dan ada pula yang berusaha tabah dan kuat dengan kondisi yang ada. Di sisi lain ada pula orang yang kandas dalam pernikahannya sampai tak menikah lagi karena berbagai hal. Ada pula orang yang berkali-kali menikah berganti pasangan.

Tidak sedikit pemuda menanggap pernikahan adalah puncak cinta kedua insan, padahal sejatinya pernikahan adalah gerbang awal menuju puncak, akan banyak luka-liku yang menjadi ujian bagi kedua insan dalam cintanya.

Menikah tak seindah berpacaran. Akan banyak kejutan-kejutan yang tak disangka-sangka setelah menikah. Pasangan menikah adalah manusia yang tentunya tak sempurna sehingga pasti memiliki kekurangan. Tugas bersama untuk saling meredam kekurangan masing-masing sehingga mampu hidup bersama beriringan.

Dalam agama Islam, menikah merupakan hal yang sangat dianjurkan. Bahkan dalam hadisnya Rasulullah saw mengecam orang yang sengaja menolak untuk menikah seumur hidupnya. Namun secara teknis, ajaran Islam menggantungkan hukum menikah sesuai dengan kondisi setiap individu. Kadangkala bisa menjadi wajib, sunnah, hingga haram. Hal ini mengindikasikan bahwa mekipun Islam sangat menganjurkan menikah, namun tak memaksakan. Setiap individu mesti menilai dirinya sudah ada di tahap hukum yang manakah ia mengenai pernikahan. Maka dari itu islam sangat menekankan kesiapan dan kesesuaian dalam memasuki jenjang pernikahan.

Keberhasilan dalam pernikahan bukanlah dinilai dari siapa yang paling cepat atau lambat menikah, yang paling kaya, yang paling bersama selalu, yang paling banyak keturunan dan bukan pula yang paling menunjukan romantisme. Jika dilihat dari segi agama pernikahan yang berhasil adalah pernikahan yang mampu membentuk keluarga yang terhindar dari siksa api neraka. Dalam artian pernikahannya diliputi ketaatan dan keridhaan Allah meskipun banyak luka liku dalam kehidupan rumah tangganya.

Dengan demikian bagi yang sudah memiliki ikatan pernikahan maka jagalah dan jalani dengan sebaik mungkin. Bagi pembaca yang saat ini belum menikah maka tentukanlah pernikahan jika memang telah benar-benar siap. Tak perlu menunggu sempurna dan serba ada untuk menikah. Menjalani roller coster pernikahan terasa asyik juga.

Pasangan yang mendampingi ketika sulit sudah pasti lebih mudah mendampingi ketika senang, namun tidak sebaliknya. Persiapkan pernikahan, jangan terlalu terburu-buru karena melihat banyak teman sebaya yang sudah menikah. Jangan pula terlalu lama menentukan hingga termakan usia. Diskusikan dengan diri sendiri, keluarga, dan Tuhan tentunya untuk menemukan jalan terbaik. Sehingga pernikahan yang sakral ini benar-benar menjadi momen yang bermakna atas pilihan sendiri bukan karena keterpaksaan atau sekadar memenuhi kewajiban sosial saja.

sumber gambar: brilio.net

Darius Foroux
(diterjemahkan oleh M Jiva Agung W)
Dalam waktu yang begitu lama, saya senantiasa yakin bahwa hanya ada satu tujuan dari hidup ini: yakni menjadi bahagia.

Benar bukan? Mengapa kita mau melewati semua rasa sakit dan kesulitan? Ya itu untuk mencapai kebahagiaan (tertentu).

Dan saya bukanlah satu-satunya orang yang percaya akan hal tersebut. Pada kenyataannya, jika kamu amati sekitarmu, kebanyakan orang sedang mengejar kebahagiaan di dalam hidupnya.

Itulah mengapa kita secara kolektif membeli barang-barang yang tidak kita butuhkan, ke kasur [making love, terj] dengan orang yang tidak kita cintai, dan bekerja keras untuk memperoleh mengakuan dari orang yang tidak kita sukai.

Mengapa kita melakukan semua ini? Jujur, Saya tidak peduli alasan pastinya. Saya pun bukan seorang saintis. Yang saya tahu bahwa hal tersebut ada hubungannya dengan sejarah, budaya, media, ekonomi, psikologi, politik, era informasi, dan lain sebagainya. Daftar ini bisa tidak ada habisnya.

Kita Adalah Kita
Mari kita terima dulu pandangan tersebut. Kebanyakan orang suka menganalisis mengapa orang-orang tidak merasa bahagia, atau tidak hidup seutuhnya. Saya tidak perlu peduli mengenai alasannya.
Saya lebih peduli mengenai bagaimana kita dapat berubah.

Beberapa tahun yang lalu, saya melakukan segalanya untuk mengejar kebahagiaan: atau Kamu membeli sesuatu, dan kamu berpikir itu akan membuatmu bahagia; Kamu terhubung dengan orang-orang, dan kamu berpikir hal tersebut dapat membuatmu bahagia; Kamu mendapat honor besar dari pekerjaan yang tidak kamu sukai, dan berpikir bahwa hal itu dapat membuatmu bahagia; Kamu pergi berlibur, dan berpikir itu dapat membahagiakanmu.

Tetapi di penghujung hari itu, kamu lantas berbaring di tempat tidurmu (sendiri atau di samping pasanganmu), dan kamu berpikir: “apa yang akan terjadi selanjutnya dalam pengejaran kebahagiaan tanpa akhir ini?”

Baik, saya akan memberitahukan kepadamu apa yang akan dilakukan selanjutnya: Kamu, akan mengejar sesuatu secara acak di mana kamu yakin hal itu akan membuatmu bahagia.
Itu semua omong-kosong, hoaks. Suatu kisah yang dibuat-buat.

Tetapi, apakah Aristoteles berbohong kepada kita ketika dia berkata: “kebahagiaan adalah makna dan tujuan dari kehidupan, seluruh tujuan akhir dari eksistensi manusia.”

Saya kira kita harus melihat kutipan ini dari sudut pandang yang berbeda. Karena ketika kamu membacanya, kamu berpikir bahwa kebahagaian adalah tujuan utamanya. Dan memang seperti itulah yang dikatakan dalam kutipan tersebut.

Tetapi persoalannya ialah: Bagiamana kamu memperoleh kebahagiaan tersebut?

Kebahagiaan tidak dapat menjadi tujuan itu sendiri. Karenanya, kebahagiaan bukan sesuatu yang dapat dicapai. Alih-alih saya yakin bahwa kebahagiaan hanyalah produk sampingan dari kebermanfaatan.

Ketika saya berbicara mengenai konsep ini kepada teman, keluarga, dan kolega, saya selalu sulit untuk menuangkannya ke dalam bentuk kata-kata. Namun, saya akan mencobanya di sini.

Kebanyakan hal yang kita lakukan di dalam hidup ini adalah aktivitas dan pengalaman-pengalaman; kamu pergi berlibur, bekerja, berbelanja, minum-minum, makan malam, membeli mobil. Semua ini bisa membuatmu bahagia bukan? Tetapi hal-hal tersebut tidaklah berguna. Kamu tidak membuat sesuatu. Yang kamu lakukan hanyalah sekadar mengonsumsi atau melakukan sesuatu. Dan itu baik sih.

Jangan salah paham. Saya senang berlibur, atau terkadang berbelanja. Tetapi, jujur, itu tidaklah membuat makna dalam hidup ini.

Apa yang sungguh membuat saya bahagia ialah ketika saya bermanfaat. Ketika saya menciptakan sesuatu yang dapat digunakan orang lain. Atau bahkan ketika saya menciptakan sesuatu dapat dapat saya gunakan sendiri.

Dalam waktu yang begitu lama saya kesulitan untuk menjelaskan konsep kebermanfaatan dan kebahagiaan. Tetapi setelah saya menemukan kutipan dari Ralph Waldo Emerson, titik-titik ini akhirnya terhubung.

Emerson mengatakan: “tujuan hidup ialah bukan menjadi bahagia. Melainkan bermanfaat, terhormat, berbelas kasih. Itulah yang menjadi perbedaan bahwa kamu telah hidup dengan baik.” Dan saya tidak mendapatkannya sebelum menyadari apa yang sedang saya lakukan dengan hidup ini. Dan bahwa hal tersebut seperti terkesan begitu berat. Tetapi pada kenyataannya begitu simpel.

Yang terjadi adalah ini: Apa yang kamu lakukan yang sekiranya dapat membuat sebuah perbedaan?

Apakah kamu melakukan sesuatu yang bermanfaat di dalam hidupmu? Kamu tidak harus mengubah dunia atau apa pun. Hanya lakukan perbuatan yang sedikit lebih baik dari yang sebelumnya.
Jika kamu belum tahu bagaimana caranya, di bawah ini ada beberapa contohnya:

Menolong kesulitan (tertentu) yang dialami bosmu meski itu sebenarnya bukanlah menjadi tanggungjawabmu; membawa ibumu ke spa; Membuat kolase dengan gambar (bukan yang digital) untuk pasanganmu; Menulis artikel mengenai sesuatu yang telah kamu pelajari di dalam hidup ini; Menolong membawakan stoller wanita hamil yang sedang membawa anaknya yang berumur dua tahun; Menelepon temanmu dan bertanya apakah sekiranya kamu dapat membantu sesuatu hal untuknya; Membuat meja berdiri; Memulai bisnis dan mencari pegawai, kemudian perlakukan dia dengan baik.

Itulah beberapa hal yang saya lakukan. Kamu dapat melakukan aktivitas bermanfaatmu sendiri.
Lihatlah, bukan sesuatu yang besar bukan? Tetapi ketika kamu melakukan suatu hal manfaat (meskipun kecil) setiap hari, hal tersebut akan membuat hidupmu lebih baik. Suatu hidup yang bermakna.

Hal terakhir yang saya inginkan (di dalam hidup ini) adalah berada di ranjang kematian dan menyadari tidak ada bukti bahwa saya pernah ada.

Baru-baru ini saya membaca Not Fade Away karangan Laurence Shames dan Peter Barton. Tulisan ini ialah tentang Peter Barton, pendiri Liberty Media, yang berbagi pengalaman berkenaan dengan situasi kritisnya dikarenakan kanker.

Ini merupakan buku yang sangat powerful, dan sungguh akan meneteskan air matamu. Dalam buku tersebut, dia menulis mengenai bagaimana dia menjalani hidupnya dan bagaimana dia menemukan panggilannya. Dia juga mengeyam sekolah bisnis, dan ini adalah apa yang dia pikirkan dari kandidat MBA-nya:  

“Bottom line: they were extremly bright people who would never really do anything, would never add much to society, would leave no legacy behind. I found this terribly sad, in the way that wasted potential is always sad.”

Kamu bisa katakan bahwa kutipan itu adalah mengenai kita semua. Dan setelah dia menyadarinya di umur tiga puluhan, kemudian dia mendirikan perusahaan yang mengubahnya menjadi multi-jutawan.
Tokoh lain yang selalu menjadikan dirinya bermanfaat adalah Casey Neistat. Saya telah mem-follow­-nya selama satu setengah tahun, dan setiap saya menonton channel YouTube-nya, dia pasti sedang melakukan “sesuatu”.

Dia juga berbicara tentang keinginannya untuk selalu melakukan dan menciptakan sesuatu. Bahkan dia punya sebuah tato di bagian lengan bawahnya yang bertuliskan “Do More”.

Kebanyakan orang akan berkata, “mengapa kamu perlu bekerja lebih banyak/keras?” dan kemudian mereka membuka Netflix dan menonton kembali episode-episode Daredevil.

Suatu Pola Pikir yang Berbeda
Menjadi bermanfaat adalah suatu pola pikir (mindset). Dan layaknya setiap pola pikir, hal itu akan dimulai dari sebuah keputusan. Suatu hari saya bangun dan berpikir: “Apa yang sedang saya lakukan untuk dunia ini?” Jawabannya adalah tidak ada.

Dan pada hari itu juga saya mulai menulis. Bagi dirimu, bisa saja dengan cara melukis, membuat suatu produk, menolong orang yang lebih tua, atau apa pun yang kamu sukai untuk dilakukan.
Jangan terlalu dianggap serius. Jangan terlalu dipikirkan. Cukup lakukan sesuatu yang bermanfaat. Apa pun itu. 

sumber gambar: Youtube.com
tulisan edisi english: 
Muhammad Irfan Ilmy
Menyenangkan sangat membaca pengalaman seseorang yang sedang menempuh studi (singkat sih, mungkin semacam pertukaran pelajar) di Jepang yang ia bagikan di akun mediumnya. Saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Kenal saja tidak apalagi pernah makan bareng. Astagfirullah. FYI, dia itu cewek. Tapi ceritanya sangat dekat. Seperti saya mendengar pengalaman dia secara langsung di angkringan atau tempat-tempat nongkrong enakeun lainnya.

Saya mengenal Jepang dari banyak penuturan orang-orang sebagai negara dengan penduduk yang memiliki karakteristik kuat. Disiplin, pekerja keras, suka membantu dan berbagai sifat-sifat unggul lain membuat saya terpikat juga dengan negara ini. Entahlah, apakah saya suatu saat bisa berkunjung ke sana atau tidak? Tapi tentu saya punya keinginan untuk menginjakkan kaki di negeri yang terkenal dengan sakuranya itu selain juga hal-hal lainnya. Jangan cuma menginjakkan kaki doang sih harusnya, namun juga menyerap banyak pembelajaran dari sana. Serta kalau bisa, memberi juga untuk negara itu walau kuantitasnya enggak banyak. Kalau bisa banyak, kenapa harus sedikit?

Prinsip saya, juga harusnya jadi prinsip kita semua, di mana pun kita berada, kita harus meninggalkan sesuatu yang berguna. Dikenang memang cukup penting, tapi itu tidak yang utama. Berusaha menjadi manusia yang sejati, yang benar-benar manusia, justru mesti jadi dorongan terbesarnya. “Manusia mati, meninggalkan apa yang ditinggalkannya,” kata kang Puji Prabowo (founder Kelompok Belajar Aurora) suatu ketika. Dan kalimat itu senantiasa meneror saya tiap saat. Bagus lah. Ada alarm yang senantiasa jadi pengingat di kala hoream datang bertandang.

Balik lagi ke tentang cerita si neng tentang pengalamannya berangkat ke Jepang dan apa yang di alami di awal-awal ia tinggal sana. Dari tulisanya pun saya melihat kebahagiaan yang tak terkira itu. Menyenangkan pisan tampaknya bisa mengunjungi bumi Allah bagian lain yang menawarkan ragam budaya, agama, sosial, politik, dan lain-lainnya sewaktu masih muda. Apa yang terjadi di masa muda, memang kesannya akan tinggal lama di kepala. Sementara saya, sudah menuju tua seperti ini, main masih di sini-sini saja. Kuper alias kurang perjalanan. Pergaulan pun jadi terbatas. Pemikiran sempit seperti kamar kontrakan saja. Alamak. Sempurna sudah penderitaan hamba.

Serem yah kalau ada pertanyaan dari malaikat, sudah habiskan kemana saja waktu kamu selama di dunia? Sudah dilangkahkan ke mana saja kaki kamu yang diberikan secara cuma-cuma itu? Apakah kamu tak tertarik untuk menengok dan merenungi ciptaan Allah di wilayah yang jauh dari tempat tinggalmu dan belajar banyak dari sana? Tapi kayaknya enggak ada pertanyaan sespesifik kayak gitu juga sih. Selamet. Hanya saja, saya kan termasuk orang yang beruntung bisa mengakses informasi dan menempuh pendidikan yang lumayan, nah itu barangkali yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Oh tidak.

Tak harus terbatas Jepang saja sih. Negara-negara (tetangga) lain pun pastinya punya keunggulan masing-masing, termasuk Indonesia sendiri. Dengan beragam kemudahan yang ditawarkan era sekarang, pergi ke luar negeri menjadi seperti jalan ka cai, gampang sekali. Dengan catatan tentu punya banyak fulus. Tapi soal fulus ini menjadi bukan koentji satu-satunya. Banyak yang punya akses ke negara-negara lain (lewat beasiswa, pelatihan fully funded, dan berbagai kegiatan internasional lain) dengan perantara kemampuan dan prestasinya.

Kemampuan berbahasa tentu jadi faktor utama dan ditambah kontribusi yang telah mereka berikan kepada masyarakat serta lebih jauh lagi ke negara mereka. Jadi, pilih saja, mau lewat jalur mana? Mau jalur duit, ya tentu harus (punya mertua) kaya. Atau ketika memang kantong tak memungkinkan, maka maksimalkanlah jalur yang kedua. Dua-duanya memang tak gampang, tapi tak mustahil juga. Man jadda wa jada, kata ungkapan Arab mah.

Terakhir, semoga saja kita suatu saat bisa berkesempatan menambang sebanyak mungkin sudut pandang dari pola hidup manusia-manusia di belahan dunia lain. Tentu selain menikmati keindahan alam serta tempat-tempat monumentalnya, yang terpenting adalah mengambil pelajaran mengapa mereka bisa sampai di titik itu. Sekian. Selamat menanti berbuka puasa.

Penulis, telah menerbitkan buku kumpulan puisi Abadi di Telapak Kaki dan Pendiri IPAI Inspiring Forum

sumber gambar: niindo.com

Sungguh terasa berat sekali bagi saya untuk menuangkan tulisan ini. Betapa tidak, senyatanya saya memiliki banyak sekali teman yang dalam pendidikannya ditopang dari dana beasiswa (pemerintah)[1]. Di Indonesia sendiri, beasiswa memang sangat dicari-cari, didambakan, para peraihnya begitu dibanggakan dan juga merasa bangga.

Tapi tidak dengan saya. Secara pribadi, saya malah lebih senang jika sekolah atau kuliah dengan menggunakan dana sendiri daripada ditopang pihak lain. Betapapun kerennya, bukankah tangan di bawah tidak lebih baik daripada tangan di atas? Jadi, sejujurnya saya agak merasa aneh dengan mereka yang bangga ketika meraih beasiswa, meskipun bukan berarti secara otomatis saya merendahkan status para penerima beasiswa. Tidak. Tetapi, selama kita bermental “menerima” maka selama itu pula saya kira masyarakat Indonesia tidak akan bisa menjadi pribadi yang berdikari dan bebas.

Sebagaimana telah diketahui bersama, dana beasiswa bukanlah sesuatu yang turun dari langit, bukan juga dari saku pribadi para pekerja di pemerintahan, apalagi para pejabatnya, melainkan jelas-jelas dari uang rakyat. Dan sejatinya dana beasiswa ini bukanlah suatu pemberian yang gratisan, namun suatu amanah yang maha berat, karena baik secara langsung maupun tidak, ini menuntut si penerima untuk bisa “mengembalikannya”, bahkan kalau bisa dalam bentuk kuantitas atau kualitas yang lebih besar.

Jauh api dari panggang, pada kenyataannya saya malah melihat pola yang sebaliknya. Di masa sekolah/kuliah banyak di antara mereka (para penerima beasiswa) yang suka bergaya hidup hedon, flamboyan, bahkan terkesan elitis. Setelah lulus, bukannya memiliki ketukan hati untuk “mengabdi” atau setidaknya “membayar utang” dana beasiswa yang pernah didapatnya, mereka malah semakin bersemangat untuk meninggikan kualitas pribadinya sendiri. Lupa dengan si pemberi dana yang sesungguhnya.

Mbok ya tengok mereka yang lemah nan terpinggirkan. Bukan malah sekadar dijadikan sebagai objek penelitian saja. Ironinya, setelah lulus ada yang entah menghilang ke mana, ada yang menjadi budak korporasi internasional, melejitkan karir, dan lain sebagainya. Terkesan egois banget enggak sih?

Saya akan tetap memandang pengabdian ini sebagai suatu tanggungjawab moral, dan bukan suatu “kewajiban-formal” yang instruktif, supaya tindakan ini tetap berada di posisinya yang luhur, sehingga membuat pelakunya meraih posisi mulia.

Oh iya, yang saya maksud dengan tanggung jawab moral di sini ialah suatu perbuatan atau tindakan yang dilakukan secara sukarela (karena memang tidak diwajibkan) dalam rangka membangun dan membina⸻atau minimal membantunya⸻sumber daya manusia-manusia yang lemah, tertindas, dan terpinggirkan agar dapat berdaya.  

Karena sifatnya yang sukarela, maka jangan harap akan memperoleh imbalan materil-finansial, kenaikan pangkat, atau pun sekadar pengakuan “struktural-kultural”. Bahkan tak jarang dalam posisi ini kita harus siap merogoh kocek pribadi, dan yang paling berat tetapi bernilai kemuliaan ialah berani berdamai dengan kepentingan atau hasrat-hasrat pribadi (semisal travelling, nonton konser, belanja, bersenang-senang di mall, dsb). Belum lagi bagi mereka yang sudah berkeluarga. Maka perbuatan ini saya sebut sebagai jihad akbar.

Jangan tanya bentuk konkret apa yang sebenarnya saya harapkan, karena sekecil dan seserderhana apa pun tindakan tersebut, tetap dianggap sah. Cukup lakukan sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Maka terlihat, ada yang sekadar mampu membuat taman baca, tempat belajar gratis, pelatihan kepenulisan gratis, pembinaan baca Alquran, hingga yang sedikit kompleks seperti membentuk komunitas-komunitas sosial.

Ah, saya tidak mau terlalu mengeja. Kamu pasti lebih paham, kan katanya kamu orang terpilih nan pintar!

sumber gambar: suneducationgroup.com



[1] Dalam tulisan ini objek yang menjadi sorotan saya hanyalah para peraih beasiswa pemerintah, bukan dari pihak swasta.


Sella Rachmawati
Calon Pegawai Negeri Sipil atau Pegawai Negeri Sipil adalah hal yang kiranya banyak didambakan mayoritas masyarakat kita. Katanya, PNS adalah pekerjaan yang sudah aman, sudah enak, capaian tertinggi, terlebih PNS guru banyak waktu luang. So, mau apalagi? Mungkin sah-sah saja pemikiran seperti itu dan tak ada yang melarang.

Tahun lalu (2018), pemerintah kembali membuka kesempatan bagi putra-putrinya untuk menjadi CPNS dengan melewati beberapa tahapan tes. Khusus di Provinsi Jawa Barat terhitung kurang lebih 29.000 yang mendatar namun ada sekitar 1000 formasi yang dibutuhkan, 900-nya adalah formasi guru. Ini membuktikan bahwa menjadi PNS/ASN masih banyak peminatnya.

Tanggal 22-30 April lalu Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah melakukan orientasi bagi CPNS, tepatnya di Pusat Pendidikan Ajudan Jenderal (Pusdikajen) Lembang. Di dalam kegiatan tersebut para CPNS diberikan pembekalan terkait wawasan nusantara, materi baris-berbaris, bela diri, juga permainan yang melatih kekompakkan, kedisiplinan, keberanian dan kejujuran.

Satu hal yang membuat penulis menyimpulkan bahwa menjadi abdi negara adalah hal yang tidak gampang. Amanah yang diemban dirasa cukup berat sebenarnya jika setiap CPNS memahaminya. Pertama, amanah kepada pimpinan, maksudnya amanah yang harus dipertangungjawabkan dari pimpinan terkait tugas dan fungsi kita sebagai bawahan.

Kedua, amanah atas diri sendiri, misalnya me-manage waktu sebaik mungkin dalam menyelesaikan amanah yang oleh pimpinan. Ketiga, amanah kita sebagai hamba Allah di muka bumi, Khalifah fil ardl. Maksudnya segala apa yang diamanahkan kepada kita juga adalah amanah yang diberikan Allah. Bisakah kita bertanggung jawab atasnya?

Hal-hal kecil yang sering terjadi di lingkungan pegawai negeri kita, misalkan, bermain games online saat waktu kerja, membuka sosial media saat sedang bekerja, pergi ke mall/pasar, menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi dan yang paling parah adalah korupsi termasuk suap menyuap. Sepertinya ini menjadi hal wajar dan sudah biasa, padahal ini semua sangat tidak baik.

Teringat kisah Sayyidina Umar bin Khattab ketika menjadi pemimpin mengganti Abu Bakar Ash-Shiddiq, beliau yang tidak mau memakai lampu dalam ruangannya ketika menerima keluarganya di istana karena hal itu bukan urusan kenegaraan atau yang menyangkut hal yang dipimpinnya. Masyaallah.

Sebenarnya, apapun profesimu, di mana pun kamu menerima amanah, jika kamu mengerti fungsi dari Khalifah fil ardl agaknya kamu akan meminimalisir dan selalu berusaha menghindar dari hal-hal yang bernada negatif dan kamu akan melaksanakan amanah itu dengan sungguh-sungguh. Mari melatih diri untuk selalu amanah di bulan suci, berharap prilaku amanah ini berlangsung hingga kembalinya kita kepada Yang Memiliki diri.

Wallahu’alam.


sumber gambar: http://sulselekspres.com
Menjadi Muslim berarti menjadi penyabar, sebab di dalam kitab suci Alquran ibadah salat, suatu ritual mahdah yang wajib dilaksanakan, seringkali digandeng dengan sabar, seperti dalam surat Al-Baqarah ayat 45, “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu...” Dan karena Allah sangat tahu bahwa sabar itu sangat susah diterapkan, maka wajar jika ayat ini dilanjutkan dengan kata-kata “... kecuali bagi orang-orang yang khusuk.” Tetapi tak perlu risau, karena yakinlah bahwa Allah senantiasa bersama para penyabar (Al-Baqarah, 2: 153).

Untungnya Allah Maha Baik. Dia tidak menyuruh umat Muslim bersabar tanpa memberi contoh yang layak untuk diteladani. Dari sekian banyak tokoh panutan, Allah begitu menjunjung tinggi kesabaran Nabi Ibrahim dalam ketaatan. Aneka cobaan silih berganti, mulai dari umatnya yang sulit untuk menerima pesan tauhidnya hingga ketidak-milikan seorang anak (sesuatu yang tentunya sangat diharapkan oleh sepasang suami istri). Bahkan ketika Allah akhirnya mengabulkan harapan tersebut, Dia kembali segera menguji keimanan Ibrahim dengan percobaan “pengurbanan” anak semata wayangnya.

Sepak terjang ini memang selaras dengan pola yang dikehendaki-Nya, bahwa “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah, 2: 155). Bukanlah kita selalu mengulang-ulang ayat ini (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan, Al-Fatihah, 1: 5) yang menandakan bahwa ketaatan menjadi pendahulu atau pintu gerbang dari terbukanya aneka macam pertolongan.

Jenis kesabaran kedua yang patut kita miliki ialah, layaknya Nabi Ayub, kesabaran dalam menghadapi musibah. Tahukah pernyataan apa yang terlontar dari bibirnya ketika beliau menderita sakit parah? Kita bisa merujuk ini di dalam surat Al-Anbiya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Sebuah sikap yang luar biasa. Tetapi demikianlah yang patut ditiru, yakni senantiasa berhusnuzan dalam keadaan yang malah menuntut kita untuk banyak berkeluh-kesah.

Terakhir, kita perlu bisa bersabar dalam menahan nafsu berahi (seksual) sebagaimana Nabi Yusuf ketika digoda “... marilah kesini!” oleh Siti Zulaikha dengan berkata, “... aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik...” (Yusuf, 12: 23). Di sini Alquran bukan sedang melarang sifat kodrati manusia di mana laki-laki dan perempuan saling memiliki ketertarikan, sebab Allah sendiri mengakui munculnya hasrat tersebut di dalam diri Yusuf [... dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya...] (Yusuf, 12: 24). Hanya saja Allah menginginkan hasrat-hasrat tersebut disalurkan melalui jalur yang sah (pernikahan).

Ayat lain yang memiliki tema senada terdapat dalam surat An-Nur ayat 30-31 di mana baik laki-laki maupun perempuan dituntun untuk menahan pandangan dan memelihara kemaluannya. Di sisi lain kita juga bisa melihat ketersaling-sambungan kata-kata kunci ini di dalam surat al-Mukminun yang merangkul para pekhusuk salat (sabar dalam ketaatan, ayat 2, 9) dan penjaga kehormatan (sabar dalam menahan nafsu berahi, ayat 5) ke dalam kategori mukminun yang beruntung.


sumber gambar: islamedia.web.id

Bulan suci Ramadan sudah seharusnya dapat menjadi momen aktualisasi dan pembuktian keindahan Islam, karena selain umat Muslim dituntun untuk menahan diri dari segala laku buruk, tindakan berlebihan (meskipun halal), mereka juga dilatih agar memiliki kepekaan sosial terhadap yang lain, baik terhadap sesama manusia maupun makhluk hidup lainnya (alam semesta).

Hari ini, setidaknya menurut analisis Yuval Noah Harari, kita boleh sedikit bernafas lega karena melihat kenyataan bahwa umat manusia sedang menuju masa perbaikan diri, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, tetapi sebaliknya bagi keadaan bumi, yang menurutnya menjadi krisis disebabkan oleh tangan-tangan manusia sendiri.

Oleh karena itu, umat Muslim yang di dalam ajarannya cukup begitu concern terhadap persoalan keseimbangan alam, perlu melakukan upaya-upaya yang sekiranya dapat memberikan sumbangsih bagi keterpeliharaan alam.

Dilansir dari www.khaleafa.com setidaknya ada lima hal yang dapat kita lakukan supaya Ramadan tahun ini semakin hijau:

Berjalan Kaki
Salah satu cara paling mudah sekaligus ekonomis untuk mengurangi jejak emisi karbon dan gas rumah kaca ialah dengan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor. Kita kan bisa melakukannya ketika pergi ke masjid saat hendak berbuka puasa (iftar) atau salat tarawih. Selain akan menjadi pahala bonus bagi kaki-kaki kita di akhirat nanti, berjalan kaki juga tentunya menyehatkan bukan? Kita pun akhirnya terhindar dari stres akibat kemunculan tukar parkir “mistis” yang tiba-tiba muncul untuk menagih uang jasa penjagaan.

Katakan Tidak Pada Styrofoam
Mau jajan untuk persiapan berbuka? Jangan lupa bawa wadah sendiri, karena bukan hanya buruk bagi kesehatan, penggunaan styrofoam (yang biasanya disediakan oleh penjual) juga jauh dari kata ramah lingkungan, karena sifatnya yang sulit terurai. Daripada menggunakannya sebagai wadah makan sekali pakai kita, lebih baik beralih ke wadah organik.

Pakai Botol Isi Ulang
Di danau maupun laut-laut besar, 80% sampah pasti merupakan botol plastik sekali-pakai. Oleh karena itu guys, yuk  kita gunakan botol isi ulang saja. Dan ingat, perlu dijaga dengan penuh perhatian dan jangan sampai hilang, apalagi kalau merknya tupperware, karena kalau tidak, saya takut ibumu akan batal puasanya.

Matikan Listrik
Mengurangi atau bahkan mematikan listrik rumah saat salat tarawih tidak hanya berdampak berkurangnya biaya listrik, tetapi juga akan membuat bumi menjadi lebih sejuk. Enak bukan?

Hemat Air
Akan semakin banyak ibadah di bulan Ramadan ini, mulai dari membaca Alquran hingga salat tarawih. Oleh karena itu, pastikan bahwa kita benar-benar berhemat ketika berwudu. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan ialah dengan memutar keran air di skala yang kecil saja, seperlunya. Kan tidak elegan kalau sampai tumpeh-tumpeh.

sumber gambar: rappler.com

Banyak orang menghadapi kedatangan bulan Ramadan dengan sikap yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut menjadi indikator tingkat keimanan dan ibadahnya. Tentu hanya diri sendiri dan Allah Swt. saja yang paling tahu. Ada yang menyambutnya dengan senang dan rindu karena sudah mengenalnya. Tetapi ada pula yang menyambutnya dengan cuek atau biasa-biasa saja karena belum memahami barakah dan kesakralannya.

Padahal bulan Ramadan adalah bulan yang mulia dan penuh keistimewaan. Seandainya umat Muslim mampu menjalaninya dengan sebaik mungkin, niscaya akan banyak manfaat yang didapatkan. Sebagaimana kita ketahui selama bulan Ramadan banyak kebiasaan dan aktivitas keseharian yang berubah dari biasanya. Hal ini bisa menjadi riyadhah (latihan) dalam membentuk sikap takwa kepada Allah Swt. Apa saja bentuk riyadhah yang ada dalam bulan Ramadan? Berikut sedikit ulasannya.

Latihan Keikhlasan
Ikhlas yaitu memurnikan niat dan tujuan ibadah hanya karena dan untuk Allah Swt saja. Ibadah puasa mampu menjadi latihan keikhlasan yang efektif. jika kita perhatikan ibadah lain mampu terdeteksi oleh orang lain, namun tidak dengan ibadah puasa. Kita bisa lihat dan tahu orang yang sedang beribadah salat, baca Alquran, zikir, sedekah, apalagi ibadah haji/umrah bisa satu kampung yang tahu.

Berbeda dengan puasa, hanya dirinya, malaikat pencatat dan Allah yang paling tahu. Bisa saja ia berbohong seolah-olah berpuasa, ikut sahur dan berbuka namun secara sembunyi justru makan/minum. Ibadah puasa yang tak bisa ditampakkan pada orang lain ini mampu menjadi sarana latihan keikhlasan.

Orang yang berpuasa dengan ikhlas karena Allah Swt, maka ia yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Mengetahui sehingga akan menjalankan puasanya dengan sebaik-baiknya. Berbeda jika ia puasa karena selain Allah misalnya karena orangtua, pasangan atau teman. Ketika di hadapan mereka maka ia seolah-olah puasa, tapi ketika tidak di hadapan mereka maka bisa saja ia tak berpuasa.

Latihan Istiqamah
Istiqamah berarti konsisten, terus-menerus dan berkelanjutan dalam melakukan kebaikan. Ketika seorang Muslim menjalani ibadah di bulan Ramadan, maka ia disibukkan oleh berbagai aktivitas yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Jika biasanya ia bangun ketika subuh atau mungkin setelahnya, ketika bulan Ramadan ia harus bangun lebih awal untuk sahur.

Jika biasanya ia sering melakukan aktivitas yang tidak terlalu bermanfaat, ketika bulan Ramadhan justru ia banyak mengaji dan ibadah untuk mengisi waktu luangnya. Jika ia terbiasa marah maka ketika puasa ia dilatih untuk menahan amarahnya. Begitulah segala aktivitas selama 30 hari bulan Ramadhan melatih kita untuk istiqamah di bulan-bulan lainnya.

Latihan Ihsan
Ihsan bermakna melakukan ibadah dengan sebaik mungkin karena merasa diawasi oleh Allah. Ibadah puasa dilakukan cukup lama yakni dari subuh sampai maghrib sekitar 13 jam. Selama itu umat Muslim dituntut tidak hanya menahan makan, minum dan aktivitas seksual saja, namun lebih dari itu ia harus menahan nafsu nya untuk melakukan maksiat atau akhlak jelek. Semisalnya gibah, dusta, marah dan sebagainya. Selama waktu puasa itu, umat Muslim dilatih agar mampu mengarahkan dirinya sebaik mungkin karena merasa sedang puasa dan diawasi oleh Allah Swt.

Itulah sedikit ulasan riyadhah di bulan Ramadan. Semoga kita bisa menjalani ibadah di bulan ini dengan sebaik mungkin sehingga sikap ikhlas, istiqamah, dan ihsan ini benar-benar bisa menerap dalam diri kita. Dengan demikian derajat takwa yang menjadi tujuan ibadah puasa ini tercapai. Amin

sumber gambar: hamizann.blogspot.com

Bulan ini diagendakan Allah bagi umat-Nya untuk melakukan sebuah ibadah bernama puasa. Secara syariat puasa berarti menahan makan dan minum dari subuh hingga magrib. Tentu beserta larangan-larangan lain yang sekiranya dapat membatalkan ibadah puasa itu sendiri.

Namun di samping itu, bulan puasa berarti manusia memasuki kawah candradimukanya masing-masing. Umat Islam khususnya mengalami penggemblengan diri berdasarkan kurikulumnya masing-masing.

Mereka yang terkendalikan oleh rasa lapar akan diajarkan mengendalikan hasrat paling primordial manusia itu agar rasa lapar tidak menjadikan sebuah motif untuk berlaku tak manusiawi. Tak sedikit ras manusia yang saling bunuh karena lapar.

Bagi mereka  yang sudah bisa mengendalikan lapar, masih ada hasrat lain, sebut saja birahi. Tak jarang juga manusia bisa saling hilangkan nyawa dikarenakan apa yang ada dipangkal paha. Selebihnya masih banyak hasrat-hasrat lain, seperti keinginan untuk terlihat lebih baik dibanding orang lain, keinginan untuk berkuasa atas hajat hidup orang lain atau keinginan untuk berlaku sesuka hatinya dengan mengesampingkan hak orang lain.

Semua hasrat itu tidak boleh diabaikan begitu saja karena tak jarang juga manusia bisa saling tebas leher hanya karena jabatan, pangkat, popularitas, nama baik atau bahkan karena ingin terlihat yang paling kuat diantara manusia lain.

Maka puasa berarti pengendalian terhadap hawa nafsu. Saya termasuk yang kurang sepakat jika kata yang digunakan adalah menahan, karena mau tidak mau, hasrat itulah yang membuat manusia bertahan hidup. Bahkan hasrat itulah justru yang kalau kita mampu mengendalikannya, akan menjadi kendaraan kita menghadap Ilahi sebagai hamba-Nya, yang  juga berarti akan menjadi kendaraan kita menuju surga-Nya. Hasrat itulah yang dalam terminologi lain kita pahami sebagai nafsu al mutmainah.

Puasa ialah ibadah yang paling rentan dicuri keabsahannya, kita bisa saja makan dan minum tanpa diketahui orang lain, namun bukan berarti kita bisa membohongi nilai puasa tersebut. Tak perlulah kita terlalu jauh menghitung amal dan dosa, biarlah itu sudah ada petugasnya yang menghitung.

Namun  secara duniawi saja kita hitung, jika kita mencurangi puasa, berarti kita tak sanggup menjadi penguasa atas diri kita sendiri. Akal kita masih di perut jika kita gagal mengendalikan rasa lapar. Akal kita setara hewan melata yang otaknya sangat dekat dengan tanah, berarti akal kita belum terletak di tahta yang semestinya yakni di kepala.

Sekali lagi, berarti puasa bukan tentang menahan, karena sesuatu yang ditahan acapkali meluap. Kita tahan rasa lapar seharian, lalu selepas kumandang azan magrib kita makan besar dengan rakusnya melebihi apa yang dibutuhkan tubuh bahkan melebihi yang sanggup ditampung perut, nilai apa yang kita peroleh dari puasa semacam itu?

Puasa hanya diklat sebulan, agar kebiasaannya berlanjut sebelas bulan kemudian, dan kembali diperbarui dan di-upgrade kemampuan pengendaliannya di Ramadan berikutnya. Pada bulan puasa ini kita berlatih mengendalikan diri beserta segala hasrat yang terkandung di dalamnya.

Maka sebagai siswa diklat yang baik atau sebagai prajurit yang bijak, sebelum terjun ke dalam kawah candradimuka ini, lakukanlah pengukuran, nafsu mana yang kita acapkali membuat iman kita kalah dan seringkali menjerumuskan kita untuk menjauh dari jalan kebenaran. Latih untuk mengendalikannya dan lihat selepas puasa nanti, adakah perubahan atau sama saja? Itulah yang akan kita jadikan parameter apakah kita sudah menjalankan puasa dengan baik atau tidak. Karena setiap pendidikan yang baik tercermin dari adanya perubahan sikap ke arah yang lebih baik.

sumber gambar: lakeybanget.com
Agung Fajar
Setiap dalam forum belajar, pelajar dituntut  aktif  dan  mampu  berinteraksi dengan  baik  pada  guru dan pelajar lainya. Sebenarnya ini tidak hanya berlaku dalam pendidikan formal saja tetapi juga  non formal, keduanya harus seimbang dengan mengikuti proses pembelajaran baik yang menghasilkan seorang semakin progresif dan berkembang.

Mengambil ilmu dari guru, berinteraksi dengan baik bersama teman-teman dan  menghasilkan  nilai-nilai yang memuaskan di setiap penilaian akhirnya membuat seorang itu menjadi puas, suatu contoh yang baik jika melihat fenomenal yang sekarang dengan banyaknya murid atau siswa dalam forum kelas namun tidak semuanya bersifat aktif dari penyampaian guru-gurunya dalam proses pembelajaran, perlu adanya pengevaluasian semua pihak.

Jika dikaitkan dengan konsep Rene Descartes, seorang filsuf yang mengemukakan “Cogito ergo sum” memiliki arti “aku berfikir maka aku ada” di saat fenomena sekarang banyak  dalam forum belajar yang tidak aktif (berfikir) maka sama saja tidak ada subjek dalam kelas  tersebut  atau  hanya murid-murid yang aktif saja (berfikir) yang ada.

Banyak faktor yang mempengaruhi meskipun upaya-upaya dari para pengajar sudah dilakukan agar si anak mampu aktif dalam proses pembelajaran, bagaimana dengan si anak atau muridnya? Faktor-faktor utama terletak pada mental, pengetahuan, dan kondisi lingkungan keluarga.

Mental
Mental menjadi faktor utama karena untuk siswa-siswi, baik mengetahui atau tidaknya suatu materi, mereka cenderung takut akan sebuah kesalahan saat mereka aktif pada sebuah pembelajaran.

Ribuan kali guru yang baik selalu menjabarkan salah atau tidaknya bukan menjadi penilaian tetapi proses berfikir dan keberaniannya dalam mengeluarkan gagasan atau pengetahuan pada ruang umum yang menjadi pertimbangan guru untuk melakukan penilaian.

Jika gagasan atau pengetahuan yang kita lontarkan mencapai suatu kebenaran anggaplah ini bonus dari hasil banyaknya kita mengikuti pembelajaran.

Sekolah tempatnya orang-orang yang belum mampu menguasai ilmu untuk itu mereka dituntut belajar, belajar dan belajar dari sang guru agar harapanya jika mereka belum menguasai minimal sudah mengetahui dari salah satu atau banyaknya ilmu untuk dijadikan bekal hidup di masa yang akan datang.

Pengetahuan
Apabila kita memiliki pengetahuan yang banyak dalam ilmu apa pun pastilah kita dominan lebih aktif dibandingkan dengan yang minim pengetahuan.

Ilmu bersifat menjalar saling berkaitan satu sama lain pastilah ada unsur-unsur yang menjadi penyambung dan penyambung itu lewat pengetahuan yang kita miliki. Untuk memperoleh pengetahuan banyak caranya salah satunya membaca.

Hanya saja peminat pembaca di Indonesia masih minim yang menjadikan indeks literasi Indonesia rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Lewat membaca kita mengetahui dunia karena peran buku masih sebagai jendela dunia, namun di era digital ini memberikan kita kemudahan untuk membaca tidak hanya dalam buku, internet dapat kita manfaatkan terutama pelajar-pelajar SMA yang notabene sudah menggunakan smartphone hanya saja bagaimana kita dapat menyaring menganai sumber dari apa yang kita baca.

Banyak manfaat yang didapatkan melalui membaca terlebih membaca suatu hal yang bersifat ilmiah di antaranya:

1. Menjadikan suatu bekal pengetahuan dari suatu objek yang dibaca.

2. Melatih daya kritis untuk dijadikan bekal kemampuan

3. Mempertajam nalar yang tuhan anugerahkan pada daya pikir.

Hal-hal tersebut hanya secara garis besar dari manfaat membaca menurut penulis tentunya masih banyak manfaat-manfaat lain untuk memperoleh pengetahuan apapun metodenya.

Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga tentu sangat penting perananya yang membuat kita selalu aktif dalam forum-forum belajar karena memang sejatinya peran guru hanya pada sekolah sementara siswa-siswi dominan waktunya lebih banyak dihabiskan di rumah, artinya lingkungan keluarga lebih berpengaruh untuk pendidikan karakter bagi terdidik tetapi fenomenanya lingkungan keluarga selalu mengandalkan sekolah bagi perkembangan terdidik.

Dalam hal ini seharusnya ada kesinergian antara lingkungan keluarga dan sekolah tidak bisa mengandalkan satu sisi saja. Bagaimana kita memanfaatkan waktu yang ada di rumah sehingga aktivitas-aktivitas di luar sekolah dapat dimanfaatkan menjadi aktivitas-aktivitas yang mendukung untuk berbuat aktif dalam forum-forum belajar.

Saya pernah melihat seorang bapak yang bermain dengan kedua anaknya sembari memberikan soal-soal matematika berupa perkalian dan pembagian, soal-soal yang diberikan dikemas seperti bermain tebak-tebakan dan kedua anak antusias menjawab soal-soal dari seorang bapak tersebut terlepas benar atau salah yang dijawab oleh anak, saya yakin cara-cara mendidik dalam rumah itu berpengaruh pula terhadap keaktifan kedua anak tersebut disekolah.

Penjabaran ketiga faktor tersebut menurut penulis hal-hal yang mempengaruhi keaktifan anak di sekolah yang akan menjalar pada pendidikan apa pun tingkatanya di mana pun tempatnya karena proses-proses berfikir telah muncul hanya saja mampukah anak tersebut untuk selalu memperasahnya agar tajam tanpa melihat benar atau salahnya dalam bangku pendidikan.

*Penulis adalah mahasiswa UNSIKA, karawang

sumber gambar: educenter.id

Bulan Ramadan tiba. Umat Muslim di seluruh dunia, termasuk masyarakat Indonesia, menyambutnya dengan penuh suka cita.

Beragam ekspresi kegembiraan bermunculan, mulai dari yang tradisional seperti pawai obor, dugderan (semacam pesta rakyat), nyadran (pembersihan makam), balimau (mandi menggunakan jeruk nipis), munggahan (kumpul bersama keluarga dan kerabat sembari menikmati sajian makanan khas), hingga yang modern, seperti menyebarkan ucapan maaf di media sosial. Islam sendiri tidak melarang ekspresi-ekspresi kebudayaan tersebut, selama prinsip-prinsip agama senantiasa terpelihara.

Momentum Ramadan tentu saja tidak akan bisa lepas dengan ibadah puasa. Tetapi siapa yang menyangka bahwa redaksi kata puasa tidak dikenal di dunia Arab. Alquran pun tidak menyebutnya.

Ini wajar saja sebab istilah puasa adalah milik orang Indonesia yang terambil dari bahasa Sansekerta, upawasa atau upavasa, yang menurut sebagian kalangan bermakna sebuah ritual tertentu untuk “masuk” ke Yang Ilahi. Yang lain mengartikannya sebagai hidup yang terbiasa dekat dengan Tuhan melalui doa dan senantiasa berpegang teguh terhadapnya.

Uniknya, menurut M. Jadul Muala, pengasuh Pondok Pesantren Kaliopak, Yogyakarta, orang­orang Jawa memiliki rujukan yang berbeda untuk mengistilahkan puasa, yakni pasa, yang berarti kekangan, mengekang, atau menahan sesuatu dari hal­hal tertentu, yang kemudian berkembang menjadi kata puasa. Dan ini telah dikenal atau digunakan jauh sebelum Islam mempraktikkannya, kira­-kira oleh penganut Hindu dan Buddha, bahkan sebelumnya (nu.or.id).

Fakta sejarah ini nyatanya selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Alquran, “...diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al­Baqarah, 2: 183). 
 
Jika merujuk pada kitab suci Alquran, Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Wawasan Al-Qur'an mengungkapkan bahwa redaksi kata puasa yang digunakan ialah shiyam. Ditemukan sebanyak delapan kali, semuanya memiliki pengertian hukum syariat.

Memang Alquran juga menggunakan kata shaum tetapi maknanya lebih pada upaya menahan diri dari berbicara (membisu), seperti ucapan perawan suci Maryam yang diajarkan oleh malaikat Jibril untuk merespon ketika ada pertanyaan yang dilayangkan kepadanya ketika melahirkan Isa. “Sesungguhnya aku bernazar puasa (shauman), maka hari ini aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun” (Maryam, 19: 26).   

Baik shiyam maupun shaum terambil dari, lebih lanjut Shihab menguraikan, akar kata yang sama, yakni sha-wa-ma, yang dari segi bahasa memiliki makna yang bersikar pada “menahan”, “berhenti”, atau “tidak bergerak.” Sebagai contoh adalah istilah untuk kuda yang berhenti berjalan disebut faras shaim.

Manusia yang menahan diri dari aneka aktivitas apa pun sebenarnya bisa pula dinamakan shaim (berpuasa). Maka wajar jika ada yang mempersamakan shiyam dengan sikap sabar karena adanya kesamaan dalam esensinya. Hanya saja secara istilah dalam agama Islam, kata shiyam hanya diartikan sebagai aktivitas menahan diri dari makan, minum, dan mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, sebuah pengertian yang sepenuhnya telah diadopsi oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Namun kaum sufi tidak mau berhenti di sana. Melangkah lebih jauh, mereka meyakini bahwa puasa tidaklah sekadar aktivitas fisik atau lahiriah, melainkan harus pula mengikutsertakan aspek batin, menahan anggota tubuh dan hati dari segala macam bentuk dosa dan kelalaian dari mengingat Allah.

sumber gambar: merahputih.com


Ramadan segera tiba. Seperti biasa, umat Muslim dari seluruh penjuru dunia akan menyambutnya dengan penuh suka cita, tanpa terkecuali Indonesia. Beragam ekspresi kegembiraan bermunculan, mulai dari yang tradisional seperti pawai obor, dugderan (semacam pesta rakyat), nyadran (pembersihan makam), balimau (mandi menggunakan jeruk nipis), munggahan (kumpul bersama keluarga dan kerabat sembari menikmati sajian makanan khas), hingga yang modern, seperti menyebarkan ucapan maaf di media sosial.

Islam sendiri tidak melarang ekspresi-ekspresi kebudayaan tersebut, selama prinsip-prinsip agama senantiasa terpelihara.

Tetapi terlepas dari semua hal di atas, gegap gempita ini tentu saja tidak boleh dilepaskan dari esensinya, yakni pembentukkan diri menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa. Yang terakhir disebut secara eksplisit termaktub dalam surat Al-Baqarah ayat 183—Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, mengingatkan seluruh umat mukmin untuk concern terhadap tujuan dan bukan gimmick-nya.

Ini bisa dipelajari dari hasil evaluasi Ramadan sebelumnya di mana kita masih saja suka terjerembab ke dalam simplifikasi pemaknaan puasa. Salah satu contoh ialah soal menahan makan dan minum.

Memang, secara fiqhiyyah sudah banyak umat Muslim yang bisa menahan makan dan minum hingga waktu berbuka tiba. Tetapi sesegera pasca azan magrib berkumandang, bak orang yang sangat kelaparan, kita melahap sebanyak dan seberagam mungkin hidangan yang tersaji, membuat perut kekenyangan sehingga sulit untuk menunaikan ibadah-ibadah mahdah lainnya.

Fenomena ini bahkan telah dapat dipantau semenjak sore hari di mana banyak umat Muslim yang tersibukkan oleh remeh-temeh persiapan berbuka. Pendidikan puasa yang pada awalnya menghendaki pengendalian hawa nafsu kembali dipertanyakan efektivitasannya. Tidak takutkah kita dengan ucapan Nabi Muhammad yang menyatakan bahwa “Berapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga saja?” (HR. Ibnu Majah).

Dengan benar-benar meresapi ibadah puasa, seharusnya juga dapat membentuk kepribadian kita menjadi diri yang lebih tenang, tidak reaktif dan mudah marah. Sayangnya beberapa tahun belakangan ini sikap-sikap tersebut malah semakin santer bermunculan, terlebih di media sosial.

Oleh karena itu, di puasa kali ini umat Muslim harus meningkatkan level berpuasanya, tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban tetapi perlu meresapinya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Sahabat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Puasa adalah membentengi diri. Maka apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Dan jika ada seseorang yang memakinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan sesungguhnya aku seorang berpuasa.” (HR. Bukhari).

Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya jika karakter semacam kesabaran, kontrol diri, dan kelemahlembutan, bermunculan pasca umat Muslim menunaikan ibadah puasa. Bukan hanya efeknya berguna bagi diri sendiri—baik dari segi fisik maupun spiritual—lebih jauh lagi akan menggiring “kultur” gerak dunia menjadi lebih positif, penuh dengan kasih sayang dan empati.

Contoh keberhasilan dalam memaknai puasa dapat dilihat dari sosok agung Nabi Muhammad yang oleh Allah sendiri dipuji dalam beberapa kalam-Nya. “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam, 68: 4). Begitu pun di dalam surat Ali Imran ayat 159, “Maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” Wallahu ‘alam. [] 

sumber gambar : batam.tribunnews.com