Sosok Satria dalam Serial Kesempurnaan Cinta Net TV


Bagi saya ini adalah serial drama  yang paling berkesan sekaligus paling valuable, karena kita semua bisa memetik ibrah (pelajaran) dari semua tokoh yang ada di mana setiap tokoh pasti memiliki satu kesamaan dengan tokoh lainnya, yaitu keinginan untuk melakukan evaluasi diri dan meminta maaf ketika terjatuh dalam melakukan kesalahan, suatu sifat yang sepertinya hampir punah di dalam aktivitas keseharian kita hari ini.  

Tetapi karena tidak mungkin mengometari semuanya, artikel kali ini saya batasi hanya untuk seorang Satria (diperankan oleh Dimas Seto) yang bisa dibilang merupakan tokoh utamanya. 

Satria adalah seorang suami yang begitu sayang pada istri dan anak-anaknya (Jasmin & Rafa). Ketika berinteraksi dengan mereka, penonton akan merasakan sekali spirit penyayangnya dengan penuturan lemah-lembut ala masyarakat Timur. Penyayang, suka memuji, mencium, mengajarkan moralitas dan ah, saya sulit untuk mengungkapkannya.

Kesempurnaanya menjadi bulat malah karena dia adalah sosok yang menyadari akan kekurangan yang ada di dalam dirinya, seperti tidak malu untuk merenung, bermuhasabah, berdoa meminta petunjuk dari Tuhan dan meminta maaf tanpa memandang status sosial orang yang diperbuat salah olehnya.

Satria bukanlah seorang ahli agama atau paham banyak ajaran agama, bahkan dalam salah satu scene, bacaan Alquranya juga masih sumbang. Betapapun demikian dia telah mengajarkan kita untuk lebih mengedepankan substansi agama, yaitu tindakan dan sikap yang tertuang dalam segala aktivitas keseharian. 

Pernah suatu ketika, dikarenakan tugas pekerjaan yang sangat menumpuk, penuh dengan deadline, Satria melupakan momen penting yang sudah mereka (keluarga) rencanakan jauh-jauh hari. Sang istri beserta kedua anaknya bahkan sudah berdandan dan siap sedia untuk mengeksekusi momen tersebut. Ketika menyadari ada sesuatu yang luput dari ingatannya, Satria tersentak dan segera meminta maaf kepada semua anggotanya, terutama pada sang istri. Di scene ini saya merasa Satria sedang mengajarkan para bapak (suami) di seluruh Indonesia untuk tidak perlu gengsi meminta maaf ketika melakukan kesalahan, suatu tindakan “heroik” sekaligus rendah hati. 

Sebagai seorang anak, Satria dapat dikatakan adalah sosok yang  sangat berbakti kepada orang tuanya. Begitu respek, berkata lemah-lembut, dan juga sangat tidak mau menyulitkanya. 

Sedangkan dalam perannya yang sebagai seorang pegawai (di Dome Design), Satria adalah sosok yang berkompeten, berintegritas, melakukan pekerjaan tanpa mengeluh yang terkadang sampai lupa dengan kesehatannya sendiri. Jauh dari gila jabatan, tidak menjilat, dan berani berkata tidak pada bosnya karena tidak rela meninggalkan anaknya atau janji yang telah mereka sepakati. 

Selang beberapa waktu sang istri menderita sakit parah. Ketika merasa hidupnya tidak akan lama lagi, dia menitipkan pesan pada Satria untuk segera mencari pengganti dirinya supaya anak-anak mereka dapat memiliki sosok ibu. Tentu saja Satria tak kerasan dan mencoba membujuk istrinya agar tidak mengucapkan hal-hal yang tak wajar. 

Namun takdir berkata lain, sang istri meninggalkan Satria yang malang bersama kedua anaknya yang masih belum beranjak dewasa. Dari sinilah kisah Satria dimulai, menjadi sosok single parent yang memiliki tugas ganda super berat, harus menopang hidup keluarga kecilnya dengan mencari nafkah sekaligus berperan menjadi ibu bagi anak-anak mereka.

Peran yang terakhir disebut inilah yang sering tidak sempurna dilakoni oleh Satria sehingga tak jarang suka merepotkan tetangganya, keluarga Bapak Jodi yang anak perempuannya, Renata (diperankan oleh Ririn Dwi Arianti), suka sekali membantu kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Jasmin dan Rafa, mulai dari soal makan malam, tugas sekolah, kehabisan gas, hingga problem yang sifatnya privat. Renata sering menjadi tempat curhat Jasmin yang lama-kelamaan membuat Jasmin sangat menyayanginya dan menginginkannya menjadi pengganti ibunya. 

Lokasi rumah yang berhadap-hadapan, membuat interaksi antara keluarga Satria dan Renata menjadi tanpa sekat. Walaupun kita (penonton) seperti digiring untuk memiliki penafsiran bahwa Satria dan Renata satu sama lain memiliki rasa cinta, tetapi elegannya, tindakan dan interaksi mereka berdua selalu dibalut dengan nilai-nilai kehormatan dan penjagaan diri.   

Adapun sebagai pasangan (kekasih) dari Hana (diperankan oleh Maria Selena)—yang memang hendak melangsungkan pernikahan, Satria mengajarkan kepada kita arti cinta dan sayang yang sesungguhnya, mengutamakan perbuatan nyata dibanding sekadar mengumbar kata-kata manis, because love is verb. 

Akhirnya, adanya drama ini memberikan kita secercah harapan, di tengah gencarnya produksi film yang hanya sekadar menjadi ajang menarik rating, atau konten-konten religius yang berlebihan (tidak masuk akal) seperti serial azab dan yang semisalnya. Semangat idealisme Kesempurnaan Cinta agaknya perlu direplikasi oleh setiap pembuat serial drama. 

sumber gambar: ratihkumala.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar