Kita Juga Bisa Berisra Miraj loh

Peristiwa Isra Mi’raj sudah cukup populer di kalangan Muslim. Dimulai dari puncak kesedihan Rasul saw, melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis dan langit Sidratul Muntaha , bertemu para Nabi, menerima perintah salat lima waktu hingga berjumpa dengan Allah Swt.

Isra Mi’raj sendiri merupakan peristiwa agung dan istimewa yang dialami Nabi Muhammad saw. Peristiwa yang membuat Rasul saw dan para sahabat semakin meningkat keimanan dan perjuangannya sekaligus menjadi peristiwa yang penuh dengan tanda tanya, dan misteri di dalamnya. Akan sangat disayangkan jika peringatan Isra Mi’raj hanya menjadi seremonial saja tanpa kita mengkaji hikmah di dalamnya dan menaplikasikannya pada kehidupan sehari-hari.

Sebenarnya kita semua bisa ber-Isra Mi’raj seperti Rasul saw. Tentu bukan bermaksud  menaiki Buraq menuju Baitul Maqdis dan Sidratul Muntaha, namun kita bisa mengambil hikmah yang mejadi inti dari peristiwa tersebut. Hikmah peristiwa agung Isra Mi’raj yang mampu menjadikan Nabi Muhammad saw dan para sahabat sukses menjalani kehidupan dan dakwah. Lalu bagaimanakah cara kita bisa ber-Isra Mi’raj?.

Bukti kekuasaan Allah
Melakukan perjalanan dari Mekkah menuju Yerusalem selama satu malam, kendaraan super cepat bernama Buraq, berbicara dengan para Nabi yang sudah meninggal bahkan berjumpa dengan Allah, itu semua adalah peristiwa yang sulit dipahami oleh akal. Namun begitulah dalam ajaran Islam sehebat apa pun akal ada batasannya dalam memahami kekuasaan Allah.

Kita patut menundukan akal yang selalu kita sombongkan untuk kemudian mengedepankan intuisi hati. Sebagaimana Abu Bakr ra, di saat banyak orang bertambah ragu akan tetapi ia malah semkin mantap keimanannya. Jiwa dan raga yang senantiasa dalam kebaikan tentu akan lebih mudah mendapatkan kebenaran.

Bangkit Dari Segala Kesulitan
Meninggalnya paman Rasul saw yaitu Abu Thalib bahkan sebelum sempat mengucapkan syahadat masuk Islam membuat Rasul saw bersedih, apalagi setelahnya tak ada lagi orang yang menjamin perlindungan bagi Beliau. Ditambah dengan meninggalnya istri Rasul saw tercinta yaitu Khadijah yang selalu mendukung baik lahir batin bahkan materi membuat Rasul semakin merasa sedih. Tekanan dan kekerasan dari kaum Quraisy semakin memuncak, hingga ditolak dakwahnya bahkan disakiti di Thaif.

Melalui rentetan kesedihan itu seolah-olah Allah mengajarkan pada Rasul saw bahwa sesungguhnya perlindungan dan dukungan yang abadi dan benar-benar kuat hanyalah dari Allah. Ketika berada pada puncak kesedihan, Rasul saw pun di-Isra Mi’raj-kan oleh Allah sehingga setelahnya Rasul saw pun bangkit, melakukan hijrah, umat Islam semakin banyak dan kuat, hingga risalah Islam pun semakin meluas. Itulah keteladanan Rasul saw untuk bangkit dari segala kesulitan.

Mendekatkan Diri Pada Allah
Ketika berada pada puncak kesedihan, Rasul Saw menatap langit malam sambil bermunajat. Saat itu ia mencurahkan segala isi hati dan perasaannya pada Allah, istri tercinta yakni Khadijah yang selalu menjadi pelipur lara ketika beliau ditimpa kesulitan sudah tak ada.

Kedekatan dengan Allah membuat Rasul Saw lebih tenang bahkan terbukanya kasyaf hingga berjumpa dengan Allah menuju alam fana dan baqa. Sungguh pengalaman spiritual yang tiada banding. Begitulah Rasulullah saw memberikan keteladanan agar kita semakin mendekatkan diri pada Allah.

Belajar Pada Orang Lain Yang Lebih Berpengalaman
Telah banyak para Nabi dan Rasul sebelumnya yang juga mendapatkan berbagai ujian dan kesulitan berat yang beragam. Nabi Muhammad saw sebagai Nabi terakhir pun demikian. Berbagai kesedihan karena mengalami banyak rintangan membuat Rasul saw dipertemukan bersama para Nabi lain di perjalanan menuju Sidratul Muntaha. Tidak banyak sumber menceritakan lebih jelas mengenai bagaimana kisah perjumpaan para Nabi itu. Karena sesunguhnya peristiwa Isra Mi’raj termasuk hal yang gaib di mana kita hanya diberitahu sedikit pengetahuan tentangnya. Sisanya adalah rahasia Allah dan pengalaman spiritual yang didapatkan Rasul saw.

Keberanian Dalam Mengemukakan Kebenaran
Di waktu subuh sesaat perjalanan Isra Mi’raj usai, Rasul menceritakan peristiwa itu pada para sahabat terdekat. Mereka pun merasa heran dan takjub namun membujuk agar Rasul saw tidak menceritakan pada kaum Quraisy karena bisa menjadi senjata mereka untuk semakin menolak dan mencaci maki Rasul saw.

Namun rasa bahagia dan pengalaman spiritual Isra Mi’raj membuat Rasul saw semakin berani dan semangat untuk berdakwah. Alhasil masyarakat Mekkah pun semakin meningkat keraguan dan caci maki pada beliau, mereka menganggap Rasul saw semakin gila. Di sisi lain umat islam justru semakin bertambah keyakinanannya karena terbukti apa yang diceritakan Rasul saw tentang kondisi Baitul Maqdis pun dibenarkan oleh kafilah dagang yang telah mengunjunginya.

Kasih Sayang Allah
Ketika mencapai Sidratul Muntaha, Nabi Muhammad saw mendapatkan perintah untuk melakukan salat wajib sebanyak 50 kali. Saat menuju ke langit bawah, Rasul saw berjumpa kembali dengan Nabi Musa as. Beliau membujuk agar Rasul saw kembali pada Allah untuk meminta keringanan karena umatnya tak akan sanggup salat 50 kali sehari. Nabi Muhammad saw pun kembali lagi ke langit beberapa kali hingga akhirnya kewajiban salat pun berkurang menjadi 5 kali sehari.

Kisah tersebut begitu populer, meskipun sebagian ulama meragukannya karena menganggap israiliyat dari Yahudi. Akan sebagian ulama lain berpendapat justru terdapat hikmah yang luar bisa. Rasul saw yang bulak balik menuju Sidratul Muntaha menunjukan bahwa Allah pun rindu pada beliau sehingga tak bosan-bosannya berjumpa. Kewajiban salat 5 kali yang setara dengan 50 kali pun menunjukan kasih sayang Allah pada hamba-Nya yang taat. Maka sudah selayaknya kita mengaplikasikan sifat Rahman ini pada kehidupan sehari-hari.

Sumber gambar: steemitimages.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar