Zig Zag Keluarga Halilintar


Setelah Atta Halilintar meramaikan jagad dunia maya, khususnya di situs YouTube, dengan memperoleh jumlah subscriber yang begitu fantastis (lebih dari 11 juta), kali ini keluarga besarnya, dengan menamai diri mereka sebagai Gen Halilintar yang terdiri dari sepasang suami istri beserta sebelas orang anaknya, membuat sebuah video musik berjudul Ziggy Zagga. 

Tak tanggung-tanggung, di hari pertama peluncurannya (15 Februari 2019)  musik yang beraliran upbeat ini telah ditonton sebanyak 5.6 juta kali, mendapat lebih dari 500.000 likes, dan 50.000 komentar. Bahkan pada hari itu juga menjadi trending nomor satu di YouTube. 

Sebagaimana yang tertulis di dalam kolom deskripsi, judul lagu ini diambil dari emoji halilintar (kilat atau mata petir) yang berbentuk zig-zag, maksudnya lagu ini tiada lain hendak menceritakan mengenai kisah keseharian keluarga besar Halilintar itu sendiri. 

Tentu saja penamaan ini bukan tanpa makna, sebab redaksi kata ini baik yang diambil dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) maupun Bahasa Inggris, akan memiliki arti yang sama, yakni berliku-liku atau berkelok-kelok. Sohwa, anak kedua dari Halilintar Anofial Asmid yang juga merupakan pencipta lagu, mengungkapkan bahwa kehidupan keluarganya memang penuh dengan lika-liku, berhiaskan warna, saling bertukar suka dan duka, tangis dan tawa, bahkan hingga saling bertukar baju. 

Lika-liku dalam kehidupan memang merupakan sebuah keniscayaan maka dari itu sang ibunda, Lenggogeni Faruk, mengungkapkan bahwa meskipun demikian adanya, rasa harap-harap cemas perlu terus ditumbuhkan dengan cara berusaha dan berdoa kepada Tuhan sebagaimana yang tertuang dalam lirik lagunya “Oh Tuhan jagalah keluarga ini agar bisa terus satu visi.”

Karena mayoritas penonton video musik ini dapat dipastikan adalah dari kalangan millineal, maka sebenarnya esensi lagu ini dapat juga dikenakan atau ditujukan kepada mereka, khususnya ketika mendapatkan lika-liku kehidupan modern yang serba memberikan kecemasan dan alienasi. Lagu ini seakan ingin berkata bahwa generasi millinial perlu memiliki semacam ketangguhan komunal, baik mulai dari skala terkecil seperti keluarga hingga di skala terbesar seperti bangsa dan negara. 

Tidak hanya itu, konsep video klip yang menampilkan banyak negara dan musim juga memberi arti metafora dan tersirat bahwa meskipun dalam berkelompok setiap pribadi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tetapi mereka harus senantiasa bersatu demi mencapai kemaslahatan umum. Ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh sebagian pengamat bahwa di zaman modern manusia mustahil dapat hidup sendiri atau mengisolasi diri, alih-alih mereka mesti bersatu, saling bahu-membahu, jika hendak menyelesaikan sebuah persoalan, terlebih masalah yang saat ini dihadapi bersifat global, maka kerjasama mutlak ditegakkan. 

Di dalam kehidupan nyata zig-zag (lika-liku kehidupan) akan bertautan dengan konsep masyarakat, sebagaimana diungkapkan oleh Prof. Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul Islam yang Saya Pahami: Keragaman Itu Rahmat bermakna “kebersamaan dengan pihak lain dalam satu aktivitas dan tujuan bersama”. Oleh karena itu, meski di dalam perjalanannya umat manusia akan berjumpa dengan aneka problem, persatuan dan kesatuan harus dikedepankan hingga pada akhirnya akan memperlihatkan sisi keindahannya seperti yang telah terlihat dalam keluaga besar Gen Halilintar. 

sumber gambar: gotravelly.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar