Substansi Terorisme


Dunia kembali berduka. Betapa tidak, Jumat (15/03/2019) lalu terjadi peristiwa yang sangat memilukan sekaligus tidak bisa dinalar oleh akal sehat. Sejumlah umat Muslim, diperkirakan 49 orang, meninggal setelah ditembak massal oleh pelaku bersenjata di dalam dan sekitar dua area masjid Linwood Avenue dan An-Noor Deans Avenue di mana keduanya berada di wilayah Chrischurch, Selandia Baru. Ini pun masih menyisakan puluhan korban yang mengalami luka serius sehingga memerlukan perawatan intensif. 

Banyak reaksi setelah berita beredar tanpa terkecuali Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern. Ia mengaku kaget dengan insiden ini dan menyebutkan bahwa tindakan tersebut merupakan serangan terorisme yang bahkan belum pernah terjadi sebelumya di negara yang memiliki khas akan burung kiwinya. Padahal beberapa waktu sebelumnya kita pun baru saja dikabarkan tentang peledakkan bom di Kota Sibolga, Sumatera Utara. Melihat kenyataan ini sepertinya terorisme masih menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat abad 21. 

Muhammad Mustofa mengungkapkan, jika hendak merujuk pada redaksinya, kata terorisme berasal dari bahasa Perancis le terreur yang awalnya digunakan untuk menyebut tindakan pemerintah hasil revolusi Perancis yang mempergunakan kekerasan secara brutal dan berlebihan dengan cara memenggal 40.000 orang yang dituduh melakukan kegiatan anti pemeritah. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya kata ini pun digunakan untuk memberi label terhadap gerakan-gerakan radikal anti pemerintah di Rusia. 

Dalam dekade atau abad-abad selajutnya, kata terorisme terus mengalami perluasan makna, tetapi kita tetap bisa menarik kesamaan-kesamaannya, yakni suatu upaya untuk menimbulkan kepanikan atau ketakutan, biasanya demi mencapai tujuan politik, sebagaimana yang juga dipaparkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Oxford Dictionary. 

Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century agaknya bisa memberikan kita pemaknaan yang lebih analitik berkenaan dengan hal ini. Menurutnya para teroris itu memang ahlinya mengendalikan pikiran. Dan terorisme adalah “sebuah strategi militer” yang berharap untuk mengubah situasi politik dengan menyebarkan ketakutan alih-alih menyebarkan kerusakan material. Strategi ini, masih menurutnya, hampir selalu diadopsi oleh pihak-pihak yang sebenarnya sangat lemah yang tidak dapat menyebabkan kerusakan material pada musuh-musuhnya. Berbanding terbalik dengan peperangan konvensional di mana ketakutan hanya menjadi efek samping, dalam tindakan terorisme ketakutan adalah cerita utamanya. 

Kita bisa melihat indikator ini dalam kasus terorisme di Selandia Baru. Brenton Tarrant, pria berusia 28 tahun berkulit putih kelahiran Australia yang tiada lain sang pelaku, tanpa malu melakukan tindakan keji tersebut secara live streaming di akun media sosialnya. Apalagi kalau bukan untuk mendapatkan perhatian dan liputan dunia? Sayangnya saya kira kita semua sempat menonton video kejam tersebut meski setelah itu beberapa pihak telah melarang dan mencoba untuk menghilangkan jejak digitalnya, sebab dengan kita menontonnya, maka itulah yang sebenarnya diinginkan oleh si pelaku, menyebarkan ketakutan. 

Tetapi ada yang lebih menakutkan daripada sekadar menyebarnya rasa takut dari aksi terorisme dan penyebaran video tersebut, yaitu munculnya rasa benci yang  berlebihan dari sebagian kelompok yang tersinggung sehingga menimbulkan rasa untuk melakukan balas dendam. Dan inilah yang perlu diantisipasi oleh berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat, pemuka agama, dan pemerintah.  

sumber gambar: detik.net.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar