Mengenal Gender dan Feminisme


Ketika saya sedang berbincang dengan salah seorang dosen tentang gender, beliau mengatakan bahwa nama Mansour Fakih cukup terkenal di eranya, berkat bukunya, meski kecil tetapi telah dapat memberikan pengantar yang cukup baik. Dari diskusi sederhana itulah kemudian saya berencana untuk membeli buku lawas tersebut. 


Buku berjudul Analisis Gender & Transformasi Sosial ini diterbitkan pertama kali oleh Pustaka Pelajar (Yogyakarta) pada tahun 1996, tepat ketika saya masih berumur dua tahun. Tetapi yang sekarang ada di tangan saya adalah edisi cetakan yang ke-15 (2003). Dari sini saya dapat membayangkan bahwa buku ini mendapatkan sambutan hangat dari banyak kalangan. 

Saya lihat buku yang ditulis oleh Fakih ini dilatarbelakangi oleh kegelisahannya dalam melihat ketidakadilan di tatanan sejarah umat manusia selama ini, khususnya yang berkenaan dengan relasi antara laki-laki dan perempuan di mana yang terakhir disebut lebih sering menjadi objek ketidakadilan dan korbannya. 

Menurutnya, salah satu alasan kemunculan ketidakadilan relasi di antara kedua belah pihak adalah dikarenakan kita telah terlalu tidak dapat membedakan apa yang dimaksud dengan sex (jenis kelamin) dan gender. 

Padahal jelas bahwa keduanya berbeda. Jika yang pertama lebih merupakan sesuatu yang sifatnya biologis, seperti penis, vagina, payudara, sperma, sel telur, dll, sehingga memiliki sifat tetap dan kodrati, sedangkan gender lebih kepada sesuatu yang sifatnya sekadar konstruksi sosial sehingga dapat saja berubah, seperti kerasionalitasan, keperkasaan, lemah lembut, emosional, dsb. 

Sayangnya, masyarakat suka menganggap gender sebagai kodrat. Memandang bahwa laki-laki itu pasti rasional, perkasa, kuat, berani, sedangkan sifat lemah lembut, pemalu, tidak rasional, emosional, dan yang sejenisnya itu pasti melekat di dalam diri perempuan. 

Pengotakan yang tidak pada tempatnya ini pada umumnya memiliki pola umum bahwa laki-laki lebih superior dibandingkan perempuan yang pada akhirnya melahirkan ketidakadilan dalam beragam varian. Fakih membaginya menjadi empat bagian, yaitu marjinalisasi, subordinasi, stereotipe, kekerasan, dan beban kerja. 

Yang disayangkan oleh Fakih, keadaan ini seperti dimantapkan oleh negara-negara maju khususnya Amerika yang telah memperkenalkan teori developmentalism (pembangunan), sebuah teori yang menurut Fakih memiliki sinonimitas dengan teori modernisasi. 

Teori ini pada awalnya dikembangkan oleh Amerika—yang kemudian menjadi kosakata dan doktrin kebijakan luar negerinya—dalam rangka membendung semangat anti kapitalisme (umumnya yang digaungkan oleh para sosialis) di negara-negara Dunia Ketiga. 

Bagi Fakih, teori atau ideologi ini “justru menciptakan pelbagai ketidakadilan dan melanggengkan struktur ekonomi yang tidak adil dan ketergantungan; menguatkan proses dominasi kultur dan pengetahuan, memperkokoh penindasan politik, hingga mempercepat perusakan lingkungan...modernisasi juga telah melanggengkan pendominasian terhadap perempuan.” (h.48). 

Memang, developmentalism memiliki program yang bernama Women in Development (WID) yang menurut mereka merupakan cara ampuh untuk memperbaiki status dan nasib kaum perempuan di negara-negara Dunia Ketiga. Tetapi analisis banyak cendekiawan[1] menyatakan hal yang sebaliknya. Maka munculah feminisme, sebuah aliran bagi para pembela hak dan nasib kaum perempuan agar dapat memiliki tempat yang lebih adil di dunia ini. 

Di dalam buku ini Fakih membagi feminisme menjadi empat kelompok, yakni feminisme-liberalis, feminisme-radikal, feminisme-marxis, dan feminisme-sosialis. Keempatnya kemudian dibagi lagi menurut cara pandangnya, kelompok yang pertama masuk ke dalam paradigma fungsionalisme sedangkan kelompok kedua, ketiga, dan keempat masuk termasuk ke kategori paradigma konflik. 

Kelompok pertama lebih berfokus memperjuangkan agar kaum perempuan dapat bersaing dalam dunia yang penuh dengan persaingan bebas. Caranya seperti “menyediakan program investasi guna meningkatkan taraf hidup keluarga seperti pendidikan, keterampilan serta kebijakan yang dapat meningkatkan kemampuan perempuan sehingga mampu berpartisipasi dalam pembangunan.” (h.82). 

Kelompok feminisme-liberal ini lebih memandang perempuan sebagai objek yang perlu berubah atau diubah, berbeda dengan ketiga kelompok feminis lainnya yang menganggap bahwa kesalahan terdapat pada kecacatan sistemnya.  

Bagi feminisme-radikal yang menggunakan paradigma konflik, persoalan ketidakadilan pada perempuan terletak pada jenis kelamin laki-laki dan sifat (sistem) patriarki yang dijalankannya itu. Jadi, cara membebaskan dirinya ialah dengan melepaskan perempuan dari segala bentuk yang dianggap mencirikan penguasaan, pengekangan, atau penindasan fisiknya, termasuk hubungan seksual. 

Penganut paradigma konflik lainnya adalah feminisme-marxis. Kelompok ini menggunakan analisis pembagian kelas ala struktur kapitalis yang menindas. Karena menganggap bahwa problemnya terletak pada penggunaan sistem kapitalis, maka masyarakat perlu mengubah struktur kelasnya melalui proses revolusi ditambah penghapusan kewajiban perempuan dalam mengurus rumah tangga (domestik). 

Terakhir ada aliran feminisme-sosialis yang melakukan penggabungan analisis dua kelompok sebelumnya. Bagi mereka persoalan ketidakadilan terhadap kaum perempuan ialah dikarenakan adanya budaya patriarki sekaligus penggunaan sistem kelas ala kapitalisme. 


Meskipun para teoritis di atas sering berdebat mengenai teori-teori feminisme yang beragam itu, tetapi menurut Fakih sikap yang berbeda ditunjukkan oleh kalangan praktisinya yang lebih menggunakan analisis secara situasional. Dan kabar gembiranya, dalam skala jangka pendek perjuangan para feminis ini telah menunjukkan efek baiknya, walaupun tujuan-tujuan jangka panjang masih belum diraih. Berkali-kali Fakih menegaskan bahwa gerakan feminisme bukan untuk memusuhi atau melawan laki-laki, tetapi lebih pada perjuangan menentang ketidakadilan.


sumber gambar: pixabay.com

[1] Seperti Stamp, P. (1989). Techology, Gender, and Power in Africa. Ottawa: IDRC; Boserup, E. (1970). Women’s Role in Economic Development. London: George Allen and Unwin; Mueller, A. (1987). Peasant and Professionals: Th eProduction of Knowledge about in the Third World. Sebuah Paper dalam pertemuan tentang The Association of Women in Development (Washington); Shiva, V. (1986). Ecology Movement in India, Alternatives, Vol.11, No.2; dan masih banyak lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar