Yang Hilang dalam Pendidikan kita

Ari Febrio Pratama P
Akhir-akhir ini penulis resah mengenai arti dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Menanggapi pengertian tersebut, penulis menilai bahwa dalam prosesnya, pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok baik menuju arah yang lebih baik atau pun sebaliknya.

Argumentasi tersebut didasari oleh pengamatan penulis bahwa hari ini banyak sekali masyarakat yang mengemban pendidikan terutama pendidikan formal hanya untuk bekerja dan bersaing secara ekonomis untuk mendapatkan kekayaan yang sebanyak-banyaknya.

Penulis melihat pemikiran tersebut terlalu sempit bagi pendidikan karena pada sejatinya pendidikan dapat berproses di mana saja, bukan hanya di lembaga formal seperti sekolah atau universitas. Apakah sejauh ini telah terjadi sesuatu yang menyimpang jika pendidikan dimaknai sesederhana itu? Atau pendidikan justru dapat membahayakan pendidikan itu sendiri?

Penulis merasa adanya keterbatasan dan belenggu pada makna pendidikan sekarang. Jika pendidikan secara luas dapat berproses di mana saja selagi proses berpengetahuan itu berhasil didapatkan, lalu mengapa hari ini masyarakat hanya percaya pada sebuah pendidikan formal yang faktanya tidak semua masyarakat dapat mengakses pendidikan formal tersebut?

Dan jika pendidikan merupakan hak segala bangsa, mengapa masih banyak hari ini masyarakat yang tidak mampu sekolah? Mengapa biaya pendidikan dibuat selaras dengan kualitas pendidikan? Apa yang membuat pendidikan menjadi sarana yang sulit untuk dijangkau? Apa yang telah terjadi dengan pendidikan?

Jika ada penyimpangan dalam makna pendidikan, penulis tidak mengetahui siapa inisiator dari pergeseran makna tersebut. Penulis mencoba mencari faktor yang membuat proses penyimpangan makna dan tujuan pendidikan berhasil bertahan hingga saat ini.

Apakah negara, karena dianggap memiliki seluruh instrumen dalam sistem kenegaraan sehingga mampu melakukan apa pun termasuk sistem pendidikan melalui kebijakannya? Atau para pendidik itu sendiri yang berhasil membawa jauh arah pendidikan sebagaimana mestinya dengan berbagai pola kreatif yang mereka terapkan? Atau dalam perumpaan yang satir, justru peserta didik yang mengalami penurunan kualitas dalam menerima proses pendidikan?

Negara dan pendidik bisa saja berkolaborasi dalam menciptakan kerangka tertentu dalam sistem pendidikan agar para peserta didik tercetak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka inginkan.

Kebebasan memaknai pendidikan menurut penulis hanya berhasil ditemui pada pendidikan tingkat atas seperti kuliah karena ruang-ruang dialektis yang bebas sulit ditemukan pada tingkat yang lebih awal.

Jika seperti itu, bagaimana mungkin dapat melahirkan pemikiran yang kritis sejak dini jika peserta didik tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi? Dengan segala kompleksitasnya, negara dan pendidik dalam pandangan penulis merupakan pihak yang berhasil membuat makna pendidikan di negara ini jauh bergeser sebagaimana mestinya. Berhasil menggeser makna dan melahirkan masyarakat yang patuh, rajin bekerja, dan acuh terhadap sesamanya melalui pendidikan.

Masyarakat yang tercetak sedemikan rupa dalam pemikiran penulis terjadi karena beberapa aktivitas yang terjadi dalam proses pendidikan. Pertama, pendidikan dan menjadi pendidik merupakan hal eksklusif yang hanya bisa didapatkan dan diterapkan oleh mereka yang mampu secara materi serta memiliki predikat secara tertulis.

Kedua, pengelompokan tingkatan kemampuan dalam ruang-ruang pendidikan yang juga menciptkan sifat kompetitif para peserta didik untuk saling meraih tingkatan teratas di antara sesamanya.

Ketiga, penanaman sebuah nilai tanpa melakukan reka-perlawanan terhadap nilai apa yang sedang ditanamkan dengan nilai yang bertentangan. Keempat, sistem lapisan antara penyelenggara dan peserta pendidikan yang berhasil menciptkan ketaatan semu nan patuh sehingga membelenggu kreativitas dalam setiap jiwa.

Jika seluruh aspek tersebut bisa hilang dalam sistem pendidikan, penulis yakin makna sesungguhnya dari pendidikan akan berhasil ditemui oleh setiap peserta pendidikan.

Pemaknaan pendidikan hanya untuk bekerja dan memperkaya diri sendiri akan hilang dengan sendirinya dan pendidikan kembali bebas menggenggam maknanya sendiri dengan sabik-baiknya.

Pendidikan haruslah sebagai sarana pembebasan segala hal yang mengekang masyarakat karena dengan pendidikan yang murni, setiap individu akan bergerak untuk saling bermanfaat demi masyarakat yang lebih baik.

Tetapi pada prosesnya, hari ini tantangan terbesar kita selaku kelompok yang merasa telah mendapatkan pendidikan adalah mengembalikan makna tersebut pada tempatnya karena tanggung jawab kita selaku kelompok terdidik adalah membawa kebebasan atas segala bentuk yang mengekang kehidupan kita bersama.

sumber gambar:
pipitwahyuni.wordpress.com

Refrensi
Kamus Besar Bahasa Indonesia Kementrian Pendidikan & Budaya diakses melalui https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pendidikan
Hegemoni Pengetahuan dan Ketakutan Pada Yang Liyan diakses melalui https://indoprogress.com/2017/09/hegemoni-pengetahuan-dan-ketakutan-pada-yang-liyan/
Pendidikan, Pembangunan dan Kesadaran Kritis diakses melalui https://indoprogress.com/2017/07/pendidikan-pembangunan-dan-kesadaran-kritis/
Pendidik dan Pendidikan untuk Emansipasi diakses melalui https://indoprogress.com/2018/08/pendidik-dan-pendidikan-untuk-emansipasi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar