Suci dalam Bernegara

Raden Agung Fajar A
Dalam salah satu forum yang pernah saya ikuti Prof Mahfud MD mengatakan bahwasanya bernegara bersifat fitrah, maksudnya hal tersebut adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari dari seorang warga negara.

Hal sederhana namun sangat bermakna seperti itu menyadarkan saya bahwa dalam bernegara pun kita bersifat suci. Kita dilahirkan dalam dunia yang luas dan ditempatkan di tempat yang berbeda-beda merupakan salah satu karunia Tuhan karena saat kita berada dalam rahim seorang ibu, tidak ada suatu registrasi untuk lahir memilih negara yang kita inginkan kecuali kehidupan orang tuanya yang selalu berpindah-pindah negara hal itu masih bisa terjadi.

Semakin besar rasa kecintaan penulis terhadap republik ini sehingga tidak ada penyesalan bahwasanya terlahir di Indonesia justru menghadirkan rasa syukur dan kebanggaan. Fitrah tersebut harus dijunjung tinggi untuk kemajuan sebuah negara karena maju atau tidaknya suatu negara tidak selalu mengandalkan dari kebijakan pemerintahnya saja melainkan juga dilihat dari sikap-sikap rakyatnya.

Hal-hal yang sering saya temui atas tidak bersyukurnya kita sebagai warga negara adalah salah satunya selalu mengagung-agungkan negara lain dan bersifat pesimistis terhadap negara sendiri. Menurut saya ini keliru karena apabila mengagungkan untuk dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan menuju ke arah yang lebih baik sangat dianjurkan, namun jika hanya mengandalkan rasa pesimistis terhadap negara hanya akan menghasilkan kesia-siaan yang menimbulkan kekosongan harapan untuk dirinya sendiri dan negara.

Contoh berkaitan dengan dirinya sendiri misalkan, jikalau kita selalu ditolak dalam lamaran kerja, masih banyak masyarakat yang selalu menyalahkan negara, negara dan negara tanpa adanya introspeksi terhadap dirinya sendiri mengapa bisa seperti ini di saat persaingan yang semakin kompetitif dalam dunia ketenagakerjaan.

Jadi, kehidupan dalam bernegara sudah tidak perlu adanya sifat penyesalan mengapa kita terlahir di Indonesia sementara kita dalam bernegara bersifat fitrah, semua yang ditetapkan dari negara mau tidak mau harus diterima meskipun negara ini bersistem demokrasi namun bukan berarti negara menjadi muara awal dan akhir untuk selalu disalahkan kecuali memang memiliki dalil-dalil yang terbukti bahwa negara melakukan kesalahan dalam penyelenggaraannya yang diperankan oleh pemerintah.

sumber gambar:
indonesiakaya.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar