Presiden Baru Akan Menentukan Percaturan Geopolitik Dunia

Raden Agung Fajar A
Indonesia pada tahun ini akan mengalami pemilihan presiden yang berlangsung secara demokratis dan semoga masyarakat menikmati pesta demokrasi ini.

Kedua pasang calon tersebut telah menjabarkan visi misinya untuk kemajuan Indonesia yang akan datang dan telah berkampanye secara agresif semenjak masa kampanye telah dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU.

Sebagai rakyat tentunya penulis mengharap pemimpin yang dapat membawa Indonesia berubah lebih baik dalam semua aspek, baik perekonomian, hukum, politik luar negeri, lingkungan, sosial dan sebagainya sehingga mampu mencapai keadilan dan kesejahteraan Indonesia.

Dalam semua aspek tersebut penulis akan mengangkat secara ringkas pergerakan politik Indonesia ke luar negeri untuk mempertahankan martabat dan kedaulatan Indonesia dalam lingkar perang asimetris global dari negara-negara adidaya. Oleh karena itu ke manakah arah Indonesia mengenai hal tersebut?

Secara historis Indonesia adalah bangsa yang memiliki peradaban beraneka ragam yang dapat dirasakan hingga sekarang negeri ini bersifat majemuk dan ketoleransian menjadi salah satu pilar untuk membalut kemajemukan secara Bhineka Tunggal Ika.

Peradaban-peradaban itu telah banyak diakui dunia yang dibuktikan dengan peninggalan-peninggalanya seperti candi, prasasti, situs dan sebagainya, dari sejarahnya Indonesia sudah disegani bahkan tak jarang arkeolog-arkeolog dunia menjadikan Indonesia sebagai primadona untuk melakukan penelitianya.

Sejarah itu mengajarkan Indonesia yang seharusnya sudah tidak bergantung pada negara-negara lain demi kedaulatan sebuah negara meskipun memang negara tidak bisa hidup sendiri dalam melakukan instrumen pemerintahannya sehingga membutuhkan negara-negara lain untuk bekerjasama baik secara bilateral maupun multilateral, tetapi yang penulis kritisi terkadang kerjasama-kerjasama dengan negara-negara adidaya peran Indonesia masih pasif yang dapat menimbulkan ketergantungan bersama negara-negara adidaya tersebut.

Untuk kemajuan negara, negara-negara di dunia semakin kompetitif berlomba-lomba demi kepentingan dari negara yang dikelolanya dengan itu ajang pemilihan presiden Indonesia begitu disoroti dunia dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, mereka yang menyoroti semuanya untuk kepentingan negara itu. 

Penulis ambil dua contoh negara adidaya yakni Cina dan Amerika. Kedua negara itu memiliki kepentingan yang besar di Indonesia sehingga tak jarang negara itu secara tidak langsung berani mensponsori salah satu pasangan calon yang menimbulkan kontrak politik karena negara-negara itu berperan dalam kampanye pasangan calon.

Salah satu isu saat Joko Widodo menjadi presiden, begitu maraknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk di Indonesia sebagai tenaga kasar beberapa tahun silam yang menimbulkan konflik karena pengangguran di Indonesia sendiri yang masih luas.

Penulis angkat fenomena ini bukan berarti bersifat subjektif dan meyerang terhadap salah satu pasangan calon tetapi karena Joko Widodo selaku presiden Indonesia saat ini kemudian mengangkat hasil-hasil yang penulis amati dari indikasi-indikasi kontrak politik yang memang tidak diketahui khalayak umum, pada rezim saat ini Amerika bersifat pasif dan sebaliknya Cina bersifat aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan dan hal-hal itu terus menerus terjadi dalam perebutan Indonesia bagi negara-negara adidaya.

Kita membutuhkan presiden yang benar-benar mengutamakan rakyat atas nama kedaulatan sehingga tidak ada keberpihakan antara negara-negara adidaya namun mengambil hal-hal positif dari negara-negara adidaya tersebut.

Isu-isu antek asing pada siapa pun rezimnya akan hilang jika Indonesia terbebas dari keberpihakan adidaya yang telah menjadi pusaran dunia karena bangsa ini memang seharusnya merdeka dalam aspek apa pun terutama perekonomian dan bukan berarti kemerdekaan menghilangkan kerjasama-kerjasama yang telah dijalankan sebelumnya.

Perekonomian begitu terasa karena hampir semua negara di dunia beranjak pada kapital sehingga negara berlomba-lomba dan negara adidaya kembali menggencarkan ekspansinya ke imperialis dan menimbulkan kolonial baru di era ini.

Banyak upaya strategi yang dilakukan negara-negara adidaya untuk menguasai Indonesia yang begitu diperebutkan oleh negara-negara adikuasa, salah satunya terorisme. Teroris bentuk upaya mereka-mereka karena sejauh ini begitu efektifnya isu SARA untuk memperpecah bangsa ini, rakyat dan pemerintah yang menentukan mau seperti negara-negara timur tengah yang kaya dan hancur bangsanya akibat strategi dari mereka yang berhasil atau negara yang kaya dengan tetap pada kedaulatan rakyatnya sehingga semua negara adikuasa tidak bisa masuk untuk mengeksploitasi dari apa yang Indonesia miliki.

Contoh Iran dalam memainkan geopolitik dan geoekonominya sehingga sampai sekarang masih menjaga kekayaan dalam kedaulatan rakyatnya meskipun dimusuhi oleh negara adikuasa dan boneka-bonekanya berbanding terbalik dengan Syria, Libya, dan negara lain di timur tengah yang sudah hancur efek dari negara adikuasa terlalu dalam mencampuri urusan negaranya.

Sejauh ini Indonesia masih pasif sehingga tidak pernah lagi menjadi kontestan dalam politik dunia yang menimbulkan ketergantungan karena Indonesia masih boneka dari mereka yang beradidaya. Indonesia pernah turut serta ikut dalam percaturan politik global ketika Bung Karno mempertahankan Irian Barat dari Belanda, begitu cantiknya diplomasi Indonesia di internasional yang membuat NATO atau sekutu mengintruksikan Belanda agar mengakui Irian Barat dalam kedaulatan Indonesia di Konfrensi Meja Bundar (KMB) Deen Hag.

Sampai sekarang kekayaan Indonesia masih diperebutkan, apakah presiden yang terpilih nantinya hanya boneka dari salah satu dalang yang Indonesia pihaki.

Sebagai rakyat, penulis menginginkan Indonesia untuk rezim selanjutnya mampu merdeka di tengah geopolitik dunia atas nama kedaulatan rakyat dan martabat negara karena secara teoritis Indonesia memanglah bangsa besar yang seharusnya dalam praktik kita mampu mempertahankan apa yang Indonesia miliki.

sumber gambar: liputan6.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar