Mengapa Harus Zonasi?


Memasuki PPDB 2019 perbincangan mengenai sistem zonasi kembali semarak. Meski telah diberlakukan sejak tahun lalu, sistem ini masih saja belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh banyak kalangan, khususnya orang tua murid. Informasi yang mereka dapatkan cenderung bersifat prasangka buruk, merasa sistem zonasi hanya akan menutup ruang bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah “terbaik”. 

Bahkan bukan hanya orang tua murid, bagaikan dua mata koin yang saling membutuhkan, keberatan pun datang dari pihak sekolah “favorit” tertentu yang telah kadung menjadi rebutan para calon siswa. Padahal jika dipahami dengan baik, kita akan melihat bahwa sistem ini memiliki maslahat yang begitu luas, bukan hanya bagi pihak-pihak yang secara langsung berhubungan dengan dunia pendidikan melainkan juga bagi peningkatan efektivitas dan kualitas manusia Indonesia secara general.

Dampak yang dalam waktu dekat akan terasa dari penerapan sistem zonasi ini ialah lahirnya kesetaraan kualitas pendidikan. Dan sepertinya inilah yang memang menjadi tujuan utamanya. Sudah terlalu lama paradigma pendidikan kita menganut sistem kastaisme di mana terdapat perbedaan yang tajam antara sekolah unggulan dengan yang tidak. Siswa-siswa cerdas hanya mengumpul di sekolah yang dianggap favorit. Jelas, ini sangat tidak adil bagi sekolah lain, terlebih saat terselenggaranya semacam kompetisi atau lomba yang kemungkinan besar akan diraih oleh sekolah favorit. 

Guru yang mengajar di sekolah favorit pun sangat “diuntungkan” dalam situasi ini, karena input siswanya sedari awal telah bagus sehingga hanya memerlukan sedikit pemolesan. Tetapi dengan adanya sistem zonasi, penyebaran siswa cerdas akan lebih meluas, membuat persaingan lebih terlihat fair. Pada akhirnya, pola pikirnya perlu diubah, bahwa sejatinya diri kita sendirilah yang membuat sekolah menjadi favorit, bukan sebaliknya.

Manfaat kedua dari pemberlakuan zonasi ialah untuk mengurangi kemacetan. Sebelum adanya penerapan sistem ini, banyak sekali pelajar yang bersekolah jauh dari tempat tinggalnya. Si A yang rumahnya di Utara setiap hari harus berangkat ke sekolah yang lokasinya di ujung Timur, atau si B yang bertempat tinggal Selatan tetapi sekolahnya di Barat. Wajar jika keruwetan ini pada akhirnya menimbulkan kemacetan, khususnya di jalan-jalan arus utama. Tetapi berbeda ceritanya jika sekolah anak berdekatan dengan lokasi tempat tinggalnya. Bukan hanya akan mengurangi kemacetan yang berdampak pula pada beban biaya transportasi yang minim, sistem zonasi bisa pula mengurangi keterlambatan dan tingkat stres siswa.

Bahkan jika jaraknya sangat dekat, bisa saja mereka tidak lagi memerlukan alat transportasi, karena cukup dengan berjalan kaki, sebagaimana sering kita lihat dalam film-film Jepang yang memperlihatkan para pelajarnya gemar berjalan kaki atau sekadar naik sepeda ketika menuju sekolahnya. Ini pun akan berimplikasi pada tingkat kesehatannya. Hasil riset menujukkan bahwa orang yang gemar berjalan kaki akan memiliki potensi kesehatan dan umur panjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak atau jarang melakukannya.  

Di atas itu semua, kita memang perlu mengakui bahwa masih ada beberapa kekurangan dari penerapan sistem zonasi, sebagaimana yang dikeluhkan oleh sebagian aktivis dan pengamat pendidikan. Salah satunya ialah perihal keterbatasan daya tampung sekolah di lokasi-lokasi padat penduduk. Betapapun demikian, dengan adanya evaluasi yang berkelanjutan, penulis optimis jika sistem zonasi ini merupakan satu dari sekian solusi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semoga

sumber gambar: koran-jakarta.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar