Membentuk Sebanyak Mungkin Ruang Belajar Non-formal Bagi Anak

M. Irfan Ilmy
Amanah menyelenggarakan pendidikan tidak semestinya hanya dibebankan pada pundak pemerintah. Kita harus merasa menjadi pemerintah dalam hal merawat negeri ini. Bukan merasa jadi mereka dalam berbuat korup dan menzalimi hati rakyat. Kita harus jadi yang pertama memastikan negeri ini aman dari setiap potensi ancaman ke arah dektruktif. Andai saja semua manusia bangsa Indonesia berpikiran demikian.

Manusia sebagai subjek dan objek pendidikan sepatutnya terus menerus mengasah kepeduliannya untuk turut terlibat di dalam proses ini. Pendidikan bukan hanya melulu berkutat dalam ruang-ruang kelas dan aturan-aturan rigid sekolah terkadang jadi pembatas. Lebih jauh lagi, pendidikan harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagaimana yang termaktub di sebuah sabda Rasulullāh saw., utlubÅ« al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi, dan tentu sejalan pula ini dengan prinsip long life education.

Pendidikan saya kira tidak berlebihan jika dikatakan sebagai bagian dari misi kemanusiaan, yang mana setiap mereka harus punya kesadaran atas ini. Tiap manusia harus menanam kecambah rasa peduli ini dalam dirinya masing-masing. Tanggung jawab memastikan manusia benar-benar tetap berjalan di atas rel kemanusiaannya hakikatnya memang makna dari pendidikan—secara luas.

Pada esai ini saya tak hendak berbicara tentang sistem pendidikan yang rumit itu. Saya pun tidak bertendensi mengkiritisi kerja-kerja pemerintah yang dinilai lamban oleh sebagian kalangan dalam mewujudkan kualitas pendidikan yang mapan. Rasa-rasanya itu bukan porsi saya. Biarlah para ahli dan yang merasa punya kemampuan buat berkoar-koar tentangnya.

Memilih Terlibat
Ditakdirkan terlahir sebagai manusia di muka bumi ini merupakan anugerah maha hebat. Saya termasuk yang bergembira terpilih jadi manusia dan berkesempatan berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Hewan dan tumbuhan meskipun sama-sama hidup tapi tidak diberi perangkat untuk memakmurkan bumi lewat peran-peran strategis. Keberadaannya menjadi supporting system bagi manusia saja.

Sementara manusia dengan seperangkat alat-alat untuk bisa bertahan hidup di dunia ini diberi mandat untuk mengelola kehidupan demi kemaslahatan khalayak dan tentunya alam semesta itu sendiri.

Sebuah esai bertajuk “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan” gubahan seorang Gigay Citta Acikgenc menyampaikan angannya dengan sangat indah untuk menjadi panglima tertinggi di negeri dalam ikhtiar mengupayakan pendidikan lebih baik.

Menurutnya, lewat posisi strategis itu secara efektif dapat menyelesaikan kompleksitas persoalan pendidikan yang berkelindan. Gigay memang berangkat dari kegelisahannya atas perbedaan signifikan sistem (evaluasi) pendidikan Indonesia dengan di Italia sana.

Saat SMA dia memang berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar di negeri pizza itu. Tapi saya tidak hendak membahasnya lebih lanjut soal ini.

Saya tidak terlalu ingin bercita-cita menjadi menteri pendidikan seperti Gea, begitu biasa ia disapa, untuk memberikan secuil kontribusi bagi negeri ini. Saya hanya ingin berbagi cerita saja soal pengalaman menenggelamkan diri dalam bidang yang amat mulia ini. Selain mulia, pendidikan juga punya kekuatan yang mirip seperti senjata untuk mengubah dunia sebagaimana dikatakan Nelson Mandela.

Nanti bila ada yang kemudian tergugah lewat cerita ini, itu bukan karena upaya kami bagus. Tidak seistimewa sebagaimana yang disangkakan. Di wilayah-wilayah lain negeri ini ada yang lebih totalitas mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Bahkan bukan hanya segi kognitif saja melainkan lengkap dengan keterampilan serta sikap. Pengabdian yang bagi saya amat romantis dan membuat jiwa saya tentram saat mengetahui dan menyaksikannya.

Kami namai komunitas kecil itu Planet Antariksa. Salah satu anggota kami ingin anak-anak yang terlibat di dalamnya memiliki mimpi-mimpi yang tinggi. Suatu saat nanti semoga saja kiprah mereka bisa seperti bintang-bintang di angkasa, berkelip terang dan memancarkan keindahan. Intinya menjadi sosok-sosok yang selalu dirindukan karena sumbangan konkretnya bagi dunia.

Saya sulit untuk bisa melupakan kebahagaiaan anak-anak saat kami (kakak-kakak pengajar) datang menjelang Ashar setiap hari Sabtu. Mereka berlarian dan menyalami kami sambil bermanja-manja ria. Sebuah kebahagiaan yang nilainya lebih dari berkeping-keping emas 24 karat sekali pun.

Bahkan dalam satu kesempatan peringatan 1st Anniversary Planet Antariksa, salah satu perwakilan orang tua menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada kami. Katanya anak-anak mereka setelah pulang sekolah di hari Sabtu selalu riang gembira dan tidak sabar untuk bersegera bertemu kakak-kakak pengajar dan teman-temannya. Betul-betul menimbulkan impresi yang kuat di memori saya.

Meskipun saat ini sedang vakum karena beberapa hal, saya sangat terkesan dengan sesuatu yang pernah saya dan kawan-kawan buat dan jalankan selama kurang lebih 2 tahun kebelakang. Ikhtiar ini secara dampak mungkin tidak terlalu besar, tapi melakukannya ternyata tak pernah enteng.

Dorongan internal untuk terus memberikan sesuatu bagi negeri ini nyatanya tidak cukup untuk memotori kami agar terus istikamah melakukan kerja-kerja mesra di bidang pendidikan. Ada kalanya jiwa muda kami yang sedang ingin main-mainnya menggoda buat diikuti. Lalu celah untuk menghentikan pengabdian berkonten pendidikan ini akhirnya kian menganga.

Puncaknya beberapa tahun lalu kami tidak lagi beroperasi. Belum ada satu keputusan pasti apakah Planet Antariksa akan kembali diaktifkan atau hanya tinggal nama saja. Ternyata memulai kembali apa yang sudah lama tidak berjalan, sama sulitnya dengan saat pertama kali memulai.

Dari pengalaman mendirikan sebuah komunitas pendidikan non formal dengan sasaran anak-anak SD dan SMP sebelumnya saya jadi terpikir untuk juga mendorong pihak-pihak lain agar melakukan hal serupa.

Prosesnya sebenarnya tidak terlalu ribet, kalau dasarnya memang ingin dan suka dengan dunia anak-anak. Bukan karena ada dorongan-dorongan lain seperti ingin mempermanis konten curriculum vitae atau buat gagah-gagahan di media sosial. Terlebih lagi bagi kalangan mahasiswa dengan fleksibilitas waktu yang dimilikinya.

Relasi luas serta daya inovasi yang dipunya saya kira akan jadi resources unggul dalam mendukung berjalannya sebuah komunitas pendidikan berbasis masyarakat dengan objek utama anak usia Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Memperbanyak Komunitas Pendidikan Anak
Bila saja satu himpunan mahasiswa di kampus bersepakat kompak mendirikan serta mengelola community development secara berkelanjutan, betapa akan banyak anak-anak yang masa kecilnya terselamatkan.

Saya katakan demikian, karena anak-anak akan mengenang masa-masa kecil mereka yang penuh dengan ketawa-ketiwi ala-ala bocah. Di mana pada zaman sekarang pergaulan di kalangan anak-anak dan remaja amat rentan dengan pengaruh-pengaruh buruk yang di masa depannya akan jadi penentu bagi baik-buruk kondisi mereka.

Mereka sebenarnya bisa beroleh bahagia saat bermain bebas dengan kawan-kawannya, tapi di sana tidak ada nilai-nilai kehidupan yang secara sadar ditumbuhkan. Beda cerita dengan kebahagiaan yang sengaja diciptakan oleh kakak-kakak pengajar di komunitas dengan nilai-nilai pendidikan di dalamnya.

Bermain mungkin jadi salah satu konten agar anak-anak tidak jenuh, tapi dalam prosesnya pun disisipi pembelajaran-pembelajaran yang diharap akan menghunjam di benak mereka saat kelak dewasa.

Referensi
Citta, G.C. (2012). Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan [daring], dapat diakses di https://www.penaaksi.com/2012/12/jika-aku-menjadi-menteri-pendidikan.html

Sumber gambar
betamanise.wordpresa.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar