Makhluk Egois Itu Bernama Manusia


Malam itu saya rebahan di kasur, dan seperti biasa, saya merenungi banyak hal yang salah satunya ialah tentang manusia. Dalam perenungan itu akhirnya saya menyimpulkan bahwa manusia memang benar-benar egois dan senantiasa ingin mementingkan dirinya sendiri. 

Saat membeli makanan, ibu-ibu biasa saling menyerobot ingin dilayani duluan, di taman maupun kendaraan umum yang sudah jelas tertera larangan merokok tetap saja masih banyak yang melakukannya, dan segudang persoalan lainnya yang intinya dari segala pengalaman yang saya alami, saya teramat yakin bahwa manusia memanglah hidup dengan keegoaannya. 

Supaya lebih terbayang, saya akan memerincinya dalam kasus yang lebih spesifik. Sudah lazim para orang tua begitu gemar mengatur kehidupan anaknya. Dan saya termasuk orang yang skeptis kalau pengaturan yang mereka lakukan adalah atas dasar kasih sayang murni—sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan kita—melainkan sebenarnya mereka sekadar sedang ingin memenuhi hasrat ego yang ada di dalam dirinya. 

Begitu pun dengan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Si anak dididik, diatur, dan dipelihara dengan anjuran untuk harus melakukan ini tidak boleh melakukan itu. Lalu ketika si anak sukses di masa kehidupannya, mereka ikut senang, membangga-banggakannya, membanding-bandingkannya dengan anak tetantangga atau pun saudara mereka dalam perbicangan gosip mereka. 

Tetapi jangan salah sangka. Ini juga bukan soal si anak, melainkan mereka (orang tua) sebenarnya sedang memenuhi ego di dalam dirinya sebab eksistensi si anak sudah bergabung menjadi satu kesatuan dengan eksistensi dirinya, atau sudah merepresentasikan dirinya. 

Yang sedang mereka bicarakan bukanlah “hakikat” si anak melainkan mengenai “dirinya”. Sama halnya ketika si anak gagal, orang tua merasa sedih karena sebenarnya dia bukan sedang menyedihkan anaknya melainkan “dirinya” yang gagal memenuhi egonya. 

Lihat juga ketidakmurnian mereka dalam mendidik yaitu ketika si anak beranjak dewasa. Para orang tua memiliki semacam rasa ingin mendapatkan timbal balik atas apa yang pernah dilakukannya selama ini, entah dengan menuntut apa yang diinginkannya maupun yang diharapkannya dari si anak.

Lalu katanya seorang anak memiliki hutang yang begitu besar kepada orang tuanya karena telah melahirkan, mendidik, dan mengasuhnya. Pahadal menurut saya posisi anak dan orang tua sejajar dalam kerangka saling membutuhkan satu sama lain. Bayangkan jika si anak tidak pernah terlahir, betapa struktur keluarga bisa hancur dan berakhir dengan perceraian atau kegaduhan di keluarga besarnya. Sebuah keluarga membutuhkan kelahiran anak untuk memenuhi ego mereka. 

Contoh kedua ialah ego struktural (baik resmi maupun kultural) dalam hal meminta maaf. Hampir mustahil terjadi permintaan maaf dari pihak yang secara struktur lebih tinggi kepada ke pihak yang berkedudukan lebih rendah. Sulit rasanya kita membayangkan adanya dosen yang meminta maaf kepada mahasiswanya, guru meminta maaf kepada muridnya, kakak yang meminta maaf kepada adiknya, atau senior kepada juniornya, ulama/ustaz kepada jamaahnya, orang tua kepada anaknya, atasan kepada bawahannya. 

Padahal kesalahan adalah keniscayaan manusia tanpa memandang tingkatan strukturalnya, tetapi karena kita sudah memiliki semacam tingkatan-tingkatan derajat yang kita buat sendiri, maka akibatnya yang merasa di posisi lebih tinggi memiliki gengsi yang lebih besar sehingga akan sulit bagi mereka untuk meminta maaf secara tulus meskipun jelas kesalahan ada di pihak mereka. 

Ini berbanding terbalik dengan film drama keluarga favorit saya yang pernah ditayangkan oleh NET TV hingga season 3 (Kesempurnaan Cinta). Di sana saya menemukan nilai-nilai kehidupan yang begitu luhur di mana ketika terjadi konflik di antara pihak-pihak yang bersiteru, mereka segera melakukan instrospeksi diri. Lalu ketika mereka bertemu—entah dalam situasi yang memang disengaja maupun dalam sikon yang tidak diharapkan—pasti akan ada satu pihak yang langsung berinisiatif meminta maaf duluan (tanpa memandang strukturalnya). 

Hanya saja permintaan maaf itu sebenarnya sudah tidak relevan lagi karena pihak mitra konfliknya pun pada waktu itu juga sudah sangat berniat untuk meminta maaf—bahkan kalau pun pihak yang pertama meminta maaf tidak melakukannya. Betapapun, saya menyadari bahwa dunia kita bukanlah permainan film. Maka kita lebih senang memilih ego.

Satu contoh lagi, coba deh sadari, ketika kita berbincang-bincang dengan seseorang, kita lebih banyak membicarakan tentang diri kita sendiri dan tentang diri kita. Akan lebih banyak keluar ucapan “aku...” atau “kalau aku...” dibanding kita menyimak apa yang ingin mitra bicara kita sampaikan.
***
Manusia juga pada dasarnya tidak mau dipersalahkan dan tidak pernah merasa bersalah. Kalau ini saya sangat yakin. Tidak ada satu pun manusia yang mau dihakimi. Lebih-lebih hari ini. 

Jangankan dihakimi, dinasihati pun tidak mau karena setiap kita merasa telah melakukan sesuatu yang baik dan benar. Ketika ditegur karena tidak menggunakan helm saat berkendara kita marah dan bilang “urus saja urusanmu sendiri”, ketika ditegur mengapa membuang sampah sembarangan malah dijawab “urus saja urusanmu sendiri”, ketika ditegur mengapa tidak menyeberang di tempat yang tepat kita merespon “urus saja urusanmu sendiri”, ketika dinasihati untuk memakai jilbab, kita menjawab “ini urusanku dengan Tuhan, kamu jangan sok alim”, dan lain sebagainya. Ego kita berkata bahwa kita adalah manusia yang sudah bertindak dengan baik dan benar. Maha benar kita dengan segala keegoisan kita. 

sumber gambar: vebma.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar