Ketika Artificial Intelligence Mengancam Profesi Kita


Yuval Noah Harari, cendekiawan yang namanya hari ini sedang beken di dunia, memprediksikan bahwa mungkin akan banyak generasi Z yang ditemukan tidak memiliki pekerjaan di tahun 2050 karena digantikan oleh artificial intelligence (AI). Meskipun ada beberapa pihak yang keberatan atas prediksi ini karena menurut mereka umat manusia akan dengan segera menciptakan pekerjaan baru dengan standar di atas level pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Namun Harari menegaskan bahwa kali ini persoalannya tidak sesederhana itu.

Dulu manusia dapat tetap bertahan melawan gempuran mesin yang sekadar bisa menggantikan sisi pekerjaan fisik (kasar) manusia, walaupun harus diakui pula bahwa terciptanya mesin-mesin ini—pada waktu itu—memiliki dampak yang sangat signifikan khususnya terhadap para pekerja yang memang hanya bisa mengandalkan ototnya saja. Saat itu manusia kemudian beralih ke pekerjaan-pekerjaan yang belum bisa digantikan oleh mesin, yakni berkenaan dengan jasa yang sifatnya kognitif seperti belajar, menganalisis, berkomunikasi, dan—terutama—dalam hal memahami emosi manusia. 

Tetapi hari ini, dengan adanya revolusi AI yang semakin cepat dan cerdas ditambah kepesatan ilmu sains hayati (life sciences) di bidang biokimia, maka akan dipastikan bahwa peran manusia akan semakin tergerus, bukan hanya pada aspek fisiknya melainkan juga kognisinya. AI akan segera mengungguli manusia dalam hal menganalisis manusia, memprediksi kemampuan manusia, mengganti pengemudi kendaraan Anda, dan menjadi pengacara Anda, bahkan juga bisa meretas atau menguasai pikiran Anda. Cara kerjanya ialah dengan mengenali pola algoritma biokimia yang terdapat dalam otak manusia. 

Bagi Harari, “seorang pengemudi yag memprediksi niat seorang pejalan kaki, seorang bankir yang menilai kredibilitas seorang peminjam potensial, dan seorang pengacara yang menilai suasana di meja perundingan tidaklah bergantung pada ilmu-ilmu gaib (semacam firasat atau intusi) tetapi tanpa disadari—oleh diri mereka sendiri—sebenarnya otak mereka mengenali pola biokimia tertentu dengan melakukan penganalisisan terhadap ekspresi wajah, nada suara, gerakan tangan, dan bahkan bau badan—orang yang sedang menjadi objeknya.” Jika demikian kenyataannya, masih menurut Harari, “AI yang dilengkapi dengan sensor yang tepat guna tentu saja akan dapat melakukan semua itu jauh lebih akurat dan handal dibandingkan manusia.”

Contoh lain yang dipaparkan oleh Harari ialah pengkajian para ilmuwan otak perihal amygdala dan cerebellum yang memungkin komputer atau AI mengalahkan para psikiater dan pengawal manusia pada tahun 2050.

Tidak berhenti pada aspek fisik dan kognisi, Harari menakut-nakuti generasi Z dengan dua buah kemampuan AI yang tidak bisa dimiliki oleh manusia secara global, yakni konektivitas dan pembaruan. 

Manusia per individu begitu sulit untuk saling terhubung, mereka memiliki kehendak dan kepentingannya masing-masing, maka dibuatlah semacam kesepakatan-kesepakatan intersubjektif yang biasa disebut dengan peraturan (hukum). Tetapi pada kenyataanya manusia hidup, entah karena faktor A atau B, tidak senantiasa mengindahkan peraturan, apalai jika peraturan tersebut seringkali mengalami perubahan, maka wajar akan banyak terjadi benturan. Harari mencontohkannya pada persoalan peraturan lalu lintas. 

Berbeda dengan manusia, AI bisa saling terhubung satu sama lain ke dalam sebuah jaringan yang fleksibel sehingga akan sangat minim terjadi secama mis-komunikasi, terlebih AI tidak memiliki “kesadaran” sebagaimana manusia. Bahkan jika ada perubahan-perubahan tertentu, server inti tinggal melakukan setting perubahan lalu tersebarlah—dengan waktu yang sangat singkat—ke seluruh AI yang terintegrasi. 

Betapapun demikian, dalam beberapa poin Harari masih memiliki optimistik atas pekerjaan manusia yang sepertinya masih sulit digantikan oleh AI. Bahkan dia pun mengatakan bahwa alih-alih berpola persaingan, manusia dan AI akan menjadi mitra kerja yang unik dan dinamis, sembari di sisi lain manusia akan tetap berusaha untuk membentuk pekerjaan-pekerjaan baru. Sayangnya secara umum Homo sapiens, dengan pola kultur pengalih-pekerjaan di masa depan yang demikian cepat, akan kesulitan mengejar laju kilat teknologi beserta produk-produknya, maka dari itu Harari mengatakan bahwa nanti mungkin akan muncul kelas baru yang disebut dengan “manusia tidak berguna” yang bernasib menjadi pengangguran. 

sumber gambar: geneticliteracyproject.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar