Berharap Pemilu 2019 Dimajukan ke 14 Februari Saja


Bagi sebagian orang agaknya menunggu hari pencoblosan April nanti menjadi sedemikian lama. Pasalnya tahapan-tahapan dan apa-apa saja yang mengiringi menuju pemilu nanti kian hari kian memuakkan.

Omongan-omongan politikus yang mulutnya kian hari kian bau pesing itu sudah menggruduk pikiran kita sejak jauh-jauh hari. Parade kebohongan dan fitnah makin lama makin menjadi-jadi. Saling serang menggunakan gagasan remeh-temeh marak kita temui, terlebih belakangan ini.

Mungkin tiap-tiap juru kampanye dari masing-masing pihak bingung mau mempromosikan keunggulan apa dari tuan yang membayarnya, alhasil menjelekkan lawan politik adalah cara paling ampuh supaya calonnya yang biasa saja itu jadi terlihat bagus. Dan yang paling penting, sepertinya masing-masing orang sudah mandiri mau memilih siapa tanpa harus mendengar ceramah siapa atau membaca pesan terusan di grup Whatsapp mana terlebih dahulu.

Kampanye yang dijadwalkan KPU kalah start oleh orang-orang penggerak partai yang sudah jauh-jauh hari menyebar propagandanya. Alhasil bahan kampanye habis sebelum waktunya, hari-hari selanjutnya hanya akan digunakan untuk menggoreng isu yang sudah-sudah saja. Masing-masing kubu kini tidak disibukan dengan agenda memperindah tokoh yang dijagokan, kini waktunya habis menunggu celah kesalahan yang dilakukan musuh.

Kubu sebelah kanan mungkin menunggu lawannya keseleo lidah untuk diperkarakan dan bisa bikin acara reuni dan aksi bela kepentingan. Di lain waktu kubu sebelah kiri juga mungkin menunggu kelakuan-kelakuan nyeleneh yang sekiranya bisa dijadikan bahan untuk menjatuhkan.

Ke sini-sini kita jadi makin banyak tahu tentang kejelekan tokoh-tokoh yang akan mencalonkan itu. Saya hanya kasihan, padahal kekurangan dan kejelekannya itu tidak berhubungan langsung dengan urusannya nanti.

Waktu yang masih dua bulan ini sangat cukup bahkan lebih untuk mengorek semua kejelekan orang-orang yang mencalonkan diri itu. Lucunya apa yang dikorek dari pihak lawan ternyata juga adalah borok di kubu sendiri. Menyebut musuh pembohong ternyata sama-sama pembohong. Menyebut koruptor ternyata sama-sama korupsi. Menyebut dungu ternyata selevel dungunya.

Sejatinya semua orang pasti punya kekurangan, apalagi kalau kita amati kehidupan orang itu dari bangun sampai tidur, dari cara makan, memegang HP, naik kuda, naik motor gede, bahkan sampai ke bagaimana saat dia solat hingga muncul seruan adu jago baca Alquran, bahasan tentang perceraian, ukuran alat vital, wajah ngantuk, masa muda yang gagah, almamater, bisnis anak, sepatu yang dipakai bahkan hingga kantung mata dijadikan tolok ukur mana yang lebih memikirkan rakyat di antara masing-masing calon.

Ayolah, kalau sekiranya tidak ada bahan, lanjut kerja saja, cari uang, bikin usaha, cari pasangan, main sama teman, belajar agama, sekolah yang betul, nonton AC Milan, jajan ke warung, beli kopi, atau apa sajalah biar kita tidak melulu menggulung urusan pemilu ini terus. Apa tidak muak setiap hari menjelekkan orang yang tidak akan kita pilih? supaya apa? Cek HP-nya deh, jangan-jangan lebih banyak foto orang yang dibenci daripada foto orang yang dicinta.

Tidak bisakah kita mencukupkan diri sampai di “saya memilih si A bukan si B” selesai sampai situ, titik. Tidak perlu terus-menerus menjelekkan keluarganya, menjelekkan anak cucunya, menjelekan teman-temannya. Akhirnya kita habis waktu untuk membenci, habis waktu dengan menambah dosa.

Belum lagi debat yang berkali-kali itu. Katanya untuk melihat gagasan padahal yang kita tunggu adalah serang-menyerangnya. Yang kita tunggu adalah hal-hal yang bisa dijadikan bahan menjelekkan dan menjatuhkan.

Keesokan harinya, inti debat tak jadi pembahasan di forum-forum, baik yang kopdar maupun yang di medsos. Malah kita disibukkan menjadikan kyai sepuh yang dominan diamnya itu sebagai bercandaan, atau kita jadi sibuk bahas joget dan pijit.

Ya emang lucu kalau kontes debat banyak diamnya, kita toh tidak sedang debat dalam fikiran. Juga jadi konyol menari di atas panggung debat sambil dipijat pundaknya, debat kan pakai mulut, bukan mau adu jotos pakai fisik. Memang dari awal sudah lelucon, maki kubu sana mencontek, eh junjunannya baca teks juga.

Yang kita nanti-nantikan juga bukan argumen untuk membuat pemilih menentukan pilihan, karena yang menonton sudah punya pilihan. Menonton debat itu kan jatuhnya jadi semacam untuk bilang “ Tuh kan lihat! Pintar kan pilihan saya!” jadi tidak kena kan esensi debatnya.

Maka setelah ini, sudah saja jangan banyak kampanye, uangnya masih banyak yang
dibutuhkan untuk sekadar menyambung hidup. Tak perlu juga sibuk debat kalau cuman mau melawak dan diam di arena debat.  Karena memang sudah tidak ada lagi pembahasan serius yang dibahas bahkan bisa jadi memang semua baiknya orang diam saja karena memang sudah tidak perlu lagi ada yang dibahas, apalagi pemilu sekarang kan hanya tanding ulang dari pemilu sebelumnya.

Itulah mengapa sebaiknya pemilu ini dimajukan saja, guna mengurangi dosa kita dalam mengorek kesalahan dan menyebarluaskannya, juga supaya pengeluaran untuk kampanye ini bisa dihemat untuk keperluan lain yang lebih mendasar dan mengena bagi rakyat. Di lain sisi juga agar kebisingan dan kebencian yang selama ini menyeruak sedemikian rupa bisa segera reda dan kita bisa mulai produktif lagi untuk membangun bangsa.

Sejalan dengan keinginan dimajukannya pemilu ini, kebetulan kita ada satu hari yang juga kiranya lebih baik kita ganti saja yakni tanggal 14 februari yang katanya valentine itu. Banyak orang yang tidak merayakan baik karena pendirian atau karena ketidak mampuan merayakannya karena tidak punya pasangan. Maka dari itu, kita majukan saja pemilu ke hari valentine, agar kita memilih A karena cinta si A, bukan karena benci si B.  

sumber gambar: jabar.pojoksatu.id

2 komentar: