Adil terhadap Diri Sendiri Sebelum Kepada Orang Lain

Raden Agung Fajar A
Sejauh ini adil masih menjadi tuntutan awal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tokoh yang sudah mendefinisikan keadilan, Aristoteles misalnya menerangkan keadilan dengan ungkapan “justice consists in treating equals equally and unequalls, in proportion to their inequality”. Untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama, dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama, secara proporsional (O.Notohamidjojo, Masalah Keadilan).

Misalkan ada seorang bapak yang memiliki dua anak dalam sebuah keluarga, bapak tersebut memberikan uang saku sekolahnya tidak memukul rata kepada anak-anaknya tetapi ditinjau dari kebutuhan anak-anak itu sendiri (proporsional).

Anak pertama berada dalam bangku SMA dan anak kedua di bangku SD tentunya bapak itu memberikan uang saku lebih banyak terhadap anak yang pada bangku SMA karena kebutuhan anak SMA itu lebih banyak dengan anak SD.

Hal ini merupakan contoh kecil dalam memberikan keadilan, bagaimana mungkin apabila anak SD dengan anak SMA disamaratakan uang sakunya yang hanya membuat anak SMA itu mengalami ketidakadilan.

Karena keadilan yang akan diberikan kepada pihak lain akan selalu berbeda interpretasinya dari pihak yang menerima seperti seekor gajah yang diteliti oleh para peneliti buta, setiap peneliti merasakan bagian yang berbeda yakni kaki, telinga, gading sehingga masing-masing melukiskan makhluk ini dengan cara yang berbeda-beda pula gemuk dan kuat, tipis dan lentur, halus dan keras.

Sementara si gajah itu sendiri sang keadilan tidak pernah bisa dikenal seluruhnya oleh deskripsi individual mana pun seringkali bahkan pelukisnya nampak bertentangan, mengapa? Karena setiap individu hanya menawarkan sesuatu bagi pendifinisianya (Karen Leback, Teori-Teori Keadilan). Semua peneliti buta itu benar sesuai apa yang mereka rasakan masing-masing namun pastilah peneliti satu dengan yang lain tersebut bertentangan.

Ilustrasi adil di atas menggambarkan memberikan keadilan untuk pihak luar dari dalam diri namun sebelum kita menuntut-nuntut keadilan dari pihak lain alangkah lebih bijak apakah kita sudah berbuat adil terhadap diri sendiri? adil dalam menggunakan anugerah yang Tuhan berikan? adil dalam moral? dan keadilan lainnya yang esensinya adil untuk bersikap kepada diri sendiri.

Adil dalam menggunakan anugerah yang Tuhan berikan misalnya, Tuhan memberi telinga untuk mendengar dan mulut untuk berbicara namun mengapa kita sampai saat ini lebih banyak berbicara bersilat lidah dibandingkan dengan mendengar mengambil hal-hal positif dari apa yang kita dengar, sudah adilkah antara telinga dengan mulut?

Atau Tuhan memberikan tangan namun sampai sejauh ini kita selalu mengharap dan mengandalkan tangan-tangan orang lain untuk bekerja dibandingkan dengan tangan kita sendiri. 

Tuhan memberikan akal namun fungsi akal tidak dipergunakan secara optimal dalam menghadapi cobaan-cobaan-Nya. Kita lebih sering keluar dari permasalahan, mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Hal-hal tersebut merupakan bagian contoh ketidakadilan terhadap diri sendiri dan semoga kita bukan termasuk golongan contoh-contoh kaum tersebut.

Mengambil contoh-contoh itu mengajarkan sebelum menuntut keadilan dari pihak lain alangkah baiknya kita mawas diri memberikan keadilan terhadap diri sehingga untuk melakukan keadilan kepada pihak lain akan tercapai dengan apa yang kita lakukan dan pihak lain bersyukur atas apa yang telah diberikan.

Karena fenomenalnya sekarang keadilan tidak terwujud unit terkecilnya kita selalu tidak mensyukuri apa yang telah orang lain beri dan selalu merasa kurang puas dengan pihak lain yang telah memberikan sehingga kita hanya bisa menuntut selalu dari keadilan itu.

Penulis, adalah mahasiswa Unsika Karawang
Sumber gambar: 
texasmonitor.org

Tidak ada komentar:

Posting Komentar