Memasuki PPDB 2019 perbincangan mengenai sistem zonasi kembali semarak. Meski telah diberlakukan sejak tahun lalu, sistem ini masih saja belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh banyak kalangan, khususnya orang tua murid. Informasi yang mereka dapatkan cenderung bersifat prasangka buruk, merasa sistem zonasi hanya akan menutup ruang bagi anak-anak mereka untuk mendapatkan kesempatan bersekolah di sekolah “terbaik”. 

Bahkan bukan hanya orang tua murid, bagaikan dua mata koin yang saling membutuhkan, keberatan pun datang dari pihak sekolah “favorit” tertentu yang telah kadung menjadi rebutan para calon siswa. Padahal jika dipahami dengan baik, kita akan melihat bahwa sistem ini memiliki maslahat yang begitu luas, bukan hanya bagi pihak-pihak yang secara langsung berhubungan dengan dunia pendidikan melainkan juga bagi peningkatan efektivitas dan kualitas manusia Indonesia secara general.

Dampak yang dalam waktu dekat akan terasa dari penerapan sistem zonasi ini ialah lahirnya kesetaraan kualitas pendidikan. Dan sepertinya inilah yang memang menjadi tujuan utamanya. Sudah terlalu lama paradigma pendidikan kita menganut sistem kastaisme di mana terdapat perbedaan yang tajam antara sekolah unggulan dengan yang tidak. Siswa-siswa cerdas hanya mengumpul di sekolah yang dianggap favorit. Jelas, ini sangat tidak adil bagi sekolah lain, terlebih saat terselenggaranya semacam kompetisi atau lomba yang kemungkinan besar akan diraih oleh sekolah favorit. 

Guru yang mengajar di sekolah favorit pun sangat “diuntungkan” dalam situasi ini, karena input siswanya sedari awal telah bagus sehingga hanya memerlukan sedikit pemolesan. Tetapi dengan adanya sistem zonasi, penyebaran siswa cerdas akan lebih meluas, membuat persaingan lebih terlihat fair. Pada akhirnya, pola pikirnya perlu diubah, bahwa sejatinya diri kita sendirilah yang membuat sekolah menjadi favorit, bukan sebaliknya.

Manfaat kedua dari pemberlakuan zonasi ialah untuk mengurangi kemacetan. Sebelum adanya penerapan sistem ini, banyak sekali pelajar yang bersekolah jauh dari tempat tinggalnya. Si A yang rumahnya di Utara setiap hari harus berangkat ke sekolah yang lokasinya di ujung Timur, atau si B yang bertempat tinggal Selatan tetapi sekolahnya di Barat. Wajar jika keruwetan ini pada akhirnya menimbulkan kemacetan, khususnya di jalan-jalan arus utama. Tetapi berbeda ceritanya jika sekolah anak berdekatan dengan lokasi tempat tinggalnya. Bukan hanya akan mengurangi kemacetan yang berdampak pula pada beban biaya transportasi yang minim, sistem zonasi bisa pula mengurangi keterlambatan dan tingkat stres siswa.

Bahkan jika jaraknya sangat dekat, bisa saja mereka tidak lagi memerlukan alat transportasi, karena cukup dengan berjalan kaki, sebagaimana sering kita lihat dalam film-film Jepang yang memperlihatkan para pelajarnya gemar berjalan kaki atau sekadar naik sepeda ketika menuju sekolahnya. Ini pun akan berimplikasi pada tingkat kesehatannya. Hasil riset menujukkan bahwa orang yang gemar berjalan kaki akan memiliki potensi kesehatan dan umur panjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak atau jarang melakukannya.  

Di atas itu semua, kita memang perlu mengakui bahwa masih ada beberapa kekurangan dari penerapan sistem zonasi, sebagaimana yang dikeluhkan oleh sebagian aktivis dan pengamat pendidikan. Salah satunya ialah perihal keterbatasan daya tampung sekolah di lokasi-lokasi padat penduduk. Betapapun demikian, dengan adanya evaluasi yang berkelanjutan, penulis optimis jika sistem zonasi ini merupakan satu dari sekian solusi yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semoga

sumber gambar: koran-jakarta.com

Mengapa Harus Zonasi?

by on Februari 22, 2019
Memasuki PPDB 2019 perbincangan mengenai sistem zonasi kembali semarak. Meski telah diberlakukan sejak tahun lalu, sistem ini masih sa...
Ari Febrio Pratama P
Akhir-akhir ini penulis resah mengenai arti dan tujuan pendidikan yang sebenarnya. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Menanggapi pengertian tersebut, penulis menilai bahwa dalam prosesnya, pendidikan dapat digunakan sebagai alat untuk mengubah sikap dan tata laku seseorang atau kelompok baik menuju arah yang lebih baik atau pun sebaliknya.

Argumentasi tersebut didasari oleh pengamatan penulis bahwa hari ini banyak sekali masyarakat yang mengemban pendidikan terutama pendidikan formal hanya untuk bekerja dan bersaing secara ekonomis untuk mendapatkan kekayaan yang sebanyak-banyaknya.

Penulis melihat pemikiran tersebut terlalu sempit bagi pendidikan karena pada sejatinya pendidikan dapat berproses di mana saja, bukan hanya di lembaga formal seperti sekolah atau universitas. Apakah sejauh ini telah terjadi sesuatu yang menyimpang jika pendidikan dimaknai sesederhana itu? Atau pendidikan justru dapat membahayakan pendidikan itu sendiri?

Penulis merasa adanya keterbatasan dan belenggu pada makna pendidikan sekarang. Jika pendidikan secara luas dapat berproses di mana saja selagi proses berpengetahuan itu berhasil didapatkan, lalu mengapa hari ini masyarakat hanya percaya pada sebuah pendidikan formal yang faktanya tidak semua masyarakat dapat mengakses pendidikan formal tersebut?

Dan jika pendidikan merupakan hak segala bangsa, mengapa masih banyak hari ini masyarakat yang tidak mampu sekolah? Mengapa biaya pendidikan dibuat selaras dengan kualitas pendidikan? Apa yang membuat pendidikan menjadi sarana yang sulit untuk dijangkau? Apa yang telah terjadi dengan pendidikan?

Jika ada penyimpangan dalam makna pendidikan, penulis tidak mengetahui siapa inisiator dari pergeseran makna tersebut. Penulis mencoba mencari faktor yang membuat proses penyimpangan makna dan tujuan pendidikan berhasil bertahan hingga saat ini.

Apakah negara, karena dianggap memiliki seluruh instrumen dalam sistem kenegaraan sehingga mampu melakukan apa pun termasuk sistem pendidikan melalui kebijakannya? Atau para pendidik itu sendiri yang berhasil membawa jauh arah pendidikan sebagaimana mestinya dengan berbagai pola kreatif yang mereka terapkan? Atau dalam perumpaan yang satir, justru peserta didik yang mengalami penurunan kualitas dalam menerima proses pendidikan?

Negara dan pendidik bisa saja berkolaborasi dalam menciptakan kerangka tertentu dalam sistem pendidikan agar para peserta didik tercetak sesuai dengan nilai-nilai yang mereka inginkan.

Kebebasan memaknai pendidikan menurut penulis hanya berhasil ditemui pada pendidikan tingkat atas seperti kuliah karena ruang-ruang dialektis yang bebas sulit ditemukan pada tingkat yang lebih awal.

Jika seperti itu, bagaimana mungkin dapat melahirkan pemikiran yang kritis sejak dini jika peserta didik tidak mampu melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi? Dengan segala kompleksitasnya, negara dan pendidik dalam pandangan penulis merupakan pihak yang berhasil membuat makna pendidikan di negara ini jauh bergeser sebagaimana mestinya. Berhasil menggeser makna dan melahirkan masyarakat yang patuh, rajin bekerja, dan acuh terhadap sesamanya melalui pendidikan.

Masyarakat yang tercetak sedemikan rupa dalam pemikiran penulis terjadi karena beberapa aktivitas yang terjadi dalam proses pendidikan. Pertama, pendidikan dan menjadi pendidik merupakan hal eksklusif yang hanya bisa didapatkan dan diterapkan oleh mereka yang mampu secara materi serta memiliki predikat secara tertulis.

Kedua, pengelompokan tingkatan kemampuan dalam ruang-ruang pendidikan yang juga menciptkan sifat kompetitif para peserta didik untuk saling meraih tingkatan teratas di antara sesamanya.

Ketiga, penanaman sebuah nilai tanpa melakukan reka-perlawanan terhadap nilai apa yang sedang ditanamkan dengan nilai yang bertentangan. Keempat, sistem lapisan antara penyelenggara dan peserta pendidikan yang berhasil menciptkan ketaatan semu nan patuh sehingga membelenggu kreativitas dalam setiap jiwa.

Jika seluruh aspek tersebut bisa hilang dalam sistem pendidikan, penulis yakin makna sesungguhnya dari pendidikan akan berhasil ditemui oleh setiap peserta pendidikan.

Pemaknaan pendidikan hanya untuk bekerja dan memperkaya diri sendiri akan hilang dengan sendirinya dan pendidikan kembali bebas menggenggam maknanya sendiri dengan sabik-baiknya.

Pendidikan haruslah sebagai sarana pembebasan segala hal yang mengekang masyarakat karena dengan pendidikan yang murni, setiap individu akan bergerak untuk saling bermanfaat demi masyarakat yang lebih baik.

Tetapi pada prosesnya, hari ini tantangan terbesar kita selaku kelompok yang merasa telah mendapatkan pendidikan adalah mengembalikan makna tersebut pada tempatnya karena tanggung jawab kita selaku kelompok terdidik adalah membawa kebebasan atas segala bentuk yang mengekang kehidupan kita bersama.

sumber gambar:
pipitwahyuni.wordpress.com

Refrensi
Kamus Besar Bahasa Indonesia Kementrian Pendidikan & Budaya diakses melalui https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pendidikan
Hegemoni Pengetahuan dan Ketakutan Pada Yang Liyan diakses melalui https://indoprogress.com/2017/09/hegemoni-pengetahuan-dan-ketakutan-pada-yang-liyan/
Pendidikan, Pembangunan dan Kesadaran Kritis diakses melalui https://indoprogress.com/2017/07/pendidikan-pembangunan-dan-kesadaran-kritis/
Pendidik dan Pendidikan untuk Emansipasi diakses melalui https://indoprogress.com/2018/08/pendidik-dan-pendidikan-untuk-emansipasi/
Raden Agung Fajar A
Indonesia pada tahun ini akan mengalami pemilihan presiden yang berlangsung secara demokratis dan semoga masyarakat menikmati pesta demokrasi ini.

Kedua pasang calon tersebut telah menjabarkan visi misinya untuk kemajuan Indonesia yang akan datang dan telah berkampanye secara agresif semenjak masa kampanye telah dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum atau KPU.

Sebagai rakyat tentunya penulis mengharap pemimpin yang dapat membawa Indonesia berubah lebih baik dalam semua aspek, baik perekonomian, hukum, politik luar negeri, lingkungan, sosial dan sebagainya sehingga mampu mencapai keadilan dan kesejahteraan Indonesia.

Dalam semua aspek tersebut penulis akan mengangkat secara ringkas pergerakan politik Indonesia ke luar negeri untuk mempertahankan martabat dan kedaulatan Indonesia dalam lingkar perang asimetris global dari negara-negara adidaya. Oleh karena itu ke manakah arah Indonesia mengenai hal tersebut?

Secara historis Indonesia adalah bangsa yang memiliki peradaban beraneka ragam yang dapat dirasakan hingga sekarang negeri ini bersifat majemuk dan ketoleransian menjadi salah satu pilar untuk membalut kemajemukan secara Bhineka Tunggal Ika.

Peradaban-peradaban itu telah banyak diakui dunia yang dibuktikan dengan peninggalan-peninggalanya seperti candi, prasasti, situs dan sebagainya, dari sejarahnya Indonesia sudah disegani bahkan tak jarang arkeolog-arkeolog dunia menjadikan Indonesia sebagai primadona untuk melakukan penelitianya.

Sejarah itu mengajarkan Indonesia yang seharusnya sudah tidak bergantung pada negara-negara lain demi kedaulatan sebuah negara meskipun memang negara tidak bisa hidup sendiri dalam melakukan instrumen pemerintahannya sehingga membutuhkan negara-negara lain untuk bekerjasama baik secara bilateral maupun multilateral, tetapi yang penulis kritisi terkadang kerjasama-kerjasama dengan negara-negara adidaya peran Indonesia masih pasif yang dapat menimbulkan ketergantungan bersama negara-negara adidaya tersebut.

Untuk kemajuan negara, negara-negara di dunia semakin kompetitif berlomba-lomba demi kepentingan dari negara yang dikelolanya dengan itu ajang pemilihan presiden Indonesia begitu disoroti dunia dari pasangan calon presiden dan calon wakil presiden, mereka yang menyoroti semuanya untuk kepentingan negara itu. 

Penulis ambil dua contoh negara adidaya yakni Cina dan Amerika. Kedua negara itu memiliki kepentingan yang besar di Indonesia sehingga tak jarang negara itu secara tidak langsung berani mensponsori salah satu pasangan calon yang menimbulkan kontrak politik karena negara-negara itu berperan dalam kampanye pasangan calon.

Salah satu isu saat Joko Widodo menjadi presiden, begitu maraknya Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk di Indonesia sebagai tenaga kasar beberapa tahun silam yang menimbulkan konflik karena pengangguran di Indonesia sendiri yang masih luas.

Penulis angkat fenomena ini bukan berarti bersifat subjektif dan meyerang terhadap salah satu pasangan calon tetapi karena Joko Widodo selaku presiden Indonesia saat ini kemudian mengangkat hasil-hasil yang penulis amati dari indikasi-indikasi kontrak politik yang memang tidak diketahui khalayak umum, pada rezim saat ini Amerika bersifat pasif dan sebaliknya Cina bersifat aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan dan hal-hal itu terus menerus terjadi dalam perebutan Indonesia bagi negara-negara adidaya.

Kita membutuhkan presiden yang benar-benar mengutamakan rakyat atas nama kedaulatan sehingga tidak ada keberpihakan antara negara-negara adidaya namun mengambil hal-hal positif dari negara-negara adidaya tersebut.

Isu-isu antek asing pada siapa pun rezimnya akan hilang jika Indonesia terbebas dari keberpihakan adidaya yang telah menjadi pusaran dunia karena bangsa ini memang seharusnya merdeka dalam aspek apa pun terutama perekonomian dan bukan berarti kemerdekaan menghilangkan kerjasama-kerjasama yang telah dijalankan sebelumnya.

Perekonomian begitu terasa karena hampir semua negara di dunia beranjak pada kapital sehingga negara berlomba-lomba dan negara adidaya kembali menggencarkan ekspansinya ke imperialis dan menimbulkan kolonial baru di era ini.

Banyak upaya strategi yang dilakukan negara-negara adidaya untuk menguasai Indonesia yang begitu diperebutkan oleh negara-negara adikuasa, salah satunya terorisme. Teroris bentuk upaya mereka-mereka karena sejauh ini begitu efektifnya isu SARA untuk memperpecah bangsa ini, rakyat dan pemerintah yang menentukan mau seperti negara-negara timur tengah yang kaya dan hancur bangsanya akibat strategi dari mereka yang berhasil atau negara yang kaya dengan tetap pada kedaulatan rakyatnya sehingga semua negara adikuasa tidak bisa masuk untuk mengeksploitasi dari apa yang Indonesia miliki.

Contoh Iran dalam memainkan geopolitik dan geoekonominya sehingga sampai sekarang masih menjaga kekayaan dalam kedaulatan rakyatnya meskipun dimusuhi oleh negara adikuasa dan boneka-bonekanya berbanding terbalik dengan Syria, Libya, dan negara lain di timur tengah yang sudah hancur efek dari negara adikuasa terlalu dalam mencampuri urusan negaranya.

Sejauh ini Indonesia masih pasif sehingga tidak pernah lagi menjadi kontestan dalam politik dunia yang menimbulkan ketergantungan karena Indonesia masih boneka dari mereka yang beradidaya. Indonesia pernah turut serta ikut dalam percaturan politik global ketika Bung Karno mempertahankan Irian Barat dari Belanda, begitu cantiknya diplomasi Indonesia di internasional yang membuat NATO atau sekutu mengintruksikan Belanda agar mengakui Irian Barat dalam kedaulatan Indonesia di Konfrensi Meja Bundar (KMB) Deen Hag.

Sampai sekarang kekayaan Indonesia masih diperebutkan, apakah presiden yang terpilih nantinya hanya boneka dari salah satu dalang yang Indonesia pihaki.

Sebagai rakyat, penulis menginginkan Indonesia untuk rezim selanjutnya mampu merdeka di tengah geopolitik dunia atas nama kedaulatan rakyat dan martabat negara karena secara teoritis Indonesia memanglah bangsa besar yang seharusnya dalam praktik kita mampu mempertahankan apa yang Indonesia miliki.

sumber gambar: liputan6.com
Raden Agung Fajar A
Dalam salah satu forum yang pernah saya ikuti Prof Mahfud MD mengatakan bahwasanya bernegara bersifat fitrah, maksudnya hal tersebut adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari dari seorang warga negara.

Hal sederhana namun sangat bermakna seperti itu menyadarkan saya bahwa dalam bernegara pun kita bersifat suci. Kita dilahirkan dalam dunia yang luas dan ditempatkan di tempat yang berbeda-beda merupakan salah satu karunia Tuhan karena saat kita berada dalam rahim seorang ibu, tidak ada suatu registrasi untuk lahir memilih negara yang kita inginkan kecuali kehidupan orang tuanya yang selalu berpindah-pindah negara hal itu masih bisa terjadi.

Semakin besar rasa kecintaan penulis terhadap republik ini sehingga tidak ada penyesalan bahwasanya terlahir di Indonesia justru menghadirkan rasa syukur dan kebanggaan. Fitrah tersebut harus dijunjung tinggi untuk kemajuan sebuah negara karena maju atau tidaknya suatu negara tidak selalu mengandalkan dari kebijakan pemerintahnya saja melainkan juga dilihat dari sikap-sikap rakyatnya.

Hal-hal yang sering saya temui atas tidak bersyukurnya kita sebagai warga negara adalah salah satunya selalu mengagung-agungkan negara lain dan bersifat pesimistis terhadap negara sendiri. Menurut saya ini keliru karena apabila mengagungkan untuk dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan menuju ke arah yang lebih baik sangat dianjurkan, namun jika hanya mengandalkan rasa pesimistis terhadap negara hanya akan menghasilkan kesia-siaan yang menimbulkan kekosongan harapan untuk dirinya sendiri dan negara.

Contoh berkaitan dengan dirinya sendiri misalkan, jikalau kita selalu ditolak dalam lamaran kerja, masih banyak masyarakat yang selalu menyalahkan negara, negara dan negara tanpa adanya introspeksi terhadap dirinya sendiri mengapa bisa seperti ini di saat persaingan yang semakin kompetitif dalam dunia ketenagakerjaan.

Jadi, kehidupan dalam bernegara sudah tidak perlu adanya sifat penyesalan mengapa kita terlahir di Indonesia sementara kita dalam bernegara bersifat fitrah, semua yang ditetapkan dari negara mau tidak mau harus diterima meskipun negara ini bersistem demokrasi namun bukan berarti negara menjadi muara awal dan akhir untuk selalu disalahkan kecuali memang memiliki dalil-dalil yang terbukti bahwa negara melakukan kesalahan dalam penyelenggaraannya yang diperankan oleh pemerintah.

sumber gambar:
indonesiakaya.com

Suci dalam Bernegara

by on Februari 11, 2019
Raden Agung Fajar A Dalam salah satu forum yang pernah saya ikuti Prof Mahfud MD mengatakan bahwasanya bernegara bersifat fitrah, maksud...
Raden Agung Fajar A
Sejauh ini adil masih menjadi tuntutan awal dalam kehidupan sehari-hari. Banyak tokoh yang sudah mendefinisikan keadilan, Aristoteles misalnya menerangkan keadilan dengan ungkapan “justice consists in treating equals equally and unequalls, in proportion to their inequality”. Untuk hal-hal yang sama diperlakukan secara sama, dan yang tidak sama juga diperlakukan tidak sama, secara proporsional (O.Notohamidjojo, Masalah Keadilan).

Misalkan ada seorang bapak yang memiliki dua anak dalam sebuah keluarga, bapak tersebut memberikan uang saku sekolahnya tidak memukul rata kepada anak-anaknya tetapi ditinjau dari kebutuhan anak-anak itu sendiri (proporsional).

Anak pertama berada dalam bangku SMA dan anak kedua di bangku SD tentunya bapak itu memberikan uang saku lebih banyak terhadap anak yang pada bangku SMA karena kebutuhan anak SMA itu lebih banyak dengan anak SD.

Hal ini merupakan contoh kecil dalam memberikan keadilan, bagaimana mungkin apabila anak SD dengan anak SMA disamaratakan uang sakunya yang hanya membuat anak SMA itu mengalami ketidakadilan.

Karena keadilan yang akan diberikan kepada pihak lain akan selalu berbeda interpretasinya dari pihak yang menerima seperti seekor gajah yang diteliti oleh para peneliti buta, setiap peneliti merasakan bagian yang berbeda yakni kaki, telinga, gading sehingga masing-masing melukiskan makhluk ini dengan cara yang berbeda-beda pula gemuk dan kuat, tipis dan lentur, halus dan keras.

Sementara si gajah itu sendiri sang keadilan tidak pernah bisa dikenal seluruhnya oleh deskripsi individual mana pun seringkali bahkan pelukisnya nampak bertentangan, mengapa? Karena setiap individu hanya menawarkan sesuatu bagi pendifinisianya (Karen Leback, Teori-Teori Keadilan). Semua peneliti buta itu benar sesuai apa yang mereka rasakan masing-masing namun pastilah peneliti satu dengan yang lain tersebut bertentangan.

Ilustrasi adil di atas menggambarkan memberikan keadilan untuk pihak luar dari dalam diri namun sebelum kita menuntut-nuntut keadilan dari pihak lain alangkah lebih bijak apakah kita sudah berbuat adil terhadap diri sendiri? adil dalam menggunakan anugerah yang Tuhan berikan? adil dalam moral? dan keadilan lainnya yang esensinya adil untuk bersikap kepada diri sendiri.

Adil dalam menggunakan anugerah yang Tuhan berikan misalnya, Tuhan memberi telinga untuk mendengar dan mulut untuk berbicara namun mengapa kita sampai saat ini lebih banyak berbicara bersilat lidah dibandingkan dengan mendengar mengambil hal-hal positif dari apa yang kita dengar, sudah adilkah antara telinga dengan mulut?

Atau Tuhan memberikan tangan namun sampai sejauh ini kita selalu mengharap dan mengandalkan tangan-tangan orang lain untuk bekerja dibandingkan dengan tangan kita sendiri. 

Tuhan memberikan akal namun fungsi akal tidak dipergunakan secara optimal dalam menghadapi cobaan-cobaan-Nya. Kita lebih sering keluar dari permasalahan, mengeluh, mengeluh dan mengeluh. Hal-hal tersebut merupakan bagian contoh ketidakadilan terhadap diri sendiri dan semoga kita bukan termasuk golongan contoh-contoh kaum tersebut.

Mengambil contoh-contoh itu mengajarkan sebelum menuntut keadilan dari pihak lain alangkah baiknya kita mawas diri memberikan keadilan terhadap diri sehingga untuk melakukan keadilan kepada pihak lain akan tercapai dengan apa yang kita lakukan dan pihak lain bersyukur atas apa yang telah diberikan.

Karena fenomenalnya sekarang keadilan tidak terwujud unit terkecilnya kita selalu tidak mensyukuri apa yang telah orang lain beri dan selalu merasa kurang puas dengan pihak lain yang telah memberikan sehingga kita hanya bisa menuntut selalu dari keadilan itu.

Penulis, adalah mahasiswa Unsika Karawang
Sumber gambar: 
texasmonitor.org
M. Irfan Ilmy
Amanah menyelenggarakan pendidikan tidak semestinya hanya dibebankan pada pundak pemerintah. Kita harus merasa menjadi pemerintah dalam hal merawat negeri ini. Bukan merasa jadi mereka dalam berbuat korup dan menzalimi hati rakyat. Kita harus jadi yang pertama memastikan negeri ini aman dari setiap potensi ancaman ke arah dektruktif. Andai saja semua manusia bangsa Indonesia berpikiran demikian.

Manusia sebagai subjek dan objek pendidikan sepatutnya terus menerus mengasah kepeduliannya untuk turut terlibat di dalam proses ini. Pendidikan bukan hanya melulu berkutat dalam ruang-ruang kelas dan aturan-aturan rigid sekolah terkadang jadi pembatas. Lebih jauh lagi, pendidikan harus dilakukan sepanjang hayat. Sebagaimana yang termaktub di sebuah sabda Rasulullāh saw., utlubū al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi, dan tentu sejalan pula ini dengan prinsip long life education.

Pendidikan saya kira tidak berlebihan jika dikatakan sebagai bagian dari misi kemanusiaan, yang mana setiap mereka harus punya kesadaran atas ini. Tiap manusia harus menanam kecambah rasa peduli ini dalam dirinya masing-masing. Tanggung jawab memastikan manusia benar-benar tetap berjalan di atas rel kemanusiaannya hakikatnya memang makna dari pendidikan—secara luas.

Pada esai ini saya tak hendak berbicara tentang sistem pendidikan yang rumit itu. Saya pun tidak bertendensi mengkiritisi kerja-kerja pemerintah yang dinilai lamban oleh sebagian kalangan dalam mewujudkan kualitas pendidikan yang mapan. Rasa-rasanya itu bukan porsi saya. Biarlah para ahli dan yang merasa punya kemampuan buat berkoar-koar tentangnya.

Memilih Terlibat
Ditakdirkan terlahir sebagai manusia di muka bumi ini merupakan anugerah maha hebat. Saya termasuk yang bergembira terpilih jadi manusia dan berkesempatan berperan sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Hewan dan tumbuhan meskipun sama-sama hidup tapi tidak diberi perangkat untuk memakmurkan bumi lewat peran-peran strategis. Keberadaannya menjadi supporting system bagi manusia saja.

Sementara manusia dengan seperangkat alat-alat untuk bisa bertahan hidup di dunia ini diberi mandat untuk mengelola kehidupan demi kemaslahatan khalayak dan tentunya alam semesta itu sendiri.

Sebuah esai bertajuk “Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan” gubahan seorang Gigay Citta Acikgenc menyampaikan angannya dengan sangat indah untuk menjadi panglima tertinggi di negeri dalam ikhtiar mengupayakan pendidikan lebih baik.

Menurutnya, lewat posisi strategis itu secara efektif dapat menyelesaikan kompleksitas persoalan pendidikan yang berkelindan. Gigay memang berangkat dari kegelisahannya atas perbedaan signifikan sistem (evaluasi) pendidikan Indonesia dengan di Italia sana.

Saat SMA dia memang berkesempatan mengikuti pertukaran pelajar di negeri pizza itu. Tapi saya tidak hendak membahasnya lebih lanjut soal ini.

Saya tidak terlalu ingin bercita-cita menjadi menteri pendidikan seperti Gea, begitu biasa ia disapa, untuk memberikan secuil kontribusi bagi negeri ini. Saya hanya ingin berbagi cerita saja soal pengalaman menenggelamkan diri dalam bidang yang amat mulia ini. Selain mulia, pendidikan juga punya kekuatan yang mirip seperti senjata untuk mengubah dunia sebagaimana dikatakan Nelson Mandela.

Nanti bila ada yang kemudian tergugah lewat cerita ini, itu bukan karena upaya kami bagus. Tidak seistimewa sebagaimana yang disangkakan. Di wilayah-wilayah lain negeri ini ada yang lebih totalitas mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa.

Bahkan bukan hanya segi kognitif saja melainkan lengkap dengan keterampilan serta sikap. Pengabdian yang bagi saya amat romantis dan membuat jiwa saya tentram saat mengetahui dan menyaksikannya.

Kami namai komunitas kecil itu Planet Antariksa. Salah satu anggota kami ingin anak-anak yang terlibat di dalamnya memiliki mimpi-mimpi yang tinggi. Suatu saat nanti semoga saja kiprah mereka bisa seperti bintang-bintang di angkasa, berkelip terang dan memancarkan keindahan. Intinya menjadi sosok-sosok yang selalu dirindukan karena sumbangan konkretnya bagi dunia.

Saya sulit untuk bisa melupakan kebahagaiaan anak-anak saat kami (kakak-kakak pengajar) datang menjelang Ashar setiap hari Sabtu. Mereka berlarian dan menyalami kami sambil bermanja-manja ria. Sebuah kebahagiaan yang nilainya lebih dari berkeping-keping emas 24 karat sekali pun.

Bahkan dalam satu kesempatan peringatan 1st Anniversary Planet Antariksa, salah satu perwakilan orang tua menyampaikan ucapan terimakasihnya kepada kami. Katanya anak-anak mereka setelah pulang sekolah di hari Sabtu selalu riang gembira dan tidak sabar untuk bersegera bertemu kakak-kakak pengajar dan teman-temannya. Betul-betul menimbulkan impresi yang kuat di memori saya.

Meskipun saat ini sedang vakum karena beberapa hal, saya sangat terkesan dengan sesuatu yang pernah saya dan kawan-kawan buat dan jalankan selama kurang lebih 2 tahun kebelakang. Ikhtiar ini secara dampak mungkin tidak terlalu besar, tapi melakukannya ternyata tak pernah enteng.

Dorongan internal untuk terus memberikan sesuatu bagi negeri ini nyatanya tidak cukup untuk memotori kami agar terus istikamah melakukan kerja-kerja mesra di bidang pendidikan. Ada kalanya jiwa muda kami yang sedang ingin main-mainnya menggoda buat diikuti. Lalu celah untuk menghentikan pengabdian berkonten pendidikan ini akhirnya kian menganga.

Puncaknya beberapa tahun lalu kami tidak lagi beroperasi. Belum ada satu keputusan pasti apakah Planet Antariksa akan kembali diaktifkan atau hanya tinggal nama saja. Ternyata memulai kembali apa yang sudah lama tidak berjalan, sama sulitnya dengan saat pertama kali memulai.

Dari pengalaman mendirikan sebuah komunitas pendidikan non formal dengan sasaran anak-anak SD dan SMP sebelumnya saya jadi terpikir untuk juga mendorong pihak-pihak lain agar melakukan hal serupa.

Prosesnya sebenarnya tidak terlalu ribet, kalau dasarnya memang ingin dan suka dengan dunia anak-anak. Bukan karena ada dorongan-dorongan lain seperti ingin mempermanis konten curriculum vitae atau buat gagah-gagahan di media sosial. Terlebih lagi bagi kalangan mahasiswa dengan fleksibilitas waktu yang dimilikinya.

Relasi luas serta daya inovasi yang dipunya saya kira akan jadi resources unggul dalam mendukung berjalannya sebuah komunitas pendidikan berbasis masyarakat dengan objek utama anak usia Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama.

Memperbanyak Komunitas Pendidikan Anak
Bila saja satu himpunan mahasiswa di kampus bersepakat kompak mendirikan serta mengelola community development secara berkelanjutan, betapa akan banyak anak-anak yang masa kecilnya terselamatkan.

Saya katakan demikian, karena anak-anak akan mengenang masa-masa kecil mereka yang penuh dengan ketawa-ketiwi ala-ala bocah. Di mana pada zaman sekarang pergaulan di kalangan anak-anak dan remaja amat rentan dengan pengaruh-pengaruh buruk yang di masa depannya akan jadi penentu bagi baik-buruk kondisi mereka.

Mereka sebenarnya bisa beroleh bahagia saat bermain bebas dengan kawan-kawannya, tapi di sana tidak ada nilai-nilai kehidupan yang secara sadar ditumbuhkan. Beda cerita dengan kebahagiaan yang sengaja diciptakan oleh kakak-kakak pengajar di komunitas dengan nilai-nilai pendidikan di dalamnya.

Bermain mungkin jadi salah satu konten agar anak-anak tidak jenuh, tapi dalam prosesnya pun disisipi pembelajaran-pembelajaran yang diharap akan menghunjam di benak mereka saat kelak dewasa.

Referensi
Citta, G.C. (2012). Jika Aku Menjadi Menteri Pendidikan [daring], dapat diakses di https://www.penaaksi.com/2012/12/jika-aku-menjadi-menteri-pendidikan.html

Sumber gambar
betamanise.wordpresa.com

Malam itu saya rebahan di kasur, dan seperti biasa, saya merenungi banyak hal yang salah satunya ialah tentang manusia. Dalam perenungan itu akhirnya saya menyimpulkan bahwa manusia memang benar-benar egois dan senantiasa ingin mementingkan dirinya sendiri. 

Saat membeli makanan, ibu-ibu biasa saling menyerobot ingin dilayani duluan, di taman maupun kendaraan umum yang sudah jelas tertera larangan merokok tetap saja masih banyak yang melakukannya, dan segudang persoalan lainnya yang intinya dari segala pengalaman yang saya alami, saya teramat yakin bahwa manusia memanglah hidup dengan keegoaannya. 

Supaya lebih terbayang, saya akan memerincinya dalam kasus yang lebih spesifik. Sudah lazim para orang tua begitu gemar mengatur kehidupan anaknya. Dan saya termasuk orang yang skeptis kalau pengaturan yang mereka lakukan adalah atas dasar kasih sayang murni—sebagaimana yang dikira oleh kebanyakan kita—melainkan sebenarnya mereka sekadar sedang ingin memenuhi hasrat ego yang ada di dalam dirinya. 

Begitu pun dengan seorang ibu yang mengasuh anaknya. Si anak dididik, diatur, dan dipelihara dengan anjuran untuk harus melakukan ini tidak boleh melakukan itu. Lalu ketika si anak sukses di masa kehidupannya, mereka ikut senang, membangga-banggakannya, membanding-bandingkannya dengan anak tetantangga atau pun saudara mereka dalam perbicangan gosip mereka. 

Tetapi jangan salah sangka. Ini juga bukan soal si anak, melainkan mereka (orang tua) sebenarnya sedang memenuhi ego di dalam dirinya sebab eksistensi si anak sudah bergabung menjadi satu kesatuan dengan eksistensi dirinya, atau sudah merepresentasikan dirinya. 

Yang sedang mereka bicarakan bukanlah “hakikat” si anak melainkan mengenai “dirinya”. Sama halnya ketika si anak gagal, orang tua merasa sedih karena sebenarnya dia bukan sedang menyedihkan anaknya melainkan “dirinya” yang gagal memenuhi egonya. 

Lihat juga ketidakmurnian mereka dalam mendidik yaitu ketika si anak beranjak dewasa. Para orang tua memiliki semacam rasa ingin mendapatkan timbal balik atas apa yang pernah dilakukannya selama ini, entah dengan menuntut apa yang diinginkannya maupun yang diharapkannya dari si anak.

Lalu katanya seorang anak memiliki hutang yang begitu besar kepada orang tuanya karena telah melahirkan, mendidik, dan mengasuhnya. Pahadal menurut saya posisi anak dan orang tua sejajar dalam kerangka saling membutuhkan satu sama lain. Bayangkan jika si anak tidak pernah terlahir, betapa struktur keluarga bisa hancur dan berakhir dengan perceraian atau kegaduhan di keluarga besarnya. Sebuah keluarga membutuhkan kelahiran anak untuk memenuhi ego mereka. 

Contoh kedua ialah ego struktural (baik resmi maupun kultural) dalam hal meminta maaf. Hampir mustahil terjadi permintaan maaf dari pihak yang secara struktur lebih tinggi kepada ke pihak yang berkedudukan lebih rendah. Sulit rasanya kita membayangkan adanya dosen yang meminta maaf kepada mahasiswanya, guru meminta maaf kepada muridnya, kakak yang meminta maaf kepada adiknya, atau senior kepada juniornya, ulama/ustaz kepada jamaahnya, orang tua kepada anaknya, atasan kepada bawahannya. 

Padahal kesalahan adalah keniscayaan manusia tanpa memandang tingkatan strukturalnya, tetapi karena kita sudah memiliki semacam tingkatan-tingkatan derajat yang kita buat sendiri, maka akibatnya yang merasa di posisi lebih tinggi memiliki gengsi yang lebih besar sehingga akan sulit bagi mereka untuk meminta maaf secara tulus meskipun jelas kesalahan ada di pihak mereka. 

Ini berbanding terbalik dengan film drama keluarga favorit saya yang pernah ditayangkan oleh NET TV hingga season 3 (Kesempurnaan Cinta). Di sana saya menemukan nilai-nilai kehidupan yang begitu luhur di mana ketika terjadi konflik di antara pihak-pihak yang bersiteru, mereka segera melakukan instrospeksi diri. Lalu ketika mereka bertemu—entah dalam situasi yang memang disengaja maupun dalam sikon yang tidak diharapkan—pasti akan ada satu pihak yang langsung berinisiatif meminta maaf duluan (tanpa memandang strukturalnya). 

Hanya saja permintaan maaf itu sebenarnya sudah tidak relevan lagi karena pihak mitra konfliknya pun pada waktu itu juga sudah sangat berniat untuk meminta maaf—bahkan kalau pun pihak yang pertama meminta maaf tidak melakukannya. Betapapun, saya menyadari bahwa dunia kita bukanlah permainan film. Maka kita lebih senang memilih ego.

Satu contoh lagi, coba deh sadari, ketika kita berbincang-bincang dengan seseorang, kita lebih banyak membicarakan tentang diri kita sendiri dan tentang diri kita. Akan lebih banyak keluar ucapan “aku...” atau “kalau aku...” dibanding kita menyimak apa yang ingin mitra bicara kita sampaikan.
***
Manusia juga pada dasarnya tidak mau dipersalahkan dan tidak pernah merasa bersalah. Kalau ini saya sangat yakin. Tidak ada satu pun manusia yang mau dihakimi. Lebih-lebih hari ini. 

Jangankan dihakimi, dinasihati pun tidak mau karena setiap kita merasa telah melakukan sesuatu yang baik dan benar. Ketika ditegur karena tidak menggunakan helm saat berkendara kita marah dan bilang “urus saja urusanmu sendiri”, ketika ditegur mengapa membuang sampah sembarangan malah dijawab “urus saja urusanmu sendiri”, ketika ditegur mengapa tidak menyeberang di tempat yang tepat kita merespon “urus saja urusanmu sendiri”, ketika dinasihati untuk memakai jilbab, kita menjawab “ini urusanku dengan Tuhan, kamu jangan sok alim”, dan lain sebagainya. Ego kita berkata bahwa kita adalah manusia yang sudah bertindak dengan baik dan benar. Maha benar kita dengan segala keegoisan kita. 

sumber gambar: vebma.com

Yuval Noah Harari, cendekiawan yang namanya hari ini sedang beken di dunia, memprediksikan bahwa mungkin akan banyak generasi Z yang ditemukan tidak memiliki pekerjaan di tahun 2050 karena digantikan oleh artificial intelligence (AI). Meskipun ada beberapa pihak yang keberatan atas prediksi ini karena menurut mereka umat manusia akan dengan segera menciptakan pekerjaan baru dengan standar di atas level pekerjaan-pekerjaan sebelumnya. Namun Harari menegaskan bahwa kali ini persoalannya tidak sesederhana itu.

Dulu manusia dapat tetap bertahan melawan gempuran mesin yang sekadar bisa menggantikan sisi pekerjaan fisik (kasar) manusia, walaupun harus diakui pula bahwa terciptanya mesin-mesin ini—pada waktu itu—memiliki dampak yang sangat signifikan khususnya terhadap para pekerja yang memang hanya bisa mengandalkan ototnya saja. Saat itu manusia kemudian beralih ke pekerjaan-pekerjaan yang belum bisa digantikan oleh mesin, yakni berkenaan dengan jasa yang sifatnya kognitif seperti belajar, menganalisis, berkomunikasi, dan—terutama—dalam hal memahami emosi manusia. 

Tetapi hari ini, dengan adanya revolusi AI yang semakin cepat dan cerdas ditambah kepesatan ilmu sains hayati (life sciences) di bidang biokimia, maka akan dipastikan bahwa peran manusia akan semakin tergerus, bukan hanya pada aspek fisiknya melainkan juga kognisinya. AI akan segera mengungguli manusia dalam hal menganalisis manusia, memprediksi kemampuan manusia, mengganti pengemudi kendaraan Anda, dan menjadi pengacara Anda, bahkan juga bisa meretas atau menguasai pikiran Anda. Cara kerjanya ialah dengan mengenali pola algoritma biokimia yang terdapat dalam otak manusia. 

Bagi Harari, “seorang pengemudi yag memprediksi niat seorang pejalan kaki, seorang bankir yang menilai kredibilitas seorang peminjam potensial, dan seorang pengacara yang menilai suasana di meja perundingan tidaklah bergantung pada ilmu-ilmu gaib (semacam firasat atau intusi) tetapi tanpa disadari—oleh diri mereka sendiri—sebenarnya otak mereka mengenali pola biokimia tertentu dengan melakukan penganalisisan terhadap ekspresi wajah, nada suara, gerakan tangan, dan bahkan bau badan—orang yang sedang menjadi objeknya.” Jika demikian kenyataannya, masih menurut Harari, “AI yang dilengkapi dengan sensor yang tepat guna tentu saja akan dapat melakukan semua itu jauh lebih akurat dan handal dibandingkan manusia.”

Contoh lain yang dipaparkan oleh Harari ialah pengkajian para ilmuwan otak perihal amygdala dan cerebellum yang memungkin komputer atau AI mengalahkan para psikiater dan pengawal manusia pada tahun 2050.

Tidak berhenti pada aspek fisik dan kognisi, Harari menakut-nakuti generasi Z dengan dua buah kemampuan AI yang tidak bisa dimiliki oleh manusia secara global, yakni konektivitas dan pembaruan. 

Manusia per individu begitu sulit untuk saling terhubung, mereka memiliki kehendak dan kepentingannya masing-masing, maka dibuatlah semacam kesepakatan-kesepakatan intersubjektif yang biasa disebut dengan peraturan (hukum). Tetapi pada kenyataanya manusia hidup, entah karena faktor A atau B, tidak senantiasa mengindahkan peraturan, apalai jika peraturan tersebut seringkali mengalami perubahan, maka wajar akan banyak terjadi benturan. Harari mencontohkannya pada persoalan peraturan lalu lintas. 

Berbeda dengan manusia, AI bisa saling terhubung satu sama lain ke dalam sebuah jaringan yang fleksibel sehingga akan sangat minim terjadi secama mis-komunikasi, terlebih AI tidak memiliki “kesadaran” sebagaimana manusia. Bahkan jika ada perubahan-perubahan tertentu, server inti tinggal melakukan setting perubahan lalu tersebarlah—dengan waktu yang sangat singkat—ke seluruh AI yang terintegrasi. 

Betapapun demikian, dalam beberapa poin Harari masih memiliki optimistik atas pekerjaan manusia yang sepertinya masih sulit digantikan oleh AI. Bahkan dia pun mengatakan bahwa alih-alih berpola persaingan, manusia dan AI akan menjadi mitra kerja yang unik dan dinamis, sembari di sisi lain manusia akan tetap berusaha untuk membentuk pekerjaan-pekerjaan baru. Sayangnya secara umum Homo sapiens, dengan pola kultur pengalih-pekerjaan di masa depan yang demikian cepat, akan kesulitan mengejar laju kilat teknologi beserta produk-produknya, maka dari itu Harari mengatakan bahwa nanti mungkin akan muncul kelas baru yang disebut dengan “manusia tidak berguna” yang bernasib menjadi pengangguran. 

sumber gambar: geneticliteracyproject.org