Siapa Pun Presidennya, Tetap Saling Akur Ya!

Sella Rachmawati

2019 benar-benar sangat terasa nuansa politiknya. Di lingkungan masyarakat, seperti keluarga, sekolah, pos kamling, bahkan di tempat ibadah sekali pun yang selalu dibahas adalah “kamu pilih nomor 1 atau nomor 2?” begitu seterusnya lalu kemudian sampai pada titik mendukung membabi buta dan mencela pasangan yang bukan pilihannya.

Tidak aneh memang, sepertinya hal ini akan terus berlangsung sampai disahkannya pasangan salah satu calon presiden eh atau bahkan lebih lama lagi? Heheu. Ini terus berulang 5 tahun sekali.

Parahnya, sekarang ini akses media sosial sangat rentan digunakan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab demi membuat perhatian pada calon yang mereka dukung. Memang hal itu tidak dilarang, hanya saja sering kita jumpai kampanye-kampanye yang tidak sehat.

Memelintir berita atau informasi salah satu calon, bahkan sampai membuat berita palsu tentangny. Mirisnya masyarakat kita pun karena saking inginnya capres yang mereka dukung menang, ikut me re-share berita-berita yang belum bisa diuji kebenarannya lantas ditambahi bumbu-bumbu provokatif.

Benarkah kampanye harus dilakukan dengan hal seperti itu? Atau haruskah para pendukung masing-masing capres ikut menebar berita-berita hoax? Membenci paslon yang tidak mereka dukung? Melontarkan nada-nada suudzon kepada paslon lawan?

Tidakkah mereka ingat, apapun yang dilakukan makhluk di dunia, tindakan dan perkataannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat? Atau lagi-lagi mereka hanya menganggap ini hanya dongeng pengantar tidur? Mereka berdalih karena mereka cinta NKRI, mencintai keberlangsungan Indonesia 5 tahun ke depan dengan mencintai paslon yang mereka dukung dan membenci paslon dan pendukung paslon lainnya. Hey! Cinta tak melahirkan benci pada orang lain, apalagi untuk keberlangsungan negeramu.

Begini deh, siapa pun nanti yang terpilih tentu dengan se-LUBER JURDIL-nya pemilu kita doakan amanah, jika ia kamu nilai banyak dosa dan salah doakan saja semoga diampuni dan diberi hidayah.

Eits, kamu jangan komentar “halah, mana bisa yang seperti itu dapat hidayah!” tunggu, kamu itu Tuhan? Kok bisa menentukan sih? Hehe.

Mari kita saling menyayangi, karena kalau sudah saling sayang perbedaan pun menjadi lebur.

sumber gambar: theinsiderstories.com

3 komentar: