Mengajarkan Berpikir Kritis, Harus! Tapi Tidak untuk Pelajaran Agama Islam


Ketika kurikulum pendidikan kita (K13) menganjurkan para pendidik untuk mengajar pola berpikir kritis kepada para siswa, saya pribadi senang, bahkan menyambutnya dengan begitu antusias. 

Betapa tidak, sedari berada di bangku kuliah, saya menyadari bahwa salah satu akar penyebab mengapa Islam masih saja berada di posisi inferior ialah karena masih senang menganut narasi-narasi keagamaan yang taken for granted. Sewaktu ada seseorang yang mencoba untuk mempertanyakannya kembali, langsung dianggap, atau setidaknya dicurigai, sebagai bentuk “penyimpangan”. Ini bukan sekadar isapan jempol, melainkan benar-benar saya rasakan secara langsung.

Pernah saya mengajar di salah satu sekolah yang katanya unggulan di kota Bandung, di sela-sela pelajaran, untuk menggugah daya kritis, saya melempar satu pertanyaan kepada seisi kelas mengenai apa itu Islam. Tak menyangka ternyata jawaban dari mereka beragam. Saya coba terus untuk membuat mereka dapat berpikir lebih mendalam, berdialektika, mempertanyakan keotentikan dan dasar argumen ucapan mereka. Kelas jadi begitu dinamis karena saya enggan memberikan jawaban tapi terus berusaha menggali. 

Karena belum menghasilkan jawaban akhir, saya pinta mereka untuk memikirkannya di rumah, cari di buku-buku atau referensi apa pun. Mengapa demikian, ini agar mereka tidak sekadar menjadi seseorang yang beragama secara turunan, atau setidaknya dapat memahami garis besar agama yang dianutnya dengan penuh kesadaran. 

Sayang seribu sayang, upaya ini sepertinya tidak dipahami secara positif oleh sebagian dari mereka. Ada di antara mereka, entah siapa, yang mengadukan “keanehan” saya dalam mengajar ini ke guru senior. Saya ditegur dan dianjurkan supaya untuk melakukan yang “wajar-wajar” saja. 

Itu yang pertama, peristiwa yang mirip-mirip berlanjut di tempat lain, maksud saya ialah di sekolah yang lain, dengan itensitas yang jauh lebih ekstrem. Saat itu materi pokoknya ialah tentang toleransi. Demi menumbuhkan rasa kritis, saya menyajikan beberapa video yang—memang sih menurut kalangan umum—bisa dianggap sensitif atau kontroversial, tapi bagi saya ini perlu disampaikan jika Indonesia mau berbenah. 

Yang pertama saya memutar video kerjasama sosial antar umat beragama (Islam-Kristen) dalam bentuk pelayanan sosial. Bagi saya, baik selaku muslim maupun pendidik, perbedaan agama bukan untuk saling berdiri masing-masing, atau bahkan untuk saling mencurigai. Tapi toh kenyataannya saat ini dua hal yang saya sebut semakin menguat. Disintegrasi melonjak tajam. Maka menurut saya, wajar jika video ini perlu dikedepankan supaya siswa, yang akan menjadi generasi penerus sekaligus hidup di era multikultural dan globalisasi yang semakin tak tersekat, dapat bersikap kooperatif dengan siapa pun, tanpa memandang latar belakangnya. 

Video kedua saya memutar liputan kejadian demonstrasi kalangan Yahudi Amerika, yang di dalamnya termasuk para rabi, atas tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh pemerintah Israel kepada rakyat Palestisna, suatu berita yang mungkin hampir tidak pernah diketahui secara luas. Bagaimana mungkin orang Yahudi vs Yahudi. Tapi inilah yang ingin saya perkenalkan kepada para siswa saya, bahwa manusia itu beragam, tidak monolitik. Akan selalu ada Yahudi yang zalim dan tetapi ada pula yang tidak, yang tentunya berlaku pula terhadap seluruh penganut agama, tanpa terkecuali Islam. 

Yang terakhir, saya menunjukkan video dokumenter terkenal Imam Ashafa (Islam) dan Pastur James (Kristen) yang awalnya saling benci tetapi akhirnya bisa berdamai bahkan di kemudian hari secara gencar mempromosikan perdamaian antara Islam dan Kristen, khususnya di Nigeria (yang penasaran bisa cari di youtube), tanpa harus menggadaikan iman masing-masing. 

Tidak seperti dengan kasus yang pertama, di materi ini para siswa tidak terlihat dinamis (dalam diskusi kelompok), semua berjalan biasa-biasa saja, mungkin karena di satu sisi mereka merasa aneh (bahkan mungkin bertentangan dengan keyakinan awal mereka) dengan materi ini padahal di sisi lain mereka juga tidak berani mengutarakan ketidaksetujuannya di kelas, sehingga, sekali lagi saya harus berurusan dengan guru senior, bahkan kepala sekolah, dan bahkan berlanjut ke pemilik sekolahnya.

 “Kalau dibiarkan, mungkin bapak [maksudnya adalah saya] akan melangkah lebih jauh, seperti mengajak para siswa melakukan kunjungan ke rumah-rumah ibadah agama lain.”  Ucapnya ketika sedang berbicara serius kepada saya.

Alhasil, setelah bertemu dengan pihak-pihak sekolah yang terkait, saya ditegur dan menghasilkan keputusan yang saya interpretasikan sebagai pemberian “kartu kuning”. Sebenarnya bukan hanya karena materi itu saja, tetapi juga materi-materi lain yang saya ajar, yang menurut mereka bertentangan dengan pemahaman mainstream, salah satunya ialah tentang takdir (qada dan qadar). 

Setelah berpikir atas semua kejadian beruntun ini, saya baru sadar bahwa untuk pelajaran apa pun, kita boleh kritis, tetapi tidak untuk pelajaran agama Islam. Kita harus mengimani apa-apa yang sudah kita terima, baik dari orang tua, ustaz, atau yang lainnya, tanpa boleh dipertanyakan kembali, tanpa boleh diragukan, dan tanpa boleh diubah-ubah lagi. 

Uniknya, bukan hanya siswa yang tidak bisa menerima hal ini, tetapi juga orang-orang dewasa, baik itu guru (meski tidak semua) maupun orang tua siswa. Yang terakhir disebut ini akan segera saya bahas secara singkat di paragraf di bawah. 

Dulu siswa dan orang tua memiliki sikap yang begitu hormat (respect) kepada sekolah dan guru, sesuatu yang ternyata masih dipelihara di Australia (menurut pengalaman home stay salah seorang teman), tapi sekarang pola itu mulai bergeser, para orang tua siswa menjadi kurang respek bahkan lebih jauh bisa sampai tahap merasa superior. 

Saat ini sangat mudah bagi mereka untuk “mengguncang” nama baik sekolah, tinggal share keluhan di grup orang tua siswa atau media sosial pribadinya, kasih bumbu-bumbu provokasi, jadilah framing negatif, padahal belum tentu mereka telah mengetahui duduk perkaranya dengan baik. Sekolah kelabakan, akhirnya mau tidak mau perlu mengambil klarifikasi atau bahkan keputusan yang memberatkan pihak yang dianggap “pelaku”. Kita bisa melihat di lapangan di mana sekolah tidak bisa lagi melindungi pegawai atau guru-gurunya demi menjaga nama baik sekolah.    

Refleksi Personal
Salah satu pertanyaan terbesar saya adalah apakah, sekali lagi apakah (harus) sama pemahaman keagamaan antara orang yang memiliki latar belakang pendidikan keagamaan dengan siswa atau orang tua siswa atau guru (mungkin juga kepala sekolah) yang tidak memiliki latar belakang agama? Atau mungkin pertanyaannya diubah, apakah harus sama kerangka pembawaan semua guru agama, ketika mengajar? Tentu saja tidak. 

Toh secara pribadi pun saya tidak pernah memaksa siswa untuk berpaham yang sama dengan saya. Yang saya lakukan ialah, supaya mereka dapat berpikir kritis terhadap apa yang telah mereka yakini, apakah keyakinan tersebut benar-benar valid atau malah sebaliknya, masih dibangun dengan argumen yang rapuh? 

Apakah saat ini peran guru agama hanya untuk sebagai agen “penguatan” dan “penegasan” atas pemahaman yang telah dimiliki oleh siswa dan orang tuanya? Jadi, guru tidak lagi sebagai sumber ilmu atau tokoh fasilitator melainkan sekadar mengatakan “ya, kalian sudah benar” kepada apa-apa yang telah sebelumnya dipahami oleh siswa mereka?

Jika demikian, buat apa saya serius kuliah, harusnya santai-santai aja, toh pemahaman kami ujung-ujungnya harus disesuaikan dengan pemahaman siswa dan orang tuanya, atau pemilik sekolah (yayasan).  

Jujur, ketika kuliah saya begitu serius dalam belajar (kecuali untuk mata kuliah Bahasa Arab, maaf), mengerjakan mayoritas tugas dengan upaya maksimal, dan saya sangat senang karena kultur di kampus waktu itu sangat memberi ruang untuk berpikir kritis, saya selalu aktif bertanya, menanggapi, membantah. 

Di tambah lagi, saya sangat suka membaca buku. Bahkan dua tahun setelah lulus kuliah pun (maksudnya sampai hari ini) saya masih terus membaca. Buku yang saya baca pun bukan buku abal-abal—yang sekarang banyak menjamur yang sekadar mempercantik wajahnya saja (cover)—di mana mayoritasnya adalah karangan para ulama atau cendekiawan muslim yang begitu dihormati dalam bidang keilmuwannya. Jadi, mereka bukan hanya orang pintar, tetapi kira-kira yang terpintar di antara yang berilmu. Apa yang saya utarakan di kelas, tiada lain semangatnya begitu seirama dengan grand design pemahaman keagamaan mereka. Saya hanyalah perantara mereka, tidak kurang tidak lebih. 

Tetapi beginilah yang saya alami, makanya jujur, saya agak galau ketika berprofesi sebagai guru dalam artian pengajar di tempat-tempat formal seperti sekolah, karena sering mental, entah oleh guru senior, pihak sekolah, maupun muridnya sendiri. 

Ini berbeda ketika saya sekadar menjadi pengisi kajian-kajian yang sifatnya informal. Selain lebih fleksibel, tidak terikat oleh sistem-sistem yang kaku, atau penghalang-penghalang yang sifatnya struktural. 

sumber gambar: gurunya-galau.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar