Membumikan Kesadaran Lingkungan


Di pergantian tahun 2019 banyak kalangan yang beramai-ramai mempropagandakan resolusi menuju perubahan yang lebih baik, tetapi sayangnya kenyataan dalam tindakan tidak selalu berbanding lurus dengan idealisme (pemahaman). Di malam puncak pergantian tahun baru, DKI Jakarta menyumbang sampah hingga mencapai 375 ton. Jumlah yang jelas sungguh fantastis. Lainnya, terdapat sekitar 4 ton sampah terpapar di Pantai Parangtritis, Bantul. Kalau diakumulasikan, pada malam itu ada 300 ton sampah di Bali dan Bandung. Untungnya pasukan pembersih Jakarta segera bertindak cepat (Opini.id, 02/01/2018) begitu pula dengan Pemkot Bandung yang dengan lihai memobilisasi massa untuk membersihkan Bandung dengan Gerakan Pungut Sampah.

Di lingkup yang lebih kecil, khususnya di dalam dunia pendidikan, bisa dikatakan faktanya tidak akan jauh berbeda. Murid-murid di Indonesia masih sangat minim peka lingkungan, terutama berkenaan dengan sampah yang mereka hasilkan. Tidak jarang didapati ketika mereka jajan, baik di kantin dalam sekolah maupun di luar lingkungan sekolah, sampahnya akan dibuang sembarangan. Ironinya, ketidaksadaran mengenai pentingnya menjaga lingkungan pada diri para siswa ternyata bukanlah sesuatu yang aneh atau berdiri sendiri, pasalnya ini diakibatkan oleh tidak adanya teladan yang layak ditiru. Toh orang dewasa, dalam hal ini adalah orang tua maupun guru, seringkali luput dalam memerhatikan lingkungannya. Penulis sendiri masih suka melihat guru, yang seharusnya bisa berada di garda depan untuk memberi contoh yang baik, membuang sampah, baik dalam seminar maupun dalam kesehariannya, sembarangan.

Tentu saja kita tidak menginginkan keadaan ini terus berlanjut. Perlu ada kesadaran massal mengenai pentingnya melestarikan lingkungan, dan agaknya momen peringatan Gerakan Menanam Pohon yang jatuh pada setiap tanggal 10 Januari ini cocok dijadikan sebagai batu pijakan refleksi jika memang kita hendak benar-benar menginginkan revolusi mental.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat dilakukan, seperti, pertama, mengintegrasikan pesan kecintaan pada lingkungan di setiap mata pelajaran. Karena memang sejatinya manusia dan alam adalah dua entitas yang tidak bisa terpisah, maka tentu saja keduanya saling membutuhkan. Bahkan upaya memelihara alam berarti memelihara keberlangsungan hidup umat manusia. Selain itu, baik pula jika pembelajaran di sekolah bisa mencapai level C6 (mencipta) sehingga siswa dapat dirangsang untuk menciptakan sesuatu produk pemelihara lingkungan, atau setidaknya suatu produk yang ramah terhadap lingkungan. Lebih lanjut, cemerlang pula seandainya pembelajaran menekankan aspek keterampilan merawat lingkungan.

Kedua, karena sekolah memiliki hak preogatif utuk membuat aturan, maka sebenarnya kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan membuat aturan-aturan, baik yang sifatnya tertulis maupun kultural yang tentunya perlu dijalankan dan dievaluasi dengan serius, tentang pemeliharaan lingkungan. Awalnya memang berat, tetapi jika terus dibiasakan secara konsisten, dengan guru sebagai suri teladannya, maka penulis yakin bahwa lambat-laun hasilnya akan terlihat. Ketiga, untuk menyempurnakan dua upaya ini, maka pihak sekolah perlu melakukan koordinasi dan kerjasama dengan orang tua murid, yang sebenarnya secara tidak langsung pun akan memiliki efek membelajarkan mereka (orang tua) agar lebih peka pada lingkungan. Jenis kegiatannya dapat berupa pengontrolan. Bisa pula berupa aktivitas-aktivitas penugasan bersifat sosio-lingkungan di mana anak dapat turut berkontribusi terhadap aneka persoalan yang ada di lingkungannya.  


* Pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat pada 10/01/2018

sumber gambar: netralnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar