Tips Menuntut Ilmu 4.0


Peradaban manusia memasuki era baru. Orang jamak menyebutnya era digital. Di era ini ciri yang paling menonjol adalah keterbukaan informasi dan kemudahan akses informasi. Jika dahulu informasi hanya bisa kita dapat dari hasil pertemuan dengan orang lain, bicara langsung, duduk bareng, dan bertatap muka. Kini tidak. Kita bisa rapat dengan ribuan orang tanpa satu pun di antara yang rapat itu duduk di ruangan yang sama, bahkan semuanya bisa dalam zona waktu yang berbeda.

Mencari informasi semudah menggerakkan ibu jari, pun halnya membagikan informasi tak lebih sulit dari mengupil. Manusia luar biasa tertolong oleh kemajuan teknologi ini. Bagaimana tidak? Orang-orang mendadak menjadi ahli. Caranya mudah, ingin jadi ahli hukum pidana? Buka aplikasi, masuk google, ketik yang dibutuhkan, cari artikel yang sesuai keinginan, salin lalu terapkan. Klik kirim. Anda pun setara Hotman Paris kini, perduli setan anda ini tahu beda KUHP dan KUHAP atau tidak? Ketik riba, cari artikel yang sesuai  kehendak hati anda, salin lalu kirim di grup WA. Tanpa perlu anda baca isinya, anda kini setara Said Aqil Siradj, meski anda tak tahu persis artikel anda itu bicara Riba, Gharar atau Maysir?   

Sepupu dari teman kantor anda yang lama bertanya di grup rekan sejawat kantor yang acapkali berubah jadi grup  WA penyebar motivasi hidup, pertanyaannya tentang PKI. Sejurus kemudian anda sudah mengganti tab menuju mesin pencarian, dan boom! Anda seorang Anhar Gonggong sekarang. Ketika ada anggota grup yang menyodorkan argumen lain, anda tinggal bilang “sejarah sudah diubah”, selesai perkara! Meski seumur hidup, tidak ada buku lain yang dibaca selain buku tugas sekolah dan kuliah yang disuruh guru atau dosen. Itu pun tak pernah  rampung. Oh iya kalau temanmu bicara masalah sumber primer, sekunder atau apalah itu, abaikan saja, itu akal-akalannya saja untuk membantah argumen.

Artikel yang anda bagikan tak perlu sampai usai  anda baca. Cukup judulnya saja. Ya paling jauh sampai paragraf pertama lah. Anda juga tak perlu risau artikel anda kredibel atau tidak. Semua sama saja. Anda benci penguasa? Anda tahu harus ke website mana anda mencari berita. Anda benci  oposisi? Anda tahu harus buka website yang mana kan? Mulai hari ini, tak perlu repot-repot kita suruh anak-anak muda kita untuk sekolah dan belajar, cukup tiru orangtuanya, habiskan waktu di grup WA dan FB, lempar-tangkap artikel. Merasa cerdas dan sudah layak mendakwa si anu salah si fulan keliru. Padahal si anu dan si fulan hidupnya habis untuk mempelajari hal tersebut, dibantah oleh anda yang jebolan magister Universitas Whatsapp Indonesia sekaligus pengasuh pondok pesantren Al-Googliyah. Kini bisa jadi sudah tersemat bagi anda gelar Honoris Causa dari University of Instagram Bidang re-post dan re-snap.

Mulai hari ini, anak-anak kita tidak perlu serius sekolah tinggi-tinggi. Cukup belikan handphone dengan memori yang besar agar bisa menampung konten yang banyak. Juga kuota berlimpah, banyak ilmu kini turun lewat video-video di youtube, yakinlah! Meski tak ada nama pembuatnya, apalagi sanad ilmunya, apa yang disampaikan di youtube 100 % kebenarannya. Oh iya, mereka sengaja mengetikkan narasi di google translate lalu membiarkan mesin itu yang berbicara. Agar kita tidak memperhatikan siapa yang bicara tapi perhatikan apa yang dibicarakan. Meskipun ya tidak perlu sampai selesai kita dengarkan apalagi kita kroscek atau tabayun. Itu tidak perlu, cukup baca judulnya saja, cocok? Langsung share saja bos!

Oh iya di era ini juga kita tidak perlu mendidik anak-anak kita untuk jadi soleh. Mereka yang soleh adalah yang responsif kalau ada postingan sedih-sedih di grup WA kamu, atau kalau mau terlihat paling beriman coba sering-sering menyebarkan ceramah di grup. Jangan lupa mengutuk juga, nanti temanmu suka ada yang membagikan info rusaknya zaman ini, nah jangan sampai terlewat untuk mengeluarkan kata-kata celaan.

Kalau besok lusa gurumu menyampaikan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang kamu baca dari judul artikel yang ada di grup Whatsapp teman-teman SD kamu, bantah! Kalau tidak berani ya diam saja, tak perlu dengarkan penjelasan rincinya, mau guru kamu menyodorkan argumen lengkap dari kitab A, buku B, Pakar C, Ahli D pun lewatkan saja, apa yang ada di artikel berjudul capslock semua itu sudah yang paling benar.


sumber gambar: http://fikrahseorangpemuda.blogspot.com

1 komentar: