Saudaramu Bukan Amfibi Bukan Noktural: Refleksi Akhir Tahun


Cukup lama tidak menulis, karena kesibukan di akhir tahun yang lumayan menyita kesempatan. Sebelum memulai alangkah baiknya kita sejenak mendoakan keselamatan dan kebaikan bagi diri kita di penghujung tahun. Doa juga untuk teman-teman di Banten dan Lampung, semoga yang ditinggalkan tetap tabah. Mereka yang meninggal terlebih dahulu bisa jadi lebih beruntung hidupnya dibanding kita yang akan menyusul.

Menjelang akhir 2018, agaknya banyak hal yang membuat bumi kita makin gerah. Di samping pemanasan global yang isunya kian santer, ditambah hawa tidak enak muncul dari hati kita yang tiap hari menyebar kebencian.

Agaknya tidak ada yang lebih laku akhir-akhir ini kecuali kebencian. Komoditi bernama kebencian itu dijual oleh orang munafik, didistribusi oleh orang dengki, dan dibeli oleh orang bodoh. Pada waktu yang tepat si bodoh naik kasta jadi pendistribusi, bahkan turut jadi penjaja kebencian.

Jika pedagang kaki lima mengganggumu di trotoar—itupun kalau kamu merasa terganggu, kalau orang seperti saya justru senang ada kaki lima, di sana jual-beli nampak lebih humanis ketimbang supermarket—maka penjual kebencian ini akan mengganggumu sampai keruang-ruang yang paling privat, sampai ke lingkaran yang paling dekat denganmu, hingga kamu tidak bisa menghindar. Ia masuk ke grup Whatsapp keluarga besar alumni sekolah dasarmu. Ke akun media sosial yang kamu gembok dan hanya teman-teman dekatmu yang berhubungan, bahkan hingga ke meja makan keluarga besarmu saat sedang kumpul menjelang tahun baru.

Saya yakin banyak yang muak dengan kebencian yang sudah seperti udara ini, ada di mana-mana, namun jika kita membantah A, pasti dihakimi sebagai kubu B. Bela B pasti disebut antek A. Kamu membenarkan informasi hoax saja bisa-bisa disuruh lebih banyak baca buku lagi, padahal yang menyuruhmu itu termasuk kebanyakan orang Indonesia yang menghabiskan sepanjang tahun tanpa satu buku pun habis ia baca. Maka saya yakin banyak orang yang lebih memilih diam. Toh penyanjung A tidak akan menjadi pembela B dengan adu argumen di grup Whatsapp kantor. Pun halnya yang tergila-gila pada B tidak akan menjadi pendukung A lewat ceramah online yang ditautkan di akun medsosmu.

Tak salah jika banyak orang memilih membuka handphone dan mulai melihat akun-akun hiburan, yang receh sekali pun. Candaan yang paling picisan pun tidak apa. Setidaknya menjaga akal sehat agar memilih pemimpin itu karena visi-misi dan track record-nya, bukan karena bisa tidaknya jadi imam solat atau punya tidaknya ibu negara. Belum lagi kalau ada pembela agama yang mulai mengait-ngaitkan bencana dengan pemimpin, atau pengamat musiman yang tiba-tiba fasih betul bicara Orde Baru. Pembela agama bisa jadi tak faham beda ustad dan asatid. Pengamat musiman bisa jadi tak tahu beda Kodam dan Kodim.

Mau nonton TV, isinya drama semua. Kalau bukan, paling sinetron yang berisi artis. Ya berita yang membicarakan artis. Itu jam prime time-nya. Jam-jam lainnya diisi oleh debat. Politisi kubu A diadu dengan politisi kubu B. Paling malas nonton ini, toh kita tahu, si anu mendukung pak anu karena nanti kalo menang jadi dikasih jabatan anunya pak anu, si anu membantu mengklarifikasi pak anu karena dia anunya pak anu. Terus kita mau percaya ketika ada yang bilang “demi bangsa dan negara”? Sudah tidak ada yang hatinya terenyuh mendengar politisi bilang demi bangsa dan negara. Oke, akhirnya saya tetap nonton tv, biasanya pertandingan bola saja. Dilalah ternyata permainan bola juga isinya pura-pura. Makin tak ingin punya tv.

Selepas itu kita harus masih berdebat lagi dengan ucapan selamat natal. Katanya Ma’ruf Amin mengucapkan natal padahal sempat melarang. Saya cari fatwa ternyata MUI tak pernah menfatwakan haram ucapan Natal, kecuali mengikuti ibadahnya. Ya iya jelaslah. Siapa juga mau rajin-rajin ikut beribadah ke tempat ibadah agama lain wong tempat ibadah sendiri juga jarang disambangi. Paling-paling ke masjid kalau lagi perjalanan dan kebelet pipis. Biar gratisan.

Untung Allah Swt. Maha Baik. Terus kenapa repot harus debat hal itu tiap tahun?  Kalau Bilal, kontributor Arrahmah.com, benar dalam mengutip bahwa kyai Ma’ruf mengimbau agar tidak mengucapkan selamat Natal pada penghujung 2012 lalu tapi sekarang justru ia mengucapkan selamat Natal, santai saja memang politik begitu. Sejak kapan memangnya kita punya politikus yang ajeg dalam berpendapat? Maaf pada penggemar kyai Ma’ruf. Siapa saja yang bertarung di arena politik maka hukumnya boleh dipanggil politikus.

Politikus memang begitu, Obama penentang LGBT di kampanyenya sebelum naik presiden A.S. Empat tahun kemudian ia justru pembela LGBT di Amerika. Kenapa bisa demikian? Periode pertama jumah LGBT di negeri Paman Sam sedikit, empat tahun kemudian ceruk suara tak bertuan itu jumlahnya bertambah signifikan. Daripada jadi pemilih saingan dan berpotensi mengalahkan suaranya, lebih baik dirangkul, perduli setan meski harus menjilat ludah sendiri, itu sudah jamak. Kita bahkan tahu koalisi bisa berubah dukungan dalam hitungan kurang dari 24 jam. Seorang politisi bisa berubah pendirian dalam sekejap, lebih cepat dari saya manasin motor di pagi hari sebelum pergi kerja. Bagi sebagian besar mereka yang terpenting adalah dipilih, idealisme nomor sekian.

Mohon maaf sebelumnya. Apa kamu pikir memangnya si A se-islami itu? Atau ia sadar suara silent majority ini tak kena sentuhan kubu B lantas layak untuk dipikat hatinya. Wong dia gak ikut kuliah umumnya tapi kok ikut reuni? Atau kamu yakin memangnya si B ini sebegitu nasionalisnya? Atau sekadar melihat satu-satunya peredam bagi radikalnya gerakan berembel agama itu adalah gagasan cinta tanah air?

Maka di sini kejernihan kita dalam menggunakan akal sehat secara adil harus kita tingkatkan. Saat bencana, kita kesampingkan dulu perdebatan si anu cuman pencitraan, atau bencana gara-gara si anu. Saat bencana, fokus pada korban, galang bantuan, turun tangan membantu atau setidaknya mendoakan.

Saat mencari imam solat, cari yang fasih. Jika si anu tidak fasih mengucap Alfatihah dengan makhrojul huruf yang benar, oh cukup sampai di situ. Tak perlu diikuti dengan ajakan yang lainnya apalagi sampai menjelek-jelekkan. Kita saja kalau ketemu satu sama lain lantas membuat janji pasti bilang insyaallah. Dengan huruf Sya dibaca satu harokat. Padahal mestinya panjang sekali itu kalau mau plek-plek-an sesuai kaidah baca. Yang takbir pas demo juga kadang Allahuakbar-nya salah mad-nya. Lam-nya harus dua harokat, dan Allahuakbar itu mengagungkan Asma Allah, bukan menyalurkan emosi.

Tak perlu juga kita menyibukkan diri mencari dalil untuk mengucap selamat hari raya bagi agama lain hanya untuk disebut toleran. Atau juga mencari dalil pembenaran agar yang lain menganggap negara yang berhutang banyak ini merasa baik-baik saja. Percayalah rakyat sebagian besar tak mau tahu apa saja yang dikerjakan pemimpin di luar sana. Yang pasti-pasti saja seperti akses pendidikan agar merata dan baik, jalanan bagus tidak hanya saat mudik, beras murah,sembako murah, bahan bakar murah, listrik murah. Tok, sampai di situ. Rakyat tak terhibur dengan titel menteri terbaik, penghargaan dari kampus anu-kampus anu. Kamu tak bergelar sekali pun dan tanpa penghargaan satu pun kalau hasil kerjanya dirasa oleh rakyat kecil maka gelar ia adalah negarawan. Nah ini yang sulit, model begini biasanya tak terekspos media yang umumnya overdosis drama itu.

Sekali lagi mari kita gunakan akal kita dengan tepat. Bahwa perkara satu baiknya dipikirkan baik-baik. Ada perkara yang cukup disimpan di memori sementara yang siap dihapus kapan saja. Ada yang harus kita dahulukan empati. Ada yang harus kita dahulukan rasio. Ada yang mesti pakai alat ukur yang pasti. Ada yang boleh pakai kira-kira.  Saya selalu ingat perkataan ini, bahwa sebaiknya kita tetap berlaku adil, bahkan sejak dalam pikiran. Jangan sampai rasa tidak suka kita terhadap seseorang membuat kita berlaku tidak adil terhadapnya. Barangkali dengan pikiran kita yang tenang dan adil bisa sedikit mengurangi kegerahan ini, agar cukup pemanasan global saja yang membuat bumi kita tidak nyaman, jangan ditambah dengan kebencian kita yang bersliweran.       
Sebagai penutup baiknya saya kutip terjemahan Alquran surat al-Hujurat ayat 11:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.(Q.S Al-Hujurat [49]:11)
Poin pertama dari ayat di atas yang saya kira larangan merendahkan dan menertawakan kelompok lain karena bisa jadi kelompok lain lebih baik. Kedua adalah larangan memanggil dengan sebutan yang mengandung ejekan seperti kata-kata cebong, kampret, dan lain sebagainya yang mulai bermunculan belakangan ini. Mari kita coba tulisakan terjemahan di atas. Itu ayat Alquran jelas diatas ijma ulama dan fatwa MUI.

Selamat tahun baru dan semoga di 2019 nanti kita punya cukup hiburan untuk dinikmati. Bukan kebencian untuk saling dengki.

sumber gambar: jurnalapps.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar