Perdamaian dan Infeksi Saluran Perasaan


Alam Saubil

Kegagalan Memahami Perbedaan
Masyarakat majemuk bukanlah sesuatu yang sengaja diatur oleh manusia. Ia mengada atas izin Tuhan, sehingga merupakan sebuah keniscayaan untuk manusia terima dengan lapang dada. Konsekuensinya adalah kejujuran dalam menerima perbedaan. Sebabjika tidak, maka pada akhirnya hanya akan mengakibatkan perpecahan antar umat manusia.

Kondisi kegagalan menerima perbedaan ini rasa-rasanya begitu terasa belakangan ini di kehidupan bermasyarakat kita. Dalam berbagai kesempatan kita menyaksikan bagaimana diskriminasi dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. Penindasan pada kelompok minoritas, maupun penyerangan terhadap seseorang, hingga sikap kriminal yang lain. Meskipun telah diatur hukum-hukum sebagaimana yang kita ketahui, baik itu hukum-hukum dalam agama, maupun hukum yang dibuat oleh negara sebagai konsensus bernegara namun tetap saja kejahatan, diskriminasi dan ketidakadilan itu tumbuh mengakar di tengah masyarakat, mengkristal dan membentuk semacam kelompok-kelompok radikal, maupun perorangan.

Bahkan dalam skala yang jauh lebih besar kelompok yang mengatasnamakan pahaman tertentu dan merasa paling benar ini dengan mudahnya mengkafirkan yang lain. Segala ketidakcocokan dan perbedaan pandangan yang gagal diterima ini sekaligus pemaksaan atas kehendak tertentu melahirkan kekerasan yang terus terjadi.

Perselisihan dan Perdamaian
Dalam perjalanan zaman, dunia ini memang senantisa melahirkan dua kutub besar yang antara satu dengan yang lainnya selalu bertentangan. Kita mengenal ada, semisal kapitalisme dan sosialisme, ada rasionalisme dan empirisme, dalam Islam terkenal dua kutub Mu’tazilah dan Asy’ariah, bahkan sepeninggal Nabi Saw. terpecah dua kutub yang saling merasa sebagai pelanjut estafet kepemimpinannya.

Jika menelisik sejarah dan mencoba merenungi dengan cepat, maka seolah-olah perdamaian itu menjadi hal yang mustahil. Namun benarkah demikian? Jika belum mampu mendamaikan dunia yang begitu luas, bagaimana dengan wilayah sekitar tempat tinggal kita? Tentu  problemnya tidak sekompleks dunia ini. Bagaimana dengan negara kita? Tentu pula bukan hal yang mustahil.
Mendamaikan sesuatu berbeda dengan mengkaji sesuatu. Dalam mengkaji seseorang lebih banyak menggunakan akalnya, namun dalam mendamaikan, ia harus cenderung pada hatinya. Contoh yang sangat sederhana, jika seorang laki-laki dan perempuan ingin bertemu dalam satu titik pemahaman dan mulai membangun hubungan, apakah keduanya mesti mengedepankan akal? Ataukah seharusnya kedua orang ini mengedepankan hati? Saya kira hatilah yang perlu diutamakan.

Kegagalan Merasa Dengan Hati
Banyak orang yang saking kerasnya pada pendirian dan pada akhirnya mengorbankan perdamaian ummat, cenderung gagal dalam merasakan nilai kemanusiaan. Keinginan untuk merebut kekuasaan misalnya, cenderung meredupkan cahaya hati untuk lebih menerima perbedaan. Kegagalan merasa dengan hati ini, membuat perselisian tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik. Karena kultur yang dibangun adalah berdebat yang ujungnya adalah satu pihak menang dan satu pihak kalah. Di sisi lain pihak yang menang tidak menghargai pihak yang kalah, sementara pihak yang kalah pun biasanya tidak mau menerima kekalahannya begitu saja. Problem ini yang terus terjadi, sehingga menimbulkan banyak persoalan-persoalan yang telah disebutkan sekilas di awal tulisan ini.

Padahal Tuhan tidak hanya memberi manusia akal untuk merawat bumi, akal tentu tidak lengkap tanpa hati yang suci. Dan kebanyakan orang memang terjebak pada kearogansian akalnya. Dan menempatkan kebenaran (yang mereka pahami) di atas segalanya, termasuk kemanusiaan. Hal semacam ini, ibaratnya telah terjadi infeksi disaluran perasaan seseorang sehingga mereka sulit mengaktifkan kemampuan merasa untuk keberpihakan pada perdamainan, sementara akalnya senantiasa mengeraskan sikap dan terus melanjutkan keberpihakan pada kesewenang-wenangan, kriminalisasi, kekerasan, dan sebagainya. Tahukah bahwa instrumen terpenting manusia selain akal adalah hati. Hati dengan segala kelembutannya memercikkan cinta dan kasih sayang pada sesama makhluk Tuhan. Ketenangan hati mengikis kegelisahan.

Hati adalah yang paling bisa membuat tenang saat semua hal terasa tidak baik-baik saja. Dengan merawat hati, yakni senantiasa mensucikannya dengan amalan-amalan baik yang mendekatkan diri pada Tuhan maka akal akan tumbuh dalam bimbingan cinta dan kasih yang utuh. Akal sebenarnya buka alat yang jahat, saya pikir semua sepakat dengan itu. Namun, akal tanpa tuntunan hati (cinta dan kasih sayang) adalah sebuah alat yang sangat tajam, terlebih jika memang ia diasah oleh ilmu pengetahuan.

Sehingga akal yang dibiarkan berjalan sendiri, akan keras pada semua yang bersebelahan dengannya. Dengan akal, manusia memperoleh keyakinan yang rasional tentang sesuatu, namun hatilah yang mendudukkannya dalam kedamaian. Kadang ada hal yang benar menurut akal, lalu hati membimbing dan mengarahkannya untuk lebih bijaksana dengan cara mendudukkan kebenaran itu pada tempatnya, karena jika tidak, kebenaran itu bisa jadi malah merugikan dan merusak perdamaian.

Perdamaian Sebagai Tujuan Kemanusiaan
Bukankah Tuhan menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan segala perbedaannya agar kita saling mengenal. Lantas bagaimana berkenalan yang diharapkan Tuhan? Apakah berkenalan itu untuk mengenali kekurangan kelompok tertentu dan menjauhinya atau bahkan memeranginya? Saya kira kita sepakat (bisa jadi ada yang tidak sepakat), jawabannya tentu bukan itu.

Tapi berkenalan yang baik adalah berkenalan yang tulus hingga menimbulkan keakraban yang menggiring pada terciptanya suatu hubungan yang baik. Atau kita lebih sering menyebutnya “perdamaian”. Apakah semua kelompok mesti kita perlakukan sama rata untuk mencapai perdamaian?. Bagi saya, tentu tidak. Dalam bermasyarakat, kita mesti memiliki dua sikap.

Pertama adalah  sikap “ke dalam” dan yang kedua sikap “ke luar”. Yang pertama artinya kita memiliki sikap mempertahankan keyakinan kita seyakin-yakinnya atas apa yang kita yakini dan anggap benar. Semua hal yang berpotensi merusak keyakinan (akidah) kita tentu kita tolak. Namun ada sikap “ke luar”, yakni sikap yang saling menghormati dan menghargai kebebasan orang-orang ataupun kelompok lain.

Tentu selama kebebasan itu tidak melanggar hak dari orang lain ataupun kelompok yang lainnya. Jadi batasan kebebasan kita adalah hak orang lain. Sehingga saat ada orang atau kelompok tertentu yang melanggar hak orang atau kelompok lain, baru kita tolak. Dan tentu hukum Tuhan maupun hukum negara berjalan atas pelanggaran hak itu.

Akhirnya, sebagai umat yang mendambakan perdamaian, maka kita perlu senantiasa merawat akal dengan hati dan menjaga hati dengan akal, serta senantiasa menyebarluaskan perdamaian. Bukan malah menciptakan kegaduhan dengan meneriakkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang memicu perpecahan. Sebab agenda kemanusiaan terbesar umat manusia hidup di dunia ini adalah mewujudkan perdamaian.
[tulisan ini pernah dimuat di qureta.com dan blog pribadi]

*Penulis adalah mahasiswa S2 Universitas Hassanudin, Makassar
 sumber gambar: id.kisspng.com
 

2 komentar: