Membumikan Tauhid


Tauhid adalah unsur terpenting dalam ajaran Islam. Bahkan, jika diperas apa kehendak Alquran, maka akan terbentang dua perintah, yakni beriman kepada Allah Yang Esa (tauhid) dan beramal saleh. Terkadang keduanya terpisah, seperti dalam surat Al-Ikhlas: “Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa, Allah tempat meminta segala sesuatu, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu yang setara dengan-Nya.” yang hanya berisi tentang doktrin ketuhanan, tetapi pada umumnya akan digabung menjadi kesatuan yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan.

Seperti dalam surat Ar-Ra’d ayat 29: “Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” Pun dalam surat Al-A’raf (7: 96): “Jikalau sekiranya penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Sayangnya, umat Islam masih sangat menekankan aspek doktrinal dibandingkan amalannya, sesuatu yang sebenarnya kurang selaras dengan kehendak Alquran yang lebih mengutamakan aspek tindakan. Masih banyak yang gemar berkutat dalam perdebatan panjang seputar konsep tauhid, bahkan sampai ada yang terjerumus pada tindakan berlebihan (ghulluw) hingga meregang nyawa jikalau mendapati ada pihak yang memiliki pemahaman yang berbeda terkait konsep tauhid.

Alih-alih bersikap demikian, senyatanya tauhid perlu dibumikan dalam bentuk-bentuk yang nyata setelah menurunkan prinsip-prinsip utamanya, seperti kesetaraan, sebagaimana termaktub dalam ayat ini: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (al-Hujurat, 49: 13). Alih-alih menilai manusia dari sisi latar belakangnya, dalam ayat ini Allah menyatakan kemuliaan seseorang hanyalah berdasarkan ketakwaannya.

Kedua, adalah prinsip keadilan, seperti tertuang dalam ayat: “Berlakulah dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” (al-Hujurat, 49: 9). Berbuat adil bahkan diperintah kepada orang yang mungkin dibenci: “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kamu mendorong kamu untuk berlaku tidak adil...” seakan hendak menguatkan pernyataan surat al-Hujurat di atas, ayat ini kemudian melanjutkan “Berlakulah dengan adil, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah, 5: 8).

Prinsip ketiga ialah persatuan dan persaudaraan, yang masih dalam surat yang sama: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (al-Hujurat, 49: 10). Keempat, yakni moderasi, seperti dalam firman-Nya: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan.” (al-Baqarah, 2: 143). Prinsip moderasi ini telah mendapat perhatian khusus dari para ulama dunia, terkhusus ketika umat Muslim belakangan ini sedang cenderung memilih sikap yang ekstrem (berlebihan) dan kaku.
Terakhir adalah prinsip musyawarah yang tersimpan dalam surat: “Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun kepada mereka, dan bermusyawarah dengannya dalam urusan tersebut.” (Ali Imran, 3: 159).

Prinsip-prinsip di atas perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang siap pakai, yang tentu saja akan bisa sangat beragam sesuai dengan waktu dan tempat di mana prinsip ini diterapkan. Betapapun demikian, inilah yang dimaksud dengan penjelmaan tauhid (iman) ke dalam manifestasi takwa. Apakah pohon akan dipandang indah jika walaupun memiliki akar yang kuat tetapi tidak ada buahnya?


sumber gambar: ebaba.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar