Bukan Radikalisme, Tapi Intoleransi


Rabu lalu (22/11/18) beberapa anggota School of Peace Bandung mengikuti kegiatan pengkajian agama yang diadakan oleh Halaqah Damai yang bertajuk Radikalisasi Kekerasan dalam Agama di Biara Kongregasi Hati Kudus Yesus (RSCJ), Bandung. Tidak main-main, demi memperingati satu tahun berdirinya komunitas ini, kajian malam itu langsung menggaet cendekiawan Muslim produktif, Dr. Budhy Munawar-Rachman, seorang dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara sekaligus anak kandung ideologis Nurcholish Madjid (Cak Nur), sebagai pembicaranya. 

Di awal dialognya, Budhy langsung memberikan dua tesis besar yang menjadi pegangan besarnya di mana di satu sisi dia menyakini bahwa agama tidaklah mengajarkan kekerasan, dan di sisi lain bersiteguh bahwa masalah besar yang sedang dihadapi oleh umat beragama di Indonesia bukanlah persoalan ekstremisme kekerasan atau radikalisme, melainkan intoleransi.

Intoleransi ini, menurutnya, dapat merasuk ke dalam tubuh umat beragama, khususnya Islam, karena beberapa hal, seperti pemahaman atas teks yang literal-harfiah yang senantiasa dilepaskan dari konteksnya dan yang kedua karena kurangnya interaksi dengan orang yang berbeda keyakinan. Untuk persoalan yang pertama, Budhy menawarkan pembacaan ulang atas teks, khususnya yang terkesan mengandung nilai kekerasan, seperti kata jihad yang telah dipahami secara gegabah oleh sebagian umat Islam sebagai anjuran berperang melawan orang kafir. Padahal istilah ini mengandung makna yang luhur, yakni usaha sungguh-sungguh untuk mencapai sesuatu. 

Karena pemaknaan sesungguhnya yang bersifat umum, maka sebenarnya segala bentuk upaya sungguh-sungguh, selama diniatkan untuk menyenangkan Tuhan, akan mendapatkan restu dari-Nya. Seorang suami yang bekerja keras mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya, seorang guru yang mendidik siswanya, atau bahkan seorang ibu rumah tangga yang mengatur urusan domestik, bisa tergolong ke dalam pengertian jihad yang dikehendaki Islam. Betapapun demikian, Nabi pernah bersabda bahwa jihad akbar, yaitu melawan hawa nafsu, yang termasuk di dalamnya ialah pengejaran spiritual, adalah lebih utama.

Sedangkan untuk persoalan kedua, setelah menyampaikan suatu survei dunia yang menyatakan bahwa umat Islam lebih intoleran dibanding agama lain karena kurangnya intensitas interaksi dengan individu yang berbeda, Budhy menawarkan beberapa solusi, termasuk membudayakan program live in dan kunjungan ke rumah ibadah agama lain (wisata religi). 

Yang pertama berarti umat Muslim perlu menginap selama beberapa waktu di kediaman orang yang berbeda agama dengannya, begitu pun sebaliknya. Dengan begini diharapkan akan muncul pengalaman baru yang positif, yang akan sangat mungkin bisa mengikis prasangka. Adapun yang terakhir diupayakan agar umat suatu agama tertentu setidaknya dapat mengetahui ajaran dan doktrin agama lain langsung dari sumbernya. Langkah lain yang mungkin dapat dilakukan ialah dengan pendekatan-pendekatan kultural yang biasanya lebih menyasar pada persoala sosial sehari-hari.  

Di atas itu semua, tanpa muluk-muluk, intoleransi bisa dientaskan pertama-tama oleh diri sendiri, yaitu dengan menghidupkan pemahaman keagamaan yang moderat, yang dalam Islam dikenal sebagai wasaá¹­iyyah sebagaimana tertuang dalam surat Al-Baqarah ayat 143 yang tiada disangka pun menempati urutan tengah dari jumlah total yang berjumlah 286. Aplikasi nyata dari sikap moderat ini mungkin dapat terlihat padanannya dalam aksi para ulama besar dunia yang menyampaikan surat terbuka kepada Paus sekaligus seluruh umat Kristen yang diberi judul A Common Word Between Us and You, sebuah ajakan kesepakatan untuk mencintai Tuhan dan sesama. 

*dimuat di Harin Umum Pikiran Rakyat edisi 4/12/2018

sumber gambar: sinarharapan.net

1 komentar: