Aksi Bela Membela


Sella Rachmawati
Saya kagum terhadap ghirah kemanusiaan dan atau keagamaan yang sedang merasuk pada tubuh teman-teman kita. Aksi bela membela terus digalakkan, mereka turun ke jalan menyuarakan keresahan yang mereka rasakan.

Saya juga kagum, dalam setiap aksinya teman-teman kita senang memekikkan kalimat takbir berulang kali, tanpa kenal lelah. Terlebih saya kagum pada mereka yang memahami makna kalimat takbir itu sendiri.

Jumat lalu, ada aksi membela Etnis Ughyur Cina di Kota Bandung (terlepas apakah konflik tersebut terkait dengan agama atau politik pemerintah di negeri Tirai Bambu tersebut) yang dilakukan oleh mereka yang memiliki ghirah kemanusian dan atau keagamaan itu. Lagi-lagi saya dibuat kagum oleh mereka karena jika saya ikut ke dalamnya mungkin beberapa kali saya akan mengeluh, panas lah, capek lah, belum lagi jika aksi tidak mendapat respon dari pihak manapun mungkin saya akan merasa apa yang saya lakukan akan sia-sia dan akhirnya akan membuat saya kecewa lantas menyalahkan pihak yang menjadi sasaran dari aksi tersebut. Saya takut jika niat awalnya baik tapi berakhir keluh kesah atau bahkan sampai ada pihak yang merasa dirugikan dari aksi bela yang saya lakukan.

Satu hal lagi yang membuat saya sejenak berpikir, jika saya melakukan aksi bela apa iya murni karena ingin membela, apa iya ingin mendapat kasih sayang Allah, atau hanya ingin dilihat baik oleh sesama, atau mungkin ingin dilihat hebat oleh bangsa lain, ingin dianggap besar oleh kelompok lain? Kok saya takut. Takut niat di dalam hati yang paling dalam saya masih punya kepentingan dunia.

Sebenarnya diri kita lah yang sejatinya perlu dibela, bela diri sendiri dari niat yang tidak baik, membela dari hal-hal yang negatif yang bisa menjurumuskan diri dari bermaksiat. Atau belalah saudara-saudara sebangsa terdekat kita, saudara-saudara sebangsa kita yang terkena musibah dan kesusahan. Bela dengan segenap hati dan jiwa yang bersih dan tulus. Bantulah dengan tenaga atau dengan doa, bela lah dengan mengirimkan sedikit rezeki yang kita punya. Jangan sampai memperkeruh suasana dengan melemparkan perkataan tak mengenakan di telinga. Kalau kita bisa membela saudara kita di luar bangsa kita, tidakkah kita mau beraksi membela saudara sebangsa kita terlepas apapun suku dan agamanya? Wallahu’alam.

sumber gambar: mjwjtangerang.wordpress.com 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar