Sejak kecil kita (umat Muslim) telah terbiasa untuk dicecoki, baik oleh orang tua, guru, ustaz, maupun lingkungan, suatu pemahaman bahwa umat agama lain, khususnya Kristen dan Yahudi—kita tidak terlalu menganggap Hindu dan Buddha karena mereka tidak terlalu memiliki ikatan emosional dan historis yang kuat dengan kita—adalah orang-orang yang jahat, baik karena merasa bahwa mereka memiliki agenda-agenda terselubung—yang biasa dipahami secara sempit untuk meng-kristenkan atau meng-yahudikan dunia. Itu yang paling eksremnya. Pandangan yang lebih lunak tetap melihat mereka sebagai kelompok yang “buruk” karena senantiasa mengekspresikan kehidupan yang serba bebas, sesuatu yang menurut kita akan begitu membahayakan akidah. 

Untungnya kenyataan di atas tidak melulu berlinier dengan sikap sosial kita, bahkan segala macam stigma negatif tersebut, yang sepertinya sudah mengurat-akar di tubuh umat Muslim, tidak terlihat dalam realitas sosial di kehidupan keluarga saya. 

Dari lahir hingga lulus SMA keluarga saya tinggal di Bekasi dan kami berada dalam satu komplek dengan beberapa keluarga Kristen yang tentu saja meniscayakan suatu interaksi. Tidak seperti dugaan kalangan pesimistik berkenaan hubungan damai lintas iman, keluarga kami malah memiliki rentetan pengalaman yang bisa dikatakan harmonis dan rukun. 

Di masa kecilnya, adik perempuan saya sering bergaul dengan seorang janda Kristen, sering main ke kediamannya, diajak jalan-jalan, dan dibelikan jajanan bahkan hadiah. Ibu saya suka bergaul dengan tetangga-tetangga Kristen, tidak jarang juga merepotkan mereka. Malah, adik laki-laki saya bergaul setiap sorenya kebanyakan dengan teman-temannya yang Kristen, baik di dalam rumah mereka maupun di luar, karena memang merekalah yang sebaya dengan adik saya.

Adapun saya sendiri, sejak SMA mempunyai geng, kumpulan anak-anak culun (memang saya culun waktu itu, entah sekarang), yang dua di antara mereka adalah penganut Kristen. Namanya juga geng, pasti bukan sekadar teman. Kira-kira bisa dibilang sahabat, meski ga dekat-dekat amat sih. 

Lalu ketika di bangku perkuliahan, saya ditakdirkan untuk bertemu dengan teman-teman Kristen Advent. Jika di masa-masa sebelumnya, saya hanya bergaul dengan umat Kristiani secara sosial, di sini saya mulai mengenal dan melihat secara langsung praktik-praktik kesalehan mereka, baik itu murni ibadah sakral (ritual) maupun ibadah sosial. Saking intensnya pergaulan kami, saya bahkan sempat mengikuti kegiatan “missionary” mereka, suatu program sosial yang telah disalahpahami oleh mayoritas umat Muslim sebagai suatu kegiatan pemurtadan. Meskipun, bisa jadi pula dalam lapangan memang terjadi “pemaksaan-pemaksaan”, sesuatu yang sebenarnya juga bertentangan dengan ajaran Kristen itu sendiri. 

Interaksi yang dianggap sensitif oleh (mungkin) sebagian besar umat Muslim ini ternyata terus berlanjut hingga akhirnya saya bertemu dengan teman-teman Kristen (dan Katolik, serta mungkin denominasi lainnya) di komunitas Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC). Di sinilah saya mulai belajar tentang kekristenan secara akademis dan mendalam, karena disampaikan oleh orang-orang yang berkompeten di bidangnya. Tetapi bukan hanya belajar, tetapi juga bergaul dengan manusia-manusianya. Di tempat ini pula saya memiliki pengalaman paling banyak berjumpa dengan teman-teman Kristiani. Belakangan hari, saya pun mengikuti School of Peace Bandung (Sekodi) dan Halaqah Damai. Yang terakhir disebut, kegiatan seringkali dilakukan di RSCJ Bandung, tempat pelayanan sosial para suster-suster Kristen. 

**

Dari adanya pengalaman-pengalaman ini tentu saja berdampak banyak terhadap pemahaman saya tentang agama Kristen dan umatnya, yang konsekuensi logisnya wajar sekali jika saya akan memiliki pemahaman yang berbeda dengan kebanyakan umat Muslim, apalagi dengan mereka yang tidak pernah “bergaul” dengan yang berbeda. Dan dari pengalaman ini, saya hendak menyimpulkan beberapa hasilnya.

Banyak sekali umat Kristen yang saleh vertikal lagi saleh horizontal, tetapi perlu diakui bahwa ada pula di antaranya yang “buruk” atau “jahat”, yang bertindak kriminal, atau melakukan tindakan-tindakan amoral, setidaknya jika ditinjau menurut perspektif nilai-nilai ketimuran atau kacamata Islam, tetapi hal itu bukan berarti tidak kita temukan pula di tubuh umat Muslim, juga umat agama lain.  

Saya juga menyadari bahwa tidak sedikit dari orang Kristen yang memiliki keberpihakan yang kuat kepada sesuatu yang memang mempunyai ikatan emosional lebih dekat dengan mereka, seperti pada kasus Ahok, dll. Saya juga menyadari tidak sedikit pula umat Kristen yang tidak mau memahami keragaman di dalam umat Islam bahwa umat Islam itu tidak monolitik, di dalamnya ada yang begitu taat hingga memiliki kecenderungan kaku dan kehati-hatian yang begitu kuat, waspada yang berlebihan kepada yang berbeda agama maupun mazhab, tetapi ada pula yang moderat, yang liberal, bahkan yang begitu dekat dengan umat agama apa pun. Sayangnya hal seperti hal ini kurang dipahami, seakan umat Kristen hanya mau umat Islam itu satu corak, yaitu kira-kira yang se-frame pula dengannya. Sebagai contoh sederhana, ada stigma kalau tidak mengucapkan selamat natal maka akan dicap sebagai intoleran. 

Dari hal ini sebenarnya saya ingin mengatakan bahwa bukan agama yang dominan mewarnai kehidupan kita, meskipun hal itu dalam prinsip-prinsipnya mungkin saja terjadi, tetapi sebaliknya, agama yang kita anut akan sesuai dengan karakteristik kepribadian kita. Contoh sederhana, redaksi amar makruf nahi munkar (mengajurkan kebaikan sembari menolak keburukan) akan dipahami secara berbeda oleh dua orang yang memiliki kepribadian yang berbeda. 

Demikianlah beberapa refleksi saya yang ditelurkan dari pengalaman hidup saya berjumpa dengan teman-teman Kristiani. Harapan saya tidak muluk-muluk, semoga di tahun selanjutnya kita bisa lebih saling memahami keberagaman dan menghargai perbedaan yang ada di dalam internal agama teman kita yang berbeda (sekali lagi, tidak ada monolitik dalam ekspresi keberagamaan di dalam setiap tubuh satu agama tertentu), tak perlu memaksakan kita harus memiliki frame yang sama atas semua persoalan. 


Jika tulisan ini terkesan menasihati umat Kristiani, tetapi saya pun tak menutup pemikiran bahwa tidak sedikit pula di antara mereka yang begitu saleh, inklusif, tidak mudah menghakimi, bahkan terhadap golongan yang terkesan “sangar”. Damai untuk kita semua.   
 
sumber gambar: thenational.ae

Alam Saubil

Kegagalan Memahami Perbedaan
Masyarakat majemuk bukanlah sesuatu yang sengaja diatur oleh manusia. Ia mengada atas izin Tuhan, sehingga merupakan sebuah keniscayaan untuk manusia terima dengan lapang dada. Konsekuensinya adalah kejujuran dalam menerima perbedaan. Sebabjika tidak, maka pada akhirnya hanya akan mengakibatkan perpecahan antar umat manusia.

Kondisi kegagalan menerima perbedaan ini rasa-rasanya begitu terasa belakangan ini di kehidupan bermasyarakat kita. Dalam berbagai kesempatan kita menyaksikan bagaimana diskriminasi dan ketidakadilan terjadi di mana-mana. Penindasan pada kelompok minoritas, maupun penyerangan terhadap seseorang, hingga sikap kriminal yang lain. Meskipun telah diatur hukum-hukum sebagaimana yang kita ketahui, baik itu hukum-hukum dalam agama, maupun hukum yang dibuat oleh negara sebagai konsensus bernegara namun tetap saja kejahatan, diskriminasi dan ketidakadilan itu tumbuh mengakar di tengah masyarakat, mengkristal dan membentuk semacam kelompok-kelompok radikal, maupun perorangan.

Bahkan dalam skala yang jauh lebih besar kelompok yang mengatasnamakan pahaman tertentu dan merasa paling benar ini dengan mudahnya mengkafirkan yang lain. Segala ketidakcocokan dan perbedaan pandangan yang gagal diterima ini sekaligus pemaksaan atas kehendak tertentu melahirkan kekerasan yang terus terjadi.

Perselisihan dan Perdamaian
Dalam perjalanan zaman, dunia ini memang senantisa melahirkan dua kutub besar yang antara satu dengan yang lainnya selalu bertentangan. Kita mengenal ada, semisal kapitalisme dan sosialisme, ada rasionalisme dan empirisme, dalam Islam terkenal dua kutub Mu’tazilah dan Asy’ariah, bahkan sepeninggal Nabi Saw. terpecah dua kutub yang saling merasa sebagai pelanjut estafet kepemimpinannya.

Jika menelisik sejarah dan mencoba merenungi dengan cepat, maka seolah-olah perdamaian itu menjadi hal yang mustahil. Namun benarkah demikian? Jika belum mampu mendamaikan dunia yang begitu luas, bagaimana dengan wilayah sekitar tempat tinggal kita? Tentu  problemnya tidak sekompleks dunia ini. Bagaimana dengan negara kita? Tentu pula bukan hal yang mustahil.
Mendamaikan sesuatu berbeda dengan mengkaji sesuatu. Dalam mengkaji seseorang lebih banyak menggunakan akalnya, namun dalam mendamaikan, ia harus cenderung pada hatinya. Contoh yang sangat sederhana, jika seorang laki-laki dan perempuan ingin bertemu dalam satu titik pemahaman dan mulai membangun hubungan, apakah keduanya mesti mengedepankan akal? Ataukah seharusnya kedua orang ini mengedepankan hati? Saya kira hatilah yang perlu diutamakan.

Kegagalan Merasa Dengan Hati
Banyak orang yang saking kerasnya pada pendirian dan pada akhirnya mengorbankan perdamaian ummat, cenderung gagal dalam merasakan nilai kemanusiaan. Keinginan untuk merebut kekuasaan misalnya, cenderung meredupkan cahaya hati untuk lebih menerima perbedaan. Kegagalan merasa dengan hati ini, membuat perselisian tidak dapat diselesaikan dengan baik-baik. Karena kultur yang dibangun adalah berdebat yang ujungnya adalah satu pihak menang dan satu pihak kalah. Di sisi lain pihak yang menang tidak menghargai pihak yang kalah, sementara pihak yang kalah pun biasanya tidak mau menerima kekalahannya begitu saja. Problem ini yang terus terjadi, sehingga menimbulkan banyak persoalan-persoalan yang telah disebutkan sekilas di awal tulisan ini.

Padahal Tuhan tidak hanya memberi manusia akal untuk merawat bumi, akal tentu tidak lengkap tanpa hati yang suci. Dan kebanyakan orang memang terjebak pada kearogansian akalnya. Dan menempatkan kebenaran (yang mereka pahami) di atas segalanya, termasuk kemanusiaan. Hal semacam ini, ibaratnya telah terjadi infeksi disaluran perasaan seseorang sehingga mereka sulit mengaktifkan kemampuan merasa untuk keberpihakan pada perdamainan, sementara akalnya senantiasa mengeraskan sikap dan terus melanjutkan keberpihakan pada kesewenang-wenangan, kriminalisasi, kekerasan, dan sebagainya. Tahukah bahwa instrumen terpenting manusia selain akal adalah hati. Hati dengan segala kelembutannya memercikkan cinta dan kasih sayang pada sesama makhluk Tuhan. Ketenangan hati mengikis kegelisahan.

Hati adalah yang paling bisa membuat tenang saat semua hal terasa tidak baik-baik saja. Dengan merawat hati, yakni senantiasa mensucikannya dengan amalan-amalan baik yang mendekatkan diri pada Tuhan maka akal akan tumbuh dalam bimbingan cinta dan kasih yang utuh. Akal sebenarnya buka alat yang jahat, saya pikir semua sepakat dengan itu. Namun, akal tanpa tuntunan hati (cinta dan kasih sayang) adalah sebuah alat yang sangat tajam, terlebih jika memang ia diasah oleh ilmu pengetahuan.

Sehingga akal yang dibiarkan berjalan sendiri, akan keras pada semua yang bersebelahan dengannya. Dengan akal, manusia memperoleh keyakinan yang rasional tentang sesuatu, namun hatilah yang mendudukkannya dalam kedamaian. Kadang ada hal yang benar menurut akal, lalu hati membimbing dan mengarahkannya untuk lebih bijaksana dengan cara mendudukkan kebenaran itu pada tempatnya, karena jika tidak, kebenaran itu bisa jadi malah merugikan dan merusak perdamaian.

Perdamaian Sebagai Tujuan Kemanusiaan
Bukankah Tuhan menciptakan kita bersuku-suku, berbangsa-bangsa dengan segala perbedaannya agar kita saling mengenal. Lantas bagaimana berkenalan yang diharapkan Tuhan? Apakah berkenalan itu untuk mengenali kekurangan kelompok tertentu dan menjauhinya atau bahkan memeranginya? Saya kira kita sepakat (bisa jadi ada yang tidak sepakat), jawabannya tentu bukan itu.

Tapi berkenalan yang baik adalah berkenalan yang tulus hingga menimbulkan keakraban yang menggiring pada terciptanya suatu hubungan yang baik. Atau kita lebih sering menyebutnya “perdamaian”. Apakah semua kelompok mesti kita perlakukan sama rata untuk mencapai perdamaian?. Bagi saya, tentu tidak. Dalam bermasyarakat, kita mesti memiliki dua sikap.

Pertama adalah  sikap “ke dalam” dan yang kedua sikap “ke luar”. Yang pertama artinya kita memiliki sikap mempertahankan keyakinan kita seyakin-yakinnya atas apa yang kita yakini dan anggap benar. Semua hal yang berpotensi merusak keyakinan (akidah) kita tentu kita tolak. Namun ada sikap “ke luar”, yakni sikap yang saling menghormati dan menghargai kebebasan orang-orang ataupun kelompok lain.

Tentu selama kebebasan itu tidak melanggar hak dari orang lain ataupun kelompok yang lainnya. Jadi batasan kebebasan kita adalah hak orang lain. Sehingga saat ada orang atau kelompok tertentu yang melanggar hak orang atau kelompok lain, baru kita tolak. Dan tentu hukum Tuhan maupun hukum negara berjalan atas pelanggaran hak itu.

Akhirnya, sebagai umat yang mendambakan perdamaian, maka kita perlu senantiasa merawat akal dengan hati dan menjaga hati dengan akal, serta senantiasa menyebarluaskan perdamaian. Bukan malah menciptakan kegaduhan dengan meneriakkan kata-kata atau melakukan perbuatan yang memicu perpecahan. Sebab agenda kemanusiaan terbesar umat manusia hidup di dunia ini adalah mewujudkan perdamaian.
[tulisan ini pernah dimuat di qureta.com dan blog pribadi]

*Penulis adalah mahasiswa S2 Universitas Hassanudin, Makassar
 sumber gambar: id.kisspng.com