Pendidikan yang Tidak Merdeka


Gelar Riksa Abdillah
Sejak kecil kita diperintahkan untuk mengikuti peraturan, mewarnai tidak boleh keluar garis, menjawab harus selalu sesuai yang ada di buku, dan sebagainya. Semua hal itu ditujukan untuk membuat kita menjadi warga yang baik di masyarakat, siapa saja yang melawan akan dicap sebagai anak nakal dan pembangkang. Siapa saja yang nakal tidak akan memiliki masa depan yang cerah.

Sayangnya, semua hal itu berawal dari sekolah, sistem pendidikan di sekolah ternyata tidak berhasil membebaskan para siswanya. Inilah paradoksnya, Ki Hajar Dewantara menghendaki sekolah memberikan pendidikan yang membebaskan, tetapi yang terjadi adalah pengekangan-pengekangan dalam bentuk kepatuhan. Sekolah seharusnya membebaskan, tetapi setiap orang harus berseragam dengan alasan kesetaraan, padahal pada kenyataannya masyarakat memang tidak setara. Sekolah seharusnya membiarkan setiap murid menemukan bakat dan kecenderungannya, tetapi sistem di sekolah mengharuskan semua siswa mempelajari hal yang sama.

Saya tidak ingin mempermasalahkan soal kebijakan kurikulum atau kemampuan guru dalam mengajar siswa yang berbeda-beda. Tetapi alih-alih menjadi tempat yang menyenangkan, sekolah telah berubah menjadi semacam penjara bagi anak-anak. Baik penjara bagi pikirannya, atau pun penjara bagi badannya. Dunia dan sistem kita menghendaki hal itu, karena itulah sekolah tidak lagi membebaskan.

Persoalannya adalah, sistem pendidikan di Indonesia tidak pernah mengubah gayanya dari sistem yang ada sejak abad tujuh belas silam. Sistem di mana guru mengajar dengan siswa di dalam kelas seperti sekarang ini adalah sistem yang diciptakan Inggris dalam revolusi industri. Inggris membutuhkan sumber daya manusia yang bisa menulis dengan baik dan berhitung cepat, juga bisa melakukan semua tugas dengan tepat dan tuntas.
Oleh karena itu, diciptakanlah sistem pendidikan yang mendukung semua tujuan tersebut, yaitu sistem yang melatih siswa untuk mampu melaksanakan tugas seperti apa yang diminta. Mereka harus bisa bekerja cepat, secara verbal dan matematis, karena itu yang dibutuhkan industri pada saat itu. Sekolah pada saat itu didirikan untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai di dunia industri. Sayangnya, ketika kebutuhan zaman sudah berbeda, sistem tersebut tetap tinggal sampai sekarang, bahkan diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Sebelum revolusi industri berlangsung, kota yang dianggap paling maju peradabannya salah satunya adalah Baghdad, ketika dipimpin oleh Harun Al Rashid. Ketika itu ilmu pengetahuan mencapai puncaknya, seluruh ilmuwan dan guru berkumpul di sana, dan ke sanalah semua pelajar menuju. Sistem yang dipakai di sana adalah sistem kontrak. Satu murid mencari satu guru yang ia anggap mampu memenuhi kebutuhan ilmunya kemudian ia meminta pelajaran sejumlah waktu tertentu dan capaian tertentu. Setelah kontrak terjalin, si guru akan mulai mengajari si murid segala yang ia perlukan menyesuaikan dengan kemampuan si murid dan metode si guru.

Seusai si murid menyelesaikan pelajarannya, gurunya akan menerbitkan ijazah. Itulah surat tanda seseorang telah menyelesaikan pelajaran dan memiliki kompetensi tertentu, serta penanda bahwa ia telah belajar dari seorang guru yang telah diakui kecerdasan dan keluhuran pengetahuannya. Sistem ini menuntut murid mendatangi guru, murid berhak menentukan dirinya ingin mempelajari apa, sehingga setiap murid akan mempelajari sesuatu yang ia minati. Hal ini mendorong guru untuk mempersiapkan murid dengan kurikulum yang berbeda-beda, para guru akan berusaha mengangkat pertumbuhan para murid dengan kurikulum yang berbeda-beda.

Itulah salah satu contoh pendidikan yang membebaskan. Ki Hajar Dewantara ingin menciptakan sebuah sistem yang serupa, namun dengan semangat yang berbeda. Beliau menghendaki agar para murid tidak hanya melepaskan diri dari belenggu penjajahan badan dan harta, tetapi juga memerdekakan diri dari perbudakan pikiran. Sebuah pemikiran yang menempatkan pribumi setara dengan anjing harus dihapuskan. Karena itulah para anak Indonesia perlu dibekali dengan pengetahuan. Beliau menghendaki setiap anak menjadi manusia yang utuh, yang berhak menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak berada di bawah penjajahan dan pengaruh siapa pun.

Gagasan Ki Hajar Dewantara itu ia tuangkan dalam pendirian sekolah taman siswa, di mana sesuai namanya, tempat itu adalah arena bermain bagi orang-orang yang mau belajar. Entah bagaimana, kita pada akhirnya tidak menyerap semangat tersebut dan memilih sistem yang mencetak para pekerja teladan. Entah karena para guru ingin lebih mudah mengajar, entah karena para penguasa menginginkan manusia-manusia penurut, entah karena kita sengaja dibodohkan untuk sebuah tujuan yang sistematis, entah.

Namun yang jelas, sekolah telah mengubah pendidikan menjadi sesuatu yang tidak lagi menyenangkan, sekolah mengubah pendidikan menjadi barang dagangan, sekolah malah mengubah pendidikan menjadi alat pengikat kemerdekaan siswa.

sumber gambar: ibudanku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar