Menyegarkan Kembali Pergerakan Mahasiswa

Jika kita pernah mengenyam bangku perkuliahan, pasti kita pernah mendengar tentang gerakan mahasiswa. Di mulai saat orientasi pengenalan lingkungan kampus, presiden mahasiswa akan berorasi dengan gaya agitasi, bahwa tugas seorang mahasiswa bukan hanya belajar.

Mahasiswa adalah agen perubahan, mahasiswa harus membela rakyat karena biaya perkuliahan mahasiswa disubsidi oleh rakyat. Mahasiswa tak boleh apatis, mahasiswa harus peka dengan isu-isu kebangsaan. Pidato diakhir dengan pekik hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Untuk menambah semangat didendangkanlah lagu-lagu perjuangan, wahai kalian yang rindu kemenangan, wahai kalian yang turun ke jalan.

Kemudian ada di antara kita yang memutuskan menjadi aktivis mahasiswa, baik di organ internal seperti BEM, maupun organ eksternal seperti IMM, HMI, PMII, KAMMI, GMNI dll. Ada aktivitas yang sering dilakukan oleh aktifis gerakan mahasiswa, yakni demonstrasi. Tentu saja demonstrasi pun tak sekedar demonstrasi, namun didahului oleh kajian yang melahirkan rilis pernyataan sikap.

Demonstrasi ada yang di dalam kampus memperjuangkan kepentingan para mahasiswa, ada juga yang di jalanan memperjuangkan kepentingan rakyat. Khusus aksi demonstrasi jalanan senantiasa terngiang di kalangan aktifis mengenai romantisme gerakan mahasiswa. Bagaimana gerakan mahasiswa dapat menumbangkan beberapa rezim yang diktator dan menindas. Romantisme ini senantiasa diceritakan dalam training-training maupun dalam orasi-orasi guna membakar semangat para peserta aksi.

Pertanyaannya kemudian seberapa berpengaruhkah gerakan mahasiswa dalam ranah kemahasiswaan dan kebangsaan hari ini? Dalam ranah kemahasiswaan sampai hari ini gerakan mahasiswa senantiasa relevan guna mengawal kebijakan terkait kepentingan mahasiswa di kampus.

Gerakan mahasiswa dapat menjadi penyalur aspirasi mahasiswa atau sebagai control bagi pimpinan kampus agar tidak korup dalam menjalankan pengelolaan kampus. Adapun dalam ranah kebangsaan atau lebih spesifik soal kebijakan publik, gerakan mahasiswa masih juga punya peran untuk mengawal bahkan menegur aparatur pemerintahan agar menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Tentu saja seorang aktifis mahasiswa seharusnya punya jaringan orang dalam yang dari sana bisa dapat data yang akurat saat melakukan aksi massa.

Sayangnya beberapa waktu yang lalu beredar rilis dari salah satu kelompok gerakan mahasiswa di mana daftar pustaka dan tabel dalam rilis tersebut menjadi bahan tertawaan fanpage shitposting mahasiswa. Daftar pustaka yang seyogyanya berisi jurnal atau minimal buku namun hanya diisi dengan tautan-tautan media online bahkan tautan file di sebuah komputer.

Diagram yang disajikan pun terkesan masih mentah. Hal ini berimplikasi kepada aksi-aksi massa yang diisi dengan konten-konten yang klise, ujung-ujungnya adalah turunkan presiden. Tugas gerakan mahasiswa seyogyanya adalah mengontrol kinerja pemerintah termasuk presiden. Dalam bahasa yang kasar kita bisa bilang, “Eh presiden, gue udah bayar pajak sama lo, lo kerja yang bener donk!, kalau kerja lu gak bener nanti rakyat gak akan milih lu lagi pemilu selanjutnya!”. Ini adalah ilustrasi yang benar bagaimana gerakan mahasiswa menjadi kekuatan control social.

Namun yang tidak relevan jika dalam gerakan mahasiswa ada tuntutan bahwa presiden harus turun atau mundur. Tanpa diminta pun presiden akan mundur, nanti kalau pemilu tak terpilih lagi atau kalau sudah dua periode. Tuntutan agar presiden turun hanya relevan manakala system demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, misalnya ada presiden yang mendaulat diri seumur hidup. Atau ada presiden yang berkuasa sampai 32 tahun dan tidak beres masa jabatannya.

Gerakan mahasiswa juga harus dengan tegas menjelaskan platform atau ideologinya, misalnya ideologi gerakan mahasiswa hari ini adalah social democrat (sosdem). Sebuah ideologi sosialistik yang tak sampai jatuh kepada komunisme, ideologi ini dianggap paling sesuai dengan undang-undang dasar kita.

Saat platform gerakan sudah jelas, maka semua pemikiran dan sikap gerakan mahasiswa dibangun berdasarkan ideologi ini. Jika platform gerakan mahasiswa tidak jelas maka akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan penguasa maupun oposisi. Tentu saja di era keterbukaan seperti sekarang ideologi gerakan mahasiswa tak harus monolitik. Misalnya muncul ideologi mahasiswa dengan Islamisme sebagai basis pejuangan seperti yang ditunjukan Gema Pembebasan.

Muncul juga gerakan mahasiswa walau dalam bentuk kelompok studi dengan ideologi liberalisme atau libertarianisme sebagai platform. Hal ini membuat gerakan mahasiswa semakin menarik karena tidak monolitik secara ideologi.

Terakhir yang harus senantiasa dijaga dari gerakan mahasiswa adalah independensi. Hal ini relatif mudah dipelihara di tingkat grassroot namun semakin sulit di tingkat yang lebih tinggi. Jikalaupun tak bisa 100% bersih dari kepentingan-kepentingan di sekitarnya namun janganlah benar-benar melacurkan gerakan mahasiswa hanya demi kepentingan pribadi segelintir pengurusnya.

sumber gambar: jurnalkompatriot.wordpress.com

1 komentar: