Krisis Adab Siswa


Dunia pendidikan kembali dirundung pilu. Betapa tidak, tersebar luas video Pak Joko Susilo, seorang guru Gambar Teknik Otomotif di SMK NU 03 Kaliwungu, Kendal, yang mendapatkan perlakuan tak beradab dari murid-muridnya. Meskipun menurut penuturan berbagai pihak bahwa hal tersebut hanyalah sebuah tindakan bercanda yang keterlaluan, tetapi jelas terlihat di dalam video tersebut Pak Joko terkesan mendapat perlakukan “pengeroyokan”. 

Kasus senada, bahkan mungkin lebih ekstrem, pernah juga terjadi di awal tahun 2018 di mana Bapak Ahmad Budi Cahyono, guru honorer Kesenian di SMAN 1 Torju, Kabupaten Sampang, menjadi korban kekerasan dari muridnya sendiri yang menyebabkan nyawanya melayang. Satu tahun yang lalu ada Ibu Rahayu, guru SMAN 1 Kubu Raya, Kalbar, yang dipukul oleh muridnya dengan menggunakan kursi. 

Kita juga tidak lupa degan menyebarnya video di tahun 2016 seorang murid Sekolah Dasar yang berani menantang gurunya ketika sedang diberi nasihat. “Lawan badan aku.”, katanya di sela-sela video tersebut. Walaupun belum ada survei tentang kekerasan atau perlakuan negatif terhadap guru, tetapi sepertinya beberapa peristiwa yang telah muncul di permukaan bisa dianggap sebagai fenomena gunung es yang berarti sebenarnya kasus-kasus serupa banyak terjadi, hanya saja belum terekspos luas.

Murid-murid yang diharapkan dapat menjadi pribadi yang berakhlak mulia, sebagaimana tertuang dalam tujuan pendidikan nasional, belakangan malah menunjukkan sikap yang sebaliknya. Tentu saja kejadian ini sangat tidak diharapkan, baik dari sudut pandang penilaian kultural maupun agama. Dan sebelum kejadian-kejadian memilukan ini menular bahkan membudaya, maka harus ada upaya-upaya serius yang perlu dilakukan oleh semua elemen yang masih memiliki keterkaitan dengan dunia pendidikan, mulai dari pihak sekolah, pemerintah, orang tua murid, hingga lingkungan yang mengitarinya.

Setidaknya ada tiga pendekatan yang dapat dilakukan oleh elemen-elemen yang disebut di atas agar rantai tindak keburukan ini dapat terputus. Yang pertama melalui pendekatan kultural. Yang dimaksud kultural dalam konteks ini adalah budaya-budaya ketimuran. Dewasa ini, khususnya generasi milenial hampir tercerabut dari akar kebudayaan sejatinya. Mereka tidak mengenal tata lakon, kebiasaan, tata krama yang sudah dipelihara oleh leluhur masyarakat Indonesia dan cenderung mudah menyerap dan meniru budaya asing tanpa melakukan filterisasi. Akibatnya terjadi benturan-benturan yang tak terelakkan. Oleh karenanya, kita perlu kembali membangkitkan nilai-nilai ketimuran, seperti menghormati orang yang lebih tua, bersikap tenggang rasa, bergotong-royong, toleransi, dan lain sebagainya. 

Kedua, adalah pendekatan keagamaan. Meskipun berbeda-beda dalam tataran keyakinan, agama apa pun yang ada di Indonesia memiliki nilai-nilai universal yang disepakati bersama yang salah satunya ialah berkenaan dengan adab dalam hal menuntut ilmu. 

Karena menganggap ilmu sebagai sesuatu yang sakral, suci, bahkan cahaya, maka mereka sangat menekankan adab dalam memperoleh ilmu, khususnya adab kepada si pemilik ilmu, yang dalam hal ini adalah guru. 

Saking mulianya ilmu, dalam Islam baik penuntut ilmu maupun pengajar dianjurkan untuk berwudhu terlebih dahulu, yang substansinya  ialah perlu melakukan penyucian diri sebelum menuntut ilmu. Kitab ta’lim at-ta’lim bahkan telah menjadi pelajaran wajib bagi hampir seluruh pondok pesantren. 

Terakhir ialah melalui pendekatan psikologi. Mengapa seorang anak/pelajar bisa sampai melakukan tindakan buruk kepada gurunya harus ditinjau dari segi psikologinya. Yang bersangkutan biasanya memiliki kepribadian yang impulsif sehingga mudah untuk meluapkan emosi. Dari sini perlu penyelesaian masalah yang dilakukan melalui penyelusuran kepribadian mereka. 

sumber gambar: hatma.net

Tidak ada komentar:

Posting Komentar