Duka di Imajinasi Kita


Sebagai penulis serabutan, belakangan ini, mungkin sebulan lebih, saya ditagih editor untuk mengirim tulisan. Saya tak kunjung mengirimkan bait-bait tulisan saya, di samping karena kesibukan, tentu karena  tidak ada yang menurut saya benar-benar ingin saya tulis. Hingga akhirnya kematian Stephen Hillenburg membuat saya termenung. Ia adalah creator karakter Spongebob Squarepants. Tak ada anak di generasi ini yang tak kenal karakter itu. Setelah beberapa waktu sebelumnya kita juga ramai oleh kabar meninggalnya Stan Lee, konon ia adalah otak di balik banyak karakter Marvel. Saya kurang paham posisi dia di mana di Marvel.

Masa kecil saya, juga mungkin anda, yang membaca tulisan ini, tentu tidak asing dengan Spongebob, Patrick, Tuan Crab, Plankton dan kawan-kawannya. Selepas generasi kartun tanpa suara seperti Tom and Jerry, saya kira tak ada yang lebih laku di pasaran dibanding cerita bawah laut  bikini bottom itu. Terlepas dari kontroversi yang pernah membayangi kartun tersebut, saya kira kartun yang menceritakan keseharian pegawai Krusty Crab itu masih jauh lebih menghibur dari pada acara lain. Belum lagi sesosok sahabat bintang lautnya yang kadang konyol namun sering juga mengeluarkan kata-kata bijak.

Mungkin sekitar dekade kedua di abad 21 kartun itu mulai kehilangan tajinya, terlalu banyak pembahasan yang  sibuk menyalah-nyalahkan kartun itu hingga akhirnya kartun itu saya kira tidak selaku dulu. Ia mulai tergeser Upin-Ipin. Bocah kembar dari negeri Jiran memang berkualitas. Bersyukur juga kita mulai punya Adit dan Sopo Jarwo, meski secara teknologi dan kualitas cerita kita jelas tertinggal.

Yang dibutuhkan anak sebetulnya hanya “teman bemain” bukan “teman ceramah”, saya kira begitu rumusan kartun anak yang menurut saya baik. Dalam negeri kita beberapa kali mengeluarkan kartun, dengan nilai-nilai islami atau apalah semacamnya, namun ya masih belum bisa menyaingi kualitas kedua adik kak Ros. Semoga kedepannya ada, toh kita pernah punya boneka tangan Unyil dan bereinkarnasi  kini jadi laptop Si Unyil.

Kartun-kartun itu menurut saya memang dibutuhkan untuk menjadi teman main, bukan jadi kelas  belajar yang lain. Peribahasa kemarin sore yang mengatakan “bermain sambil belajar” saya kira adalah lelucon jika diterapkan dalam pembuatan kartun kita. Karena jangankan mengisi nilai, bermainnya saja tidak menyenangkan, mana betah anak menonton acara yang banyak ceramahnya sedangkan kartunya hanya bergerak dibibirnya saja? Maka fokus pertama kita harusnya menjadikan acara-acara yang menyenangkan untuk anak-anak dulu. Selesai sampai di situ barulah kita pikirkan nilai apa yang mau kita sisipkan. Karena kalau acaranya saja tidak menyenangkan, mau seabreg apa pun nilai yang kita paksakan jelas tidak akan masuk, toh tidak ditonton.

Beberapa tahun ke belakang, kita punya acara Si Bolang, anak-anak daerah bermain dan menunjukan  aktifitas kesehariannya, sangat menarik, karena di masa pertubuhannya, anak-anak butuh banyak wawasan, biarkan anak mengenal daerah-daerah, makanan khasnya, tumbuhan khasnya, tanpa perlu dijelaskan pun itu sudah terekam ingatan mereka. Ada juga Si Otan, orang utan yang menceritakan teman-temannya sesama hewan darat dan Dolpino yang punya jatah menjelaskan teman-temannya sesama hewan di air. Sepertinya acara-cara itu masih ada, namun saya tidak tahu pastinya karena sejak ngontrak dua tahun lalu saya tidak punya tv, tepatnya memilih tidak punya tv, karena acara-cara yang saya butuh tonton sekarang sudah bisa di akses secara online: pertandingan bola.

Mari sejenak kita ingat-ingat jasa Stephen Hillenburg, ia mengajarkan bahwa jika kita sering mengeluh, maka hidup kita tidak bahagia seperti Squidward, jika kita serakah justru kita sering rugi seperti tuan Crab. Kalau kita licik, justru  kelicikan itu berbalik kepada kita sebagaimana Plankton yang niat jahatnya selalu berujung pada kerugian bagi dirinya sendiri.

Itu sedikit tentang teman kita di masa kecil, beranjak dewasa tontonan kita mulali film. Salah satu yang paling laku adalah film pahlawan super. Mulai dari tentara kuat hasil percobaan medis Kapten Amerika, ternyata ada kaitannya dengan proyek dari seorang ilmuan yang anaknya berhasil membuat baju besi pintar yang menempel ditubuh iron man, belum lagi korban  percobaan yang  kalau marah jadi Buto Ijo, ada juga putra Odin yang punya palu sakti, agen ganda Black Widow, jago panah, manusia laba-laba, semut, tawon dan lainnya. Tiketnya sangat laris, pemutaran perdananya bisa membuat seisi bioskop hanya memutar film tentang salah satu di antara mereka, apalagi kalau keluar edisi semua jagoan itu berkumpul: Avengers. Wah bisa berhari-hari bioskop penuh.

Apakah kita hanya sekadar ingin tahu kehebatan pahlawan itu? Atau sekadar ingin melihat betapa kerennya mereka saat berkelahi? Kan tidak! Di samping itu kita memang rindu sosok pahlawan, kita butuh harapan. Kita butuh sesuatu yang membuat kita sejenak melupakan beban dan kembali menatap hidup dengan sebuah kegigihan. Coba perhatikan, hampir semua film pahlawan super mengajarkan hal itu, bahwa selalu ada harapan. Padahal sosok musuh itu di awal film pasti digambarkan sangat kuat, mustahil kalah. Tapi dengan kerjasama, kegigihan, semua musuh pasti kalah diakhir cerita.

Bumi selalu digambarkan mau hancur, atau bencana besar terancam menghampiri, tapi pahlawan itu selalu berhasil menyelesaikan, meski dirinya jadi korban. Bukan tentang seberapa hebat seorang kapten amerika, seberapa canggih Tony Stark atau sebetapa kuatnya Hulk. Kita semualah pahlawan itu. Saat kita gigih, berani berbuat untuk orang banyak, kitalah pahlawannya.  

Maka hebatnya Stanlee bukan dari kekuatan apa yang ia karang untuk pahlawan sakti berikutnya, dan bukan juga tentang seberapa canggih teknologi yang ia gunakan untuk memanjakan mata kita saat menontonnya, ia berhasil menangkap kegelisahan kita, bahwa kita butuh harapan. Sebagaimana Islam punya kisah Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kita saat musuh terkuat (Dajjal) muncul, sebagaimana ada sosok juru selamat (Messiah) di agama lain. Ada Satrio Piningit dari kepercayaan lama kita.

Yakinlah kita punya banyak bahan untuk menciptakan pahlawan super kita, bolehlah Buto Ijo idenya tercuri dan menjadi Hulk di Amerika, atau Gatot Kaca Si otot kawat tulang besi keduluan Ironman. Itu baru Marvel, belum lagi dari DC, seperti kisah superman yang saya kira mengadopsi manusia kera Son Goku, Sun Gokong atau Hanoman. Meteor, jatuh ke bumi, dikirim dari planetnya yang hancur, setelah dilihat ternyata isinya anak bayi yang kuat luar biasa. Kemudian jadi palawan bumi.

Bahkan jauh sebelum mereka kepikiran ada  manusia bisa berubah menjadi laba-laba, semut, tawon. Bangsa kita sudah punya kisah tentang manusia yang bisa berubah jadi babi. Bedanya yang menjadi manusia laba-laba dan semut jadi pahlawan, tapi yang berubah jadi babi jadi pencuri. Itu saja. 

Dan sekarang, Hillenburg dan Stanlee sudah tiada, semoga kita masih bisa menemukan harapan dari film pahlawan super laiinya, syukur-syukur hasil karya bangsa sendiri. Pun halnya semoga anak-anak kita masih punya teman bermain semenyenangkan Spongebob dan kawan-kawannya dari daerah Bikini Bottom tersebut. Juga syukur-syukur hasil karya anak bangsa


sumber gambar: arterinews.com

1 komentar: