Duhai Pahlawanku, Terima Kasih

Sella Rachmawati
Peringatan Hari Pahlawan jatuh pada 10 November kemarin. Pada hari itu masyarakat Indonesia kembali diingatkan tentang perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan-tangan penjajah tempo dulu. Para veteran berkumpul, mengenang kegelisahan, kekhawatiran, kecemasan, ingar bingar zaman perebutan kemerdekaan.

Para kepala daerah sibuk memikirkan penghargaan apa yang akan diberikan kepada bawahannya. Guru-guru berpakaian rapih menyambut para siswanya dengan senyum semangat memberikan pengetahuan dan nilai kearifan. Anak-anak berangkat ke sekolah tanpa khawatir ada peluru nyasar.

Mahasiswa terus berusaha menyuarakan keadilan. Ulama dan santri juga ikut mendoakan guru-gurunya terdahulu yang ikut andil melawan penjajah. Para netizen sibuk menyuarakan Hari Pahlawan menurut dirinya, dari yang receh hingga terlalu serius. Juga banyak masyarakat yang masih sedang dan akan terus berjuang sebagai pahlawan untuk memerdekakan dirinya sendiri dari masalah ekonomi.

Indonesia dengan segala yang ada sekarang  adalah hadiah terindah yang diberikan para pejuang dan pahlawan kemerdekaan. Indonesia tak perlu lagi berjuang keras mengecap kemerdekaan. Tak perlu lagi ada korban nyawa untuk mengibarkan sang merah putih.

Tapi Indonesia kini perlu keamanan di dalam negeri, krisis toleransi, haus akan perdamaian antar masyarakat, antar golongan. Indonesia dipecah belah oleh rakyatnya sendiri. Pancasila sebagai nyawa bangsa Indonesia kini hanya sebagai simbol, sebagai lambang, sebagai jargon. Tidak mengakar, tidak tertanam dalam hati rakyatnya. Pelaku korupsi dengan bebas memilih fasilitas mewah di jeruji, para pemodal besar dengan mudah membangun bangunan yang tampak megah dan indah tapi ternyata merusak tatanan sosial, tatanan ekonomi, tatanan lingkungan. Macam-macam organisasi, macam-macam golongan sibuk menyuarakan kebenaran dirinya, hingga terjadi gesekan.

Mungkin, jika saya diizinkan ber-suuzon kepada pahlawan yang telah gugur, di sana mereka hanya bisa geleng-geleng kepala, bahkan beberapa mungkin menangis menyaksikan negara yang ia perjuangkan sampai ujung usia kini berada pada titik “terjajah kembali”.

Di mana letak kepahlawananmu? Apa makna pancasila bagimu? Yang sila pertamanya adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Apa kamu tidak takut dengan efek dari kejahatan-kejahatan yang kamu buat? Kamu tidak percaya pada prinsip apa yang kamu tanam maka itu yang kamu tuai? Atau sebenarnya tahu, tapi hanya dijadikan dongeng sebelum tidur yang membuatmu terlelap?

Duhai Pahlawan-pahlawan kami, kami sedang sibuk mengurusi diri kami. Kami sibuk memperkaya diri kami dengan cara licik. Maafkan kami, kami tidak lupa akan diri mu duhai pahlawan, kami hanya sedang sibuk. Tapi tenang saja, setiap tanggal 10 November kami akan mengenangmu, menyanyikan lagu kebangsaan untukmu. Bahkan di setiap upacara senin pagi di sekolah-sekolah, di kantor pemerintahan kami selalu mengheningkan cipta untukmu.

Duhai para pejuang kemerdekaan, maafkan kami. Kami lebih terpukau dengan kekayaan Indonesia, terserah kami mau memanfaatkannya dengan cara apa pun, yang penting perut kami kenyang,  kami tidak ada urusan lagi denganmu. Duhai para proklamator, sungguh saat ini kami sedang bahagia. Terimakasih sudah memerdekakan Indonesia.

sumber gambar: kejari-yogyakarta.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar