Ditampar Imam Al-Ghazali


Tulisan ini berawal dari kedatanganku ke Pameran Buku di Landmark, Braga, Bandung, yang saat pada saat itu aku melihat sebuah buku kecil tetapi menarik hati, berjudul Dialog Spiritual dengan Imam Al-Ghazali. Mengapa menarik, karena si penulis, Abu Bakar Abu Bakar ‘Abdur Raziq, mengaku belajar dengan ruhnya Imam Ghazali, Sang Hujjatul Islam, ulama, filsuf, yang berakhir menjadi seorang sufi. Sebuah proses belajar-mengajar, perolehan ilmu yang sangat aneh, mistik, dan pastinya akan dianggap membual oleh orang-orang berparadigma materialistik. Tetapi tidak dengan diriku, aku meyakini, meski belum bisa membuktikan, bahwa hal ini mungkin sekali terjadi.

Membaca buku ini, aku benar-benar seperti orang yang ditampar bolak-balik oleh Imam Ghazali, betapa tidak, semua hal yang disampaikannya kepada penulis (‘Abdur Raziq) seakan-akan benar-benar mengarah langsung kepadaku. Entah mengapa, mungkin karena sesuatu yang disampaikannya berasal dari hati, maka pasti akan sampai juga ke hati—lawan bicara/pembacanya.  


Di bagian pertama, Al-Ghazali banyak mengajarkan Abdur Raziq perihal takwa dan turunannya, yang sebenarnya merupakan proses pengajaran dari buku karangannya yang berjudul Minhajul Abidin. Ia mengungkapkan bahwa pangkal dari segala macam fitnah, keburukan, kehinaan kebinasaan, dosa, dan petaka yang menimpa makhluk adalah nafsu. Ia memberi contoh bagaimana iblis, Adam-Hawa, Harut-Marut, dan Qabil-Habil, yang terpelosok ke dalam keburukan-kebukan ini.

Menurutnya agar manusia dapat menjadi pengendali nafsu ia harus dapat bersikap wara’ (berhati-hati) dan takwa. Cara-cara aplikatifnya ialah pertama, dengan memblokir syahwat. Ia memberi contoh bahwa seekor binatang liar akan lemas bila kurang makan. Aku kira jika dianalogikan dengan manusia, ia menganjurkan kita untuk suka berpuasa dan hal-hal semacamnya. Kedua, membebani diri dengan ibadah-ibadah berat. Dan ketiga, senantiasa meminta pertolongan kepada-Nya.

Ketika ditanya mengenai pengertian takwa. Al-Ghazali memberikan poin-poin intinya yang tiada lain ialah, membersihkan hati, tekad kuat, dan berketetapan hati, yang di dalam Alquran tertuang dalam makna takut (al-khasyyah) dan kegentaran (al-haibah) [QS. 2: 41 dan 2: 281], taat dan ibadah [QS. 3: 102], dan membersihkan hati dari dosa. Jika hendak ditambah maknanya, Al-Ghazali mengajurkan untuk menjauhi dari perkara makruh dan halal yang berlebihan. Lebih lanjut Al-Ghazali menuturkan setidaknya ada tiga tingkatan takwa, yaitu takwa dari kemusyrikan, takwa dari bid’ah, dan takwa dari maksiat-maksiat kecil.

Beralih ke pembahasan hati (qalb) yang berarti suka berbolak-balik, Al-Ghazali mengutarakan setidaknya terdapat empat petaka yang suka menimpa hati, yang sepertinya semua itu seringkali aku alami, di antaranya, (1) berangan-angan, (2) terburu-buru, (3) dengki, dan (4) sombong. Keempat hal ini dapat diatasi dengan melakukan empat tindakan pula, yakni (1) mewajarkan angan-angan, (2) tenang atau tidak tergesa-gesa, (3) setia kawan, dan (4) rendah hati.

Di waktu yang lain, ruh Imam Ghazali kembali bertemu dengan ruh ‘Abdur Raziq untuk mengajarkan buku lain, yang kali ini berjudul Kimia As-Sa’adah (Kimia Kebahagiaan) yang menurut Al-Ghazali sendiri bertujuan untuk menyuruh pembaca berpaling dari dunia menuju Allah (QS. 78: 3). Ketika ditanya apa kunci mengenal Allah, (ma’rifatullah) Al-Ghazali menjawab,

“Mengenal (hakikat) diri...agar engkau mengetahui ihwal siapa dirimu, dari mana engkau datang, untuk apa engkau diciptakan, dan karena apa engkau bahagia dan celaka. Dalam dirimu terdapat berbagai sifat: sifat binatang, sifat binatang buas, dan sifat malaikat. Ruh adalah hakikat dirimu. Komponen selain ruh hanyalah pendatang dan menetap sementara. Oleh sebab itu, kewajibanmu sekarang adalah mengetahui hakikat dirimu, yakni ruh, dan mengetahui bahwa setiap makhluk memiliki makanan dan kebahagiaannya masing-masing.”

Al-Ghazali juga menjelaskan perihal dua macam perolehan ilmu, yang pertama ialah melalui alam kesadaran, maksudnya ilmu tersebut melalui proses belajar dengan menggunakan indera. Sedangkan yang kedua melalui alam mimpi, maksudnya penyingkapan langsung (kasyaf) dari Allah kepada hamba-Nya yang terpilih, atau ilmu laduni, atau menurut istilah Mehdi Haeri Yazdi sebagai knowledge by present.

Kemudian masuk ke bagian ketiga dari buku ini yang sebenarnya merupakan proses transfer cahaya ilmu dari buku Imam Ghazali yang berjudul Risalah Laduniyah. Di sini dibahas perihal beberapa hal yang juga pernah dibahas seperti nafs, jasad, dan ruh, macam-macam ilmu serta cara memperolehnya.

Betapapun demikian, tiada yang paling menohok diriku selain bagian keempat dari buku ini yang mana secara spiritual ruh dari ‘Abdur Raziq menjelajah ke Baghdad untuk berkunjung ke masjid tempat biasa Imam Ghazali memberi pelajaran.

Di bagian ini banyak dibahas seputar gubahan syair-syair mistik Al-Ghazali. Diceritakan juga bagaimana upaya-upaya penyucian diri yang dilakukan Ghazali sehingga akhirnya ia mendapatkan hadiah-hadiah penyingkapan tabir dari-Nya.

Menariknya, di bagian ini Al-Ghazali banyak mengkritik orang yang merasa berilmu tetapi sebanarnya mereka tertipu karena tidak mengamalkannya.
“Bagi orang yang mengikuti hawa nafsunya, mengangankan ampunan dari Allah, dan mengira bahwa ia sudah merasa cukup hanya dengan ilmu yang tidak diamalkan, akalnya benar-benar tertipu...ketika amalan-amalan telah dibeberkan dan catatan amal perbuatan telah dibacakan, dikatakan kepadanya, ‘wahai orang yang tertipu yang mengandalkan ilmu, mana ilmu logika, dan filsafat yang engkau kuasai itu?’...”

Satu hal lagi yang benar-benar membuatku terkejut ialah ketika ia mengatakan, seakan-akan sudah tahu sebelumnya, bahwa akan ada banyak orang yang merasa dirinya menjadi kepanjangan lidah dirinya, mengaku sebagai pakar pemikiran Al-Ghazali, padahal sebenarnya tidak, sebab menurutnya hanya orang-orang yang melakukan penyucian dirilah yang bisa benar-benar memahami maksud dan tulisan-tulisan Al-Ghazali. Mereka yang hanya bergelut dalam ranah kognitif, tidak akan bisa mengerti maksud yang sesungguhnya, bahkan mereka seringkali menyampaikan sesuatu yang menyimpang.

“Gelasku haram dicicipi oleh orang-orang yang tidak memiliki cita rasa spiritual. Minumanku kujauhkan agar tidak dicicipi secara gegabah oleh orang yang disebut-sebut Allah: ...Mereka tak ubahnya seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi...(QS. 7: 179). Aku tidak mau berbicara dengan mereka, walaupun orang-orang menyebut mereka sebagai ulama (cendekiawan, ahli, pakar, dll). Di saat mati pun aku akan membisu dengan mereka, tatkala mereka menemuiku melalui buku-bukuku. Bolehlah kata-kataku berjatuhan di hadapan mereka, tetapi ruh dan makna-maknaku tidak mereka ketahui...”

Di dalam penuturannya yang lain, ia mengungkapkan, “Ia menyalami tarekatku dan menelaah berbagai ilmuku. Ia mengobrak-abrik lemariku untuk mengkaji berbagai rahasia yang ada di dalamnya. Ia tidak memperoleh apa pun kecuali lampu di tangannya yang kehilangan cahaya dan sumbu... pemahamannya sangat jauh dari apa yang aku pahami, maksud yang ditangkapnya jauh dari maksudku.

Terakhir, seakan telah mengetahui masa depan, ia pun sangat mengecam keras kelakuan masyarakat dunia dewasa ini, yang menurutnya jauh lebih sesat dibandingkan dahulu zaman Nabi yang menyembah berhala, sebab sekarang adalah masanya di mana manusia menyembah dirinya sendiri, menyembah nafsu dan syahwatnya. Dalam syairnya, ia berucap:

Ada yang lebih ajaib dari semuanya
Mereka memandang bodoh para penyembah berhala
Padahal, berhala dalam diri mereka dan yang
selalu mereka sembah jauh lebih dahsyat
Setiap pagi mereka menyembah diri sendiri
Mereka sama saja dengan para penyembah berhala itu
Bedanya, mereka tidak sadar dan
Para penyembah berhala sengaja melakukannya
Mereka terperosok ke dalam kesesatan,
Padahal mereka mengetahuinya
Bila engkau merenung,
Segala tindakan akan engkau ketahui

sumber gambar:
huseinmuhammad.net, bukalapak.com 

1 komentar: