Bintang di antara Gelapnya Malam (Cerpen Part 2-Habis)


Aulia Yanda Puspitasari
Tak terasa sudah setahun semenjak aku menjadi siswa baru di sini. Dan berjalannya waktu, harus diakui, aku mempunyai “perasaan” pada Raffi, meskipun pada awalnya sama sekali tidak. Belakangan ini misalnya, aku sering suka memperhatikan dirinya. Bahkan sulit sekali kalau tidak memikirkannya, walau aku suka berusaha untuk mengabaikan perasaan itu dengan menyibukkan diri dengan melakukan berbagai aktivitas. 

Keesokkan harinya, datanglah Andra ke kelasku, mengajakku ke kantin bersamanya. Aku menolak ajakannya. Betapa tidak, setiap ke kantin ia selalu bersama dengan gerombolannya. Tetapi seminggu ke depannya, tanpa tendeng aling-aling, ia kembali ke kelasku, menarik tanganku, dan membawaku ke kantin sambil memperkenalkanku di depan teman-teman gerombolannya. 

Apa-apaan nih? Emangnya ku cewek kamu? Gak jelas banget sih, bikin aku malu aja. Kataku dengan penuh kekesalan. 

Iya maaf, mungkin karena gua terlalu ngarep buat jadi pacar lu.

Anehnya, pernah suatu malam aku bermimpi kalau Andra menyatakan perasaannya kepadaku yang saat itu langsung kuterima cintanya. Dia kemudian memperkenalkanku ke semua siswa SMA kami. Raffi, yang mengetahui kenyataan ini, sangat merasa sakit hati. Ketika sadar, aku benar-benar bingung, apa maksud dari semua mimpi ini?

Tapi ternyata mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan, Andra menyatakan cintanya kepadaku. Bedanya, aku menolaknya. Ya, aku memang tidak punya perasaan apa-apa dengannya. Lain lagi kalau dengan Raffi. 

Gayung bersambut, beberapa waktu kemudian, Raffi memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya di depan kelas. Semua teman-teman kami bersorak. Di saat itu aku sejujurnya bingung harus merespon apa, perasaanku campur aduk, senang tapi juga malu. Tapi akhirnya, aku menerima perasaannya. 

“Ciee jadian.” goda teman-teman kami.  

***

Tiga bulan berlalu sejak kami berpacaran, sedikit pun aku tak menyangka kalau hubunganku dengannya akan bergoncang. Aku sungguh-sungguh kecewa dengannya, sebuah kekecewaan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada diriku. Dia ternyata lebih jahat dari lelaki yang pernah bersamaku dulu.

Mengapa dia mengecewakanku? menyakitiku? membalas cinta tulusku dengan balasan yang seperti ini? Mengapa? apa salahku? Tak terbayangkan sedikit pun kalau dia berani “bermain” di belakangku tanpa sepengetahuanku, padahal aku tak pernah menyakitinya sekalipun. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? 

Di saat aku sedang tersendiri di kamar dan melihat hujan di balik jendela kamar, ponselku berdering. Ada panggilan dari Raffi.

“Kenapa lagi?” kataku sambil kesal.
 
“Aku akan jelasin ini semua besok.  Ini semua cuma salah paham.” ucapnya memelas.
 
“Apa yang harus dijelasin lagi? Semua udah jelas Raf. Aku lihat kamu pulang bareng sama Prily. Bukan hanya itu, kamu juga ternyata suka chatting dengannya dan memanggil sayang-sayangan tanpa sepengatahuanku. Aku sebernarnya sudah tahu dari dua hari yang lalu ketika tidak sengaja melihat notifikasimu dari Prily waktu kamu bermain  futsal.” Aku diam sejenak, kemudian bibirku kembali bergerak, “Gak nyangka Raf, kalau ternyata kamu itu seperti ini sifatnya, semua yang kamu lakukan ke aku itu jahat banget.” kata ku sambil menangis. 

“Aku temanan doang sama dia Van, sumpah! kamu salah paham ya Allah.” Raffi masih saja mencoba ngeles.
 
“Sudah ya, aku gak mau denger penjelasanmu lagi. Jangan bikin nambah gua kecewa.”
“Besok kita omongin bareng-bareng ya di kelas, Van,  please!”

***

Esoknya, ketika aku sampai di sekolah, Raffi menghampiriku, dan langsung menjelaskan semuanya. Tapi aku sudah begitu kecewa dan keputusanku sudah bulat. Aku harus mengakhiri hubungan ini. Akhirnya terjadilah, aku dan Raffi resmi putus. 

Ketika direnungi lagi, seharusnya aku menuruti nasihat Bunda bahwa aku tidak boleh berlebihan ketika mencintai sesorang. Huh, aku benar-benar menyesal. 

Sedikit berbeda, kakakku memberikanku nasihat penyejuk, mungkin karena sudah terlanjur kejadian, “Kamu tidak perlu menyesal telah menerima seseorang singgah di hatimu walaupun pada akhirnya orang tersebut menyakitimu, karena hal itulah yang akan menjadi pelajaran kamu ke depannya dan memperkuat perasaanmu. Llagi pula ini hanya kisah cinta anak remaja, perjalananmu masih panjang.” ujar kakakku saat aku curhat kepadanya.

***

Hari terus berlalu, hingga masuklah pekan Ulangan Tengah Semester (UTS). Anehnya, aku tidak pernah melihat Andra di mana pun, tidak di kantin juga di kelas. Di mana dia sebenarnya. Tapi mengapa aku gelisah, sunyi sekali rasanya sekolah tanpa Andra karena gerombolannya menjadi tak ramai lagi. 

“Andra kok pindah ya? Kenapa ya kira-kira? Sayang banget.” Sayup-sayup aku mendengar perkataan salah satu temanku.

“Andra pindah? Seriously? Why?” sahutku, waktu itu aku benar-benar terkejut. 

 “Iya, dia pindah udah 3 hari yang lalu. Katanya sih karena ingin kuliah di Malang.” 

Setelah UTS selesai, rasanya aku ingin sekali nyusul Andra ke Malang, entah mengapa aku tiba-tiba sangat khawatir padanya. 

Malam hari, ketika sedang santai mendengarkan lagu, aku membuka ponselku. Aku tekejut ternyata ada notifikasi dari Andra. Seketika aku jingkrak-jingkrak di kasur. 

“Vanesha.” sapanya singkat.
 
“Iya, Ndra, kenapa?” 

“Gua pamit ya. Gua pindah ke Malang ,karena mau kuliah di sana. Jaga diri lu baik-baik, dan gua gak mau lihat lu sedih karena lu tahu gua sekarang sudah pindah sekolah. Semoga hubungan lu sama Raffi lancar ya.”

“Kenapa gak ngasih tahu jauh-jauh hari? Kenapa gak ngasih tau aku?” aku diam sejenak, mengambil nafas, kemudian berkata, “Gua udah putus sama Raffi. Dia mengecewakan aku.”
“Putus? yang sabar ya Van. By the way, gua pamit pergi. Makasih udah mau kenal gua dan maaf sepertinya gua akan jarang balik ke Jakarta. Sukses ya sekolahnya!” Satu hal terakhir yang gua minta, jangan pernah lu menangis untuk siapa pun yang meyakiti lu. Air mata lu terlalu berharga untuk menangisi mereka yang pernah menyakiti lu.” 

30 menit berlalu, satu jam, dua jam, hingga aku tertidur menunggu balasan chat darinya. Ketika aku terbangun, masih juga tidak ada balasan darinya. Mungkin itu adalah pesan terakhirnya untukku dan aku tidak perlu lagi menunggu balasan darinya. 

Andra, kamu bagaikan indahnya cahaya bintang-bintang yang menyinari gelapnya malamku yang dingin dan sunyi. Di balik sikapmu yang terkenal arogan dan nakal kamu mempunyai hati yang sangat tulus dan kuat. Entah aku harus berkata apalagi tentangmu bintangku.

***

Aku akhirnya kembali menjalani kehidupan tanpa Raffi di hatiku. Juga tanpa Andra di hadapanku, dan mungkin sebentar lagi juga sudah tidak akan ada Andra lagi di pikiraku. Kini aku menjalani hari-hariku seperti biasa sebelum aku mengenal mereka berdua. 

Di sekolah aku belajar dan di waktu istirahat aku dan teman-temanku berbincang-bincang, bercanda, tertawa, dan bahagia selalu. Terkadang aku dan Raffi berpapasan namun kami hanya terdiam tanpa kata, sapaan, bahkan senyuman. 

Aku bahagia dapat melewati semua ini dan kini aku siap menghadapi ulangan kenaikan kelas. Pun sudah mulai fokus untuk menghadapi Ujian Nasional. Aku sudah memilih universitas yang di rekomendasikan oleh kakakku. Aku menyukainya dan menyukai jurusannya tanpa paksaan dari siapa pun. Senangnya lagi, orang tuaku juga menyetujuinya. 

sumber gambar: idntimes.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar