4 Karakter Guru Religus Universalis


Selasa kemarin banyak umat Islam yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad.  Biasanya banyak instansi, termasuk pondok pesantren dan sekolah, mengadakan berbagai macam kegiatan, mulai dari pawai obor, perlombaan, atau sekadar mengundang pembicara (ustaz).

Menghidupkan Maulid Nabi di dunia pendidikan, bukan hanya penting dan masih relevan melainkan juga dapat dijadikan sebagai momentum refleksi diri, khususnya oleh para guru, supaya dapat kembali meluruskan niat dan tindakannya ketika telah diamanahi sebuah jabatan. Tak dapat dipungkiri hari ini tidak sedikit dari para guru yang melakukan hal-hal tidak baik, seperti telat hadir, membolos, mengajar secara asal-asalan tanpa persiapan, bahkan sampai ada yang melakukan tindakan kekerasan.

Adalah Muhammad bin Abdullah, manusia paling mulia di muka bumi, agaknya pantas dijadikan sebagai role model para guru karena faktanya, beliau bukan hanya seorang utusan Tuhan melainkan juga berperan sebagai pendidik umatnya.

Setidaknya ada empat buah sifat Muhammad yang dapat ditiru oleh kita selaku para pendidik. Pertama adalah sidik (jujur), yang memiliki lawan kata pembohong. Bukan hanya setelah disematkan menjadi Nabi, melainkan jauh sebelum itu Muhammad telah dikenal luas sebagai seseorang yang jujur, khususnya ketika ia sedang berjualan yang karena kejujurannya tersebut membuat seorang saudagar perempuan kaya raya, Khadijah, terpincut untuk menikahinya.

Sifat jujur harus dapat menjadi fondasi dan kepribadian utama seorang guru, karena mustahil memutus mata rantai kecurangan dan kebohongan yang belakangan ramai diperbincangkan bahkan dilakukan oleh publik (contoh: merebaknya berita bohong) jika pendidiknya saja tidak mempunyai karakter jujur, sebab kejujuran hanya dapat ditularkan melalui keteladanan. Sebenarnya aspek kejujuran ini telah mendapatkan tempatnya dalam salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sebagaimana yang tertuang dalam UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yakni kompetensi kepribadian.

 Sifat kedua adalah amanah yang berarti dapat dipercaya. Sedari awal Muhammad muda telah diberi gelar Al-Amin sebagai bentuk penghormatan atasnya yang senantiasa bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukannya. Sifat amanah ini sebenarnya bisa direlasikan dengan aspek kompentensi sosial yang di dalamnya termasuk keterampilan berkomunikasi, berinteraksi, bekerjasama, bergaul, dan simpati. Sebagaimana banyak yang mencintai Muhammad karena kecerdasannya dalam bersosial, guru yang memiliki keterampilan sosial akan lebih dapat menjalin hubungan harmonis dengan lingkungannya, baik itu terhadap sesama guru maupun kepada murid serta orang tuanya, pun dengan lingkungan sekolahnya.

Menyampaikan adalah sifat ketiga yang dimiliki oleh Muhammad, atau yang biasa disebut dengan tabligh. Tidak ada satu pun dari tuntunan dan risalah Ilahi yang tidak disampaikan, semua beliau kabarkan secara utuh. Bukti nyatanya ialah termasuk ayat-ayat yang secara implisit menegur diri atau tindakannya sendiri (contoh: Surat Abasa). Sifat tabligh ini sesuai dengan kompetensi profesional di mana para guru harus dapat memiliki cara atau kiat-kiat (metode pembelajaran) yang efektif dan efesien ketika menyampaikan materi kepada siswanya. Mengembangkan inovasi dan kreativitas adalah sesuatu yang mutlak, sebagaimana juga perlu melakukan persiapan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan terukur.

Terakhir, adalah fathanah (cerdas). Dengan kecerdasannya, Muhammad bisa mengartikulasikan pesan-pesan Alquran ke dalam dirinya dalam bentuk yang nyata, maka pantas jika ia dikatakan sebagai Alquran yang berjalan. Kecerdasan ini seirama dengan aspek kompetensi pedagogik. Meniru Muhammad berarti mengajak para guru untuk mamaksimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan bidangnya masing-masing.   

sumber gambar: kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar