Sebagai penulis serabutan, belakangan ini, mungkin sebulan lebih, saya ditagih editor untuk mengirim tulisan. Saya tak kunjung mengirimkan bait-bait tulisan saya, di samping karena kesibukan, tentu karena  tidak ada yang menurut saya benar-benar ingin saya tulis. Hingga akhirnya kematian Stephen Hillenburg membuat saya termenung. Ia adalah creator karakter Spongebob Squarepants. Tak ada anak di generasi ini yang tak kenal karakter itu. Setelah beberapa waktu sebelumnya kita juga ramai oleh kabar meninggalnya Stan Lee, konon ia adalah otak di balik banyak karakter Marvel. Saya kurang paham posisi dia di mana di Marvel.

Masa kecil saya, juga mungkin anda, yang membaca tulisan ini, tentu tidak asing dengan Spongebob, Patrick, Tuan Crab, Plankton dan kawan-kawannya. Selepas generasi kartun tanpa suara seperti Tom and Jerry, saya kira tak ada yang lebih laku di pasaran dibanding cerita bawah laut  bikini bottom itu. Terlepas dari kontroversi yang pernah membayangi kartun tersebut, saya kira kartun yang menceritakan keseharian pegawai Krusty Crab itu masih jauh lebih menghibur dari pada acara lain. Belum lagi sesosok sahabat bintang lautnya yang kadang konyol namun sering juga mengeluarkan kata-kata bijak.

Mungkin sekitar dekade kedua di abad 21 kartun itu mulai kehilangan tajinya, terlalu banyak pembahasan yang  sibuk menyalah-nyalahkan kartun itu hingga akhirnya kartun itu saya kira tidak selaku dulu. Ia mulai tergeser Upin-Ipin. Bocah kembar dari negeri Jiran memang berkualitas. Bersyukur juga kita mulai punya Adit dan Sopo Jarwo, meski secara teknologi dan kualitas cerita kita jelas tertinggal.

Yang dibutuhkan anak sebetulnya hanya “teman bemain” bukan “teman ceramah”, saya kira begitu rumusan kartun anak yang menurut saya baik. Dalam negeri kita beberapa kali mengeluarkan kartun, dengan nilai-nilai islami atau apalah semacamnya, namun ya masih belum bisa menyaingi kualitas kedua adik kak Ros. Semoga kedepannya ada, toh kita pernah punya boneka tangan Unyil dan bereinkarnasi  kini jadi laptop Si Unyil.

Kartun-kartun itu menurut saya memang dibutuhkan untuk menjadi teman main, bukan jadi kelas  belajar yang lain. Peribahasa kemarin sore yang mengatakan “bermain sambil belajar” saya kira adalah lelucon jika diterapkan dalam pembuatan kartun kita. Karena jangankan mengisi nilai, bermainnya saja tidak menyenangkan, mana betah anak menonton acara yang banyak ceramahnya sedangkan kartunya hanya bergerak dibibirnya saja? Maka fokus pertama kita harusnya menjadikan acara-acara yang menyenangkan untuk anak-anak dulu. Selesai sampai di situ barulah kita pikirkan nilai apa yang mau kita sisipkan. Karena kalau acaranya saja tidak menyenangkan, mau seabreg apa pun nilai yang kita paksakan jelas tidak akan masuk, toh tidak ditonton.

Beberapa tahun ke belakang, kita punya acara Si Bolang, anak-anak daerah bermain dan menunjukan  aktifitas kesehariannya, sangat menarik, karena di masa pertubuhannya, anak-anak butuh banyak wawasan, biarkan anak mengenal daerah-daerah, makanan khasnya, tumbuhan khasnya, tanpa perlu dijelaskan pun itu sudah terekam ingatan mereka. Ada juga Si Otan, orang utan yang menceritakan teman-temannya sesama hewan darat dan Dolpino yang punya jatah menjelaskan teman-temannya sesama hewan di air. Sepertinya acara-cara itu masih ada, namun saya tidak tahu pastinya karena sejak ngontrak dua tahun lalu saya tidak punya tv, tepatnya memilih tidak punya tv, karena acara-cara yang saya butuh tonton sekarang sudah bisa di akses secara online: pertandingan bola.

Mari sejenak kita ingat-ingat jasa Stephen Hillenburg, ia mengajarkan bahwa jika kita sering mengeluh, maka hidup kita tidak bahagia seperti Squidward, jika kita serakah justru kita sering rugi seperti tuan Crab. Kalau kita licik, justru  kelicikan itu berbalik kepada kita sebagaimana Plankton yang niat jahatnya selalu berujung pada kerugian bagi dirinya sendiri.

Itu sedikit tentang teman kita di masa kecil, beranjak dewasa tontonan kita mulali film. Salah satu yang paling laku adalah film pahlawan super. Mulai dari tentara kuat hasil percobaan medis Kapten Amerika, ternyata ada kaitannya dengan proyek dari seorang ilmuan yang anaknya berhasil membuat baju besi pintar yang menempel ditubuh iron man, belum lagi korban  percobaan yang  kalau marah jadi Buto Ijo, ada juga putra Odin yang punya palu sakti, agen ganda Black Widow, jago panah, manusia laba-laba, semut, tawon dan lainnya. Tiketnya sangat laris, pemutaran perdananya bisa membuat seisi bioskop hanya memutar film tentang salah satu di antara mereka, apalagi kalau keluar edisi semua jagoan itu berkumpul: Avengers. Wah bisa berhari-hari bioskop penuh.

Apakah kita hanya sekadar ingin tahu kehebatan pahlawan itu? Atau sekadar ingin melihat betapa kerennya mereka saat berkelahi? Kan tidak! Di samping itu kita memang rindu sosok pahlawan, kita butuh harapan. Kita butuh sesuatu yang membuat kita sejenak melupakan beban dan kembali menatap hidup dengan sebuah kegigihan. Coba perhatikan, hampir semua film pahlawan super mengajarkan hal itu, bahwa selalu ada harapan. Padahal sosok musuh itu di awal film pasti digambarkan sangat kuat, mustahil kalah. Tapi dengan kerjasama, kegigihan, semua musuh pasti kalah diakhir cerita.

Bumi selalu digambarkan mau hancur, atau bencana besar terancam menghampiri, tapi pahlawan itu selalu berhasil menyelesaikan, meski dirinya jadi korban. Bukan tentang seberapa hebat seorang kapten amerika, seberapa canggih Tony Stark atau sebetapa kuatnya Hulk. Kita semualah pahlawan itu. Saat kita gigih, berani berbuat untuk orang banyak, kitalah pahlawannya.  

Maka hebatnya Stanlee bukan dari kekuatan apa yang ia karang untuk pahlawan sakti berikutnya, dan bukan juga tentang seberapa canggih teknologi yang ia gunakan untuk memanjakan mata kita saat menontonnya, ia berhasil menangkap kegelisahan kita, bahwa kita butuh harapan. Sebagaimana Islam punya kisah Imam Mahdi yang akan menyelamatkan kita saat musuh terkuat (Dajjal) muncul, sebagaimana ada sosok juru selamat (Messiah) di agama lain. Ada Satrio Piningit dari kepercayaan lama kita.

Yakinlah kita punya banyak bahan untuk menciptakan pahlawan super kita, bolehlah Buto Ijo idenya tercuri dan menjadi Hulk di Amerika, atau Gatot Kaca Si otot kawat tulang besi keduluan Ironman. Itu baru Marvel, belum lagi dari DC, seperti kisah superman yang saya kira mengadopsi manusia kera Son Goku, Sun Gokong atau Hanoman. Meteor, jatuh ke bumi, dikirim dari planetnya yang hancur, setelah dilihat ternyata isinya anak bayi yang kuat luar biasa. Kemudian jadi palawan bumi.

Bahkan jauh sebelum mereka kepikiran ada  manusia bisa berubah menjadi laba-laba, semut, tawon. Bangsa kita sudah punya kisah tentang manusia yang bisa berubah jadi babi. Bedanya yang menjadi manusia laba-laba dan semut jadi pahlawan, tapi yang berubah jadi babi jadi pencuri. Itu saja. 

Dan sekarang, Hillenburg dan Stanlee sudah tiada, semoga kita masih bisa menemukan harapan dari film pahlawan super laiinya, syukur-syukur hasil karya bangsa sendiri. Pun halnya semoga anak-anak kita masih punya teman bermain semenyenangkan Spongebob dan kawan-kawannya dari daerah Bikini Bottom tersebut. Juga syukur-syukur hasil karya anak bangsa


sumber gambar: arterinews.com

Gelar Riksa Abdillah
Sejak kecil kita diperintahkan untuk mengikuti peraturan, mewarnai tidak boleh keluar garis, menjawab harus selalu sesuai yang ada di buku, dan sebagainya. Semua hal itu ditujukan untuk membuat kita menjadi warga yang baik di masyarakat, siapa saja yang melawan akan dicap sebagai anak nakal dan pembangkang. Siapa saja yang nakal tidak akan memiliki masa depan yang cerah.

Sayangnya, semua hal itu berawal dari sekolah, sistem pendidikan di sekolah ternyata tidak berhasil membebaskan para siswanya. Inilah paradoksnya, Ki Hajar Dewantara menghendaki sekolah memberikan pendidikan yang membebaskan, tetapi yang terjadi adalah pengekangan-pengekangan dalam bentuk kepatuhan. Sekolah seharusnya membebaskan, tetapi setiap orang harus berseragam dengan alasan kesetaraan, padahal pada kenyataannya masyarakat memang tidak setara. Sekolah seharusnya membiarkan setiap murid menemukan bakat dan kecenderungannya, tetapi sistem di sekolah mengharuskan semua siswa mempelajari hal yang sama.

Saya tidak ingin mempermasalahkan soal kebijakan kurikulum atau kemampuan guru dalam mengajar siswa yang berbeda-beda. Tetapi alih-alih menjadi tempat yang menyenangkan, sekolah telah berubah menjadi semacam penjara bagi anak-anak. Baik penjara bagi pikirannya, atau pun penjara bagi badannya. Dunia dan sistem kita menghendaki hal itu, karena itulah sekolah tidak lagi membebaskan.

Persoalannya adalah, sistem pendidikan di Indonesia tidak pernah mengubah gayanya dari sistem yang ada sejak abad tujuh belas silam. Sistem di mana guru mengajar dengan siswa di dalam kelas seperti sekarang ini adalah sistem yang diciptakan Inggris dalam revolusi industri. Inggris membutuhkan sumber daya manusia yang bisa menulis dengan baik dan berhitung cepat, juga bisa melakukan semua tugas dengan tepat dan tuntas.
Oleh karena itu, diciptakanlah sistem pendidikan yang mendukung semua tujuan tersebut, yaitu sistem yang melatih siswa untuk mampu melaksanakan tugas seperti apa yang diminta. Mereka harus bisa bekerja cepat, secara verbal dan matematis, karena itu yang dibutuhkan industri pada saat itu. Sekolah pada saat itu didirikan untuk mempersiapkan tenaga kerja siap pakai di dunia industri. Sayangnya, ketika kebutuhan zaman sudah berbeda, sistem tersebut tetap tinggal sampai sekarang, bahkan diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia.

Sebelum revolusi industri berlangsung, kota yang dianggap paling maju peradabannya salah satunya adalah Baghdad, ketika dipimpin oleh Harun Al Rashid. Ketika itu ilmu pengetahuan mencapai puncaknya, seluruh ilmuwan dan guru berkumpul di sana, dan ke sanalah semua pelajar menuju. Sistem yang dipakai di sana adalah sistem kontrak. Satu murid mencari satu guru yang ia anggap mampu memenuhi kebutuhan ilmunya kemudian ia meminta pelajaran sejumlah waktu tertentu dan capaian tertentu. Setelah kontrak terjalin, si guru akan mulai mengajari si murid segala yang ia perlukan menyesuaikan dengan kemampuan si murid dan metode si guru.

Seusai si murid menyelesaikan pelajarannya, gurunya akan menerbitkan ijazah. Itulah surat tanda seseorang telah menyelesaikan pelajaran dan memiliki kompetensi tertentu, serta penanda bahwa ia telah belajar dari seorang guru yang telah diakui kecerdasan dan keluhuran pengetahuannya. Sistem ini menuntut murid mendatangi guru, murid berhak menentukan dirinya ingin mempelajari apa, sehingga setiap murid akan mempelajari sesuatu yang ia minati. Hal ini mendorong guru untuk mempersiapkan murid dengan kurikulum yang berbeda-beda, para guru akan berusaha mengangkat pertumbuhan para murid dengan kurikulum yang berbeda-beda.

Itulah salah satu contoh pendidikan yang membebaskan. Ki Hajar Dewantara ingin menciptakan sebuah sistem yang serupa, namun dengan semangat yang berbeda. Beliau menghendaki agar para murid tidak hanya melepaskan diri dari belenggu penjajahan badan dan harta, tetapi juga memerdekakan diri dari perbudakan pikiran. Sebuah pemikiran yang menempatkan pribumi setara dengan anjing harus dihapuskan. Karena itulah para anak Indonesia perlu dibekali dengan pengetahuan. Beliau menghendaki setiap anak menjadi manusia yang utuh, yang berhak menentukan arah hidupnya sendiri. Tidak berada di bawah penjajahan dan pengaruh siapa pun.

Gagasan Ki Hajar Dewantara itu ia tuangkan dalam pendirian sekolah taman siswa, di mana sesuai namanya, tempat itu adalah arena bermain bagi orang-orang yang mau belajar. Entah bagaimana, kita pada akhirnya tidak menyerap semangat tersebut dan memilih sistem yang mencetak para pekerja teladan. Entah karena para guru ingin lebih mudah mengajar, entah karena para penguasa menginginkan manusia-manusia penurut, entah karena kita sengaja dibodohkan untuk sebuah tujuan yang sistematis, entah.

Namun yang jelas, sekolah telah mengubah pendidikan menjadi sesuatu yang tidak lagi menyenangkan, sekolah mengubah pendidikan menjadi barang dagangan, sekolah malah mengubah pendidikan menjadi alat pengikat kemerdekaan siswa.

sumber gambar: ibudanku.com

Selasa kemarin banyak umat Islam yang memperingati kelahiran Nabi Muhammad.  Biasanya banyak instansi, termasuk pondok pesantren dan sekolah, mengadakan berbagai macam kegiatan, mulai dari pawai obor, perlombaan, atau sekadar mengundang pembicara (ustaz).

Menghidupkan Maulid Nabi di dunia pendidikan, bukan hanya penting dan masih relevan melainkan juga dapat dijadikan sebagai momentum refleksi diri, khususnya oleh para guru, supaya dapat kembali meluruskan niat dan tindakannya ketika telah diamanahi sebuah jabatan. Tak dapat dipungkiri hari ini tidak sedikit dari para guru yang melakukan hal-hal tidak baik, seperti telat hadir, membolos, mengajar secara asal-asalan tanpa persiapan, bahkan sampai ada yang melakukan tindakan kekerasan.

Adalah Muhammad bin Abdullah, manusia paling mulia di muka bumi, agaknya pantas dijadikan sebagai role model para guru karena faktanya, beliau bukan hanya seorang utusan Tuhan melainkan juga berperan sebagai pendidik umatnya.

Setidaknya ada empat buah sifat Muhammad yang dapat ditiru oleh kita selaku para pendidik. Pertama adalah sidik (jujur), yang memiliki lawan kata pembohong. Bukan hanya setelah disematkan menjadi Nabi, melainkan jauh sebelum itu Muhammad telah dikenal luas sebagai seseorang yang jujur, khususnya ketika ia sedang berjualan yang karena kejujurannya tersebut membuat seorang saudagar perempuan kaya raya, Khadijah, terpincut untuk menikahinya.

Sifat jujur harus dapat menjadi fondasi dan kepribadian utama seorang guru, karena mustahil memutus mata rantai kecurangan dan kebohongan yang belakangan ramai diperbincangkan bahkan dilakukan oleh publik (contoh: merebaknya berita bohong) jika pendidiknya saja tidak mempunyai karakter jujur, sebab kejujuran hanya dapat ditularkan melalui keteladanan. Sebenarnya aspek kejujuran ini telah mendapatkan tempatnya dalam salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik sebagaimana yang tertuang dalam UU No 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, yakni kompetensi kepribadian.

 Sifat kedua adalah amanah yang berarti dapat dipercaya. Sedari awal Muhammad muda telah diberi gelar Al-Amin sebagai bentuk penghormatan atasnya yang senantiasa bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukannya. Sifat amanah ini sebenarnya bisa direlasikan dengan aspek kompentensi sosial yang di dalamnya termasuk keterampilan berkomunikasi, berinteraksi, bekerjasama, bergaul, dan simpati. Sebagaimana banyak yang mencintai Muhammad karena kecerdasannya dalam bersosial, guru yang memiliki keterampilan sosial akan lebih dapat menjalin hubungan harmonis dengan lingkungannya, baik itu terhadap sesama guru maupun kepada murid serta orang tuanya, pun dengan lingkungan sekolahnya.

Menyampaikan adalah sifat ketiga yang dimiliki oleh Muhammad, atau yang biasa disebut dengan tabligh. Tidak ada satu pun dari tuntunan dan risalah Ilahi yang tidak disampaikan, semua beliau kabarkan secara utuh. Bukti nyatanya ialah termasuk ayat-ayat yang secara implisit menegur diri atau tindakannya sendiri (contoh: Surat Abasa). Sifat tabligh ini sesuai dengan kompetensi profesional di mana para guru harus dapat memiliki cara atau kiat-kiat (metode pembelajaran) yang efektif dan efesien ketika menyampaikan materi kepada siswanya. Mengembangkan inovasi dan kreativitas adalah sesuatu yang mutlak, sebagaimana juga perlu melakukan persiapan agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan terukur.

Terakhir, adalah fathanah (cerdas). Dengan kecerdasannya, Muhammad bisa mengartikulasikan pesan-pesan Alquran ke dalam dirinya dalam bentuk yang nyata, maka pantas jika ia dikatakan sebagai Alquran yang berjalan. Kecerdasan ini seirama dengan aspek kompetensi pedagogik. Meniru Muhammad berarti mengajak para guru untuk mamaksimalkan potensi yang dimiliki oleh siswa sesuai dengan bidangnya masing-masing.   

sumber gambar: kompasiana.com

Aulia Yanda Puspitasari
Tak terasa sudah setahun semenjak aku menjadi siswa baru di sini. Dan berjalannya waktu, harus diakui, aku mempunyai “perasaan” pada Raffi, meskipun pada awalnya sama sekali tidak. Belakangan ini misalnya, aku sering suka memperhatikan dirinya. Bahkan sulit sekali kalau tidak memikirkannya, walau aku suka berusaha untuk mengabaikan perasaan itu dengan menyibukkan diri dengan melakukan berbagai aktivitas. 

Keesokkan harinya, datanglah Andra ke kelasku, mengajakku ke kantin bersamanya. Aku menolak ajakannya. Betapa tidak, setiap ke kantin ia selalu bersama dengan gerombolannya. Tetapi seminggu ke depannya, tanpa tendeng aling-aling, ia kembali ke kelasku, menarik tanganku, dan membawaku ke kantin sambil memperkenalkanku di depan teman-teman gerombolannya. 

Apa-apaan nih? Emangnya ku cewek kamu? Gak jelas banget sih, bikin aku malu aja. Kataku dengan penuh kekesalan. 

Iya maaf, mungkin karena gua terlalu ngarep buat jadi pacar lu.

Anehnya, pernah suatu malam aku bermimpi kalau Andra menyatakan perasaannya kepadaku yang saat itu langsung kuterima cintanya. Dia kemudian memperkenalkanku ke semua siswa SMA kami. Raffi, yang mengetahui kenyataan ini, sangat merasa sakit hati. Ketika sadar, aku benar-benar bingung, apa maksud dari semua mimpi ini?

Tapi ternyata mimpi itu benar-benar menjadi kenyataan, Andra menyatakan cintanya kepadaku. Bedanya, aku menolaknya. Ya, aku memang tidak punya perasaan apa-apa dengannya. Lain lagi kalau dengan Raffi. 

Gayung bersambut, beberapa waktu kemudian, Raffi memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya di depan kelas. Semua teman-teman kami bersorak. Di saat itu aku sejujurnya bingung harus merespon apa, perasaanku campur aduk, senang tapi juga malu. Tapi akhirnya, aku menerima perasaannya. 

“Ciee jadian.” goda teman-teman kami.  

***

Tiga bulan berlalu sejak kami berpacaran, sedikit pun aku tak menyangka kalau hubunganku dengannya akan bergoncang. Aku sungguh-sungguh kecewa dengannya, sebuah kekecewaan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada diriku. Dia ternyata lebih jahat dari lelaki yang pernah bersamaku dulu.

Mengapa dia mengecewakanku? menyakitiku? membalas cinta tulusku dengan balasan yang seperti ini? Mengapa? apa salahku? Tak terbayangkan sedikit pun kalau dia berani “bermain” di belakangku tanpa sepengetahuanku, padahal aku tak pernah menyakitinya sekalipun. Lalu, aku harus bagaimana sekarang? Apa yang harus aku lakukan? 

Di saat aku sedang tersendiri di kamar dan melihat hujan di balik jendela kamar, ponselku berdering. Ada panggilan dari Raffi.

“Kenapa lagi?” kataku sambil kesal.
 
“Aku akan jelasin ini semua besok.  Ini semua cuma salah paham.” ucapnya memelas.
 
“Apa yang harus dijelasin lagi? Semua udah jelas Raf. Aku lihat kamu pulang bareng sama Prily. Bukan hanya itu, kamu juga ternyata suka chatting dengannya dan memanggil sayang-sayangan tanpa sepengatahuanku. Aku sebernarnya sudah tahu dari dua hari yang lalu ketika tidak sengaja melihat notifikasimu dari Prily waktu kamu bermain  futsal.” Aku diam sejenak, kemudian bibirku kembali bergerak, “Gak nyangka Raf, kalau ternyata kamu itu seperti ini sifatnya, semua yang kamu lakukan ke aku itu jahat banget.” kata ku sambil menangis. 

“Aku temanan doang sama dia Van, sumpah! kamu salah paham ya Allah.” Raffi masih saja mencoba ngeles.
 
“Sudah ya, aku gak mau denger penjelasanmu lagi. Jangan bikin nambah gua kecewa.”
“Besok kita omongin bareng-bareng ya di kelas, Van,  please!”

***

Esoknya, ketika aku sampai di sekolah, Raffi menghampiriku, dan langsung menjelaskan semuanya. Tapi aku sudah begitu kecewa dan keputusanku sudah bulat. Aku harus mengakhiri hubungan ini. Akhirnya terjadilah, aku dan Raffi resmi putus. 

Ketika direnungi lagi, seharusnya aku menuruti nasihat Bunda bahwa aku tidak boleh berlebihan ketika mencintai sesorang. Huh, aku benar-benar menyesal. 

Sedikit berbeda, kakakku memberikanku nasihat penyejuk, mungkin karena sudah terlanjur kejadian, “Kamu tidak perlu menyesal telah menerima seseorang singgah di hatimu walaupun pada akhirnya orang tersebut menyakitimu, karena hal itulah yang akan menjadi pelajaran kamu ke depannya dan memperkuat perasaanmu. Llagi pula ini hanya kisah cinta anak remaja, perjalananmu masih panjang.” ujar kakakku saat aku curhat kepadanya.

***

Hari terus berlalu, hingga masuklah pekan Ulangan Tengah Semester (UTS). Anehnya, aku tidak pernah melihat Andra di mana pun, tidak di kantin juga di kelas. Di mana dia sebenarnya. Tapi mengapa aku gelisah, sunyi sekali rasanya sekolah tanpa Andra karena gerombolannya menjadi tak ramai lagi. 

“Andra kok pindah ya? Kenapa ya kira-kira? Sayang banget.” Sayup-sayup aku mendengar perkataan salah satu temanku.

“Andra pindah? Seriously? Why?” sahutku, waktu itu aku benar-benar terkejut. 

 “Iya, dia pindah udah 3 hari yang lalu. Katanya sih karena ingin kuliah di Malang.” 

Setelah UTS selesai, rasanya aku ingin sekali nyusul Andra ke Malang, entah mengapa aku tiba-tiba sangat khawatir padanya. 

Malam hari, ketika sedang santai mendengarkan lagu, aku membuka ponselku. Aku tekejut ternyata ada notifikasi dari Andra. Seketika aku jingkrak-jingkrak di kasur. 

“Vanesha.” sapanya singkat.
 
“Iya, Ndra, kenapa?” 

“Gua pamit ya. Gua pindah ke Malang ,karena mau kuliah di sana. Jaga diri lu baik-baik, dan gua gak mau lihat lu sedih karena lu tahu gua sekarang sudah pindah sekolah. Semoga hubungan lu sama Raffi lancar ya.”

“Kenapa gak ngasih tahu jauh-jauh hari? Kenapa gak ngasih tau aku?” aku diam sejenak, mengambil nafas, kemudian berkata, “Gua udah putus sama Raffi. Dia mengecewakan aku.”
“Putus? yang sabar ya Van. By the way, gua pamit pergi. Makasih udah mau kenal gua dan maaf sepertinya gua akan jarang balik ke Jakarta. Sukses ya sekolahnya!” Satu hal terakhir yang gua minta, jangan pernah lu menangis untuk siapa pun yang meyakiti lu. Air mata lu terlalu berharga untuk menangisi mereka yang pernah menyakiti lu.” 

30 menit berlalu, satu jam, dua jam, hingga aku tertidur menunggu balasan chat darinya. Ketika aku terbangun, masih juga tidak ada balasan darinya. Mungkin itu adalah pesan terakhirnya untukku dan aku tidak perlu lagi menunggu balasan darinya. 

Andra, kamu bagaikan indahnya cahaya bintang-bintang yang menyinari gelapnya malamku yang dingin dan sunyi. Di balik sikapmu yang terkenal arogan dan nakal kamu mempunyai hati yang sangat tulus dan kuat. Entah aku harus berkata apalagi tentangmu bintangku.

***

Aku akhirnya kembali menjalani kehidupan tanpa Raffi di hatiku. Juga tanpa Andra di hadapanku, dan mungkin sebentar lagi juga sudah tidak akan ada Andra lagi di pikiraku. Kini aku menjalani hari-hariku seperti biasa sebelum aku mengenal mereka berdua. 

Di sekolah aku belajar dan di waktu istirahat aku dan teman-temanku berbincang-bincang, bercanda, tertawa, dan bahagia selalu. Terkadang aku dan Raffi berpapasan namun kami hanya terdiam tanpa kata, sapaan, bahkan senyuman. 

Aku bahagia dapat melewati semua ini dan kini aku siap menghadapi ulangan kenaikan kelas. Pun sudah mulai fokus untuk menghadapi Ujian Nasional. Aku sudah memilih universitas yang di rekomendasikan oleh kakakku. Aku menyukainya dan menyukai jurusannya tanpa paksaan dari siapa pun. Senangnya lagi, orang tuaku juga menyetujuinya. 

sumber gambar: idntimes.com