Zaman Pesanan dan Anarki

Saya mengira bahwa sesuatu adalah akibat dari sesuatu lain yang mendahuluinya, dan pada saatnya nanti akan menjadi sebab bagi munculnya akibat lainnya. Ia adalah kesatuan yang mana kita harus melihatnya sebagai rantai yang utuh. Sebisa mungkin untuk mengetahui seutuh mungkin, karena agaknya sulit kalau kita harus mengetahui sesuatu secara gamblang, apalagi di zaman yang segala sesuatu bisa dibuat sesuai pesanan.

Pola pola sebab akibat itu menjaring sedemikian rumit namun menuju pada satu kehendak semesta yang tidak bisa ditolak. Sebuah revolusi tidak terjadi sebab satu-dua insiden, revolusi terjadi bak lautan yang tersusun atas anak-anak sungai yang mengular dari jalannya masing-masing menuju kesatuan lautan.

Pun halnya kehidupan kita, baik secara sosial maupun sebagai bangsa. Kumpulan kejadian yang kita lalui sekarang akan menjadi kesatuan yang kita entah belum tahu atau justru saat inilah titik kulminasinya. Tapi saya kira kita sedang merangkai itu semua, sedang menjalari aliran anak-anak sungai di jalurnya masing-masing, mengarah pada satu kesimpulan yang entah apa.

Saya akan ajak sedikit untuk melihat pola dari ketidakteraturan yang selama ini kita geluti di keseharian kita. Misalnya saja pola “zaman Pesanan”. Pola ini saya kira menjadi salah satu identitas zaman. Dahulu tukang sablon hanya punya pola bagi huruf-huruf yang terpisah, ukuran hurufnya pun tidak variatif. Kita hanya bisa pesan dengan menyesuaikan font yang tersedia dan ukuran yang ada. Itupun kita tidak bisa mengatur seenaknya.

Lihat beberapa tahun lalu pola spanduk pecel lele yang semacam template, sama semua. Hanya nama penjualnya saja yang beda. Tapi zaman bergerak, teknik sablon berkembang, alat nya pun makin canggih, menjadikan spanduk-spanduk tukang dagang bisa sangat beragam seperti sekarang ini. Spanduk bisa sesuai pesanan.

Ada juga mug atau gelas, bisa kita pesan ingin gambar apa, bahkan muka kita juga bisa ditempel di gelas itu kalau mau. Semua tinggal pesan, nanti produksi akan disesuaikan dengan pesanan. Padahal dulu gelas ya begitu saja, dari seng dan coraknya sama semua. Zaman bergerak, semua tinggal pesan.

Ada juga corak di lapisan atas kopi. Penjaja kopi yang lihai meliuk-liukan krimmer hingga menjadi gambar indah di atas kopi yang akan kita minum harus menerima kenyataan bahwa sekarang ada alat cetak bagi kopi yang juga sama halnya seperti mug di atas, alat cetak buih kopi itu akan melayani hasrat narsis kita, alat itu mampu mencetak wajah kita di atas kopi yang akan kita minum. Semua bisa, tergantung pesanan.

Itulah satu pola yang saya lihat di zaman ini, semua tergantung pesanan, maka tak aneh jika dua lembaga survei yang masing-masing mengaku kredibel tapi hasil surveinya beda. Hasil survei bukan lagi untuk memetakan data, tapi justru untuk menggiring masa. Sekali lagi, semua tergantung pesanan. Maka tak perlu heran jika dua kelompok yang mengaku ulama bisa berijtihad dan masing-masing berbeda pendapat, tak perlu lah husnuzan berlebihan, ingat saja pola zamannya.

Pola kedua yang saya kira lebih mengkhawatirkan adalah pola barbarian. Pola grasah-grusuh atau anarkis, ini yang saya lihat kian hari kian menjadi-jadi. Entah kita masuk fase goro-goro dari klasifikasi zaman edannya Ronggowarsito, atau masuk ke zaman fitnatul kubro sebagaimana diwanti-wantikan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad saw.

Beberapa tahun sebelumnya kita ramai oleh aksi persekusi, orang seperti mulai tak percaya pada polisi dan hakim. Mereka memilih mengadakan penangkapan secara swadaya tanpa menunggu aparat dan memberikan penghakiman jalanan sebegaimana yang mereka inginkan, kadang landasannya untuk memberi rasa jera, tapi kebanyakan karena ingin melampiaskan hawa nafsu saja.

Yang dituduh mesum, diarak telanjang, yang dituduh mencuri pengeras suara masjid dibakar hingga harus meregang nyawa meninggalkan istri yang hamil muda. Gubernur salah ucap, demo hingga berjilid-jilid. Seolah kalau tidak demo, takut tidak dihukum, disangka hakim tidak kerja atau gimana saya tak paham.

Sebegitu tidak percaya kah kita terhadap penegak hukum? atau apa ini? Bagi kelompok yang mengedepankan pemikiran semacam ini, Keadilan adalah yang sesuai dengan kehendaknya, kebenaran adalah yang senapas dengan ucapannya. Sekarang muncul lagi, di hari santri ia malah membakar bendera yang mana paham tak paham ia harusnya mengerti bahwa pembakaran itu akan mendapat penolakan dari banyak kalangan, terlepas apa argumentasi yang membenarkan kelompok ini, tapi tak bisakah kita barang sejenak terlepas dari gesekan-gesekan horizontal yang tak perlu yang diakibatkan oleh tindakan-tindakan yang kurang penting seperti itu.

Saya tak mengerti tentang motif dibalik pembakaran bendera seperti itu. Tak bisakah barang seminggu dua minggu media sosial dan media cetak kita isinya berita yang adem-adem, bukan kabar yang tiap hari isinya mengernyitkan dahi. Dibuat malas saya baca berita kalau konflik terus isinya.

Sekali pun misalnya bendera itu tak ada kalimat tauhidnya, saya akan tetap bertanya, membakar bendera kelompok yang sudah dibubarkan itu tujuannya apa? Kepuasan batin apa yang mereka cari? Terlebih ini ada kalimat syahadatnya. Senang sekali nampaknya bangsa ini main bensin padahal rumah sedang kebakaran.

Mau dibilang tak habis pikir ya kita pasti tak habis pikir, tapi jangan-jangan inilah kehendak zaman. Zaman ini sedang menyicil kejadian-kejadian, zaman ini mulai mengukir aliran sungai kecil untuk kemudian disimpulkan menjadi sebuah lautan kesimpulan: Zaman anarki.

Yang saya takutkan jika benar zaman ini polanya anarki, maka puncaknya mesti chaos. Itu baru dua pola yang berhasil saya tangkap, di luar bisa jadi ada puluhan mungkin ratusan pola lainnya, tegantung dari mana kita melihatnya, tergantung dimensi apa yang kita amati cermat-cermat, saya mengajak pembaca untuk menemukan pola lainnya, yang siapa tahu ada yang menemukan pola zaman kedamaian.

sumber gambar: ig arts_help

3 komentar: