Salah Fokus Bencana


Beberapa bulan terakhir di negeri kita terjadi cukup banyak bencana alam. Dimulai dari bencana gempa di Lombok, Sulawesi Tengah, termasuk terakhir gempa di Laut Bali. Itu pun belum termasuk gejala-gejala alam yang berpotensi bencana walaupun masih dibilang bertaraf kecil, misalkan mulai aktifnya aktivitas vulkanik beberapa gunung di indonesia.
Dari berbagai peristiwa tersebut memunculkan opini di masyarakat. Apa hikmah dari semua ini? Mengapa bencana ini terjadi? Sampai-sampai masyarakat di belahan daerah lain mungkin bertanya-tanya, apakah hal yang sama akan terjadi juga di sini? Kapan perkiraan terjadinya?. Dari kekhawatiran tersebut kini mulai ramai-ramainya masyarakat belajar banyak hal mengenai gempa dan mitigasi bencana. Hal yang positif agar masyarakat selalu siap siaga menanggapi bencana.
Berbicara mengenai bencana, ujian, musibah, kesulitan atau apapun itu adalah hal yang pasti dalam kehidupan ini. Memang Allah mendesign kehidupan di dunia dipenuhi dengan ujian untuk menguji siapa diantara kita yang terbaik amalannya. Ujian kehidupan bukan hanya kesulitan, bahkan kenikmatan pun merupakan ujian.
Tak sedikit beberapa orang terkadang menganggap bahwa ujian atau musibah hanya terjadi ketika bencana. Bahkan sampai timbul prasangka kurang baik terhadap orang yang terkena bencana, “dosa apa sampai mereka terkena bencana seperti itu? apa itu azab untuk mereka?”, begitulah mungkin prasangka yang terkadang timbul dari hati kecil. Kita selalu terfokus bahwa musibah hanya menimpa orang yang mengalami bencana atau kesulitan. Padahal bisa jadi mereka yang ditimpa bencana itu sebagai ujian karena mereka bersabar, sedangkan justru kita sesungguhnya yang terkena bencana karena lupa bersyukur dengan berbagai kenikmatan yang ada selama ini.
Bisa jadi masyarakat Lombok dan Palu itu banyak yang bersabar sehingga Allah menaikan derajat mereka. Sedangkan kita yang tinggal di daerah aman, masih bisa mendapat akses kemanapun, masih terang oleh listrik, masih bisa bekerja, masih bisa berlibur, masih bercengkrama dengan orang terdekat, masih hangat oleh selimut dan keluarga serta berbagai nikmat lainnya, sudahkah kita mensyukuri semua itu? Jangan sampai justru kita lah yang sebenarnya terkena bencana.
Baik dan buruk hanyalah pandangan manusia yang terbatas, pada hakikatnya hanya Allah yang tahu. Hari ini kita melihat orang yang buta dengan perasaan iba, padahal bisa jadi kelak di akhirat orang buta itu yang merasa iba pada kita yang bisa melihat karena betapa banyak dosa yang dihasilkan dari mata.
Selama masih hidup, alangkah baiknya kita selalu mengingat dan mempersiapkan untuk berbagai kondisi. Kenikmatan dan kesulitan adalah sunatullah yang pasti terjadi baik kita telah mempersiapkannya atau belum. Namun alangkah baiknya jika sekarang kita berada dalam kondisi lebih banyak dikaruniai kenikmatan, maka tingkatkan rasa syukur kita sambil tetap bersiap jika datangya ujian Allah berupa kesulitan. Dengan demikian semoga kita mampu bersyukur dan bersabar dalam segala hal. 

sumber gambar: mojok.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar