Merespon Survei PPIM UIN tentang Intoleransi Guru

Beberapa hari yang lalu Pusat Pengkajian Islam dan Mayarakat (PPIM) UIN Jakarta merilis hasil survei opini keberagamaan para guru. Hasilnya mencengangkan, meski tidak sangat mengejutkan, bahwa para guru cenderung memiliki opini intoleran yang cukup besar. Bagi yang penasaran mengenai detail hasilnya, silakan googling laporan tersebut dengan judul Pelita yang Meredup: Potret Keberagamaan Guru Indonesia
 
Bagi saya, hasil survei ini perlu disikapi dengan bijaksana. Mengapa? Karena, meskipun  penulis merasakan bahwa instisari-intisari hasil laporan tersebut memang benar adanya, sebab penulis termasuk salah satu praktisi pendidikan sehingga dapat merasakan atmosfir tersebut secara langsung, tetapi jika tidak disikapi secara kritis apalagi ditelan mentah-mentah, maka akan menimbulkan sebuah stigma negatif  yang kebablasan kepada umat Islam. 
Kita kan tidak mengetahui bagaimana tingkat toleransi di agama-agama lain yang ada di Indonesia. Kalaupun hasilnya ialah tingkat toleransi agama non Islam lebih tinggi, itu dimungkinkan karena posisi mereka yang minoritas. Memang minoritas biasanya lebih toleran. Kita juga bisa mengamati sikap umat Islam di negara di mana mereka berposisi sebagai minoritas, maka hasilnya pun tidak akan beda jauh dengan sikap agama minoritas di Indonesia. 
 
Kembali ke laptop. Setidaknya ada beberapa keberatan yang ingin saya ajukan terkait hasil penelitian dari PPIM ini. Pertama, ialah soal definisi, pengertian, atau kadar toleransi. Bagaimana mungkin mereka bisa mengatakan bahwa si A toleran sedangkan si B tidak toleran padahal belum ada kesepakatan bersama atau tunggal mengenai indikator-indikatornya. 

Bisa jadi bagi seseorang atau kelompok Islam tertentu, indikator X tidak merupakan sesuatu yang mencirikan opini/sikap toleran, tetapi bagi seseorang atau kelompok Islam lainnya, indikator tersebut dapat diakui sebagai ciri opini/sikap toleran. Harus disadari bahwa umat Islam itu beragam pandangannya dalam memahami sumber sakral mereka. Ini bukan saja terjadi di tubuh umat Islam, melainkan juga pada agama-agama lainnya. 

Saya pun setuju dengan pendapat Saleh Abdullah. Di dalam tulisannya yang berjudul Soal Survei Guru Intoleran dan Serapan Kata Toleransi di Indonesia yang dimuat oleh mojok.co, menyiratkan bahwa PPIM terlalu menyederhanakan pikiran manusia yang sebenarnya begitu kompleks. Betapa tidak, bagaimana mungkin ia bisa menyimpulkan si A intoleran hanya karena pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya begitu tertutup dan tak memberi ruang bagi penjelasannya. 

Apakah bila seorang guru Muslim—misalnya—ditanya pendapatnya tentang rencana pembangunan sarana ibadah agama lain di dekat rumahnya, si guru tidak setuju, lalu bisa disimpulkan si guru intoleran bermagnitudo 6-8 Skala Richter? Padahal bisa aja si guru ingin jelas dulu status perijinannya. Atau dia malah justru ingin mencegah potensi kekisruhan yang ia bayangkan bakal terjadi. Atau alasan-alasan mitigatif lainnya. Apakah persepsi seorang guru bisa dicopot begitu saja dari kesadaran sosiologisnya? Dan banyak pertanyaan cerewet lainnya untuk isu sensitif ini.”

Iqbal Ahnaf dari Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS), Universitas Gadjah Mada pun mengkritik hasil dari survei tersebut. Sebagaimana yang dikutip dari artikel tirto.id yang ditulis Ign L. Adhi Bhaskara berjudul Ancaman Guru Intoleran di Indonesia, ia mengungkapkan bahwa keterbukaan terhadap aktivitas keagamaan di lingkungan sekitar guru yang digunakan sebagai parameter intoleransi dalam survei tersebut, misalnya, dapat diartikan secara berbeda oleh responden yang hidup dengan parameter intoleransi yang berbeda. 

Tidak hanya itu, pertanyaan pun selalu memiliki sifat yang kontekstual. Ia mencontohkan bahwa jika seorang guru yang tinggal di lingkungan homogen ditanya apakah ia setuju dengan aktivitas keagamaan lain di lingkungannya, maka ia mungkin akan sulit untuk menerimanya. 

Bagi saya hasil survei ini pun, jika tidak disikapi secara kritis, akan semakin memperuncing hubungan internal umat Muslim yang belakangan hari saling bertikai. Dari survei ini terkesan bahwa umat Islam itu cuma ada dua tipe, pihak pertama adalah yang baik dan toleran sedangkan pihak lainnya ialah yang jahat yang harus diwaspadai. 

Dan kalau dipikir-pikir, terasa enggak sih kalau kerangka berpikir yang seperti ini berdampak pada pembentukkan sikap yang destruktif, salah satunya contohnya ialah gemarnya memberi segudang label negatif kepada kelompok yang tak sepaham, khususnya yang saling beroposisi. Satu kelompok menyebut lawannya sebagai intoleran, tidak nasionalis, tidak rahmatan lil alamin, bego, kolot, awam, bigot, dan lain sebagainya sembari merasa bahwa kelompoknya adalah yang paling toleran, paling rahmatan lil alamin, atau paling nasionalis.

Di sisi lain, di grup yang sebaliknya, yang tak kalah militannya, mereka pun akhirnya memiliki sebutan-sebutan negatif bagi kelompok oposisinya, mulai dari sesat, liberal, kafir, thagut, penyembah Barat, dan lain sebagainya. 

Nah ini semua, mengambil istlah Cak Nun, bagi saya adalah ciri khas orang-orang yang berpikiran materialis, yang berpola linier. Kalau tidak hitam ya putih, kalau tidak salah ya benar. Kalau tidak toleran berarti intoleran atau radikal. Seakan kita tidak bisa melihat kekompleksitasan dan kedinamisan pemikiran manusia. Bukankah manusia adalah sebuah wadah yang paling aneh karena bisa menampung berbagai paradoks di dalam dirinya? Akan sangat mungkin  bahwa seseorang itu keras di satu sisi (persoalan) tapi bisa lembut di sisi yang lain, bisa jadi kolot di dalam kondisi-kondisi tertentu tetapi fleksibel dalam kondisi-kondisi tertentu lainnya.  

Bukan hanya soal parameter intoleransi yang saya sanksikan, melainkan juga faktor penyebabnya. Menurut PPIM, kemiskinan adalah salah satu faktor guru Muslim memiliki opini/sikap intoleran. Saya termasuk orang yang berekonomi mengenah ke bawah, begitu pun banyak dengan teman-teman sepergaulan saya, tetapi kami tidak berpemikiran intoleran, bahkan jika telah diukur menurut perspektif PPIM. Para ulama dan kiai pondok pesantren pun dengan kondisi yang umumnya pas-pasan, meski PPIM tidak menyurvei mereka, sedikit yang memiliki pemikiran intoleran. 

Selain itu kita bisa melihat bahwa pelaku bom Surabaya adalah dari golongan berekonomi menengah ke atas. Penelitian yang dilakukan oleh Walter Enders dan Gay A. Hoover yang dikutip oleh youtuber Vincent Ricardo pun mengatakan bahwa tidak ada korelasi yang kuat antara kemiskinan dengan intoleransi atau terorisme. Betapapun demikian saya setuju kalau ketidakadilan memunculkan sikap intoleran bahkan terorisme. 

Di atas itu semua, survei PPIM tetap bisa dijadikan sebagai alarm pengingat semua pihak bahwa intoleransi bukanlah mencirikan sikap yang dewasa, terlebih di era saat ini di mana kita mustahil menghindar dari yang namanya pluralistik. 

sumber gambar: tirto.id dan islami.co

Tidak ada komentar:

Posting Komentar