Mencegah Penyimpangan Sex Remaja


Indonesia kembali dihebohkan oleh merebaknya berita mengenai adanya sebuah grup media sosial Gay yang dikhususkan bagi para pelajar SMP dan SMA dengan jumlah anggota mencapai 2000 orang. Lebih mencengangkan lagi, menurut laporan Yana Hidayat, pengelola Program Komisi Penganggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Garut, terdapat sekitar 3000 orang penyuka sesama lelaki di Kabupaten Garut, dan 41 di antaranya mengidap HIV pada peroide 2016 (“PR”, 9/10/18). 

Data Kementerian Kesehatan di tahun 2012 menyebutkan terdapat sekitar 1.095.970 lelaki leks dengan lelaki (LSL) yang tersebar di berbagai wilayah. Ironinya, Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah LSL terbanyak, dengan jumlah 300.198 orang. Di antara mereka disebutkan ada sekitar 4.895 menderita HIV (Republika.com, 23/01/2016). 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat sebagaimana yang dimuat oleh Harian Umum Pikiran Rakyat (09/10/18) menyebutkan bahwa di tahun 2017 jumlah penderita terbanyak HIV/AIDS ada di Kabupaten Bekasi dengan jumlah 1.698 orang. Di urutan kedua ada Kabupaten Bogor. Adapun Kota Bandung berada di urutan ke-4 dengan jumlah penderita sebanyak 1.145 orang. Dari semua kasus ini, tidak sedikit di antaranya yang masih berusia remaja. 

Meskipun Kementerian Kesehatan telah mengungkapkan bahwa LGBT tergolong ke dalam masalah kesehatan jiwa, tetapi tentu saja fakta mencengangkan yang disebut di atas mencemaskan hati banyak kalangan, terutama orang tua dan para praktisi kependidikan, yang di dalamnya termasuk guru. Dapatkah kita mengatakan bahwa, dalam hal ini, orang-orang dewasa telah kecolongan? 

Bagaimana mungkin anak-anak penerus bangsa yang diharapkan memiliki keimanan yang kuat kepada Tuhannya dan berakhlak mulia, sebagaimana yang tertuang dalam tujuan pendidikan nasional, malah terjangkit penyimpangan seksual yang akan sangat rentan terhadap HIV/AIDS atau bahkan kematian. Untuk itu, sembari mendukung langkah-langkah bijak pemerintah dan praktisi kesehatan dalam rangka meredam sikap/aksi menyimpang ini, yang jelas berdampak buruk bagi kemaslahatan bangsa, kita selaku orang tua atau guru mesti melakukan revitalisasi preventif yang masif dengan cara menganalisis faktor-faktor pemicunya.   

Setidaknya ada tiga buah faktor pemicu seseorang dapat menjadi penyuka sesama jenis. Pertama, ialah tidak adanya perhatian dari orang tua. Sangat dimungkinkan seorang remaja bisa melakukan penyimpangan seksual karena lemahnya kontrol atau peran orang tua di dalam kehidupannya. Kondisi psikologis yang masih labil dan haus akan pencarian jati diri ini jika tidak mendapat perhatian yang cermat dari orang tua atau pendidik, maka akan sangat mudah bagi mereka untuk terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang buruk. 

Oleh karenanya orang tua atau guru perlu menjadi teladan yang baik. Arahan yang sifatnya instruktif, meskipun tidak secara otoriter, tetap masih diperlukan bagi anak usia remaja. Tak lupa bahwa mutlak terciptanya komunikasi yang harmonis antara kedua belah pihak supaya tetap dapat mengetahui perkembangannya. 

Faktor kedua ialah karena tipisnya penghayatan keagamaan. Remaja yang lemah keimanan dan penghayatan agama akan mudah terjerumus ke dalam segala bentuk penyimpangan. Oleh karenanya, adalah tugas para orang tua dan guru untuk senantiasa memperhatikan penghayatan keberagamaan remaja, mulai dari pemahamannya, ibadah ritualnya, hingga sikap sosialnya. 



Terakhir, dan ini yang paling dominan, ialah karena faktor lingkungan pergaulan. Anak usia remaja paling gemar hidup berkelompok-kelompok, tidak hanya di dunia nyata melainkan juga maya. Sayangnya, tak jarang dari mereka yang malah terjerumus ke dalam lingkup kelompok yang buruk atau menyimpang. Dari sini sebenarnya, baik orang tua maupun guru, perlu mengarahkannya ke dalam perkumpulan atau lingkungan yang positif. 

* tulisan ini pernah dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat edisi 13 Oktober 2018

sumber gambar: bangka.tribunnews.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar