Hari Santri Dirusak Banser


Kemarin baru saja umat Muslim merayakan Hari Santri Nasional. Mendengar kata santri tentu saja kita akan sering merelasikannya dengan seorang atau sekelompok orang yang mendalami ilmu agama Islam dan dibarengi dengan penumbuhan akhlak mulia. 

Sayang seribu sayang, perayaan yang seharusnya dapat memperkuat persaudaraan bangsa berbasis keagamaan malah harus tercederai oleh aksi beberapa oknum Banser yang saya rasa sangat tidak etis.

Betapa tidak, dalam sebuah video yang telah kadung viral tersebut terekam beberapa anggota Banser sedang membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid. Maka menurut saya sangat wajar jika banyak kalangan yang merasa kecewa dengan aksi tersebut, terlebih terjadi di saat peringatan hari Santri Nasional.

Beberapa keberatan terlontar di media sosial. Untungnya ada satu dua orang kalangan NU yang berlapang dada, meminta maaf atas perbuatan tersebut. Tetapi menariknya, tak sedikit di antara aktivis atau partisipan NU yang berdalih membela aksi pembakaran bendera tersebut. Ada yang bilang bahwa Khalifah Utsman bin Affan pun dahulu pernah membakar Alquran (yang sudah tidak layak) dan “menggantinya” dengan mushaf Utsmani. Lalu ada juga yang beralasan bahwa Rasulullah pun pernah menghancurkan masjid al-Dhirar (masjid munafik). 

Uniknya, mereka yang berargumen ini umumnya dari kalangan yang sering menyindir atau mengolok aksi-aksi kekerasan brutal, main hakim sendiri, atau kekerasan, yang pernah dilakukan oleh kelompok oposisinya. Standar ganda memang selalu menyenangkan. 

Atau ada yang juga berdalih, bahwa kalimat tauhid itu tidak pantas ditempel di benda-benda non sakral, seperti baju, bendera, topi, dan lain sebagainya, sebab sepantasnya kalimat tersebut ditancap ke dalam hati, bukan benda-benda. Memangnya kertas yang saat ini kita gunakan untuk memuat ayat-ayat Alquran itu sakral? Kalau begitu logikanya, harusnya Alquran tidak usah dicetak, cukup dihayati dalam hati. Tidak usah ada medium-medium non sakral. 

Mengamati pendapat-pendapat di atas, sebenarnya saya selalu ingin mengatakan bahwa sebenarnya yang sedang kita lakukan adalah menyomot bagian-bagian tertentu dari sejarah atau ayat Alquran sebagai bentuk pembenaran atas apa yang sedang kita lakukan. Kalau begini adanya, kacau semua, karena aksi buruk apa pun akan selalu bisa ditemui pembenarannya, baik pada peristiwa sejarah maupun ayat-ayat Alquran. 

Di sinilah sebenarnya diperlukan sebuah metodologi yang dapat dipertanggung jawabkan ketika kita mulai merujuk pada sumber-sumber, baik berupa literatur sakral, tulisan, peristiwa kesejarahan, bahkan rekaman (ucapan dan tindakan). Akan sangat terlihat bodoh jika diinterpretasikan secara harfiah semata. 

Penting sekali untuk selalu memperhatikan atau mempertimbangkan aspek-aspek yang mengitarinya (sosio-historis, antropologis, pskologis, dll) dan alasan-alasan yang membentuknya, serta temui apa kira-kira maksud atau tujuan utamanya. Setelah itu masukkan intisari atau illat-nya tersebut ke dalam realita yang sedang kita alami, bisa dengan menggunakan pendekatan maqasid syariah atau metode lainnya yang pada intinya dapat menunjang kemaslahatan umum. Tak lupa, dipikirkan pula bahwa menghindari mudarat lebih penting dibanding dengan sekadar mengharap maslahat yang masih mengambang (berupa potensi). Wah, kalau soal ini, pasti kalian lebih paham lah. Tapi pada kenyataannya alih-alih efektif, saya melihat malah terkesan begitu kontra-produktif. 

Sebegitu bencinya-kah kalian dengan HTI? Sebegitu menakutkannya-kah mereka? Bukannya kelompok kalian yang selalu menyeru bahwa berbuat nahi munkar pun harus dengan menggunakan cara-cara yang elegan dan moderat. Tapi kali ini kok terkesan gagap sekali yah? Saya sangat menduga kuat bahwa doktrin atau pemahaman-pemahaman keislaman ala HTI tidak akan hilang hanya dengan membakar benderanya. Kalau pun tidak menyetujui pandangan mereka, apakah tidak bisa dengan cara diskusi atau debat ilmiah? Atau sebagaimana  anjuran surat An-Nahl 125 yang sering kalian gaungkan itu?

Refleksi
 Entah mengapa, beberapa tahun belakangan ini saya melihat umat Muslim semakin “menggila”. Satu sama lain saling membenci, saling serang, saling ledek. Merasa diri dan pandangan kelompoknya adalah yang paling benar (penguasa kebenaran hakiki) sembari menjelek-jelekkan kelompok lainnya yang berbeda. 

Entah mengapa saya sampai merasa bahwa akhirnya umat Islam terpecah belah, tidak perlu dengan nuklir segala seperti yang sedang dipersiapkan oleh US atau Cina atau Rusia atau Korea Utara untuk menguasai suatu bangsa atau mengalahkan bangsa lain, ternyata untuk umat Islam cukup dengan diadu domba dan dilempar segala bentuk fitnah, yang uniknya para pelakunya adalah dari kalangan internal umat Islam itu sendiri. Aku mohon ampun Ya Rabbi.  

sumber gambar: inews.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar